
Dua hari waktu yang di butuhkan Bintang untuk membujuk Bee agar menyudahi marahnya. Itu pun karena Bintang bersikap tidak tahu malu, datang ke rumah dengan alasan kangen pada Saga, menunggu Bee pulang, merayu dan mengajak ngobrol.
Berat memang, karena hari pertama Bintang sama sekali di kacangin. Dianggap angin lalu sejauh apa pun usaha yang dia lakukan untuk menarik hati Bee tetap saja gagal. Mulai dari bawa bunga, coklat dan juga perhiasan, tidak mampu melebur amarah Bee.
Baru lah pada hari kedua, Bee tiba di rumah terkejut melihat Saga sudah tidur di kamarnya bersama Bintang yang memeluknya.
Ingin membangunkan pria itu, dan meminta pergi, tapi dirinya tidak sampai hati. Yang ada malah menyelimuti keduanya, dan berlalu pergi.
Hari itu Bee memang hanya mengikuti satu mata kuliah pagi tadi pukul delapan. Karena sudah tidak ada kelas, memutuskan untuk pulang cepat, berencana membawa Saga bermain ke luar.
"Masak apa mbok?" Bee mendekati mbok Inah, melihat apa yang tengah di masak wanita itu. Aroma nya begitu wangi, menggoda perut nya mendatangkan rasa lapar.
"Ini tuan minta di masakin buat makan siang, tapi mbok juga bingung mau masak apa, jadinya masak ikan dori saus creamy"
"Oh.." tiba-tiba ada keinginan Bee untuk masak sesuatu. Sudah lama juga dia tidak masak. Dulu saat di rumah nya, sejak kepergian mama nya, Bee rajin untuk masak, jika papa nya membawanya nginap di pondok di kebun sawit mereka.
Masakan instan yang biasa di masak papa untuk makan mereka berhari-hari di sana. Akhirnya Bee terbiasa dengan masakan itu, dan tahu cara buat nya. Rasa rindu pada papanya merayap dalam hatinya. Sudah lama dia tidak menghubungi pria itu. Bahkan papa nya tidak tahu kalau kini dia sudah cerai dengan Bintang.
"Nyonya butuh apa?" tanya mbok Inah saat melihat Bee mencari sesuatu dalam kulkas.
"Aku mau masak ikan patin mbok, ada?"
"Ada Nyah, biar saya yang masak. Nyonya mau di masaki apa?" buru-buru mbok Inah mengeluarkan ikan dan siap untuk mengolahnya.
"Ga usah mbok. Kalau itu udah kelar, mbok istirahat aja, nunggu kak Bintang bangun. Yang ini biar aku masak sendiri" senyum ramah seperti biasanya muncul di wajah Bee. Sikap ramah dan baik hati nya lah yang membuat semua pelayan sayang padanya dan betah untuk tetap kerja di sana, ya tentu saja selain gaji yang besar tentu nya.
Menghabiskan waktu setengah jam berkutat dengan perkakas di dapur, akhirnya masakan Bee jadi. Satu ekor ikan patin di olah Bee menjadi masakan lezat. Pindang patin siap di santap.
Belum mencoba nya pun Bee sudah yakin rasa nya pasti enak. "Wangi Nyah" Mbok Inah yang sedari tadi duduk menemani nyonya nya masak, mendekat tergoda wangi masakan Bee.
"Nanti di coba ya mbok. Tapi Pasti ga seenak masakan si mbok ya.."
"Pasti enak. Si mbok juga belum tentu mahir masak ginian. Ini masakan khas Pekanbaru ya Nyah?"
Bee hanya mengangguk, lalu bersiap menata di mangkok kaca. Saat berbalik, kedua nya terkejut melihat Bintang yang berdiri mengamati mereka di ambang pintu. "Tuan..makan siang nya sudah siap. Mau makan sekarang?" tanya wanita tua itu.
Hoaaam..."Nanti aja mbok.. biar Bee yang siapkan. Saya mau makan siang sama dia aja" ucap nya menguap berkali-kali.
"Si mbok istirahat aja ya, sana..kita mau sayang-sayang an dulu" lanjutnya mengerling pada mbok Inah yang tertawa.
Pura-pura tidak mendengar ucapan Bintang yang sekarang sedang di lakukan Bee. Mungkin semua pelayan di sini sudah memahami kondisi hubungan mereka, dan tampak nya semua nya menginginkan mereka rujuk kembali, jadi wajar kalau mbok Inah mengerti lalu undur diri, tapi Bee tidak akan semudah itu diambil hatinya.
"Sayang nya aku lagi masak apa?" Bintang melingkarkan tangannya di perut Bee, meletakkan dagu pada pundak gadis itu yang sibuk mengupas timun. Tapi Bee tetap tak bergeming, mengunci rapat bibirnya.
"Jangan banyak-banyak makan timun sayang, nanti becek loh" sejurus kemudian, Bee sibuk mencerna ucapan Bintang, makan timun dan becek? emang sih di luar sedang turun hujan, bisa saja jalanan jadi becek, tapi apa hubungannya dengan makan timun?
"Malah bengong, ga ngerti ya?" Bee membiarkan Bintang ber monolog ria. Tak menggubris sedikit pun ucapan nya.
Namun wajah nya seketika memerah, tak kala pria itu membisikkan sesuatu di telinganya, hingga sontak pisau dan timun itu terlepas dari genggaman nya.
Nafas nya sudah tidak beraturan karena mendengar serangkaian isi pikiran Bintang yang menjijikkan menurutnya, tapi juga tak menampik ingin merasainya.
"Bi-bisa ke sana ga kak. Jangan peluk, aku gerah" ucap nya melepas tangan Bintang yang masih erat di tubuhnya.
"Bilang dulu, kamu maafin aku. Aku ga tahan ga ngomongin sama kamu Bee"
"Basi. Kita aja udah cerai hampir enam bulan, selama itu juga kita ga ngomongan kan?"
"Iya tapi sekarang kan aku udah ga perlu menghindari kamu. Aku rindu sama kamu Bee. Rindu semua yang ada pada dirimu, wajah mu, tubuh mu, hatimu. Kau begitu sempurna sayang.."
"Ih.." Bee sudah mendorong Bintang hingga dia bisa lepas dari kungkungan pria itu. "Dasar buaya! Kakak pikir aku ga dengar kemarin kakak bilang tubuh aku jelek, sampai ga cocok pake baju tidur itu?" Bee jadi kesal diingat kan kembali pada hari itu. Saat itu rasanya Bee ingin menyiram kopi panas ke wajah Bintang sangkin kesal nya.
"Itu aku lakukan karena ga mau orang banyak lihat tubuh sexy mu. Lihat aku.." Bintang menahan wajah Bee dengan kedua tangannya agar wanita itu menatap netra hitam mata pria itu.
"Siapa pun tidak boleh ada yang menikmati wajah dan tubuhmu walau hanya dalam imajinasi mereka, atau pun melalui selembar photo. Kau hanya milik ku. Hanya aku yang punya semua yang ada dalam dirimu, mengerti?!"
Semua yang aku katakan itu bohong. Aku hanya tidak ingin orang memandang lain padamu. Tidak ingin image model sensual mereka sematkan pada mu. Aku hanya ingin menikmati mu untuk diri ku sendiri Bee. Aku ingin menyelamatkan mu, tapi aku juga harus menjaga citra mu di depan yang lain kan sayang?"
Bee masih terdiam. Terus mendongak menatap wajah pria itu.
"Percaya pada ku sayang. Aku ingin melindungi mu. Aku cemburu jika ada pria melirik mu, terlebih dengan ***** bejat mereka"
Seakan terhipnotis, Bee perlahan mengangguk, dan saat Bintang membawanya ke dalam pelukannya, Bee tidak menolak, justru merentangkan tangan nya memeluk Bintang. Hangat. Damai. Hati nya begitu tenang dalam pelukan pria nyeleneh nya ini.
Ternyata demi harga diri Bee lah Bintang meminta untuk mengganti model pakaian itu