Sold

Sold
Agresif



"Jam 7 tadi. Ka-mu, gimana hari ini? menyenangkan?" Bintang jadi gugup sendiri karena kedapatan Bee sedang mengamati gadis itu.


Makan malam berlangsung dalam diam. Kedua nya sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Bee bahkan sampai meremas ujung gaunnya, saat mempertimbangkan yang akan dia sampaikan.


Bodo amat, itung-itung biar cepat hamil..!


Diliriknya sekali lagi, Bintang tengah menikmati Soup nya.


"Kak..habis ini kita buat anak yok"


Hampir saja Bee terkena kuah soup yang muncrat kembali dari mulut Bintang.


Uhukkkkk....uhukkkkk..


Masih dengan susah payah Bintang menggapai udara setelah hidung nya penuh air soup.


"Nih.." Bee menyodorkan beberapa helai tisu pada Bintang. Setelah sedikit membaik Bintang meneguk air putih untuk membersihkan kerongkongannya.


"Kenapa sih dengar aku ngomong gitu reaksinya jadi begitu? ada yang salah ya?" susul Bee manyun.


"Ada salah? apa gadis itu ga tahu arti ucapannya itu? dia ngajak bercocok tanam seperti ngajak makan ayam goreng, nyantai banget. Mana tanpa ekspresi lagi" batin Bintang masih terbatuk-batuk sesekali.


"Ga. Gada yang salah Bee" ucap Bintang meredam degub jantung nya.


"Jadi gimana kak? mau ga buat anak nanti?" susul nya. Bintang semakin gelagapan menanggapi pertanyaan nyeleneh istrinya.


"Iya Bee. Aku siapkan kerjaan ku dulu ya, habis itu aku ke kamar mu" Bintang ingin menyudahi pembicaraan absurd ini. Bagaimana mungkin ada pasangan yang membicarakan masalah tempat tidur di atas meja makan?


Setelah nya keduanya menghabiskan makan malam. Lalu tanpa setelah makanan penutup habis, mereka kembali ke kamar. Bee yang gugup saat berdekatan dengan Bintang pamit masuk kamar dengan alasan mengerjakan pe-er nya. Begitu pun Bintang yang masuk ke ruangan kerjanya.


Bee bahkan tak bisa berkonsentrasi mengerjakan tugas nya. Namun setelah mengulang sampai empat kali, soal-soal itu bisa dia eksekusi dengan benar.


Bee melirik jam, sudah pukul sembilan kurang.


"Hufff, katanya sebentar. Di tungguin kok ga datang-datang?" cicit nya menghentakkan kaki.


Tak ingin lebih lama, Bee memutuskan untuk mencari suaminya ke ruang kerja.


Tok..tok.. ketukan formalitas karena tanpa menunggu suruhan masuk, Bee sudah membuka pintu ruang kerja dan menyeruak masuk. Pria itu ada di sana, tenggelam dalam seriusnya menatap monitor laptopnya.


"Kak..ayo dong..jadi ga? katanya mau punya anak kan? kalau ga mau aku tinggal tidur nih" ancam Bee merengut.


Bintang hanya tersenyum. Ini pengalaman pertama nya saat seorang gadis mengajaknya naik ke tempat tidur, tapi tidak jauh dari kesan menggoda. Di ukurannya tangannya agar Bee mendekat. Lalu memapah gadis itu untuk duduk di pangkuan Bintang.


"Jawab jujur, kenapa tiba-tiba ngajak buat dedek bayi?" ucap Bintang menatap Bee. Gelagapan tak tahu jawaban apa yang harus Bee ucap kan, gadis itu membuang pandangannya ke sekeliling ruangan. Akal nya akan tumpul saat pria itu menatap intens.


"Yah..karena jatah kakak bulan ini belum Kakak ambil kan" Bee tersenyum memberi selamat pada dirinya karena bisa menemukan alasan yang tepat.


"Hanya karena itu?" selidik Bintang. Nyatanya walau ingin cepat hamil, tak sekalipun Bee mengajak dirinya lebih dulu.


"Ish.. kakak. Jangan lihatin aku kayak gitu"


"Jawab dulu yang benar" ucapnya mulai membelai tengkuk Bee lalu telinga gadis itu hingga membuat Bee berinding.


"Jawab Bee, kenapa kamu menginginkan ku malam ini sayang" kembali Bintang berbisik dia telinga Bee, sesekali pria itu bahkan mengemut daun telinga Bee.


"Kakak.."


"Jawab.."


"Ok.." Bee menjauhkan sedikit tubuhnya. Agar mereka bisa saling menatap.


"Aku tadi nonton film di rumah Kiki, ada adegan begituan nya. Aktornya romantis banget memperlakukan wanitanya.. Aku jadi kangen sama kakak. Jadi pengen.."


Tawa Bintang menggema. Perutnya bahkan sakit saat tertawa terbahak-bahak.


"Kakak, ih..!" Bee mencubit lengan Bintang hingga membuat pria itu selesai dengan tawanya.


"Ok..ok..jadi ini kangen sama Pino?" ucapnya menyentuh milik Bee. Gadis itu hanya mengangguk malu. Sekilat kemudian, Bintang sudah menangkup bibir gadis itu, mel*mat dan berbagi rasa.


Suhu ruangan terasa panas. Bibir mereka masih saling bertautan ketika Bintang menggendong Bee ke kamarnya.


"Aku siap melayani tuan putri" goda Bintang setelah meletakkan tubuh Bee di tempat tidur sementara pria itu membuka pakaiannya.


Pandangan Bee menatap sekeliling. Ini bukan kamarnya, tapi kamar pria itu. "Apa kita ke kamar mu saja?" tanya Bintang saat melihat gadis itu celingak-celinguk kebingungan.


"Ga usah kak. Di sini aja" ucap nya tersenyum. Ini kali pertama Bee masuk ke dalam kamar Bintang. Nuansa hitam menghiasi ruangan itu.


Bintang mulai mencumbu gadis itu dari atas hingga ke bawah. Menyentuh lembut dengan bibir dan lidahnya di titik mematikan tubuh Bee hingga membuat gadis itu bergetar.


"Sayang, aku masuk ya" bisik Bintang ketika sudah merasa tak tahan lagi. Bee juga sudah basah, siap untuk menyambut nya. Perlahan Bintang memulainya, menempatkan kepuasan Bee di atas dirinya hingga gadis itu berulang Ki melenguh dan merintih nikmat.


"Kak.." rintih nya tertahan.Dorongan dari dalam sudah membuat nya gila. Arus nikmat terus membawanya berputar seiring gerakan dan hentakan Bintang.


"Iya sayang..kita sama-sama ya" bisik nya meningkatkan ritme gerakannya. Terus memompa hingga keduanya sampai ke puncak. Melepaskan lava masing-masing. Menitipkan benih cinta pada Bee.


"Kamu lelah?" ucap nya pelan sambil menarik tubuh Bee dalam pelukannya.


Gadis itu menurut, merasakan nyaman pada pelukan pria itu. "Ga, aku ga lelah"


"Apa kamu mau aku gendong ke kamar mu, cantik?"


Bee hanya menggeleng. Lalu membenamkan wajahnya. "Kita di sini aja. Aku..aku masih mau lagi"


Gelak tawa Bintang membahana di ruangan itu. Apa yang salah dengan istrinya hingga begitu erotis malam ini. "Apa kamu tidak lelah?mau sekarang juga?"


"Bukan. Nanti aja. Sekarang kita tidur dulu aja ya" ucap nya sembari menguap.


Bintang hanya tersenyum. Hidup nya kini begitu berwarna semenjak ada Bee. Kadang dia akan meras sedih gadis itu mengacuhkannya, tapi tak jarang juga Bee memberinya semangat dan kehangatan dari setiap percakapan dan interaksi yang mereka lakukan.


Hingga pagi nya, mereka mengulang kegiatan menyenangkan itu hingga lima kali. Bahkan Bee sudah berani berinisiatif memberikan perlawanan pada Bintang yang membuat pria itu terperangah.


Bee memang ingin mempraktekkan adegan yang dia lihat pada dua film yang dia tonton kemarin. Bintang sama dengan tokoh di film itu, menyentuh dan membuainya dengan lembut dan itu membuat Bee lagi-lagi ketagihan. Bee benar-benar merasakan surga dunia yang terhebat saat itu.