
Tentu saja siang hari sudah hampir lewat dari batas nya saat kedua nya mau beranjak dari kasur. Pukul tujuh pagi tadi keduanya sebenarnya sudah bangun, sarapan di tempat tidur sebelum kembali bergulat. Tidak ada yang lebih indah dari hari ini.
Hanya setengah jam selepas sarapan mereka menghubungi ibu, itu pun karena rengekan Bee yang ingin melihat Saga.
"Tenang saja, cucu ibu sedang main, setelah sarapan tadi. Nikmati lah kebersamaan kalian, ibu ingin segera mendapatkan cucu lagi. Saga ingin adik perempuan" ucap ibu sebelum menutup panggilan telepon.
"Apa kata ibu?" suara serak Bintang dari belakang tubuh Bee berhasil mengambil perhatian Bee.
"Ga ada. Saga sedang main, dia baik aja"
"Hanya itu?" goda Bintang yang jelas-jelas mendengar suara ibunya tadi.
"Iya, hanya itu kak"
Bintang melayangkan tatapan gemas pada Bee. "Masa iya, ga ada singgung soal cucu baru gitu?"
Wajah Bee semakin merah padam, perlahan mengangguk. Tawa Bintang menggema seiring tubuh gadis itu kembali di gendong nya ke tempat tidur.
***
"Mau apa lo kemari?" Kinan menyambut kedatangan pria yang paling tidak ingin dia temui itu dengan berkacak pinggang.
"Biasa aja dong. Gue juga ogah kemari kalau bukan karena di minta ibu" wajah Piter tidak kalah masam nya dengan tuan rumah.
Untuk menyeret langkah sampai kemari pun sudah setengah hati. Kalau tidak karena ibu ngomel berkepanjangan dan mengatakan sudah terzolimi punya anak durhaka sepertinya, mana mau Piter datang kemari. Tapi karena rasa bakti nya pada ibu, dan ingin menyenangkan hati beliau, akhirnya Piter mengalah menuruti keinginan wanita itu.
"Buruan, lo kemari mau apa?" Kinan bahkan tidak duduk bersama tamu yang membuat suasana hatinya kesal.
"Ibu minta gue nganterin lo buat fitting"
"Gue bisa sendiri. Lagian Bee udah janji nemani gue hari ini" ucap Kinan penuh kemenangan. Dia memang tidak ingin pergi sendiri. Pagi tadi Kinan sudah menghubungi Bee dan mengatakan kesediannya untuk menemaninya, tapi aneh nya hingga siang begini Bee belum juga datang, bahkan hari sudah hampir sore.
Satu hal yang tidak diketahui Kinan, bahwa ibu meminta Bee untuk menemani suaminya, menghabiskan waktu mereka berdua setidaknya dua hari ini dalam kamar. Bee sendiri sudah mengatakan niat nya untuk menemani Kinan melihat gaun pengantinnya, tapi ibu mengatakan Piter yang akan menemani calon istrinya.
"Kakak ipar sedang sibuk ngurus burung suaminya, jadi lo ga perlu mengganggu kesenangan orang" ucap Piter malas.
Kinan diam sesaat menimbang menerima tawaran pria tengik itu atau kembali ke kamar untuk melanjutkan drama Korea yang sedang dia tonton tadi.
"Tunggu sebentar, gue ganti baju"
Butik Seba kembali riuh saat tahu anggota keluarga Danendra kembali datang. Seba langsung sigap membantu Kinan memilih beberapa gaun yang ingin dia pakai saat pernikahan nya nanti.
"Cantik banget..seperti bidadari" ucap Seba puas. Hanya butuh waktu dua Minggu untuk mengerjakan gaun ini, mengerahkan tenaga dan waktu nya untuk membuat gaun indah pesanan keluarga Danendra. Walau tidak semewah gaun-gaun yang di pakai Bee, tapi gaun ini sangat cantik dan menawan dengan segala hiasan permata.
"Beneran cantik kak?" ucap Kinan mengagumi gaun itu, dia tampak begitu menawan dan anggun.
"Tanya dong sama calon suami lo sana"
"Hadeh, kalian ini mau nikah, bakal jadi suami istri, yang akur dong. Mulai saling kenal. Gue udah lama kenal sama Piter, walau kebiasaan dia ga bener, ya ga jauh beda lah sama abang nya, tapi kedua Danendra itu sebenarnya baik banget orang"
"Entah lah kak.."
"Udah sana" Seba menyeret tangan Kinan untuk mau keluar dari tirai besar yang memisahkan mereka dengan Piter yang tengah duduk santai di sofa.
Begitu tirai di buka, Pandangan Piter yang sedari tadi fokus pada layar ponselnya kini terpukau saat menatap Kinan. Gadis itu memang sangat cantik, dia mengakui nya, tapi saat ini, gadis itu tampak mempesona. Wajah polosnya berhasil menaikkan hasrat liar Piter. Nah loh kok?
"Gimana Ter, cantik kan? udah kayak tuan putri kerajaan kan?" Seba menikmati tatapan memuja Piter yang terpesona.
"Biasa aja. Gue udah banyak lihat cewek lebih cantik dari dia dan.."
Kinan menyentak kaki, memutar tubuh nya lalu menyibak tirai besar itu untuk mengganti pakaiannya.
"Jangan di masukkan dalam hati. Dia berbohong. Lo lihat sendiri kan gimana tatapan dia lihat penampilan lo tadi" hibur Seba mengutuk mulut Piter yang berbisa.
Walau dia pria, perasaan Seba sangat sensitif. Dia tahu wanita mana pun akan terluka jika tidak di hargai pasangannya.
"Aku serah kan sama kakak. Ak..".Ueek...ueek..
Kinan sudah berlari menuju wastafel yang ada di dekat ruangan itu.
"Ter, lihat bini lo nih. Kasihan muntah-muntah" teriak Seba yang cepat membuat Piter mendekat.
Nalurinya dengan cepat mengarahkan tangannya ke tengkuk Kinan memijat nya lembut hingga Kinan selesai memuntahkan isi perutnya.
Tisu yang di sodorkan Seba segera di tangkap Piter, tanpa jijik, Piter mengeringkan bekas air liur Kinan di bibirnya. Sudut hati Piter merasa iba melihat wajah lemas Kinan yang dia tahu itu karena kehamilannya.
Dia memang belum menerima anak itu. Bagi nya bayi yang ada dalam kandungan Kinan adalah petaka, yang merusak hidupnya, merenggut kebebasannya, tapi dirinya kasihan pada penderitaan Kinan, yang demi mengandung anaknya harus tersiksa begitu.
"Minum dulu air hangat nya Nan" ucap Seba menyerahkan segelas air hangat ke tangan Kinan setelah wanita itu di duduk kan di salah satu kursi.
"Lo sering kayak gini?" tegur Piter, suara nya lagi-lagi tidak bersahabat. Kinan malas melayani pria itu berdebat. Dia harus menghemat tenaganya, jadi memilih untuk mengangguk saja sebagai jawaban.
Dalam perjalanan pulang, kedua nya hanya diam. Kinan memejamkan matanya, tubuhnya lemas. Jujur saja, mulai dari awal kehamilannya hingga saat ini, dia masih sering mual.
Dokter kandungan tempatnya periksa sudah menjelaskan hal itu biasa terjadi pada ibu hamil dan sudah memberikan obat agar rasa mual nya berkurang, tapi sebenarnya obat mual nya yang paling ampuh adalah ada di dekat Piter, hanya saja Kinan tidak mungkin mengatakannya kan?
"Udah sampai. Lo sampai kapan mau tidur?" hardik Piter.
Perlahan Kinan membuka mata. Melihat keluar jendela, guna memastikan kini dia berada di depan rumah nya, lalu membuka seatbelt dan turun tanpa mengatakan apa pun.
Kata penutup memang tidak ada dalam kamus mereka. Dua orang yang saling membenci. Tapi kata orang dari rasa benci bisa mendatangkan rasa cinta kan? entah lah, yang pasti saat Kinan melangkah masuk ke dalam rumah, Ada sesuatu yang dia tinggalkan di hati pria itu. Sedikit rasa belas kasih.