
Sampai di rumah, Bee sudah di sambut dengan banyak bunga dan hiasan welcome home di ruang tamu. Para sahabat nya juga sudah ada di sana, menyambut kedatangannya.
"Kangen.." ucap ke empatnya berpelukan, padahal baru kemarin mereka ketemu di rumah sakit. Bintang yang melihat ke lebayan mereka hanya tersenyum, meninggalkan para gadis itu untuk bergabung dengan Hutomo.
Di sana juga ada keluarga Lala yang ikut menyambut kepulangan Bee. Serta papa dan mama nya Tya, karena insiden itu terjadi karena pohon jambu mereka.
"Elang mana Ca?" tanya Bee yang sudah berbaring di tempat tidur. Perban di kepalanya masih belum di buka, begitu pun di pergelangan kakinya.
Dokter pun meminta nya untuk tidak terlalu banyak bergerak dulu, agar tulang kakinya yang sempat bergeser, bisa cepat membaik.
"Tau, emang aku baby sitter nya?" balas Caca cuek.
"Bee, kita sayang banget sama kamu, tapi kamu ga boleh gitu dong. Kamu kan bentar lagi bakal nikah sama kak Bintang, kok masih nyariin Elang?" ucap Lala kesal. Masih berharap seandainya Bintang mau melepas Bee dan melihat ke arahnya.
"Ga. Aku ga mau sama dia. Aku mau nya cuman sama Elang. Aku akan cari cara buat Bintang ga suka sama aku, atau lebih bagus melirik gadis lain aja. Ntar kan dia bakal ngelepas aku tuh" ucap Bee dengan senyum sumringah.
Baru menyadari ide brilian nya. "Kenapa ga dari dulu gue mikirnya kayak gitu ya?" celetuk nya tanpa sadar.
"Kalian kan pada suka tu sama dia, coba aja deketin. Dari pada si Dina yang ngedekatin duluan" sambungnya menatap teman-temannya satu persatu.
"Kamu yakin kalau kita dekati kak Bintang, kamu ga bakal marah?" sahut Lala. Kalau sudah Bee sendiri yang ngizi kan, beda cerita, dia tak akan dianggap musuh dalam selimut. Tentu saja dia siap bersaing mendapatkan hati Bintang.
"Ga bakal. Malah kalau kalian bisa mendapatkan perhatian Bintang, itu jadi berkat buat aku. Aku bakal berterimakasih banget sama gadis tersebut."
"Ok, kalau gitu mulai sekarang, aku bakal mendekati kak Bintang" seru Lala bersemangat.
"Aku juga" sambar Caca
"Aku ikut!" Tya ga mau kalah.
"Tapi ingat, siapapun yang bisa mendapatkan perhatian Bintang, dan di pilih pria itu, ga ada yang boleh sakit hati. Harus bersaing secara sehat, dan kita semua tetap jadi teman baik" ucap Bee.
"Setujuuuuu.." seru yang tiga nya kompakan.
Dua hari kedepannya, Bee harus terus ada di kamar. Makan tidur, dengar musik, nonton video, film pokoknya semua aktifitas ada di tempat tidur, hanya mandi yang ga.
Seorang perawat di tugas kan Bintang untuk merawat dan membantu semua kegiatan pribadi Bee. Yang membuat gadis itu berdecak kesal, perawat itu sekaligus minta mengawasi Bee untuk tidak keluar dari kamar.
Syukur lah hari ini perban Bee di buka. Gadis itu bersemangat untuk mencoba bisa berjalan lagi tanpa bantuan tongkat. Walau masih sakit, tapi sudah lebih mendingan. Dokter ortopedi yang pagi ini memeriksa kakinya mengatakan, luka nya sudah membaik, asal Bee jangan lasak dulu.
Begitu di nyatakan sudah dalam kondisi baik, Bee dengan semangat bersiap untuk menemui Elang. Sudah dua hari dia tak bertemu dengan kekasih hatinya itu. Lagi pula mata-mata Bintang berupa suster, sudah di tarik nya setelah mendengar keterangan dokter.
Tanpa sepengetahuan tante Di, Bee menyelinap keluar. Papa nya juga sudah berangkat ke ladang, jadi Bee dapat dengan mudah menyelinap keluar.
Dugaannya tepat, Elang ada di sana. Sedang ngobrol dengan salah satu teman nya. Melihat Bee datang, Elang dengan enggan menghentikan obrolannya lalu berjalan ke arah Bee.
"Lang.."
"Kamu ngapain ke mari?" tanya Elang dingin.
Keterkejutan Bee atas intonasi suara Elang padanya membuat wajah Bee tampak pucat. Diperhatikan nya penampilan Elang yang aut-autan. Wajah nya tampak seperti orang kurang tidur.
"Lang, kamu baik-baik aja?" ucap Bee menyentuh lengan Elang, namun pria itu segera menepis nya dengan kuat seolah jijik bersentuhan dengan Bee, hingga tanpa sadar Bee sudah jatuh terduduk ke tanah. Melihat itu, Elang bahkan tak tergugah untuk menolong Bee bangkit.
Dengan menundukkan wajahnya, Bee bangkit berdiri, mencoba menahan laju air mata atas perubahan sikap Elang padanya.
Elang, apa yang terjadi, kenapa kamu berubah?
"Lang, kamu kenapa? aku salah apa Lang hingga kamu bersikap seperti itu sama aku?" suara Bee terdengar bergetar, sedih atas sikap Elang yang kasar padanya.
"Kamu masih tanya kenapa? sekarang juga kamu pergi, aku ga mau lihat wajah lugu tapi penuh kebohongan itu!" salak nya dengan sorot mata merah.
Sudah dua hari dia tidak tidur, tidak pulang kerumahnya. Setelah mendengar penuturan Hutomo, yang melarang nya untuk mendekati Bee, Elang begitu marah dan tidak terima. Terlebih saat Hutomo mengatakan Bee sudah bertunangan dan akan segera menikah dengan Bintang, tuan muda yang kaya raya, pengusaha dari Jakarta.
Elang kenal pria itu. Orang baru di lingkungan mereka, yang sangat terkenal memiliki harta dan lahan sawit yang cukup luas di Pekanbaru.
Saat pulang dari rumah sakit, Elang juga sempat berpapasan dengan Bintang, yang baru masuk ke area parkir rumah sakit. Bisa di tebak nya pria itu datang untuk Bee.
"Lang..kamu jangan gini, ayo kita bicara baik-baik. Aku ga akan bisa tenang kalau kamu marah-marah sama aku" ucap Bee menghapus air matanya.
Hati Elang akhirnya luluh melihat jejak tetes air mata Bee. "Ikut aku.." Elang sudah berjalan dengan langkah lebar, membawa Bee ke belakang gedung.
Pada sebuah tong kosong yang sudah di potong dua, Elang sudah duduk dengan arogannya. Amarah nya membuat dia tak Sudi untuk melihat ke arah gadis itu.
"Waktu mu 10 menit untuk menjelaskan pada ku, perihal pertunangan sialan mu itu!" ucap nya getir.
"Ka-mu sudah tahu?" tanya Bee semakin pucat.
"Ya.. aku tahu. Dan aku dipermalukan oleh papa mu. Dengan tegas beliau meminta ku untuk menjauhi mu!"
"Aku bisa jelaskan Lang.." Isak nya mulai terdengar.
"Apa lagi yang perlu kamu jelaskan? sudah lah Bee, pergi lah bersama pria itu. Dia lebih dari segala nya dari ku. Di bandingkan dia, aku tidak ada apa-apanya!" terasa ada rasa sedih serta sakit hati dalam nada suara Elang.
"Tapi yang aku cintai kamu Lang, bukan dia.."