
"Gimana Bee? ada uang nya?" desak Elang saat mereka janjian ketemu di cafe tempat biasa mereka nongkrong.
"Belum ada Lang. Aku harus cari kemana?" ucap Bee lemah. Merasa Elang hanya membutuhkannya karena uang itu, bukan karena dia benar-benar mencintai nya.
"Aduh..jadi aku harus bagaimana Bee? kamu kan pacar ku, harus nya kamu bisa bantu aku, meringankan beban pikiran ku. Berguna dong jadi pacar!"
Deg!
Ada dentuman keras yang begitu menyakitkan di balik dada nya. Sakit, tapi tidak berdarah.
"Kok kamu bisa ngomong gitu Lang?" pandangan Bee mulai mengabur, kabut air mata siap untuk terjun bebas.
"Benar kan yang aku bilang? kamu bilang cinta sama aku, mau dukung karir aku, tapi mana buktinya?" salak Elang semakin kesal. Dia kira mengajak Bee bertemu akan membawa jalan keluar untuk dia dan band nya hari ini.
"Aku bakal dukung, apa pun keinginan kamu, impian kamu. Tapi untuk permintaan mu kali ini aku harus cari kemana?" suara Bee bergetar. Rasa nya berat sekali perjalanan untuk mencintai pria ini.
Diam, hening. Elang hanya menendang-nendang tanah dengan ujung sepatu nya. Lalu lalang muda-mudi yang tengah pacaran, menjadi objek tatapan mereka dalam kebisuan.
Tiba-tiba Elang mengingat sesuatu. Walau rasanya akan sedikit terdengar brengsek, tapi dia ga punya pilihan lain.
"Bee.."suara Elang bergetar, ada rasa takut terselip di hatinya. Dia pun sadar, ini akan terdengar gila.
"Bee.." ulang nya saat gadis itu masih diam tak bergeming.
"Sayang.." Elang bersimpuh di hadapan Bee, menggengam tangan wanita itu.
"Kamu mau bantu aku kan sayang?kamu cinta kan sama aku?"
"Untuk apa kamu tanya Lang, kamu tahu benar isi hati ku" ucap Bee lemah.
"Kalau begitu, kamu akan lakukan apa pun demi aku?"
Dengan mantap Bee mengangguk. Terlalu lelah untuk bertengkar. Dia hanya ingin menikmati kebersamaan mereka, tanpa ada pertikaian atau adu mulut.
"Mau kah kamu meminjam uang pada tuan Bintang?"
Bak gelegar menyambar telinganya, Bee masih tak percaya atas apa yang dia dengar. "Bintang?" ucap nya memastikan.
"Iya, Bintang, pria kaya raya yang dulu ingin menikahi mu" balas nya cepat.
"Kamu gila ya? kamu suruh aku minjam uang sama dia? Lang..kamu ga ingat masalah aku dengan dia?" salak Bee menghempaskan tangan nya dari genggaman pria itu.
"Aku ingat. Justru itu Bee. Dia kan suka sama kamu, mau menikahi mu dulu, artinya dia ga akan nolak apa pun permintaanmu, please Bee hanya dia jalan satu-satunya buat kita"
Kita? kamu hanya memikirkan kepentingan mu Lang. Kamu ga mikir perasaan ku, harga diriku! Bisa-bisanya kamu nyuruh aku nemuin dia buat minjam uang..!
Ingin rasanya mengungkapkan semua kalimat itu pada Elang, tapi Bee hanya berani mengucapkannya di dalam hatinya. Terlalu takut kalau Elang akan marah, dan meninggalkan nya karena hal itu.
"Please Bee, kamu coba dulu ya sayang" ucap nya menangkup kedua sisi wajah Bee.
***
Sudah lima belas menit Bee mondar-mandir di ruang tamu. Pergumulan di hati nya masih membuatnya ragu untuk melangkah. Namu. mengingat wajah memelas Elang tadi, sungguh dia tidak tega.
"Mencoba aja kan ga salah, kalau dikasih syukur, ga juga ga papa" cicitnya memutuskan untuk menemui pria itu.
"Ish..kak Bintang bisa aja.." ucap gadis itu terdengar manja. Bee masih diam di tempatnya, mendengarkan dengan seksama percakapan mereka.
Tidak ada yang biasa, tapi aneh ada rasa tidak suka yang menjalar di hatinya, yang dia sendiri tak mengerti karena apa. Dengan perasan kesal dia memutar balik tubuhnya. Rasa kesal naik menjadi rasa jijik.
Dasar mesum..ga jadi nikah sama gue, teman gue yang lu dekati..
Baru selangkah, namun pendengaran membuat kaki nya berhenti, secepat kilat di memutar kembali tubuhnya mendekati pintu rumah itu.
"Aku serius kak, belum punya pacar, belum pacaran malah.." ucap Lala dengan suara manja yang terlalu di buat-buat.
"Masa cantik begini kamu belum punya pacar sih" balas sang pria yang berhasil menggiring emosi Bee.
"Benar kak..dari kita berempat, baru Bee yang naksir sama cowok, dan pacaran..tapi sekarang aku udah punya cowok yang aku taksir kak.." Bee masih mendengarkan dalam diam. Tanpa dia sadari tangannya sudah terkepal di sisi tubuhnya.
"Oh iya.. beruntung banget pria itu.."
"Kakak mau tahu siapa yang aku su.."
Emosi tak terkontrol, Bee menerobos masuk, yang langsung menahan kalimat Lala yang menggantung di udara.
"Bee?" wajah kaget Lala jelas terpampang nyata di wajahnya. Sementara Bintang, dengan santai menatap Bee dengan senyum mematikannya.
Sebenarnya Bintang sudah tahu Bee ada di sana, berdiri mendengarkan dalam diamnya. Sejak kedatangan gadis itu yang terpantul dari kaca jendela, Bintang sangat gembira.
Awalnya wajah gadis itu begitu teduh. Sampai saat dia mendengar suara Lala, yang membuat gadis itu berdiam diri di sana mendengar kan.
Bintang juga tahu, kalau sikap lancang Bee menerobos masuk, karena tak bisa menampung kekesalannya lagi.
"Hai.." sapa Bintang santai.
"Bee..kamu ngapain di sini?" susul Lala yang tak mengetahui amarah yang tersimpan di balik wajah kesal sahabat nya itu.
"Ga..aku..aku.."lama Bee diam, berfikir mencari alasan yang bisa menyelamatkan wajahnya dari rasa malu.
"Aku mau minjam charger ponsel. Punya ku rusak" ucapnya datar, dengan helaan nafas karena lega,berhasil mendapatkan alasan yang masuk akal.
"Oh.." sahut Lala masih menatapnya. Tatapan itu seolah. Bee adalah tamu, dan Lala adalah nyonya rumah nya, hal itu membuat Bee ingin menjitak teman nya itu.
"Kamu sendiri, ngapain di sini?" pertanyaan yang akhirnya dia sesali karena sedikit banyak Bintang bisa melihat rasa tidak suka Bee pada Lala. Dan itu membuat satu baris senyum melengkung indah di bibirnya.
Bergaul dengan para ABG ini membuat nya terhibur, lucu.
"Aku kemari bawa kue bolu yang aku buat tadi pagi. Tebak Bee, kak Bintang suka banget, katanya besok-besok mau di buatkan lagi"
Kalimat Lala tak lagi penting untuk di resapi nya. Selagi Lala berceloteh, Bee justru menghunus leher Bintang dengan tatapan yang setajam silet. Seraya mengatakan 'Aku ga suka kamu dekat-dekat dengan dia'.
Tapi Bintang seakan tidak perduli, malah menatap Lala yang masih asik bercerita.
"Aku pulang!" ucap nya membalikkan badan.
"Loh Bee, cas-an nya?" seru Lala menghentikan langkah Bee. Gadis itu memutar tubuhnya menghadap kedua orang itu, tapi tatapannya tetap pada Bintang.
"Ga jadi!" dengan kesal dan setengah membentak sebelum berlalu pergi.