
" Hati-hati di jalan ya!!" Kata ibu Dhea sambil melambaikan tangannya, saat kendaraan yang dikemudikan William berjalan pelan keluar dari halaman rumah orang tuanya. Kembali ke rumah dengan kondisi perut yang sudah kenyang, sepertinya sangat nyaman jika langsung tidur, sembari menghidupkan pendingin ruangan untuk mengusir hawa panas di kota yang terkenal dengan cuaca yang sedikit menyengat itu. Dhea melirik suaminya yang begitu konsentrasi dengan jalanan di depannya.
" Hihihi....wajahmu tegang sekali sih sayang, kalau ngambek biasa saja dong wajahnya, jangan sok dibuat serius seperti itu, seperti sedang menghadapi sidang paripurna saja ." Kata Dhea dalam hati.
" Sayaaaanggg.....aku tidak menyangka lho bisa bertemu Reihan di mall tadi." Kata Dhea mencoba membuat jengkel suaminya lagi.
" Hehhhhh." William hanya menarik nafas panjang, dan tidak menanggapi kalimat Dhea.
" Ahhhh...pasti ini sudah diatur Allah ya sayang, agar kita bisa terus menjaga silaturahmi denganmu."
" Ahhhh....tidak ada untungnya bersilaturahmi dengan mantan, kau bahkan bisa membuat aku darah tinggi mendadak sayang." Jawab William dalam hati.
" Sayang, kok diam saja sih sedari tadi? pasti kau sedang kekenyangan karena makan di rumah ibu. Dan biasanya orang yang kenyang itu akan langsung mengantuk. Jadi nanti setelah tiba di rumah kita langsung tidur ya. Makan sudah, sholat dhuhur sudah. Tidak ada lagi yang perlu kita kerjakan lagi kan?"
" Tidak ada bagaimana??? Urusan hatiku ini bagaimana??? aku ini sedang marah sayang, sedang cemburu!!! heeeehhhhh respek sedikit dong, minimal bertanyalah kenapa aku diam." Kata William kembali dalam hati.
" Ahhhhh....ya ya ya....kau pasti benar-benar sudah mengantuk, jadi tidak mau menjawab kata-kataku. Ya sudah aku tidak akan mengganggu konsentrasimu." Kata Dhea sambil memalingkan muka menghadap jendela kaca di sampingnya. Memandang kendaraan lain yang berkejar-kejaran di sampingnya. Juga berbagai macam bangunan yang membuat pemukiman semakin padat.
" Hehhhh...kau pasti sedang membayangkan mantanmu tadi kan? menyebalkan sekali! kenapa aku tadi bisa bertemu dia di sana. Jika tau seperti itu, lebih baik aku mengajak istriku belanja di mall lain saja yang jaraknya lebih jauhpun aku rela. Bila perlu di pulau lain, agar tidak bertemu pria yang bernama Reihan tadi. Aku lihat istriku jadi lebih gembira begitu setelah bertemu mantannya. Awas!!! jika dia masih belum melupakan mantannya itu di hatinya, walaupun hanya sekedar mengingat bulu hidungnya saja, aku tidak ikhlas!!!" Gerutu William dalam hati.
Dhea terus diam saja sambil membayangkan sikap William saat tiba di rumah nanti. Pasti yang akan dilakukan suaminya itu langsung merebahkan tubuh di kasur, menyelonjorkan kakinya, mangambil telfon genggamnya, sok sibuk mengotak atiknya. Tanpa perduli pada dirinya. Tanpa ada pelukan apalagi ciuman, seperti kebiasaan mereka saat sedang berada di tempat favorit itu.
" Hihihi....ternyata aku sudah bisa mendeskripsikannya dengan jelas, walaupun hanya di angan-anganku saja." Kata Dhea dalam hati.
William segera memarkirkan kendaraannya. Dhea langsung membuka pintu di sebelahnya, lalu turun, dan langsung masuk ke dalam. Sopir pribadi mengambil alih kendaraannya itu, dan memindahkan ke dalam garasi yang berada di samping rumahnya.
Benar saja tebakan Dhea, sampai di dalam kamar William langsung merebahkan tubuhnya, tanpa mengganti bajunya dahulu, tanpa membasuh tangan dan kakinya dahulu, seperti biasa yang dilakukannya ketika hendak tidur siang ataupun malam.
Dhea segera melepaskan jilbab yang menutupi kepalanya, melepaskan ikatan rambutnya dan membiarkan tergerai. Mengganti pakaiannya, kemudian masuk ke dalam toilet membasuh kaki, tangan dan sebagian wajahnya. Saat keluar dari toilet, dilihatnya posisi sang suami sudah mulai berpose seseuai dengan bayangannya tadi. Sebuah bantal disandarkan di dinding sedikit tinggi, kaki diselonjorkan dan mulai mengotak-atik handphonennya dengan bibirnya yang manyun.
" Hihihi.....kenapa persis sekali dengan yang kubayangkan tadi? kenapa tidak kau angkat kakimu satu ke atas, atau dua-duanya sekalian, atau tanganmu yang kau angkat ke atas, lalu menghadapkan wajah ke kamera dan mulai melambaikan tangan padanya?" Kata Dhea dalam hati, dan tergelitik sendiri melihat suaminya itu.
" Ahhhhh...aku pura-pura tidak tau saja, aku yakin dia pasti akan semakin sebal. Biar saja aku hanya ingin mengerjainya saja, tidak apa kan? ini juga sebagai bumbu cinta biar kami semakin romantis." Kata Dhea dalam hati. Lalu dia segera berjalan mendekati ranjang tidur, dan segera naik ke atasnya sambil pura-pura menguap.
" Oaaahhhhh.....aku tidur duluan ya sayang, aku sudah mengantuk sekali." Kata Dhea.
" Ya." Jawa William singkat.
Sebelum tidur Dhea hendak mencium pipi suaminya terlebih dahulu seperti kebiasaannya, namun William langsung menghindar.
" Tidurlah saja, aku sedang serius." Kata William tanpa melihat istrinya.
" Ohhh...maaf sayang. Ya sudah aku tidur dulu ya....hemmmmm.....nikmatnya, perut kenyang, hatipun juga senang. I love you sayang." Kata Dhea sambil memiringkan badannya membelakangi William.
" Heiiii....kau ini tidak tau atau pura-pura tidak tau sih? Kenapa kau bersikap seolah tidak terjadi apa-apa? dan mengatakan hatipun senang segala. Senang karena kau tadi baru bertemu Reihan mantanmu kan? iya kan???? Heiiiii...ayo balikan badanmu, selesaikan urusan kita tadi." Kata William berteriak dalam hati.