Sold

Sold
Khawatir



Sepanjang jalan menuju kelas, Bee masih terus berpikir keras. Sikap dan ucapan kepala sekolah nya begitu aneh. Terlebih kalimat terakhir dari kepala sekolah sebelum Bee keluar.


"Kamu boleh pulang Bee, beristirahat di rumah. Silahkan ambil waktu, tiga hari atau seminggu juga tidak apa-apa, biar kesehatan kamu cepat pulih. Di luar sudah ada yang menjemput kamu"


Masih belum menemukan jawaban, Bee sudah tiba di depan kelasnya. Dengan pikiran masih bercabang, Bee membereskan buku dan alat tulisnya ke dalam kelas.


"Mau kemana Lo?" hardik Kiki melihat kesibukan temannya.


"Pulang. Aneh ga, masa kepsek minta gue pulang, buat istirahat. Gue kan cuma pingsan karena kelaparan, Ki" terang Bee masih kelihatan bingung.


"Enak dong, mungkin karena lo kebanggaan sekolah kali, super model" sahut Kiki asal. Rada kesal karena harus mengikuti pelajaran matematika seorang diri. Lagian tadi Bee juga udah janji padanya untuk menemani ke mall sepulang sekolah, kalau dia pulang berarti rencana nongkrong mereka kan gagal.


"Super model dari Hongkong? gue serius nih. Kok sikap nya aneh gitu ke gue? terus siapa tuh yang lagi jemput gue?" tanya nya, tapi lebih ke diri sendiri. Pikir aja, dia pingsan, di suruh pulang dan udah ada aja yang jemput.


"Oh..sorry Bee, mungkin yang jemput lo tante Di. Soalnya tadi pas lo pingsan, gue kan panik tuh, gue telpon tante Di" ujar nya santai. Tak perduli tatapan tajam Bee yang ingin menebas lehernya.


"Ngapain sih lo pake acara nelpon tante gue? udah deh, gue pulang dulu. Selamat deh Lo ngerjain tugas pak Suwandi, beibeh!"


"Terus rencana kita nongkrong batal lagi?" tanpa sadar volume suara Kiki naik, hingga semua pengisi kelas ikut dengar.


"Kiki, kamu kenapa? ini kelas, bukan pasar, maju ke depan, selesaikan soal nomor tiga!" hardik pak Suwandi.


****


Siap-siap deh kena omel..


Dari jauh tampak sebuah mobil mewah berwarna hitam. Mobil itu yang pasti bukan milik tante Di atau pun om Edo.


"Beruntung banget tante mesan taxi online dapat mobil mewah" cicit nya tersenyum.


Mendadak senyum di wajah Bee menguap, hilang terbawa angin tipis yang berhembus. Dari dalam mobil keluar seorang pria memakai stelan jam hitam. Wajah yang familiar yang belakangan ini wara-wiri di hidupnya. Riko.


Langkah Bee terhenti. Kakinya bahkan tidak mau di seret untuk maju. Seolah terpaku menyatu dengan tanah.


Kok asisten si mesum yang malah jemput gue. kan yang di telpon Kiki tante Di. Lagian biasanya, kalau Riko ada, pasti ada..


"Selamat siang nyonya, tuan sudah menunggu anda di dalam mobil" sapa Riko yang malah menyongsongnya karena berhenti.


Rasa syok itu masih ada, malah bertambah saat Riko membuka pintu mobil untuk nya. Dari tempatnya, Bee bahkan sudah bisa melihat sepatu mengkilat milik Bintang.


Dia bisa apa selain mengikuti ucapan Riko. Masuk dan duduk di samping pria itu. Bahkan Bee tak sanggup melihat wajah pria itu. Padahal dia kan tidak lagi berbuat salah!


Setelah Riko masuk dan menjalankan mobil, ketegangan di jok belakang terasa mencekam. Udah kayak di kuburan.


Bee hanya menunduk. Memilin jarinya. Ini semua karena persoalan kabur dia kemarin sehingga Bintang masih mendiaminya.


Tiba-tiba, Bee dapat ide untuk melepaskan dirinya dari boikot Bintang.Dia yakin pasti berhasil.


Ragu-ragu, jarinya memijit keningnya. "Aduh.." cicitnya pelan, namun dia yakin pasti bisa di dengar Bintang.


"Kamu kenapa? mana yang sakit?" sambar Bintang cepat, mendekatkan tubuh nya pada Bee. Memijat tengkuk dan pelipis gadis itu.


"Riko, kita ke rumah sakit sekarang"


"Ga usah kak" potong Bee. Gawat kan kalau sampai dokter ngasih tahu dia baik-baik saja. " Gue ga papa, cuman masih pusing aja"


"Benar?" Bintang menarik dagu Bee untuk melihat ke dalam bola mata gadis itu, memastikan dia benar baik-baik saja.


Bee hanya mengangguk. Dan detik berikutnya wajah nya sudah direbahkan di dada Bintang. Penuh senyum geli Bee memejamkan matanya. Bisa dia dengar dentuman suara jantung pria itu.


Kok gue merasa nyaman banget sih sama si omes ini. Ga..ini pasti karena gue kangen Elang. Udah beberapa hari dia ga nelpon gue


Hingga tiba di rumah, Bee tidur di pangkuan Bintang. Di tengah jalan, gadis itu sudah jatuh terlelap, hingga Bintang membenarkan posisi kepalanya di pangkuan Bintang.


Sepanjang jalan, Bintang membelai punggung Bee, mengusap kepalanya, menikmati indah gadis wajah nya dengan jemarinya yang mengikuti tulang wajah wanita itu.


Tak terbayang rasa takutnya tadi. Siang itu Bintang baru saja akan memulai meeting mingguannya yang biasa di laksanakan setiap Senin, ketika telpon Tante Di yang mengabarkan tentang Bee yang pingsan di sekolah.


Meeting langsung di tunda, segera meluncur ke sekolah Bee. Kepala sekolah Bee bahkan jadi amukan amarah Bintang, karena sudah teledor membiarkan guru menghukum Bee hingga gadis itu pingsan di tengah lapangan.


Kepala sekolah tahu siapa pria sangar yang mendatanginya. Bintang Danendra. Siapa yang tak mengenalnya. Bahkan kepala sekolah Bee begitu menggilai prestasi dan buah pemikiran Bintang dalam berbisnis. Kepsek malang itu habis di intimidasi Riko. Mengancam akan menuntut sekolah itu.


"Segera minta nyo..nona Bellaetrix untuk pulang dan beristirahat" perintah Riko tegas sembari meralat panggilannya terhadap Bee.


Bintang hanya duduk di sana, diam dengan sorot mata mematikan.


Kepsek itu hanya mengangguk, sembari terus mengucap maaf. Dia tak menyangka kalau Bee bisa mengenal tuan Bintang Danendra.


"Satu lagi, jangan sampai ada kabar tentang tuan Bintang menemui anda.." ancam Riko, sebelum keduanya berlalu dari ruangan itu.


Kalau lah bukan karena merasa takut, kepala sekolah bahkan ingin meminta photo bersama Bintang. Kalau di pajang di ruangannya pasti akan membuatnya bangga.


Mobil sudah berhenti di halaman rumah, dan gadis itu belum juga bangun. Mungkin terasa nyaman tidur dalam mobil mewah, atau aroma tubuh pria itu terasa menenangkan bak obat penenang untuknya.


Tak ingin tidur Bee terganggu, Bintang menggendong gadis itu hingga menuju kamar. Merebahkan tubuh Bee serta membuka sepatunya.


Dengan Rok yang begitu pendek, Bintang bisa leluasa menikmati paha mulus Bee. Ini lah alasannya kenapa dia tak menerima bantuan Riko tadi, yang menawarkan agar dirinya membantu menggendong Bee ke kamar.


Ada kerut di dahi Bee, seolah wanita itu sedang bermimpi buruk. Bintang berinisiatif untuk ikut merebahkan dirinya di samping Bee. Dan benar saja, aroma pria itu lagi-lagi menghipnotis Bee untuk mendekat, memeluk Bintang. Bahkan kakinya sudah menimpa paha Bintang, layaknya guling.