
Pagi ini seorang wanita sedang tertawa bahagia di dalam apartemennya. Di tangannya dia sedang memegang sebuah alat, sambil pandangannya tidak beralih dari alat tersebut.
Paula...ya gadis itu adalah Paula. Dia sedang
memegang tespack yang berisi 2 garis merah.
" Hahaha William...kau tidak akan bisa lagi menghindariku sekarang, aku akan segera menutup mulut kasarmu itu, karena telah berani menghinaku. Sebentar lagi aku akan menjadi Nyonya William, dan anakku akan menjadi pewaris hartamu hahaha ", kata Paula.
Tak lama kemudian Paula segera menelfon William.
William terlihat sedang asyik menikmati minuman di atas balkon kamarnya, baru 1 jam lagi dia akan menjemput Dhea pergi ke kampusnya.
Dia melihat handphonennya berdering, dan ada nama Paula berkedip kedip memanggilnya.
" Hhhh ada apa wanita sialan itu menelfonku sepagi ini ? sudah satu bulan aku tidak pernah bertemu dengannya ", bisik William.
" Pagi Paula ".
" Pagi Will....".
Suara Paula terdengar serius, tidak ada nada menggoda di sana seperti yang William dengar sebelum sebelumnya.
" Ada apa kau menelfonku sepagi ini ?"
" Aku ingin memberitahumu suatu hal Will ".
" Aku ingin bicara empat mata denganmu ".
" Tentang apa ? kau tidak bisa berbicara sekarang saja ?"
" Tidak Will, aku ingin berbicara langsung ".
" Apakah itu penting buatku ?"
" Bahkan sangat penting !!"
" Sepertinya kau serius sekali, bukan masalah ranjang seperti biasanya kan ?"
" Hhhh mungkin berhubungan ".
" Oke temui nanti di kantorku ".
" Baik Will, nanti siang aku akan ke kantormu ". Jawab Paula, kemudian menutup telfonnya.
" Hahaha William, aku sangat tidak sabar melihat kepanikan di wajahmu, karena sebentar lagi kau akan segera tau bahwa aku sedang hamil ". Gumam Paula sambil terus tertawa terbahak bahak.
Setelah pulang dari mengantar Dhea ke kampus, William segera menuju ke kantornya. Saat sedang asyik berkutat dengan pekerjaannya, terdengar pintu ruangannya diketuk oleh seseorang. Ternyata itu Evelyn sekretarisnya.
" Ada apa Ev ".
" Ada seorang wanita bernama Paula ingin bertemu denganmu tuan ".
" Oh ya suruh masuk saja ".
" Baik tuan ".
Tak lama setelah sepeninggal Evelyn, Paula masuk ke dalam ruangannya. Walaupun sedang hamil, tampilan wanita itu masih saja sexy seperti biasanya, bahkan dia tidak khawatir menggunakan sepatu berhak tingginya.
William hanya melirik sebentar ke arah Paula saat tubuhnya mulai muncul di depan pintu ruangannya, namun kemudian kembali serius dengan pekerjaanya.
" Selamat siang Will ".
" Siang ", jawab William singkat dan tetap asyik dengan pekerjaannya, tanpa melihat sedikitpun kepada Paula.
" Duduklah ", kata William kemudian.
" Terimakasih ", jawab Paula. Lalu dia segera menarik kursi yang ada di depan meja William. Paula terlihat sebal saat tau William tidak menggubris kedatangannya sama sekali, dan justru tetap asyik dengan pekerjaannya.
" Will aku mau bicara denganmu ".
" Hhmm bicaralah, aku mendengarnya ".
" Bisakah kau matikan dulu laptopmu ".
" Maaf Paula, ini sangat penting dan aku harus menyelesaikannya sekarang ".
" Nih....!!"
Paula melempar sebuah bungkusan di depan William.
William hanya memandang Paula sejenak dengan jengkel karena bersikap tidak sopan padanya.
" Bukalah dan kau akan mengetahuinya !!"
William lalu membuka bungkusan tersebut, dilihatnya ada sebuah amplop putih. Perlahan William membukanya.Ternyata itu adalah surat keterangan dari rumah sakit yang menjelaskan tentang kehamilan Paula yang positif. William membelalakan mata.
" Kau hamil Paula ???"
" Ya...dan ini anakmu ".
" Tidak !! kau pasti bohong ??"
" Kau masih ingat kan Will ? waktu kau mabuk kita berhubungan badan dan tidak menggunakan pengaman apapun ?"
" Shit.....gugurkan bayi itu Paula !! gugurkan !!!"
" Kau pria brengsek !! seenaknya kau memintaku menggugurkan bayi ini ? dia tidak bersalah William. Kau harus bertanggung jawab, aku tidak mau menanggung bayi ini sendirian. Kau harus menikahiku !!"
" Apa ? menikahimu ? Tidak !!! aku tidak mencintaimu dan aku tidak akan sudi menikahimu. Aku akan bertanggung jawab untuk membiayai semuanya hingga dia dewasa, tapi tidak untuk menikahimu ", jawab William dia terlihat panik.
" Dengar William kau harus menikahiku ? jika tidak ?"
" Jika tidak apa ? kau mengancamku ?"
" Jika tidak aku akan memanggil wartawan, menunjukkan semua bukti bahwa seorang pengusaha besar sepertimu telah menghamiliku dan hendak lari dari tanggung jawab. Dan aku yakin dalam sekejap mata, usahamu akan langsung gulung tikar ", ancam Paula.
Kemudian tanpa basi basi dia segera pergi meninggalkan ruangan itu dengan segala kebencian, karena sikap yang ditunjukkan William barusan.
" Aarrrrggghhhhh......" sepeninggal Paula William berteriak di dalam ruangan kantornya.
" Shit...aahhh bodohnya aku, seharusnya malam itu aku tidak bertemu wanita keparat itu di bar ".
" Daniel....ya aku harus menelfon Daniel ".
" Tuuutt....tuuuttt...tuuuttt ".
Terdengar nada sambung di sana.
" Hallo teman, ada apa menelfonku ? apa kau butuh kutemani untuk pergi ke suatu tempat ?"
" Dan, kau tolong datang ke kantorku sekarang ".
" Hei ada apa rupanya ? suaramu terlihat panik begitu ?"
" Sudahlah jangan banyak bertanya, aku akan menceritakannya nanti ".
" Oke Will, aku segera meluncur ke sana ".
Tak lama sekitar setengah jam, Daniel telah tiba di kantor William dan segera menuju ruangannya.
Saat masuk dilihatnya William sedang duduk di depan meja sambil memegang kepala dengan kedua tangannya.
" Hai teman ada apa rupanya ? kau sepertinya sedang setres berat ?"
" Paula Dan, Paula ". Kata William sambil beranjak dari tempat duduknya dan pindah di atas sofa.
" Ada apa dengan Paula ?"
" Dia hamil Dan !!"
" HAMIL...????"
" Denganmu....??"
" Ya....dan itu akibat aku tidak menggunakan pengaman saat sedang mabuk itu ".
" Kenapa dia bisa membiarkan dirinya hamil ? bukankah Paula itu wanita pintar dan tidak mungkin sebodoh itu untuk mengambil resiko, sedangkan kalian tidak ada ikatan apa apa ?"
" Itulah aku juga tidak tau kenapa ".
" Atau mungkin sebenarnya dia itu mencintaimu ?"
" Tidak !! dia itu wanita brengsek sama sepertiku dan hanya butuh **** untuk kepuasannya ".
" Lalu kenapa kau sepanik ini ?"
" Dia tidak mau menggugurkan kandungannya, dan justru mengancamku akan menyebarkan berita ini ke media jika aku tidak bertanggung jawab ".
" Ya sudah kau beri saja sejumlah uang yang dia inginkan, atau surat perjanjian bahwa anak itu akan menjadi tanggung jawabmu sepenuhnya ".
" Jika dia mau sudah aku lakukan tadiAn !!"
" Lalu ?"
" Dia memintaku menikahinya ?"
" Haaa benarkah ?"
" Ya Dan, gila kan ? itu berati dia sedang mengincar sesuatu yang lebih besar dariku !!"
" Hhhhhh ternyata dia lebih pintar dari yang kupikirkan teman "
" Lalu apa yang harus aku lakukan Dan ".
" Kau harus menikahinya Will, wanita itu sepertinya berbahaya dan tidak main main dengan ancamannya, kau tidak ingin usahamu hancur kan ?"
" Tapi Dhea bagaimana ?"
" Dhea ? Dhea penjaga kasir itu ?"
" Ya...!"
" Kamu pacaran dengannya ?"
" Tidak Dan, tapi hubungan kami mulai membaik ".
" Itu bisa diatur Will, kau nikahi saja dulu Paula, dan setelah anakmu lahir kau bisa menceraikannya, berikan saja apa yang dia minta, aku rasa itu tidak akan menghabiskan separuh kekayaanmu ".
" Benarkah An ?"
" Ya Will, percayalah padaku. Bersikaplah baik dengan Paula, jangan menunjukkan hal buruk. Dan setelah anak itu lahir kau bisa menjalankan rencanamu selanjutnya ".
" Sialan...wanita itu benar benar keterlaluan, kenapa aku dulu tidak pernah memikirkan resiko ini sebelumnya ?"
" Hahaha itulah resikonya menjadi orang kaya Will, kau akan menjadi incaran orang orang yang menginginkan hartamu ".