Sold

Sold
Wejangan



Bee sudah selesai berdandan, memakai dress putih model Sabrina. Mematut wajah nya di depan cermin. Riasan nya begitu natural, namun nampak memukau. Seketika tatapannya menarik sesuatu di hari manisnya.


Segaris senyum melingkar di jarinya. Cincin yang kemarin di sematkan Bintang di hari pernikahan mereka kemarin terasa cocok di jarinya.


Bintang yang baru selesai mandi sempat menangkap senyum Bee sebelum menghilang saat mata mereka saling menatap.


"Kamu cantik kalau tersenyum, apa ada yang membuat mu gembira?" ucap nya memperhatikan sekilas, karena tak ada sahutan Bintang pun mengambil pakaiannya.


Selesai berkemas, pasutri itu keluar hotel. Bookingan untuk 3 malam pun tidak dihabiskan, berhubung mereka juga tidak akan iya-iya di sana, jadi Bintang memutuskan untuk check out. Bintang juga dihadapkan dengan masalah pelik di perusahaan nya. Produsen kain yang mereka pesan, salah mengirimkan barang. Dengan harga yang telah di sepakati, tapi justru mengirim kain dengan kualitas rendah.


Perusahaan Garmen milik Bintang saat ini adalah salah satu yang terbesar di negara ini.


"Bee, kita harus segara kembali ke Jakarta, aku harus masuk kantor secepatnya" ucap Bintang masih fokus menatap laptopnya.


"Tapi liburan gue masih ada tiga hari lagi"


"Iya, liburannya di habis kan aja di Jakarta, di sana juga kamu bisa pergi kemana aja yang kamu mau" masih tetap fokus hingga tak melihat kerucut di bibir Bee.


Padahal Bee sudah janji untuk jalan bersama teman-temannya sehabis ini. Ketiga sahabatnya menagih dengan paksaan, ingin mendengar cerita malam pertama Bee dengan Bintang, dan Bee janji untuk menceritakannya.


Sebenarnya apa yang harus dia ceritakan? malam pertama nya lewat begitu saja. Tidak ada desahan yang seperti di praktekan Lala, saat menonton film fifty shades of Grey yang selalu di puja nya. Bee jadi ingat apa yang di katakan Lala saat dia di rias kemarin sebelum acara pernikahan mulai.


"Suami kamu itu cakep nya ga ketulungan tahu ga Bee. Aku aja masih belum move on. Nungguin dia jadi duda" celoteh Lala yang langsung di getok kepalanya oleh Tya.


"Mulut kamu emang gada filternya ya La, suami kawan sendiri masih di fantasi in!"


Lala mengusap kepala nya yang sakit, sementara Bee terdiam karena sebenarnya satu hal yang menyadarkannya. Jika perceraian itu nanti terjadi, banyak wanita yang siap menggantikan posisinya, menjadi ibu bagi anak nya.


Eh, kok jadi sedih ya?kok hati aku sakit?


"Kok ngelamun?"


"A? eh..ga." tampang konyol nya kembali membuat Bintang gemas. Di tutup ya laptopnya, mengulurkan tangannya, agar Bee menerima dan duduk di dekatnya. Ajaib nya, Bee menurut.


Dia mendekat, dan dia sendiri sudah menembak apa yang akan di lakukan Bintang, memeluknya, tapi dia suka. Ya..kini gadis itu jadi kecanduan akan pelukan Bintang.


Acara pamit-pamitan di rumah Hutomo berlangsung lama. Sepuluh menit untuk Hutomo, memberikan wejangan pada Bee.


"Kamu sudah menikah nak. Tanggung jawab mu untuk mengurus suami anak dan keluarga mu. Turuti apa kata suamimu, karena suami adalah imam dalam keluarga."


Lalu Isak tangis Bee terdengar, menangis dalam pelukan pria yang pertama kali dia cintai dalam hidupnya. Papa juga menitikkan air mata, seraya mengenang almarhum istrinya.


Lalu di susul untuk tante Di. Setengah jam untuk memberikan kuliah singkat pada Bee. Kalau Hutomo menasehati Bee di depan Bintang, tante Di menarik Bee menjauh sedikit dari pria itu.


"Ingat apa yang tante bilang. Kamu harus bisa memuaskan suami di dapur atau pun di tempat tidur, kalau kamu masih egois, suami kamu bisa di rebut pelakor. Banyak zaman sekarang ini, wanita lebih bangga ngangkang untuk suami orang" ucap tante Di setengah berbisik. Tak ada sahutan, tante di mencubit lengan Bee.


"Au sakit tante.." ringis nya memegangi bekas penganiayaan tante Di.


"Makanya di jawab. Mulut itu di kasih Tuhan buat menjawab yang benar. Dan ingat, kamu jangan suka bentak-bentak suami kamu, apa lagi di depan keluarga nya. Bisa-bisa kamu di musuhi dan di pulangkan ke rumah orang tua mu" cecar tante Di ngotot.


"Iya tan, paham" ucap Bee tak ingin kembali dapat cubitan karena tak menjawab.


"Satu lagi, tante ga mau kamu manggil dia Bintang.. tang..tang..ga sopan. Panggil mas.."


Alis Bee naik tanda ga setuju. Geli aja rasanya, bilang mas sama orang yang suka dia tindas.


"Paling ga, kak! pokok nya jangan panggil nama!"


"Iya, paham tan, udah ya.." Bee sudah mau melangkah pergi, tapi tangan tante Di menahannya.


"Apa lagi tante?" ucap Bee kesal. Sebanyak itu wejangan dari tante dan papa nya, mana mungkin dia ingat, lebih ga mungkin lagi dia terapkan. Bukan Bee nama nya kalau ga pembangkang.


"Kalau Bintang lagi minta jatah, kamu harus kasih. Walau sibuk, ga mood atau pun lelah, kamu harus tetap layani dia di tempat tidur.."


Tatapan Bee membulat. Tante Di dengan gampangnya membahas masalah itu, yang Bee yakin pasti di dengar Bintang dan papa nya, juga ada teman-temannya yang terdengar cekikikan.


"Udah ah tan, kapan berangkatnya ini.." sela Bee semakin kesal dan malu.


"Bentar, sedikit lagi...kalau lagi main, kamu harus mendesah yang kuat, karena pria suka saat wanitanya mendesah kuat-kuat, seperti ah..ah..yes..yes.." Tante Di terbawa suasana, hingga begitu sempurna menirukan. Bee terpaksa menutup mulut tante Di dengan tangannya karena malu.


Bintang juga melangkah keluar sangkin malu nya di ikuti Hutomo. Seisi ruangan yang terdengar hanya suara tawa ke tiga temannya.


"Tunggu kita di Jakarta ya Bee, semoga kita jadi kuliah di Jakarta, jadi kan bisa bareng lagi kuliahnya" ucap Tya yang lebih dulu memeluk Bee.


"Pasti.." bisa kan di tebak anak ABG kalau farewell gimana. Nangis deh berjamaah. Mana lama lagi. Bintang sampai dua kali melihat apa acara adu tangis itu sudah kelar, tapi nyatanya masih lanjut.


Dia dengan sabar menunggu. Dia paham tidak mudah bagi Bee untuk pisah dengan semua orang yang dia sayangi dan menyandang status sebagai istri.


Setelah bersalaman, Bintang dan Bee pamit.


"Jaga putriku, nak...aku mohon jadi lah sumber kebahagiaan untuk nya" ucap Hutomo tulus. Bintang hanya menggenggam tangan mertua nya seraya mengangguk. Perjanjian satu tahun mereka hanya tahu tiga orang, Bintang, Bee dan Elang. Dia tak ingin menghancurkan kebahagiaan dan harapan papa dan tante Di atas pernikahan mereka saat ini. Jika perpisahan itu ada, maka biar lah waktu yang akan memberitahukan semua nya.