Sold

Sold
Kencan yang di pantau



"Gimana kabar kamu?" tanya Elang membelai pipi Bee setelah duduk di salah satu kursi di sudut ruangan cafe.


"Eh..oh.. baik" ucap Bee. Saat memikirkan akan bertemu dengan Elang tadi, dia begitu bersemangat, tapi setelah ketemu, entah mengapa dia jadi tidak nyaman.


"Wajah mu pucat, kamu baik-baik aja Bee?" tangan Elang kembali menyentuh pipinya, tapi belum sempat Bee menjawab, Mira yang ikut bersama nya yang sedari tadi duduk bersama pria ber jas hitam duduk mengamati mereka dari salah satu meja di ruangan itu bangkit dan berjalan ke arah nya.


"Maaf nyonya, tuan minta agar anda menjaga sikap. Tidak di izinkan pria ini menyentuh anda" bisik Mira. Bee menggeram dalam hati.


Dasar Psycho ya omes itu!


"Ada apa Bee? siapa wanita itu?" tanya Elang menatap Mira yang kini sudah kembali ke kursinya bersama pengawal suruhan Bintang.


"Teman..gimana rekaman mu?" Bee mencoba mengalihkan pembicaraan agar Elang tidak perlu bertanya ini dan itu yang membuat Bee semakin hilang mood.


Tak perlu menunggu lama, Elang sudah asik bercerita mengenai perkembangan bandnya. Mereka sudah mulai rekaman dan single pertama mereka akan rilis minggu depan. Mereka banyak diundang station radio di Jakarta bahkan luar Jakarta.


Dan jadwal itu manggung menjadi band pembuka konser band besar juga sudah di tangan mereka.


"Kamu tenang aja Bee, secepatnya aku akan membebaskan mu dari pria itu dan kita akan bersama lagi" ucap Elang yang ingin meraih tangan Bee, tapi segera di tarik oleh gadis itu.


"Maaf Lang, anak buah Bintang ada di sini, mengawasi kita" bisik Bee. Kepala Elang memutar mencari sosok yang cocok di tebak sebagai mata-mata mereka.


"Yang di sana?" tanya nya menunjuk Mira dan si jas hitam dengan pandangan matanya. Bee hanya perlu mengangguk untuk membenarkan tebakannya.


"Gila..ayo kita pergi dari sini. Kurang kerjaan banget sih ngawasin kamu" Elang sudah akan menarik tangan Bee, tapi Bee cepat menggeleng.


"Sekarang aku terikat kontrak dengannya sebagai istri, aku harus ikutin aturan yang dia buat Lang. Dia ngizinin aku ketemu sama kamu tapi ga boleh ada sentuhan fisik apa pun"


Amarah Elang tersulut. Tidak menyangka mereka akan mengikat tali ke leher mereka sendiri karena berurusan dengan pria itu.


"Makanya Bee, aku minta secepatnya kamu hamil, lahirlah anak pria itu, lalu segera minta cerai. Sayang..aku ga ingin kamu terlalu lama bersama nya. Memikirkan nya saja membuat ku marah dan jijik" ucap Elang penuh emosi.


Membuat kamu marah Lang? bukan kah kamu yang buat aku ada di posisi ini? kamu Lang, yang jual aku!


Bee hampir tak bisa menahan luapan kesedihannya. Mata nya sudah berkabut, dia akan kalah, tapi berusaha bertahan, tak mungkin menangis di depan Elang.


Kata-kata Elang yang menganggap posisinya sebagai istri Bintang sangat menjijikkan, mampu membuat harga diri Bee kembali tercabik-cabik sebagai seorang wanita.


Dia menjual dirinya, jika memang menjual harusnya dia dapat keuntungan, di bayar mendapatkan uang, nyatanya? serupiah pun dia tak mendapatkan dari hasil jual diri nya!


Hina, itu yang dia rasakan. Mungkin itu juga lah yang membuat nya membenci Bintang, hingga setiap melihat pria itu dia akan menjadi emosi dan mengeluarkan kata-kata pedas.


Elang masih diam, dengan amarah dan pemikiran yang tiada habisnya. Mau memaksa Bee untuk meninggalkan pria itu, tapi jelas dalam kontrak hanya setelah Bee melahirkan pewaris baru mereka akan pisah, jika tidak, Bee akan di tuntut secara hukum.


"Baik lah Bee. Kita ikuti permainan pria itu. Aku akan bersabar sayang, asal hati kamu masih untuk ku"


Senyum malu menghiasai wajah Bee saat mendengar Elang menyebut kata sayang padanya. Seharusnya mereka bisa bersama. Setelah Elang berhasil dengan mimpinya dan kini tinggal di kota yang sama, merajut kasih dengan bahagia harus nya mudah di wujudkan.


Jujur, Bee ingin cepat menyelesaikan pernikahan pura-pura ini. Batin nya selalu sakit setiap bangun di pagi hari, teringat dirinya di rumah pria yang hanya membutuhkan sel telurnya untuk di buahi!


Dia ingin kisah cintanya seperti Sky dan Bumi. Mengejar cinta kekasih dan hidup bahagia.


Tak ingin waktu bersama mereka rusak akan adanya penguntit, Bee dan Elang memutuskan untuk menonton. Panggilan dari Bintang berkali-kali tak dia hirau kan. Bahkan Mira juga sudah mengingatkan kalau Bintang meminta nya untuk pulang sekarang juga.


Bee memang sengaja, melanggar janji ketemu Elang satu jam, menjadi beberapa jam. Di bioskop, mereka tertawa bersama menikmati film komedi romantis, tanpa memperdulikan Mira dan si bodyguard yang ada di kursi barisan belakang mereka.


Bee merasa beban nya sedikit berkurang. Wajah nya kembali ceria. Walau mungkin sampai rumah dia akan di marahi bahkan di hukum..ah.. kata di hukum ala Bee selalu bisa membuat jantung nya berdebar cepat.


"Minggu depan kita jalan lagi sayang.." ucap Elang membelai rambut Bee. Ingin sekali dia mencium bibir gadis itu, tapi di sekitar mereka sudah berdiri sang bodyguard bersiap jika Elang melakukan lebih dari yang di izinkan.


"Iya, makasih ya Lang. Sukses buat album kamu" balas Bee tersenyum. Ingin memeluk pria itu. Betapa Bee kangen pelukan Elang. Rasanya sakit setiap mengingat dia sudah menjual dirinya akan sedikit terobati jika elang memeluk nya. Tapi bagaimana mungkin, mata Mira terus saja menatap mereka.


***


Perjalanan pulang, Bee memilih duduk di belakang sendirian. Meminta Mira duduk bersama sang pengawal. Dia lelah. Ingin tidur sembari mengumpulkan tenaga untuk menerima amarah suaminya.


Diliriknya nya jam channel J12 pink blush milik nya. Sudah jam tujuh lewat dan kemungkinan sampai rumah pukul delapan.


Hampir memejamkan mata, karena tubuhnya juga lelah, Bee baru ingat ada pe-er matematika yang belum dia kerjakan.


Iiih..ada aja yang buat gue kesal!


"Mir, buruan bilang sama sebelah mu, pe-er gue udah nunggu di rumah" sungut Bee.


"Baik nyonya.."


Nyatanya, mata nya tak bisa diajak kompromi. Bee tertidur pulas selama dalam perjalanan hingga mobil sampai depan pintu rumah pun dia tidak sadar. Bintang, layak nya seolah ayah yang menunggu putri nakal nya pulang malam, sudah menunggu di halaman. Tepat saat mobil sudah di parkir, Bintang bersiap untuk meledakkan amarah nya, membuka pintu belakang dengan kasar. Tapi saat melihat sosok Bee yang tertidur pulas, dia kalah lagi.


Cintanya membuat lemah pada Bee. Perlahan, dia menggendong Bee, membawa masuk ke dalam kamarnya.


Gadis itu seperti bayi besar, menyeruak kan kepalanya di ceruk leher Bintang seolah parfume wangi khas pria itu membuatnya semakin nyenyak.