Sold

Sold
Janji untuk menunggu



"Pesan apa maksud kamu?" salak Elang tak mengerti.


"Pesan untuk mau ketemu dengan ku di cafe seberang sekolah kita. Kamu balas pesan aku, setuju untuk ketemu"


Seketika Elang mengeluarkan ponselnya, mencari pesan yang di maksud, namun tak ada, bahkan nomor Bee pun sudah tak ada di kontaknya. Diam sesaat baru lah Elang mengerti, dan alasan kenapa Desi marah padanya hari ini, minta break, pasti lah karena hal ini.


Saat latihan basket pada jam olahraga, ponselnya di pegang Desi. Pasti saat itu lah Desi membalas pesan dari Bee, dan Desi pula lah yang memblokir nomor gadis itu di hape nya.


"Dengar Bee, aku minta maaf, tapi saat ini aku ga bisa menerima mu. Lihat dirimu?"


"Tapi waktu itu kamu bilang, akan menerimaku kalau aku sudah SMA?" Bee tak perduli lagi, terserah jika Elang menganggapnya cengeng, karena kini air matanya tak bisa di bendung lagi.


"Iya Bee, aku ingat, aku memang ada rasa suka pada mu Bee, tapi penampilanmu buat aku malu. Lihat Desi, sepersepuluh dari penampilannya saja kamu ga ada. Dia keren. Anak Jakarta" ucapnya penuh bangga bisa memiliki Desi. Bagaimana tidak, Desi murid pindahan dari Jakarta, karena papanya yang seorang aparat di pindah tugaskan ke satuan polres Pekanbaru. Saat dia mendekati Desi dan gadis itu langsung menerimanya, Elang merasa seolah mendapatkan piala kemenangan dari semua pria yang mendekati Desi.


Ada kebanggaan tersendiri baginya, bisa memacari gadis-gadis cantik di sekolahnya, ya walau kebanyakan mereka sangat menyebalkan, namun selama tidak buat malu akan penampilan, dan predikat Arjuna sekolah melekat di dirinya, bagi nya tak apa lah makan hati menghadapi tingkah rempong mereka.


Berbeda dengan Bee, Elang tahu, rasa suka, bahkan cinta gadis itu pada nya tulus, tidak menuntut Elang harus bersikap ini dan itu, menerima Elang apa adanya, bahkan dengan sikap br*ngsek nya, namun kurang nya cuman satu, Bee tomboy dan penampilannya asal, kurang menarik sebagai gadis belia. Wajah, jangan tanya, wajah Bee sangat cantik, namun tertutupi penampilan culun nya, yang bagi pria seperti Elang dan sejenisnya, tidak akan bisa melihat emas diantara imitasi.


"Apa hebatnya kalau anak Jakarta?sama aja kan?"


"Iya tapi lihat dong, kamu lihat kan penampilan Desi?siapa yang ga suka sama dia, itu baru di sebut gadis yang tepat untuk jadi pacar. Bukan gadis culun kayak kamu Bee" sedikitpun tak tergugah dengan air mata Bee yang terus mengalir.


"Tapi aku suka sama mu Lang. Aku janji, kalau kamu terima aku sebagai pacar mu, aku akan mengubah penampilan ku, jadi lebih cantik dari Desi" ucap nya menghapus air matanya da berhenti menangis.


"Ok..akan aku tunggu hari itu Bee. Percayalah, jika benar hari itu ada, aku akan datang padamu. Untuk sekarang, biarkan aku bersama Desi, ya?" Elang membelai pipi mulus Bee. Bodohnya lagi, gadis itu mengangguk!


Elang melepas senyuman manis pada Bee, karena sudah berhasil menenangkan gadis itu. Bagi, tak ada ruginya. Saat ini dia akan bersenang-senang dengan gadis mana pun yang dia suka, nanti, jika suatu hari Bee datang padanya dengan penampilan menarik, dia akan memacarinya. Elang yakin hati Bee hanya untuknya. Gadis itu tak mungkin dapat menyukai pria lain, karena hanya ada Elang seorang dalam hati nya sejak kecil.


"Lang, bulan depan aku akan pindah ke Jakarta. Papa menyuruh ku untuk tinggal dengan Tante ku. Kamu mau kan menunggu ku pulang?"


"Ke Jakarta?kenapa mendadak Bee?"


Gadis itu hanya mengangkat bahunya, tanda dia sendiri pun tak mengerti. Semua sudah di putuskan papanya, tanpa menanyakan pendapatnya terlebih dahulu.


"Baik lah Bee, pergilah..aku akan ada di sini saat kamu kembali.."


***


"Udah dong, jangan pada nangis.." ucap Bee menghapus air mata dan menyeka air yang keluar dari hidungnya.


"Kenapa harus pindah si Bee?"tega banget kamu ninggalin kita" ucap Lala, yang tak mau melepas pelukannya di tubuh Bee.


"Maaf, tapi ini keputusan papa. Lagian kalau di pikir-pikir ambil positifnya aja, siapa tahu kalau aku udah jadi anak Jakarta, jadi keren, Elang bisa jatuh hati padaku"


"Jangan bilang ini semua demi Elang?" salak Caca menggelegar.


"Yeee..itu kan cuman benefit nya aja aku perkirakan, bukan kok..malah kalau boleh aku ga mau pindah, ga mau pisah sama kalian.." ucap nya menahan laju air mata yang coba ingin turun lagi.


"Ya udah, baik-baik di sana ya Bee..nanti kalau libur, ingat pulang kemari, dab jangan jadi sombong ya sama kita-kita" timpal Tya yang sudah bisa menguasai diri.


"Ga bakal lupa. Kalian teman terbaik ku selama nya. Sini kita pelukan lagi.."


Kembali berempat berpelukan. Semua masalah bisa diatasi jika kita sabar dan berserah diri pada yang kuasa. Dibalik air mata, pasti ada tawa bahagia yang akan mengikutinya. Asal kita bisa ikhlas.


"Nanti di Jakarta, kamu ketemu cowok cakep dong Bee, secara kota besar banyak cowok cakep, bak artis-artis sinetron di tv itu Bee" celoteh Lala mengunyah kentang gorengnya.


Hari ini mereka nongkrong di KCF hitung-hitung acara Farewell party nya Bee. Setelah lelah menangis tadi, perut kelaparan, jadi KCF tempat nongkrong sejuta umat jadi tempat pilihan yang pas, untuk kantong anak sekolahan.


"Ga Yee..aku bakal setia sama Elang. Selamanya Elang.." balasnya penuh keyakinan.


"Idih..cowok gesrek aja kamu demenin Bee..kalau aku sih ogah" ucap Caca menyeruput mocca float nya.


"Yee..selera orang kan beda-beda lagi" potong Bee ga mau kalah.


"Tapi nih ya, seriusan loh..kalau seandainya kamu benar-benar berjodoh sama cowok tampan, kaya, pengusaha sukses, aduh...senang banget ga sih" ucap Lala, dengan imajinasi menerawang ke mana-mana.


"Yeeee.. banyak kan nonton film romance sih ni anak. Ngayalnya jadi kejauhan" Tya menepuk jidat Lala yang membuat gadis itu meringis kesakitan.


"Tapi benar tuh, bayangin aja dulu..kayak kata kak Agnes.." Berani lah bermimpi..karena dari mimpi awal dari kenyataan yang akan kita raih.." timpal Caca membenarkan ucapan Lala.


"Kak Agnes siapa?anak nya pak RT?" hahahaha... keempat nya tertawa renyah. Seakan dengan tawa semua beban dan kesedihan sirna. Apa yang akan ada di depan sana..biar lah masa yang akan menjawab.