Sold

Sold
Jatuh sakit



"Setidaknya terima lah sedikit Bee. Jangan terlalu naif. Paling tidak, rumah ini jadi milikmu" bujuk Bintang. Dia akan merasa semakin hancur, jika setelah perpisahan, Bee tidak mendapat apa pun. Bagaimana juga Bee adalah ibu Saga. Tidak ingin dirinya susah setelah perpisahan sialan itu.


"Tidak. Aku tidak membutuhkan nya. Aku akan mencari kontrakan kecil yang bisa aku tinggali" ujar Bee. Hanya harga diri yang tersisa pada nya dan dia tidak ingin pria itu juga membeli nya.


"Jangan keras kepala Bee. Terima lah, setidaknya hanya rumah ini"


"Jangan paksa aku kak.."


Tak ada lagi desakan dari Bintang. Dia tahu itu pasti tidak ada guna nya. Keduanya diam sesaat. Udara pagi itu begitu sejuk menerpa wajah keduanya. Saga tak hentinya memainkan ludahnya, mengayunkan tangan dan kaki nya.


"Bee, tak bisa kah kita tetap bersama? Begitu mengerikan kah hidup bersama ku?" ucap Bintang.


Apa yang harus di katakan gadis itu. Seandainya dia bisa mengiyakan permintaan Bintang. Menurutnya, Bintang hanya menahan nya untuk Saga. Bukan karena cinta, karena kalau perasaan pria itu masih ada untuk nya, dia tidak akan menghadirkan sosok wanita lain diantara mereka.


Tampak nya alam sendiri pun tidak ingin mereka berpisah. Ponsel Bintang berbunyi dan itu dari Piter yang mengabarkan Bu Salma sakit.


"Sakit apa ibu kak?" tanya Bee panik setelah di beritahukan oleh Bintang.


"Aku juga ga tahu Bee. Aku pamit ke rumah ibu dulu" Bintang bangkit dari duduknya. Hati nya cemas, pasalnya ibu tidak pernah jatuh sakit, tampak selalu bugar. Apa yang membuat ibu nya bisa jatuh sakit tiba-tiba begini?


"Aku ikut kak..aku mau lihat ibu" sahut Bee yakin. Terlepas dari masalah nya dengan Bintang dan bagaimana bentuk hubungan mereka, tapi Bee menyayangi mertuanya.


Pada pertemuan pertama, wanita itu sudah bersikap baik padanya. Dan setelah tahu dia sedang mengandung, ibu semakin menyayangi nya.


Kini wanita itu sedang sakit, tepat lah jika Bee ingin melihatnya, merawat wanita yang sudah dianggapnya seperti ibu kandungnya sendiri.


***


Wanita itu berbaring dalam kamarnya. Tampak menutup mata, tapi Bee yakin dia tidak tidur.


"Bu, kami datang. Ibu kenapa? Miss universe kok bisa sakit begini sih?" ucap Bintang duduk di samping ibunya.


Wajah lesu ibu terlihat begitu sedih. Seolah ada beban dalam pikiran yang menghantamnya. Namun dia adalah seorang ibu yang bijaksana. Dengan lembut, ibu memberikan rasa nyaman pada mereka, melepas satu senyuman berharap mereka tidak perlu cemas.


"Mana Saga?" tanya ibu berusaha untuk duduk, menggunakan bantal untuk menyanggah punggungnya.


"Ada Bu. Sama suster. Lagi tidur tadi" ucap Bee menggengam tangan ibu. Tangan itu terasa dingin di bawah tangannya.


"Ibu sakit apa? apa kata dokter Bu?" susul Bintang.


"Aku tidak apa-apa. Jangan pasang wajah cemas mu, kau tampak jelek" Bu Salma masih mencoba mencairkan kekhawatiran mereka.


"Apa yang ibu pikirkan?" sambung Bintang menatap wajah sedih itu. Tak ada lagi keceriaan yang selama ini terlukis di wajahnya. Bahkan saat ibu frustasi karena Bintang menolak setiap kencan dan perjodohan yang diatur, tidak sekecewa ini.


"Tidak ada. Semua sakit ibu langsung lenyap setelah melihat kalian. Aku hanya butuh istirahat. Kalian keluar lah dulu. Nanti sore kita berbincang. Kalian tidak langsung pulang kan?" tanya ibu menatap Bintang, lalu pada Bee. Tatapan yang memohon mereka untuk tinggal.


Bee lah yang pertama kali mengangguk. Lagi pula, dia tidak ingin melihat ibu sakit karena sedih jika mereka langsung pulang.


"Apa sebenarnya yang terjadi? ibu kenapa?" tanya Bintang setelah mereka bertiga duduk di ruang tamu.


"Harus nya kau tidak perlu bertanya, brader! Harus nya sebelum kalian bertindak, kalian tahu, kalian bukan orang biasa. Semua yang kalian lakukan pasti terekspos" jawab Piter menopang kan satu kaki nya di atas kaki lain nya.


"Maksud mu apa?" delik Bintang menatap tajam Piter. Terakhir kali dia membawa Saga saat Bee di Malang, ibu terlihat baik. Dia bahkan tak hentinya bermain bermain dengan Saga sepanjang hari. Meminta mereka untuk menginap, tapi dengan alasan Bee sedang tidak enak badan, Bintang pulang bersama Saga.


"Ibu melihat pemberitaan tentang kalian. Ibu melihat berita di tv, tentang hubungan mu dengan Stella. Dan Saga bukan anak Bee seperti pengakuannya" tutup Piter menunggu reaksi mereka.


Wajah Bee pucat. Rasa bersalah mulai berakar di hatinya. Ibu jatuh sakit karena perbuatannya yang mengikuti emosi dan egonya. Bee hampir menangis, namun di tahan. Bintang melihat perubahan wajah gadis itu.


Perlahan, Bintang mengulurkan tangannya, menggengam tangan Bee agar perasaan gadis itu tenang. Rasa bersalah yang di lihat nya dari mata gadis itu membuatnya luluh.


"Aku tidak ingin kau menyalahkan Bee. Semua tidak seperti yang kalian pikirkan" ucap Bintang pasang badan.


Sementara Bee masih diam, jemarinya yang dingin menggenggam erat tangan Bintang.


"Aku tidak perduli pada apapun yang kalian lakukan, itu urusan kalian. Tapi tolong pikirkan ibu. Aku menghormati mu kakak ipar. Usia mu juga masih muda untuk menemani Abang ku yang punya sepak terjang hebat, tapi ibu ku, ibu kami, ibu kita sangat menyayangi mu. Kehadiran mu di keluarga ini membawa kebahagiaan tersendiri baginya. Seolah kehadiran mu menjadi pelengkap dan terang buat keluarga ini"


Setiap kalimat yang disampaikan Piter di dengar Bee dengan jelas, dan menusuk hatinya. Dia seperti gadis yang tidak tahu terimakasih karena sudah di terima di hati ibu, tapi dengan tega menghancurkan perasaan wanita itu.


"Cukup Ter, aku tidak ingin kau semakin memojokkan istri ku" potong Bintang. Genggaman tangan Bee yang semakin mengencang menandakan gadis itu ketakutan pada Piter.


"Baik lah. Aku pamit. Namun saran ku, tolong berikan sedikit kebahagiaan untuk ibu. Dan Saga adalah obat yang tepat untuk nya saat ini" Piter sudah bangkit meninggalkan keduanya.


Derab langkah itu semakin menjauh, baru lah Bee berani untuk meloloskan air matanya.


"Jangan nangis. Ini bukan salahmu" bisik Bintang merengkuh tubuh gadis itu dalam pelukannya. Yah..semua itu tidak sepenuhnya salah Bee. Tapi jelas dia ambil andil.


"Kak..aku merasa bersalah pada ibu. Apa yang harus kita lakukan agar ibu tidak bersedih lagi?"


"Aku akan bicara pada ibu. Mungkin sebaiknya ibu tahu sekarang, dari pada nanti setelah semua terjadi akan menambah luka yang lebih besar. Aku tidak akan memaafkan diri ku jika ibu kenapa-napa"


"Kak..kita nginap di sini aja ya. Aku mau ngurus ibu" ucap Bee seiring isak tangisnya yang terdengar.