Sold

Sold
Sedingin es



Bee sudah berpamitan untuk pulang pada kedua orang tua Kiki, dan tepat saat akan membuka pintu mobil, satu buah mobil masuk dan parkir tepat di sebelah mobilnya.


"Udah mau pulang?" tanya pria itu menghampiri.


"Iya nih, udah sore juga Kya"


"Tahu lo kemari, gue balik dari kantor lebih cepat deh. Hei..ini pasti si tampan Saga, apa kabar?" sapa Kia mengusap puncak kepala Saga.


"Baik om. Om siapa? aga ga ingat kita pelnah jumpa" ucap Saga masih menggenggam tangan Bee dan sedikit memajukan posisinya agar berdiri tepat di depan ibunya.


"Iya, udah lama ga kita ga ketemu. Tapi om dulu pernah jagain Saga loh"


Masih kurang yakin, Saga tetap tidak mau menyingkir, tetap berdiri menjadi benteng penghalang antara mama nya dan Kia.


"Bee, gue sekali lagi ngucapin makasih, lo udah nolongin adek gue" Kia mendekat ingin menarik tangan Bee sekedar menyalami tanda terimakasih, tapi Saga sigap mendorong tubuh Kia menjauh dari mereka.


"Saga, kenapa? ga sopan loh" ujar Bee kaget.


"Ga boleh pegang-pegang mama Aga. Kata papa, Aga harus jagain mama dari siapa pun telmasuk oom ini" ujar nya garang.


"Mampus lo bang. Lo kira modus lo bakal berhasil? Bee udah punya dua perisai ya buat jaga dia" ucap Kiki cekikikan. "Saga, tos dong" Kiki menyodorkan telapak tangannya ke depan Saga yang di sambut gembira oleh si bocah.


"Udah, ya, kami pulang. Bentar lagi kak Bintang juga pulang dari kantor. Bye Kya, Kiki, lo jaga kesehatan" ucap nya pamit.


Jalanan yang macet membuat mereka terlambat tiba di rumah. Belum sampai di rumah saja jantung Bee sudah berdegub kencang.


"Alamat bakal marah lagi nih, tuan besar.." gumam nya menggengam setir, menunggu mobil di depan sana merangkak maju. Di lirik nya Saga yang sudah tertidur pulas. Anak itu pastinya kelelahan, selama dirinya dan Kiki bercerita, Saga bermain bola dengan papa nya Kiki, om Roy. Saga begitu gembira hingga tidak merengek minta pulang, bahkan justru dia meminta untuk tinggal lebih lama lagi.


Sebelum Maghrib, baru lah Bee tiba di rumah. Seperti dugaannya, suami tercinta nya sudah pulang, bahkan begitu melihat mobilnya masuk halaman, Bintang sudah berlari dari teras menyongsong kedatangan mereka.


Begitu mereka saling berlaga tatap, Bee menunduk. Masalah kemarin saja belum selesai, kini diperkeruh dengan masalah dia keluyuran lagi bersama Saga hingga jam segini.


Kata orang, sakit jika kita bertengkar dengan pasangan, dan salah satunya berkata menyakitkan. Tapi bagi Bee saat ini lebih baik lah mereka saling maki, saling bentak dari pada seperti ini. Dari sorot mata Bintang sudah jelas ingin sekali menguliti Bee, tapi apa yang di harapkan Bee masih jauh di awan. Pria itu memilih diam setelah melempar tatapan nya yang mematikan. Lalu membuka pintu mobil belakang, dan menggendong Saga yang tertidur pulas.


Kepala masih menunduk mengikuti langkah Bintang naik ke atas, berbelok masuk ke kamar Saga dan membaringkan buah hati mereka di tempat tidur. Bee yang berdiri di tengah ruangan hanya di lewati Bintang tanpa mengatakan apa pun. Hampir saja Bee jatuh terduduk, terkejut tidak menyangka Bintang akan mengabaikannya, bahkan menganggapnya seolah tidak ada di sana. Dia masih bersikap sedingin es.


Bee memilih untuk ikut keluar setelah berhasil menenangkan hatinya. Mereka tidak bisa seperti ini, dia harus mengajak Bintang bicara. Pintu kamar di buka, tapi pria itu tidak ada di sana. Memikirkan kemungkinan pria itu ada di ruang kerjanya, Bee pun menyusul ke sana, tapi lagi-lagi ruangan itu kosong.


"Mir, tuan mana?" tanya Bee saat Mira lewat hendak ke kamar Saga membawa keranjang berisi pakaian Saga yang baru siap di setrika.


"Di ruang gym, Nyah" Bee hanya mengangguk mengerti.


Malam itu, Bee yakin Bintang sengaja melewatkan makan malam nya. Hanya dua suap yang bisa Bee telan dalam kesendirian nya di meja makan. "Beresin aja semua nya bi, makasih" ujar nya membersihkan ujung bibirnya dengan serbet putih sebelum meninggalkan meja makan. Hanya dia yang tahu air matanya berhasil lolos di pipi pada anak tangga kedua.


Mungkin Bintang masih butuh waktu untuk bisa memaafkannya, jadi Bee memutuskan untuk tidak lagi mengganggunya. Bee sudah bersiap untuk tidur saat ponselnya berdering. Tanpa melihat di rabanya atas nakas mencari keberadaan ponselnya.


"Halo Nan?"


"Kamu baik?" suara Kinan terdengar risau di seberang sana.


"Baik. Aku baik kok. Kenapa?"


Lama tidak menjawab, samar-samar Bee mendengar suara isakan tangis Kinan di seberang. Kini hati Bee yang menjadi risau, segera mendudukkan dirinya, bersandar di headboard dan menajamkan pendengarannya.


"Nan.."


"Aku minta maaf ya Bee, kalau gara-gara aku kamu hampir celaka" kali ini Bee sudah memastikan sahabat sekaligus iparnya itu menangis.


"Ada apa ini? kenapa kamu nangis Nan? apa ada yang terjadi dengan mu? kamu baik-baik aja kan?"


"Aku baik. Justru aku yang mengkhawatirkan mu. Kandungan mu baik?"


"Iya baik. Aku makin ga ngerti. Kamu kenapa? dari tadi nanya keadaan aku?"


"Tadi ada meeting dengan para dewan direksi, aku ketemu sama Bintang di kantor ku, dia bilang..dia bilang kamu hampir bahaya karena aku. Bintang ga bolehin aku ketemu sama kamu lagi Bee" tangisan Kinan semakin kencang. Sisa yang dia ucapkan selanjutnya tidak dimengerti oleh Bee lagi, Karen delapan puluh persen yang kedengaran di telepon adalah tangis nya.


"Kamu tenang dulu Nan. Sekarang cerita sama aku, Bintang ke sana buat nemuin kamu hanya untuk negur kamu?" hati Bee mulai panas. Bintang sudah keterlaluan jika benar sudah melarang Kinan yang notabene adalah adik iparnya untuk bertemu dengan dirinya.


"Bukan begitu. Bintang memang tiap bulan kan datang buat meeting, karena waktu papa yang kena tipu itu, salah satu anak perusahaannya Bintang menginvestasikan sejumlah dana di perusahaan papa, otomatis saham dia kan ada"


Bee ingat, saat perusahaan om Setiawan terancam akan tutup karena bangkrut, perusahaan milik Piter lah yang mengakuisisi PT. Kinanti. Perusahaan Piter berinvestasi di sana yang tanpa sepengetahuan Andri Setiawan atau pun Kinan, sesuai permintaan piter, hanya saja yang mereka tahu itu adalah perusahaan milik Bintang karena selama ini memang Bintang yang mengurus semua perusahaan dan bisnis Piter.


"Lalu dia bilang apa?"


"Dia minta aku jangan lagi mengajak mu pergi, karena aku membawa petaka untuk mu. Aku juga di minta untuk menjauhi mu" ucap Kinan dia sela tangisnya.


*Hai epribadi, makasih udah mampir. Ini ada novel lain yang aku rekomen, kuy mampir, makasih 🙏