Something different

Something different
Menelfon Mike



Sore itu William yang sedang duduk santai di taman rumahnya sambil menikmati secangkir teh, terlihat mengotak-atik handphonennya. Dia sengaja ingin menelfon Mike, adiknya. Membahas permasalahan yang terjadi antara Deasy dan Dhea. Sebenarnya lebih tepatnya permasalahan Deasy sendiri yang melibatkan Dhea, begitu kalimat yang lebih pantas diucapkan.


William menggeser jemarinya pada benda segiempat yang sedang dipegangnya itu, dan berhenti pada sebuah nama yang dicarinya. William segera menekan tombol "call" pada handphonennya. Mumpung Dhea sedang mandi, dia harus segera membicarakan ini dengan adiknya, karena jika Dhea mendengarnya, pasti dia akan melarang William lagi, dan membiarkan masalah ini berlarut-larut, begitu pikirnya.


Sebuah nada sambung terdengar di seberang sana. Baru saja berdering dua kali, telfon langsung diangkat. Mike segera menyapanya ramah.


" Haii...Will, apa kabar?"


" Kabarku baik Mike. Bagaimana denganmu?"


" Ohhh aku sangat baik Will."


" Pernikahanmu?"


" Pernikahanku? aku sangat bahagia Will, kau tidak perlu mengkhawatirkanku."


" Ya....jelas saja, istrimu kan sedang hamil, tentu saja kau sangat bahagia bukan?"


" Lho kau sudah mengetahuinya?"


" Tentu saja. Istrimu sendiri yang menelfon istriku."


" Deasy menelfon Dhea?"


" Ya, kenapa? ada yang salah?" tanya William lagi.


" Kenapa Deasy menelfon Dhea? bukankah saat kami baru saja memberitahukan papa, kami sepakat untuk tidak mengabari Dhea dan William terlebih dulu, karena takut membuat Dhea sedih? bahkan saat itu Deasy mendukung sekali dengan ide papa itu. Tapi kenapa dia sendiri yang membocorkan rahasia kehamilannya pada Dhea? ada apa sebenarnya? kenapa secepat itu dia berubah pikiran?" tanya Mike dalam hati.


" Mike?? kenapa kau diam saja? kau tidak ingin berbagi kebahagiaan dengan kakakmu ini, sehingga tidak langsung mengabariku tentang kehamilan Deasy?" Tanya William mengagetkan Mike yang sedang melamun.


" Hemmmm...sepertinya ada sesuatu yang tidak beres, kenapa Mike langsung terdiam saat kuberitahu bahwa kami sudah tau perihal kehamilan istrinya? Dan ada penekanan kata-kata saat dia menyebutkan nama istrinya itu. Kalau aku menduga, pasti Mike dan papa memang belum ingin mengabari kami berdua dulu, melihat kondisi kami yang baru saja kehilangan bayi, pasti mereka memikirkan perasaan kami. Hemmm...jika memang benar, lebih mudah untuk mengurai masalah ini, tanpa aku harus memberi bukti, bahwa Deasy sengaja ingin membuat Dhea sedih dengan mengabari hal tersebut. Ya ya ya...aku harus mulai memainkan peranku untuk mulai menyelesaikan masalah ini." Kata William dalam hati.


" Will??? hei kenapa ganti kau yang diam?? kau melamun??"


" Eh tidak Mike..Aku hanya sedikit sedih, kenapa setelah aku jauh dari kalian, sepertinya kalian tidak menghiraukanku lagi? bahkan kabar sebahagia itu saja, aku baru mendengarnya dari saudara iparku. Padahal jika ada kabar gembira, papa pasti paling girang." William mulai berpura-pura memainkan aktingnya.


" Will bukan maksud kami begitu, kami ha....."


" Sudah Mike, jangan diteruskan!!" Potong William, menghentikan kalimat Mike. Sepertinya William mulai tertular gaya bicara Daniel yang berlebihan, apalagi saat dia hendak menyelesaikan sebuah kasus.


" Aku tau, mungkin dengan jauhnya keberadaanku dari kalian, maka tidak terlalu berpengaruh besar dengan hal itu, aku memang tidak bisa membantu secara fisik, mungkin hanya bisa mendoakan dari jauh saja. Buktinya hanya Deasy yang perduli dengan langsung mengabari Dhea tadi pagi."


" Will...pleas..!!! jangan berkata seperti itu, bukan maksud kami mengacuhkanmu."


" Lalu dengan tidak memberitahukanku tentang kabar bahagia itu, bukankah berarti sedang mengacuhkanku?"


" Will...kami hanya tidak ingin Dhea bersedih jika mendengar kabar kehamilan Deasy. Bukankah Dhea baru saja kehilangan bayinya?"


" Tapi buktinya Deasy justru menelfon Dhea langsung?"


" Itulah yang aku bingung, kenapa Deasy malah langsung menghubungi Dhea tanpa memberitahukanku terlebih dahulu? Padahal kami bertiga sudah sepakat untuk tidak mengabarimu dulu."


Mike diam saja. Dahinya mengerut, kalimat William sungguh tepat sasaran. Tanpa berpikir lebih lama lagi, Mike segera bisa menafsirkan tujuan Deasy menelfon Dhea hanyalah untuk memanas-manasi saudara iparnya saja.


" Ya ya ya...aku tau. Apakah itu artinya Deasy masih belum bisa melupakan cerita Daniel tempo hari itu Will?"


" Menurutmu?"


" Ya....pasti itu!!! aku yakin dia memang sengaja ingin membuat Dhea bersedih dengan mengabari tentang kehamilannya itu, dan diam-diam menelfon istrimu tanpa aku mengetahuinya."


" Hemmmm....apakah itu artinya Deasy belum berubah Mike? berarti dia masih terus membenci Dhea?"


" Bisa jadi begitu Will."


"Hemmm...kenapa dia tidak mau menerima penjelasanku sih." Gumam Mike lagi.


" Kau bicara apa Mike?" tanya William yang mendengar gerutuan adiknya.


" Tidak Mike. Aku hanya bingung saja dengan jalan pikiran istriku. Kami sudah menikah, tapi kenapa dia tidak bisa menerima masa laluku? bukankah aku yang sekarang ini sudah menjadi suaminya? itu berarti dia harus bisa menerima segalanya tentangku, termasuk masa laluku."


" Kenapa dia tidak cemburu dengan istriku yang dulu, dan malah cemburu pada Dhea yang seharusnya tidak patut dicemburui?"


" Itu tugasmu Mike untuk memberi pengertian pada istrimu. Kasihan Dhea, saat baru saja ditelfon dengan istrimu dia menangis. Tapi hebatnya dia tidak mau mengaku, bahwa kata-kata Deasy menyakitinya. Kau pasti tau kan bagaimana ketusnya Deasy terhadap istriku? Aku bisa sedikit membayangkan, pasti saat itu istriku jadi bulan-bulanan istrimu dengan kabar kehamilannya itu."


" Yahhh...maafkan aku Will. Aku tidak tau jika masalah ini masih terus diperpanjang oleh Deasy hingga sekarang."


" Ya Mike. Dhea itu tidak akan mungkin membalas perlakuan istrimu padanya. Dia pasti akan lebih memilih diam dan mengalah, dibandingkan berbantahan dengan istrimu."


" Tolong kau beri pengertian pada Deasy, jangan sampai hubungan persaudaraan kita retak gara-gara kehadiran wanita itu Mike. Dia memang istrimu, tapi yang perlu kau ingat, jika tanganmu dan tanganku itu disayat, maka darah yang menetes akan langsung bisa menjadi satu. Itu artinya, kau dan aku memiliki keterikatan yang kuat karena hubungan darah. Istrimu adalah tanggung jawabmu. Seorang istri yang tidak bisa diatur oleh suami, dan tidak mau diajak pada jalan kebaikan, meaka kau boleh untuk menceraikannya."


" Maksudmu kau ingin aku bercerai dengan istriku lagi seperti dulu?"


" Bukan begitu Mike, artinya tugasmu sebagai kepala rumah tangga sangat berat. Didiklah istrimu, jangan biarkan dia menjadi duri dalam rumah tanggamu kelak, karena jika dia terus memelihara sifat buruknya itu, bisa jadi kemungkinan anakmu tidak akan jauh-jauh seperti sifat istrimu, karena seorang anak itu pasti akan meniru perilaku orang tuanya."


Mike terdiam. Dia membenarkan kalimat kakaknya. Apa yang sudah Deasy lakukan sangat keterlaluan, bahkan dia sudah berani bersandiwara di depan suami dan papa mertuanya ,dengan berpura-pura baik pada Dhea, seolah tidak sedang terjadi apa-apa.


" Sungguh akting yang luar biasa." Bathin Mike.


" Mike??? kau melamun lagi?"


" Eh tidak Will, aku hanya sedang memikirkan kata-katamu tadi. Benar sekali, aku tidak mau pengalaman burukku saat gagal membina keluarga dengan istriku dulu terulang lagi. Harus aku mulai dari sekarang, jika tidak aku sama saja membiarkan istriku terus-terusan berbuat buruk."


" Ya Mike. Bicaralah baik-baik dengannya. Seorang istri itu biasanya akan lebih terharu jika suaminya menegurnya dengan berkata lembut padanya, dibandingkan dengan kalimat yang kasar. Karena wanita itu sangat halus perasaannya dan gampang sekali melunak jika diperlakukan lembut. Namun jika kau kasar, dia bahkan akan bisa lebih berontak dari pada sekarang."


" Ya Will, nanti akan aku coba untuk menasehatinya."


" Maaf ya Mike, bukan maksudku mencampuri urusan keluargamu, aku hanya tidak mau keharmonisan keluarga kita terganggu."


" Jangan bicara seperti itu Will. Aku justru sangat berterimakasih sekali kau sudah mengingatku. Jika tidak, mana mungkin aku bisa tau jika istriku masih terus menyimpan dendam pada istrimu."


Dua orang kakak adik itu terus melanjutkan mengobrolnya, sembari William menunggu istri tercintanya selesai mandi, lalu menemaninya.