Something different

Something different
Packing



" Sayang langsung pulang ke apartemen saja ya?" Tanya William saat sudah di dalam mobil.


" Iya Will, aku juga harus packing semua barangku."


Lalu William segera memacu kendaraannya, hingga tiba di apartemen Dhea.


" Ayo turun Dhe, biar aku bawa belanjaanmu."


" Terimakasih sayang?" Jawab Dhea sambil tersenyum.


Kemudian mereka berdua masuk ke dalam apartemen, beberapa pegawai menyambut kedatangan mereka dengan ramah.


" Ahhhhh....sampai juga...!!" Jawab Dhea sambil melempar tubuhnya di atas sofa.


" Kenapa sayang? Kau lelah?"


" Iya Will, padahal baru jalan sebentar."


" Hahaha...itu mungkin karena sekarang kau tidak pernah lari mengejar bus lagi, sehingga kakimu tidak terlatih ya?"


" Iya mungkin juga. Kau sih terlalu memanjakanku, bagaimana jika kau biarkan aku ke kampus naik bus kembali?"


" Hemmmm jangan aneh-aneh ya permintaanmu!!" Kata William sambil menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.


" Hahaha kau pikir aku minta apa? Sehingga kau mengatai permintaanku itu aneh." Kata Dhea sambil terbahak.


" Di mana kopermu? Biar aku tata makanan ini."


" Di dalam kamarku Will, ambillah!!"


Lalu William masuk ke kamar Dhea mengambil koper besar yang berada di atas kasur Dhea.


" Kau hanya membawa satu koper ini Dhe?"


" Iya Will untuk apa banyak-banyak? Bukankah aku akan kembali lagi ke sini? Atau kau ingin aku membawa semua pakaianku dan tidak ke sini lagi?" Tanya Dhea sambil menggoda William.


" Silahkan kalau kau berani! Dan aku jamin kau tidak akan bisa turun di bandara dengan selamat, karena orang orangku akan segera membawamu kembali lagi ke sini!!" Jawab William sambil mengerling nakal.


" Hehhh susah sekali punya kekasih kaya sepertimu, kau selalu bisa dengan berbagai cara untuk mendapatkanku!" Gerutu Dhea.


" Tapi kan itu karena aku mencintaimu sayaang...???"


" Ya ya ya...terserah anda Tuan William." Jawab Dhea lagi.


" Hehhhh...selesai Dhe." Jawab William.


" Jadwal keberangkatanmu nanti jam berapa Dhe?"


" Sebentar aku lihat." Kata Dhea, seraya mengambil tiket yang ada di dalam tasnya.


" Hemmm...pukul 10 malam Will.


" Ohhh...aku masih punya waktu lama untuk berduaan denganmu di sini."


" Kau ini seperti aku mau pulang lama saja." Jawab Dhea.


" Tiga minggu buatku itu adalah waktu yang sangat lama sayang."


" Hahaha....kau manja sekali." Kata Dhea sambil menarik hidung William.


" Aku ingin ganti baju dulu, rasanya tubuhku gerah."


" Aku boleh ikut tidak sayang???" Kata William sambil mengerling nakal.


" Hemmmm...kau mau ini???" Kata Dhea sambil menunjukkan kepalan tangannya.


" Hahaha kau ini pelit sekali Dhe."


" Biar saja.!! Pelit itu pangkal kaya...!!" Jawab Dhea sambil ngeloyor pergi.


William hanya terbahak bahak mendengar kata kata Dhea. Setelah berganti pakaian Dheapun keluar lagi menemui William.


" Sayang." Panggil William.


" Iya." Jawab Dhea sambil bermain android.


" Kau pernah memiliki kekasih berapa sebelum denganku?"


" Penting sekali, karena aku ingin tau berapa peluang kau bisa bertemu mantanmu di sana nanti." Jawab William polos.


" Hahaha kau ini, itu kan sangat tidak penting William, dan itu juga cuma masa laluku."


" Hei kau jangan menghindar ya??? Berapa mantan kekasihmu Dhea??"


" Hemmm kau ini jika belum dijawab pasti akan kau ulangi terus pertanyaanmu. Aku hanya memiliki satu mantan William, kau puas?"


" Hahhh....gadis secantik dirimu hanya memiliki satu orang kekasih? Kau jangan membohongiku ya?"


" Kau ini, mana pernah aku membohongimu? Aku kan dulu pernah bilang jika hari hariku itu selalu disibukkan dengan belajar, jadi tidak ada waktu untuk memikirkan kekasih."


" Apa memang tidak ada laki-laki yang pernah mengutarakan perasaannya padamu?"


" Ada Will, tapi kutolak. Aku malas jika hubunganku dengan mereka bisa mengganggu studiku nanti."


" Lalu kekasihmu yang satu itu?"


" Kami menjalin hubungan saat aku masih duduk di kelas 1 SMA, dan itu hanya bertahan 3 bulan, lalu aku memutuskannya."


" Alasannya ?" Tanya William.


" Alasannya karena aku merasa pelajaranku turun semenjak berhubungan dengannya, konsentrasiku jadi terganggu."


" Lalu dia mau begitu saja putus denganmu?"


" Awalnya tidak mau, tapi aku tetap memaksanya dan selalu menghindarinya. Ahhh sudahlah mungkin dia juga sudah lupa denganku, jadi tidak usah dibahas ya?"


" Mana mungkin seseorang itu bisa lupa dengan mantan kekasihnya Dhe?"


" Jadi kau mau bilang kau belum bisa melupakan Jessy dan wanita wanita yang pernah singgah dalam hidupmu begitu sayang?" Tanya Dhea.


" Jika dengan Jessy jujur aku tidak lupa sayang, tapi aku sangat menyesal pernah mencintai wanita bejat sepertinya."


" Lalu yang lainnya?" Tanya Dhea lagi.


" Yang lain itu kan hanya iklan sayang, masuk sebentar, lalu keluar lagi...jadi aku sudah tidak mengingatnya satu persatu hahaha."


" Williammmm....kau menyebalkan ihhh...." Kata Dhea seraya berusaha memukul tubuh William.


" Hahaha...kenapa kau cemburu ya???" Goda William.


" Tidak!! Aku tidak cemburu!!" Kata Dhea sambil cemberut.


" Lalu apa sayangg?"


" Aku hanya benci jika membayangkan kau memeluk tubuh mereka sambil mencumbunya....ahhhhh menyebalkan kau...!!!" Kata Dhea lagi.


Lalu William menangkap kedua tangan Dhea dan menggenggamnya erat.


" Sayanggg....itu hanya masa laluku jauh sebelum bertemu denganmu, dan saat ini aku adalah milikmu, aku tidak akan membiarkan diriku tergoda oleh wanita lain lagi. Aku bahkan bingung saat ini, apa yang harus aku lakukan saat tidak ada kamu sayang?" Bisik William pelan.


" Benarkah?" Tanya Dhea.


" Ya sayang. Kamu adalah hidupku." Kata William sambil menatap kedua bola mata Dhea.


Perlahan William mendekatkan wajahnya, lalu berhenti sejenak seolah tidak ingin seditikpun beralih dari wajah wanita yang membuatnya tergila gila itu. Hembusan nafas Dhea begitu hangat menyapu wajah William. Dhea tak sadar bahwa kehadiran William membuat prinsip hidupnya sedikit berubah. Yang awalnya tidak pernah mau berdekatan dengan seorang pria, sekarang justru membiarkan William selalu menggandeng tangannya. Yang awalnya tidak mau berduaan dengan seorang pria, tapi sekarang justru sering bersama dengan kekasihnya di apartemennya. Mungkin inilah yang disebut cinta itu buta, terkadang bisa membuat manusia lupa diri.


Perlahan William mengecup dahi Dhea. Dan Dhea sangat menikmati itu, walaupun itu hanya sebatas di dahi, namun ternyata mampu membuat Dhea begitu bahagia.


" Sayang...mungkin benar katamu, jika seseorang yang sedang jatuh cinta itu bisa saja berbuat di luar akal sehat kita."


" Maksudmu Will?"


" Buktinya sekarang kau membiarkanku menciummu kan? Untung aku masih bisa mengontrol diri, jika tidak, kau pasti saat ini sudah berada di dekapanku sayang...!!" Kata William sambil tersenyum menggoda Dhea.


" William kau ini...!!" Kata Dhea, dia sangat malu sekali, wajahnya memerah. Dia sadar baru saja melakukan perbuatan yang melanggar prinsipnya.


" Maafkan aku Will, kau sudah membuatku lupa diri." Dhea sangat menyesal.


" Kenapa kau harus minta maaf sayang? Cinta itu memang sangat memabukkan. Tapi tenanglah, aku sudah pernah berjanji untuk selalu menjagamu, dan mencintaimu dengan tulus, jadi aku tidak akan mengotori hubungan kita ini dengan perbuatan yang melanggar agamamu ok."


Dhea hanya tersenyum.


" Ya Alloh kenapa kau hadirkan laki laki yang begitu sempurna ini untukku? Sedang dia tidak bisa kumiliki. Apa yang harus kulakukan? Tunjukkan jalanmu agar kami bisa bersatu di jalan yang kau ridhoi...!!" Doa Dhea dalam hati.