Something different

Something different
Tingkah Wiliam Semakin Menjadi



Hari ini kaki Dhea sudah lumayan membaik, dia sudah bersiap hendak pergi ke kampusnya. Walaupun jalannya masih sedikit terpincang-pincang, namun tetap dipaksakannya untuk berjalan. Sudah satu minggu ini dia tidak keluar dari kamarnya, bahkan makanpun dia harus memesan dari telfon genggamnya.


" Ahhhhh akhirnya aku bisa menikmati udara pagi ini lagi, semoga saja hari ini cukup menyenangkan buatku ", Gumam Dhea dan segera melangkahkan kakinya menuju halte. Baru saja dia hendak melangkah, tiba-tiba muncul William bersama mobilnya dan berhenti tepat di samping Dhea.


" Pagi Dhea, syukurlah hari ini kau sudah bisa pergi ke kampus lagi."


Dhea segera menghentikan langkahnya.


" Kamu lagi, kenapa kamu datang lagi? Bukankah di telfon kemarin kau sudah berjanji tidak akan menemuiku lagi?"


" Ahhh mungkin kau salah dengar Dhe, aku tidak pernah berjanji seperti itu sebelumnya."


" Jangan-jangan kau akan membawa masalah baru dalam hidupku."


" Bagaimana kakimu Dhe? Masih sakit?"


" Lihatlah sendiri, aku tidak harus menceritakan akibat perbuatan pacarmu ini kan Tuan William?"


" Dia bukan pacarku Dhe."


" Ya bukan pacarmu, tapi wanita simpananmu, benar kan?"


" Yah kurang lebih begitulah hehehe."


" Kau ini pria yang menjijikkan!"


Kata Dhea sambil berjalan kembali. William mengikutinya dari belakang.


" Kau tidak mau kuantar? Pasti kakimu belum benar benar sembuh."


" Tidak perlu, aku bisa jalan sendiri ", kata Dhea ketus.


" Dhe Dhea...kenapa sih kamu tuh selalu ingin aku untuk memaksamu?"


" Hei memangnya siapa yang menyuruhmu untuk memaksaku?" Kata Dhea sambil membalikkan tubuhnya.


" Tidak ada, itu memang kemauanku sendiri."


" Lalu mengapa kau menyalahkanku?"


" Karena kau semakin membuatku penasaran Dhea."


" Itu urusanmu, lalu apa perduliku?"


" Ya itu memang urusanku, tapi jika kau terus-terusan begini aku akan benar-benar memaksamu dengan caraku."


" Kau ini kenapa sih? Kau bisa mencari wanita lain yang lebih dari diriku untuk kau ganggu, kenapa kau begitu suka membuat hidupku tidak nyaman?"


" Karena aku menginginkanmu, dan bukan yang lain."


Dhea lalu melangkahkan kakinya kembali menuju halte dengan tertatih-tatih.


" Dasar pria aneh ", gerutu Dhea.


" Ayolah Dhe ijinkan aku mengantarmu, percayalah padaku, aku tidak akan berbuat macam macam denganmu."


" Maaf Tuan William, sayangnya aku sangat tidak percaya dengan anda."


Lalu Dhea segera naik bus yang baru saja berhenti di hadapannya.


" Pulanglah, sia-sia kamu setiap hari membuntutiku seperti itu Will ", kata Dhea kemudian tubuhnya hilang di dalam bus yang akan membawanya ke kampus.


" Dhea Dhea ternyata sulit sekali mendekatimu." Gumam William.


Tiba di kampus Dhea segera disambut Bram yang telah duduk duluan di dalam ruang kelas.


" Hai Dhe, kenapa kau sudah berangkat? Lihatlah jalanmu masih susah begitu."


" Biarlah Bram, aku bosan terus-terusan di rumah sendirian."


" Apakah aku perlu memanggilkan William untuk menemanimu?"


" Apa kau mau merasakan ini ", kata Dhea sambil menunjukkan kepalan tangannya ke arah Bram.


" Hahaha ampun Dhe, aku takut..."


" Kamu apa belum menelfonnya lagi?"


" Memang kenapa Dhe?"


" Dia sekarang lebih gencar lagi mendekatiku Bram, bahkan 2 hari yang lalu dia mengirim dokter pribadinya untuk memeriksa kakiku."


" Sampai sejauh itu Dhe?"


" Ya Bram, gila kan? Dia pikir aku akan menyerah begitu saja dengan rayuannya, pria bodoh, semua pekerjaannya akan sia sia."


" Aku juga bingung Dhe, masak aku harus menyembah memohon-mohon padanya untuk menjauhimu?"


" Aku tau Bram, dia memang kalau punya keinginan begitu gigih, aku juga tidak tau dia dapat nomor telfonku darimana, tiba-tiba saja dia menelfonku ", kata Dhea sambil menatap William.


" Hai nona anda jangan menatapku seperti itu, bukan aku pelakunya ", kata Bram sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.


" Iya Bram aku tau, tapi dia mendapatkannya darimana ya?"


" Dhea Dhea....dia itu bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan yang diinginkannya, jangankan nomor telfonmu, nomor telfon orang tuamupun jika dia mau, dia bisa kok mendapatkannya, apa sih yang tidak bisa diperbuat oleh orang yang memiliki pabrik uang seperti dia."


" Bram, kau belum pernah mencoba berbicara empat mata dengannya kan?"


" Belum sih Dhe, aku baru sebatas menelfonnya."


" Cobalah Bram, siapa tau dia mau mendengarkan perkataanmu."


3 Mata kuliah hari ini selesai, Dhea segera pulang ke flatnya.


Sementara itu Bram menelfon William dari dalam rumahnya.


" Hallo Bram."


" Hallo Will."


" Ada apa Bram kau menelfonku?"


" Apakah kau ada waktu nanti malam Will?"


" Nanti malam ya, jam berapa?"


" Jam 7an."


" Ok bisa, memangnya kenapa?"


" Aku ingin bertemu denganmu, di tempat biasa kita minum kopi bagaimana?"


" Hhhhmmmm sepertinya ada sesuatu yang penting yang ingin kau sampaikan padaku?"


" Ya Will, aku ingin berbicara denganmu."


" Tentang Dhea?"


" Iya Will tentang Dhea."


" Hahaha benar perkiraanku. Ok Bram, nanti malam aku akan menemuimu di tempat biasa jam 7 ya?"


" Ya Will aku tunggu di sana ya."


Kemudian telfon ditutup.


" Mudah-mudahan kali ini William mau mendengarkan perkataanku, kasihan Dhea, sepertinya dia amat takut tiap hari diteror dengan William terus." Bisik Bram.


Tepat pukul 7 Bram tiba di sebuah cafe, dimana dia dan William sering minum kopi bersama. Setelah masuk ke dalamnya, dilihatnya William ternyata sudah tiba duluan di sana.


" Hallo Will."


" Hallo Bram."


" Kau sudah lama menungguku?"


" Baru 10 menit aku duduk disini."


" Aku pikir sudah dari tadi ", kata Bram sambil menarik kursi yang ada di depan William, dan kemudian duduk di atasnya.


" Ada apa Bram? Sepertinya kau serius sekali tentang wanita satu ini, kenapa teman?" Tanya William.


" Sorry untuk kali ini aku tidak akan membiarkan kamu terus mengganggunya Will."


" Karena dia temanmu?"


" Ya temanku?"


" Sungguh hanya teman?"


" Ya hanya teman, kenapa?"


" Hahaha ayolah, kau tidak biasanya seperti ini kalau hanya untuk urusan seorang wanita."


" Kau bilang hanya!! Ituu Dhea Will, temanku."


" Hahaha dulupun aku pernah suka dengan temanmu, kau tak sepanik ini, apakah kau suka dengannya juga Bram?" Kata William sambil menatap tajam ke arah temannya itu, dengan kedua matanya.


" Tidak, ehm bukan tapi dia..."


" Kenapa tiba-tiba kau gugup begitu?" Potong William.


" Bukankah kalian berdua bersahabat? Apakah kau ingin menghianati persahabatan kalian?"


" Aku....!" Jawab Bram.


" Bram Bram...sudahlah jangan berpura-pura lagi. Aku itu sangat mengenalmu, kita berteman sejak kecil. Lalu apa yang akan kau lakukan jika berhasil memilikinya? Bukankah kau dan keluargamu seorang pengikut nasrani yang taat, sedangkan Dhea juga seorang muslim yang taat, kalian berdua itu berbeda teman."


" Lalu kamu? Bukankah kamu sama juga denganku?"


"Jelas berbeda, aku ini manusia bebas, tidak seperti kamu, tidak ada yang bisa melarangku untuk menjadi penganut agama manapun, tidak juga orang tuaku. Keluargaku adalah orang orang yang demokratis teman."


" Tapi aku tetap tidak akan membiarkan kau menyakitinya."


" Siapa yang ingin menyakitinya? Aku hanya ingin berusaha lebih dekat dengannya?"


" Aku juga tau siapa kamu Will, kamu akan menyakitinya, dia wanita baik-baik. Jika kau benar-benar bisa mendapatkannya, apa yang akan kau lakukan?"


" Tergantung dia maunya apa ."


" Jika dia ingin kau menikahinya?"


" Hahaha itu kalau dia mau menikah dengan laki-laki sebejat aku kawan, percayalah padaku, aku tidak akan memperlakukan dia dengan buruk." Kata William.


" Kau serius? Aku pegang omonganmu teman."


William mengangguk, walaupun sebenarnya dia sedikit bingung juga dengan perasaannya sendiri.


" Ah biar saja kujalani permainan ini dulu ", bathin William, sembari tersenyum dalam hati membayangkan wajah manis dibalik jilbab yang membuatnya penasaran itu.