Something different

Something different
Di apartemen Dhea



Setelah Jane pergi, Dhea dan William memesan makanan yang baru buat untuk mereka berdua.


" Kau baru saja mempermalukan aku Will."


" Mempermalukan bagaimana? Aku tadi sangat mengkhawatirkanmu dan kebingungan mencari carimu. Jika kau tersasar bagaimana?"


" Hahhh...Kau pikir aku bodoh sehingga tidak bisa pulang sendiri?"


" Iya aku tau kau pintar Dhe, tapi ini kan bukan negaramu. Jika di negaramu kau bisa pergi kemana mana sendirian. Tapi di sini? Kau kan belum terlalu mengenal karakter orang sini."


" Iya iya...maaf!" Jawab Dhea sambil cemberut.


" Tapi tadi kau membisikkan apa pada Jane?"


" Aku bilang bahwa kau cemburu padanya?"


" Apa? Kau bilang begitu?"


" Iya Dhe, kenapa? Salah ya?"


" Salah sekali, aku tidak cemburu Will."


" Lalu apa Dhe?"


" Lalu...ehh..Pokoknya aku tidak cemburu titik." Jawab Dhea bingung.


" Hahaha kau ini. Kau pikir aku tidak mengenalmu Dhe."


" Tapi aku bersyukur Dhe." Kata William lagi.


" Bersyukur bagaimana?"


" Ya bersyukur, dengan begitu aku jadi tau bahwa kau juga sebenarnya mencintaiku juga kan sayang???"


" Ihhh kau ini ", kata Dhea sambil menghindari tatapan mata William, mukanya berubah menjadi merah karena menahan malu.


" Dhe, kamu mau kan jadi kekasihku?" Tanya William sambil memegang tangan Dhea.


" Aku...." Bibir Dhea tercekat dan tidak mampu mengucapkan satu katapun.


" Kenapa Dhe? Kau takut aku akan mempermainkanmu? Bukankah kau juga mencintaiku Dhe? Pleas jangan munafik Dhe."


" Tidak Will, aku tidak munafik."


" Lalu apa yang kau pikirkan?"


" Aku hanya bingung, lalu jika kita nanti pacaran, kelanjutan hubungan kita kemudian bagaimana? Apakah kita akan terus menjalaninya sedangkan diantara kita tidak ada yang mau mengalah?"


" Kita jalani saja dulu Dhe, dan kita lihat ke depannya nanti bagaimana?"


" Aku masih takut Will."


" Kau takut apa?"


" Aku takut akan kesungguhanmu Will?"


" Dhe apa yang kulakukan selama ini tidak cukup membuatmu yakin padaku?"


" Maaf Will, kau tidak bisa memaksaku."


" Hhhehhh....ya sudah Dhe, tak apa. Aku akan terus menunggumu hingga kau benar-benar bisa percaya padaku."


Dhea diam saja sambil menunduk dan mengaduk aduk minuman di dalam gelasnya.


Tak lama kemudian makanan yang mereka pesan telah tiba. Saat sedang asyik menikmati makanan, tiba tiba perut Dhea terasa sakit.


" Will aku ke belakang dulu ya." Kata Dhea berpamitan pada William.


" Ya Dhe." Jawab William.


Kemudian Dhea langsung bergegas ke toilet.


Saat sudah berada di toilet Dhea berteriak kegirangan.


" Ya Alloh alhamdulillah!!!" Teriak Dhea karena mengetahui tanda tanda bulanannya datang.


" Pantas perutku sedikit sakit." Gumamnya.


Dhea sangat bersyukur berarti dia tidak hamil, padahal dia sudah begitu was was menantinya.


" Kau tidak apa apa kan sayang? Kenapa wajahmu sangat pucat?"


" Aku datang bulan Will?"


" Pantas saja kau akhir akhir ini gampang sekali marah. Aahhh syukurlah, berarti kau tidak perlu menuntutku lagi untuk menikahimu sayang?" Kata William sambil tersenyum lega sembari melirik Dhea.


" Apa maksudmu? Kau akan meninggalkanku setelah kau menodaiku?"


" Heiii sayang! Berarti kau ingin aku menikahimu?" Katanya sembari mengerling nakal.


" Eh ehm bukan begitu maksudku." Kata Dhea gugup.


" Ayolah Dhe jangan berbohong lagi."


Dhea diam saja dan pura pura sibuk dengan makanannya. William hanya menatap Dhea sambil tersenyum senyum sendiri.


Setelah selesai makan kemudian merekapun pulang.


Dhea terus memegangi perutnya.


" Dhe, kau tidak apa apa kan? Kita ke dokter dulu bagaimana?"


" Tidak usah Will, aku biasa seperti ini. Sebentar juga pasti sembuh." Jawab Dhea sambil menahan sakitnya."


" Tapi wajahmu pucat sekali Dhe?"


" Kau pasti tidak pernah datang bulan ya? Makanya sepanik itu." Jawab Dhea sambil bercanda.


" Kau ini Dhe, masih sempat bercanda juga di kondisimu seperti itu."


" Agar kau tidak stres Will." Jawab Dhea berusaha menenangkan William.


" Ya sudah kau tidurlah, nanti jika sudah sampai apartemenmu aku bangunkan." Kata William lagi.


" Ya Will." Kata Dhea sambil berusaha memejamkan matanya.


William terus memacu kendaraannya sedikit kencang agar segera sampai di tempat tujuan, sambil sesekali melirik Dhea yang sepertinya gelisah menahan rasa sakitnya. Setelah tiba Dhea segera turun ditemani William.


" Kau tidak langsung pulang Will?"


" Tidak Dhe, aku ingin menemanimu dulu."


" Kenapa Will?"


" Aku mengkhawatirkanmu Dhe."


" Will...pulanglah aku tidak apa apa!"


" Dhe..." Kata William memohon.


" Ya terserah kau saja." Kata Dhea sambil berjalan menuju lift.


Setelah tiba di kamarnya, Dhea langsung selonjoran di sofa ditemani William yang duduk di depannya.


" Dhe aku pijit ya kakimu?"


" Tidak usah Will."


" Lalu bisa kubantu apa?"


" Duduklah di situ! Diam! Dan jangan banyak tanya! Aku ingin tidur ok!" Jawab Dhea sambil merebahkan tubuhnya.


" Hehhh...wanita jika sedang datang bulan lebih galak dari kucing melahirkan." Gerutu William.


" Williaaaamm.....Aku mendengar gerutuanmu ya!!! Jika perutku tidak sakit, pasti wajahmu yang tampan itu sudah kubuat acak acakan kata Dhea pelan.


" Hehehe...Kupikir kau tidak mendengar Dhe." Sahut William sambil tersenyum.


" Yang sakit itu perutku dan bukan telingaku ya!"


William hanya tersenyum saja mendengar Dhea yang uring uringan.


William terus menunggui Dhea hingga tertidur lelap, sebenarnya dia bisa saja memindahkan Dhea ke tempat tidurnya, tapi dia takut membangunkan wanita pujaannya itu. Dia hanya menutupi Dhea dengan selimutnya saja.


" Selamat tidur sayang, semoga besok pagi saat bangun tubuhmu kembali segar." Bisik William.


Lalu perlahan lahan dia meninggalkan Dhea dan kemudian keluar dari apartemennya.