Something different

Something different
Bersama William dan Daniel



Saat Mike kembali ke meja makan, yang tinggal hanya William dan Daniel, sedangkan Dhea menemani papanya mengobrol berdua di dekat kolam renang. Mike segera mendekati berdua, melanjutkan sarapan paginya yang tadi sempat tertunda.


" Kalian masih di sini rupanya?" tanya Mike sambil menarik kursi, kemudian mendudukinya.


" Tentu saja Mike, karena kami ingin tau hasil keputusan akhir dua pihak yang sedang bersengketa." Jawab Daniel sambil membenahi tatanan rambutnya yang sebenarnya tidak berantakan sama sekali, karena sepertinya tadi dia mengoleskan minyak rambut sebotol penuh, sehingga terlihat klimis dan mungkin lalat bisa tergelincir di atasnya. Namun begitulah Daniel, berusaha tampil seperfeck mungkin, walaupun sebenarnya wajahnya biasa saja, dan dipoles sebagus apapun, tetap termasuk kategori di bawah standar, seperti itulah William biasa mengatakannya.


" Dua pihak yang bersengketa? kau pikir sedang ada perang di sini?" sembari membalik piring di hadapannya, lalu memilih menu setangkup roti dan telur sebagai isi untuk mengganjal perutnya.


" Hemmm....sepertinya selera makanmu jadi turun setelah keluar dari kamarmu? padahal banyak menu di sini, kenapa kau hanya mengambil roti itu? aku saja sudah mencicipinya semua. Ohhh ya, apakah darah tinggi istrimu belum turun juga? sehingga kau tidak nafsu makan?" Kata Daniel, tak henti-hentinya menggoda Mike. Williampun hanya tertawa tipis mendengarnya, dia juga sebenarnya penasaran, apakah gerangan yang sedang terjadi dengan adik iparnya itu.


" Apa sih yang kau bicarakan Dan? sengketa, darah tinggi? apa sebenarnya yang ada dalam pikiranmu?"


" Hahaha...masak aku harus jujur padamu Mike? sebagai seorang pembicara yang baik, kita harus pandai mengolah kata-kata. Iya tidak Will?" Yang ditanya hanya menaikkan alisnya saja, sambil tersenyum tipis.


" Mike?" panggil William sambil menggeser kursinya, mendekati Mike yang sedang menikmati roti di hadapannya.


" Ya Will? ada apa?" sambil mengunyah roti yang masih tersisa di mulutnya.


" Katakan padaku, apa sebenarnya yang terjadi pada istrimu?"


Mike menoleh sesaat, matanya beradu pandang dengan milik William yang sedang menatapnya tajam, dan dia langsung mengalihkan tatapannya kembali pada roti di piringnya, kemudian mengirisnya menjadi potongan kecil, lalu memasukkan ke dalam mulut.


" Kau ini bicara apa sih Will?" Jawabnya, tanpa berani menatap kakak laki-lakinya lagi, yang sudah sangat mengenal karakternya sejak kecil.


" Hahaha..aku pikir hanya wanita saja yang tidak sanggup melawan tatapan matamu, karena takut jatuh cinta Will, ternyata pria setampan Mikepun tidak kuasa melawan tatapanmu. Luarrrr biasa.....aku mohon angkat aku menjadi muridmu guru." Sambil merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada seperti memohon.


" Diamlah dulu Daniel..!! aku sedang berbicara serius dengan adikku ini."


" Oke..oke...!! kalau begitu aku akan mengobrol sendiri dengan makanan di meja ini, dengan salad, dengan ikan, dengan roti...hemmmm...sepertinya jauh lebih menarik dan sangat menyenangkan...oke lanjutkan saja pembicaraan kalian, anggap saja aku tidak ada dan anggap ini seperti di rumah sendiri ya." Jawab Daniel sembarang.


" Hemmmm...sepertinya penjelasanmu terlalu panjang Danielll....!!!" kata William sambil melirik tajam pada sahabatnya.


" Hahaha...oke aku diam done..!!!"


" Bagus...itu baru jawaban yang benar." Kemudian pandangannya beralih kembali pada Mike.


" Mike, bicaralah padaku. Kau tidak bisa menyimpan rahasia sedikitpun padaku. Karena aku bisa merasakan ketidakberesan itu, terlebih aku sangat mengenalmu."


" Tidak usah terlalu dipikirkan Will, aku bisa menyelesaikannya sendiri kok."


" Itu jika urusannya tidak melibatkan istriku. Silahkan, kau boleh menyelesaikannya, dan aku tidak akan mungkin ikut campur seperti ini. Tapi aku merasa semua itu melibatkan istriku. Ada apa sebenarnya? kami itu baru saja datang, dan tidak tau menahu jika kemudian kami membawa persoalan antara kau dengan istrimu." Mike diam sesaat, menunduk sebentar lalu mengangkat kembali kepalanya, dan kemudian menatap William.


" Istriku cemburu pada Dhea." Jawabnya pelan.


" Hahhhh...sudah kuduga....!!" Teriak Daniel, sambil menggebrak meja, dan berdiri dari tempat duduknya.


Spontan William dan Mike langsung terkejut.


" Tidak Will, tapi insting detektifku berbicara demikian. Aku mencium adanya ketidakberesan, dan ketidakseimbangan emosi yang melibatkan perasaan asmara dalam diri Deasy."


" Bahasamu itu kemana Dan? kau bisa menatanya lebih baik lagi, agar kami bisa memahami maksudmu?" jawab Mike ganti.


" Tidak Mike, ini sudah terlalu tertata untuk bisa dimengerti oleh akal pikiran manusia. Aku tidak bisa memilih kata-kata yang lebih pantas lagi dari ini."


" Hehhh...ya Dan, tertata menurutmu. Dan hanya kau juga keluargamu saja yang tau maksudmu itu. Kasihan sekali hidupmu." Gerutu William.


" Aku itu hanya menjabarkan yang aku rasakan selama di sini Will. Kecurigaanku terhadap sikap Deasy, menyebabkan jiwa kedetektifanku berontak. Aku tidak kuasa menahannya, hingga akhirnya kuucapkan hari ini di hadapan kalian berdua."


" Ahhh sudah..sudah hentikan Dan..!! Jadi makin gila aku mendengar kata-katamu itu. Sudah tentu kau tau semuanya, kau kan yang membocorkan rahasia itu pada istriku. Dan sekarang lihatlah akibatnya, karena mulut embermu itu, istriku jadi bersikap seperti itu."


" Heiii...seharusnya kau berterimakasih padaku! Di usia pernikahanmu yang baru satu bulan ini, ternyata sifat istrimu itu terlihat semua, dan tanpa perlu menunggu lama, sebelum semuanya terlambat. Ternyata dia tidak sebaik yang kau pikir selama ini. Wajah cantik tidak menjamin sifat yang cantik juga Mike hahaha..."


" Sekarang kau sudah paham kan siapa dia? hanya karena sebuah masalah sepele saja, dia bisa seperti itu, bagaimana jika masalahnya lebih besar dari itu? aku yakin rumah ini bisa dihancurkannya, beserta isi dan penghuni-penghuninya hahaha." sambung Daniel lagi sembari terbahak kembali.


William hanya terbengong saja, melihat adik dan juga sahabatnya berdebat, sedangkan dia tidak tau apa sebenarnya yang sedang mereka bicarakan.


" Heiii......stooopp....!!! kalian ini sedang meributkan apa sih? bisa tidak kalian tidak membuatku seperti orang bodoh yang melihat kalian berdebat, tapi tidak tau mendebatkan apa?" protes William.


" Begini Will, kamu pasti terkejut kenapa sikap Deasy tiba-tiba jadi seperti nenek sihir, bersikap ketus dan tidak ramah sama sekali?"


" Bagaimana aku bisa tau Dan, jika kalian tidak memberitahukanku. Kau pikir aku paranormal yang bisa membaca pikiran orang lain?"


" Oke aku beritahu ya...Deasy itu cemburu pada Dhea istrimu."


" Cemburu pada istriku? kenapa bisa begitu? bukankah sebelumnya Deasy tidak pernah bertemu dengan istriku? bagaimana dia bisa cemburu?"


" Kau pikir cemburu harus bertemu dulu? kita ini sedang membicarakan masa lalu Will. Deasy cemburu karena Mike pernah menyukai Dhea. Hahaha...bodoh...mau-maunya dia buang-buang energi positif dari dirinya hanya demi sebuah masa lalu hahaha."


" Darimana istrimu tau jika kau pernah menyukai Dhea, Mike?"


" Tuh tanya sahabat gilamu itu. Dia yang bertanggung jawab atas semua ini."


" Heii...Mister.. !!! hentikan tawamu...!! sambil mendorong bahu Daniel yang masih saja tergelak.


" Katakan padaku, kekacauan apa yang sudah kau buat sehingga Deasy semurka itu?"


" Kekacauan bagaimana? istri Mike saja yang terlalu membesar-besarkan masalah, aku sedikit keceplosan jika dulu kau dan Mike itu menyukai wanita yang sama, yaitu Dhea. Harusnya Deasy bersyukur mendapatkan Mike. Masa lalu Mike tidak separah kau. Apa jadinya jika Mike itu seperti kau dulu. Mungkin dia mati berdiri setelah mendengar cerita masa lalu suaminya hahaha."


" Hahhh...dasar kau mulut ember.. !!" sambil memukul kepala Daniel dengan sendok.


" Auwwww.....kenapa kau tidak menggunakan sendok soup yang lebih besar itu Will, agar aku bisa langsung masuk icu?" sambil meringis sembari menggosok-gosok kepalanya.


" Hehhh...tidak sudi aku membiayai perawatan rumah sakitmu Dan. Rasakan....!! itu baru permulaan." Jawab William. Mike yang melihat dua orang sahabat itu hanya tergelak sendiri.