
" Sayang kenapa kau berbicara seketus itu pada Deasy? dia bisa tersinggung sayang!!"
" Dia pantas mendapatkan itu sayang. Bukankah dia telah berbicara kasar padamu?"
" Ya benar. Tapi bukan berarti aku membenarkan sikapmu dengan membalasnya dengan kalimat kasar juga."
" Hatimu itu terbuat dari apa sih sayang? Deasy sudah menyakitimu, tapi kau bahkan tidak ingin membalasnya?"
" Jika kita membalasnya, itu berarti kita tidak ada bedanya dengan Deasy. Seharusnya kita bisa menyadarkannya, bukan malah membalasnya."
" Maksudmu dengan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa seperti yang kau rasakan selama ini sayang?"
" Aku merasakannya sayang. Bahkan jauh sebelum kau menyadarinya, lalu membesarkan hatiku dengan mengatakan jika mungkin itu memang sudah menjadi karakter Deasy."
" Ya, itu sebelum aku menyadari bahwa sikap Deasy semakin keterlaluan padamu sayang."
" Sayang...keterlaluan atau tidak keterlaluan biarkan saja. Yang penting kita harus menyelesaikan kesalahpahaman ini, agar sikap buruk Deasy tidak berkelanjutan, dan bisa berpengaruh pada janinnya."
" Pada janinnya? maksudmu?"
" Deasy hamil sayang...sebentar lagi kita akan memiliki keponakan dari adikmu itu. Ya Allah pasti anak mereka sangat lucu. Deasy begitu cantik, Mike juga sangat tampan."
" Hemmmm....maksudmu apa sayang???" sambil melirik tajam pada istrinya.
" Eh itu maksudnya itu ehm....tapi masih jauh lebih tampan suamiku kok." Sambil memeluk suaminya, menyadari bahwa dia baru saja salah mengucapkan kata-kata.
" Hemmm....jangan pernah sekalipun memuji laki-laki lain di depanku ya, karena aku pasti akan cemburu sayang!!"
" Hahaha...tapi dia itu adikmu sayang?"
" Lalu kau pikir aku tidak bisa cemburu pada dia?"
" Iya sayang...maafkan istrimu ini ya, aku keceplosan hihihi."
" Hiiihhhh...kau ini." sambil mencubit dagu istrinya.
" Lalu apa tadi yang dikatakan Deasy padamu?"
" Yahhhh...seperti biasa sayang, jika tidak memperolokku dia tidak akan puas. Apalagi dengan kehamilannya itu. Serasa dia baru mendapatkan senjata ampuh untuk menjatuhkanku." Kata Dhea sambil melepaskan pelukan suaminya, lalu berjalan membelakangi William. Entah kenapa tiba-tiba dadanya begitu sesak saat William menanyakan hal itu. Padahal sedari tadi, saat Deasy menelfonnnya tidak sedikitpun hatinya bergetar, ataupun sakit hati mendengar kalimat tajam saudara iparnya itu.
William merasakan bahwa istrinya sedang berusaha menyembunyikan perasaan sebenarnya pada dia. William langsung memeluk istrinya dari belakang.
" Sayang....kau wanita yang sangat kuat aku tau itu. Dan aku yakin semua segera berlalu, kita pasti bisa menjalani ini semua. Hanya masalah waktu saja sayang." Lalu membalikkan badan istrinya menghadap tubuhnya. Dilihatnya mata Dhea memerah. Rasa sedih tiba-tiba menyelimuti hati Dhea, mengingat betapa hancurnya dia saat kehilangan buah hati mereka berdua. Wajah bayinya yang begitu polos dan tanpa dosa. Dan seandainya bayinya itu hidup, dia sangat yakin wajah anaknya akan mewarisi wajah tampan suaminya yang bule, dengan mata kebiruan dan hidung yang mancung. Ditatapnya wajah pria di depannya itu lekat-lekat, mata mereka saling beradu. Dhea tak kuasa menahan air matanya lagi, segera dipeluknya tubuh William dengan erat seolah ingin mencurahkan semua kesedihan hatinya pada laki-laki yang amat dicintainya itu. William membalas pelukan istrinya, diusapkan kepala Dhea dengan lembut, dan membiarkan istrinya untuk menyelesaikan tangisnya agar merasa sedikit lega.
Setelah merasa lega, perlahan Dhea melepaskan pelukannya. William menatap istrinya dengan perasaan campur aduk, diusapnya sisa air mata yang masih bersisa di pipinya.
" Maafkan aku sayang. Aku terlalu terbawa perasaan. Padahal tadi saat Deasy menelfonku aku tidak seperti ini, bahkan merasa ikut bahagia mendengarnya. Tapi kau tenang saja. Aku tetap bersyukur dengan apapun yang Allah takdirkan untuk kita berdua."
" Sayang....jangan sok kuat. Jika kau ingin menangis, menangislah. Jangan malu untuk mengungkapkan apa yang kau rasakan. Tidak baik jika kau sering menahannya, bisa jadi penyakit sayang."
" Kau tetap manusia biasa. Aku tau kau wanita yang kuat. Tapi bukan berarti kau terus-terus menyimpan kesedihanmu agar tidak diketahui orang lain. Aku suamimu, kesedihanmu adalah kesedihanku, dan kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku."
" Ya sayang. Maafkan aku. Aku hanya merasa bahwa itu hanya sebuah masalah kecil yang tidak perlu diperbesar. Aku tiba-tiba ingat anak kita saja, dan bukan sakit hati dengan kata-kata Deasy."
" Yaaa...apapun itu. Kau tidak perlu melindungi Deasy. Alasan apapun tidak bisa membenarkan sikap Deasy yang seperti itu. Ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Aku akan menyelesaikannya."
" Jangan ikut campur masalah rumah tangga adikmu sayang. Kecemburuan Deasy padaku, adalah akibat masa lalu Mike, dan bukan murni kesalahanku. Jadi tugas Mike untuk menjelaskan pada istrinya sendiri."
" Lho memang kau tau bahwa penyebab sikap Deasy tidak bersahabat itu karena cemburu padamu?"
" Aku mendengarnya sendiri saat kau sedang mengobrol dengan Mike waktu itu."
" Oh ya??? lalu kenapa kau tidak mengatakannya padaku?"
" Sayaaanggg....seharusnya aku yang menanyakan hal itu padamu, dan bukannya malah kamu yang bertanya padaku. Kenapa kau merahasiakan sumber permasalahan itu padaku?"
" Hehehe...iya ya...kenapa aku yang bertanya padamu?"
" Hemmm...kau ini, kau sengaja kan merahasiakannya padaku?"
" Yaa aku pikir saat aku membicarakannya berdua dengan Mike, dia bisa menyelesaikannya langsung dengan istrinya tanpa melibatkanmu."
" Dan kenyataannya bukannya selesai, tapi justru semakin menjadi-jadi kan?"
" Ya, aku pikir sikapnya yang tiba-tiba berubah ramah saat kita di sana itu, pertanda dia telah berdamai dengan hatinya sendiri. Ternyata benar kata Daniel, insting detektifnya memang luar biasa. Aku rasa dia hanya berpura-pura aga Mike tidak marah lagi kepadanya."
" Sayang....mungkin karena dia terlalu menyintai Mike, sehingga jadi cemburu buta seperti itu."
" Ya tapi sungguh bodoh. Bisa-bisanya dia terus-terusan menerormu, padahal kita sudah kembali ke Indonesia."
" Biar saja sayang. Awalnya saat aku mendengar obrolanmu dengan Mike, aku berniat menemui Deasy, dan menjelaskan langsung kepadanya. Tapi aku urungkan, karena aku pikir pasti dia tidak akan mempercayaiku, biarlah Mike saja yang menyadarkannya, kita tidak usah ikut campur."
" Kau kuat terus-terusan disudutkannya?"
" Hahaha...hanya disudutkan seperti ini saja buatku hanya masalah kecil. Dulu saja kau mengikutiku seperti seorang pesakitan saja, aku kuat."
" Hemmm...kau ini, jangan mengingatkanku tentang masa lalu ya."
" Memangnya kenapa?"
" Itu semua bisa memacu adrenalinku sayang, membuatku seakan flashback saat berusaha menaklukanmu di pelukanku."
" Itu artinya?"
" Itu artinya, bisa-bisa acara kita pergi ke kantor batal, dan bisa berakhir di kamar ini sayang." Sambil melirik pada istrinya.
" Hahaha...kau ini. Ayo berangkat kalau begitu, daripada urusan kantormu terbengkalai." Sambil menarik tangan suaminya keluar kamar.
" Ehhh tunggu sayang!!"
" Kenapa lagi sih?"
" Kau cantik sekali sayang pakai baju itu." Sambil tersenyum manis.
" Hahaha...aku pikir kau lupa kebiasaanmu."
" Mana mungkin aku lupa sayang." Sambil berjalan beriringan keluar kamarnya.
" Hehhh...aku harus menelfon Mike. Enak saja, bisa-bisanya dia tidak berbuat apa-apa sedangkan istrinya terus-terusan mengganggu istriku!!!" Kata William dalam hati, sambil menggandengan tangan istrinya.