
Mike memilih restoran yang ada di pusat kota. Restoran elite dan tentunya dengan harga makanan yang hanya orang-orang kalangan atas saja yang mampu membayarnya. Uang bukan masalah buatnya, yang penting kepuasanlah yang menjadi standarnya. Padahal makanan enak itu hanya mampir sesaat di lidah, dikecap sebentar dan dalam tempo waktu singkat, kemudian rasa nikmat itu hilang. Namun tidak jarang orang berlomba-lomba membuang uangnya hanya untuk mendapatkan kenikmatan sesaat dari sepiring makanan. Padahal banyak di luaran sana, harga dari sepiring makanan itu bisa untuk menghidupi orang satu rumah, khususnya bagi mereka yang keadaannya jauh di bawah rata-rata.
Mike dan Deasy terlihat sedang asyik memilih menu makanan. Deasy menunjuk sebuah gambar makanan yang terlihat sangat nikmat. Seorang pegawai yang berdiri di samping mereka, dengan cekatan mencatat semua menu yang dipesan pelanggannya itu. Setelah dirasa cukup, pelayan tersebut segera pergi untuk menyiapkan semua menu yang telah dicatatnya.
" Mike, bagaimana rapatmu tadi? apakah semua urusan sudah beres?"
" Ya, semua sudah kubicarakan semua disana. Seluruh tugas sudah kudelegasikan pada orang-orang kepercayaanku. Aku tidak mau, saat bulan madu kita nanti terganggu oleh urusan kantor sayang." Jawab Mike sambil menggenggam erat jemari kekasihnya.
" Apakah kakakmu nanti akan menghadiri pernikahan kita?"
" Memangnya kenapa?"
" Ya kan kau hanya memiliki satu saudara, jadi aku juga ingin mengenalnya Mike, an aku akan menjadi adik iparnya, dan saat pernikahan kita itulah kesempatanku untuk mengenal kakakmu."
" Bukan satu saudara lagi sayang, tapi dua, bersama Dhea istrinya."
" Iya maksudku saudara kandungmu kan hanya William."
" Tadi papa menelfonku, proses operasi Dhea lancar, tapi anaknya meninggal, jadi aku tidak bisa mengharapkan kedatangan mereka. Pasti mereka sedang berduka, terlebih Dhea. Dia sangat mendambakan anak itu, papa cerita banyak padaku, bukankah sedikit banyak aku juga sudah menceritakan kondisi istri kakakku padamu?"
" Ya, tapi aku belum tau jika ternyata bayinya meninggal. Yah lain waktu saja aku berkenalan dengan mereka."
" Mike, papamu sepertinya sangat perhatian dengan Dhea, apakah Dhea itu wanita yang sangat baik? sehingga jika aku menilai, banyak orang yang menyukainya."
" Dia sangat baik, perhatian dan sangat lembut. Papa tidak hanya menyayangi Dhea saja. Papa itu bukan type orang tua yang membeda-bedakan anaknya. Dulu papapun sangat menyayangi mantan istriku, nanti juga jika kau sudah menjadi menantunya pasti papa akan menyayangimu."
" Ohhh ya?"
" Ya, aku jamin."
" Apakah kau juga menyayangi Dhea?"
" Hahaha....ya tentu saja honey, tapi sayang sebagai saudara ipar saja tidak lebih, karena jika dia memiliki anak, anaknya itu akan memanggilku paman. Kau ini aneh-aneh saja pertanyaanmu. Kenapa kau iri ya?"
" Ahhhh tidak, kenapa aku harus iri?" Padahal dalam hati Deasy ada sedikit perasaan iri. Kehadiran dia sebagai menantu baru, membuatnya khawatir jika tidak sesempurna Dhea, sehingga semua kasih sayang orang-orang yang akan menjadi keluarga barunya itu dilimpahkan pada Dhea semua. Hemmmm....persaingan dua saudara ipar perempuan sepertinya akan segera dimulai.
" Sebenarnya secantik dan sebaik apa Dhea sehingga semua orang menyayanginya? kakak Mike juga mau mengorbankan semuanya untuk Dhea, bahkan agamanya juga. Kulihat kakak Mike sangat tampan dan juga kaya raya, pasti dia bisa mendapatkan 10 kali lipat wanita yang lebih cantik daripada istrinya itu. Selama ini aku hanya melihatnya di foto pernikahan yang dipajang di rumah papanya, tapi gambar di foto dengan aslinya kan tidak sama? Ahhhh pasti Dhea memiliki sesuatu yang sangat spesial, aku harus segera mencari taunya." Deasy bergumam sendiri dalam hati. Ternyata Deasy seperti orang kebanyakan, yang berpikiran bahwa kecantikan fisik adalah yang utama, sehingga dia terus menyibukkan diri keluar masuk salon, mempermak habis wajahnya, berusaha menjadi sempurna di mata setiap orang yang memandangnya.
Tiba-tiba saja telfon Mike berbunyi. Mike segera mengambil telfon genggam itu dari saku bajunya, dilihatnya nama Daniel berkedip-kedip di layar handphonennya.
" Hemmmm...tumben Daniel menelfonku? ada apa?" Kata Mike dalam hati.
" Siapa Mike?"
" Ohhh Daniel, asisten kakakku. Sebentar ya aku mengangkat telfonnya dulu." Deasy hanya mengangguk sambil menyeruput minuman yang baru saja disajikan di hadapannya.
Sementara Mike asyik menelfon, pandangan mata Deasy terus menyapu keseluruhan bangunan restoran mahal yang dimasukinya itu. Sebenenarnya dia sudah sering sekali masuk di restoran elite lain yang ada di luar negeri, ketika pesawatnya transit. Dia bersama teman pramugari lainnya sering menghabiskan waktu untuk sekedar jalan-jalan dan mencoba makanan di restoran terkenal di negara yang mereka kunjungi, namun baru kali ini dia kagum dengan dekorasi cantik yang ternyata malah baru dia ketahui di kotanya sendiri. Banyak tempat-tempat indah di negara lain yang dia kunjungi, namun dia lupa mengunjungi dan menikmati keindahan tempat kelahirannya sendiri.
" Hallo Dan, tumben kau menelfonku." Terdengar Mike menyapa Daniel melalui telfon genggamnya.
" Ya kan kau jarang sekali menelfonku kecuali sedang ada keperluan. Apa yang kau butuhkan?"
" Hemmmm....pasti kau berpikiran buruk padaku kan?"
" Menurut pengalamanku jika ada orang yang jarang menghubungi, lalu tiba-tiba dia menghubungi kita, itu pasti ada sesuatunya. Benar tidak tebakanku?"
" Ya memang benar, tapi jangan kau hubung-hubungkan dengan uang ya?"
" Maksudmu?"
" Ya kebanyakan mereka pasti berpikiran jika kedapatan ada orang lama yang tiba-tiba menghubunginya, pasti dipikirnya ingin berhutang. Begitu kan?"
" Hahaha itu kan pikiranmu, bukan pikiranku."
" Hehehe...sebenarnya yang aku bicarakan tidak jauh-jauh dari itu Mike."
" Hehhhhh...kau ini. Cepat katakan apa maksudmu?"
" Ahhhh aku tidak ingin membicarakannya di telfon tidak seru. Aku ingin bertemu langsung denganmu. Dimana kau sekarang?"
" Kau ini sebanyak apa sih jumlah uang yang kau bicarakan? sehingga ingin bertemu langsung denganku?"
" Aku itu diutus kakakmu Mike, jadi tidak bisa sembarangan jika bos besar yang menyuruhku."
" Ohhhh William...!!!"
" Memangnya kakakmu sudah ganti ya?"
" Sebenarnya ingin kuganti dengan kau, tapi menurutku wajahmu tidak sesuai jika masuk dalam silsilah keluargaku Dan, hahaha."
" Hehhhhh.....sialan kau..Jadi sekarang kau dimana? aku tidak ingin menunda waktu, kau tau sendiri kan sifat kakakmu yang disiplin itu."
" Aku sedang berada di Restoran X bersama kekasihku, datanglah kemari."
" Wow Restoran elite yang ada di tengah kota itu? kebetulan sekali Mike, aku tidak keberatan jika kau ingin mentraktirku makan siang."
" Siapa bilang aku ingin mentraktirmu? aku hanya ingin kau menemuiku di sini saja, tidak lebih."
" Hehhhh...ya sudah kalau begitu aku akan bawa bekal makanan sendiri, tapi aku akan menumpang makan di mejamu ya, setelah itu aku ingin berfoto sebentar, agar status sosialku naik. Jarang-jarang aku makan di restoran mahal seperti itu."
" Hahaha...memang berapa kakakku menggajimu, sehingga kau tidak mampu makan di sini?"
" Bukannya tidak mampu, tapi tidak mau. Buat apa aku beli makanan mahal di situ? jika di restoran biasa saja rasanya tidak jauh beda."
" Ahhhh...sudah buruan kemari, kau tidak perlu membawa bekal, bikin malu saja..Aku akan mentraktirmu. Cepat ya, atau aku akan segera pulang!!!"
" Ya ya ya...dasar!!! kau dan kakakmu sama saja, sukanya serba cepat." Gerutu Daniel, sambil bergegas bangun dari tempat duduknya, menyambar kunci mobil yang ada di meja kerjanya, lalu berjalan sedikit tergesa-gesa agar tidak terlambat menemui Mike, atau dia tidak akan mendapat kesempatan menikmati makanan mahal gratis di restoran itu.