Something different

Something different
Panti Asuhan



Sepeninggal Paula William segera menelfon Daniel.


" Hallo William, bagaimana kabarmu pagi ini? Apakah kau tidur nyenyak dalam dekapan Paula semalam hahaha?" Kata Daniel saat baru saja mengangkat telfon dari William.


" Hhhhh...sialan kau Dan, kenapa kau biarkan wanita jalang itu tidur denganku?"


" Hei ada apa? Bukankah kau mengaguminya?"


" Itu dulu, dan sekarang aku tidak ingin melihat wajah dia lagi."


" Tidak ingin melihatnya lagi?" Mengulangi perkataan William seolah ingin meyakinkan jawaban itu.


" Ya benar, dia pernah berusaha mencelakai Dhea."


" Oh begitu rupanya. Lalu semalam kalian melakukannya??"


" Ya Dan, aku semalam tidak ingat sama sekali dan sialnya aku tidak memakai pengaman. Brengsek....dasar wanita binal!!" Umpat William.


" Hahaha tentu saja kau tidak ingat, yang kau sebut hanyalah nama Dhea saja."


" Benarkah Dan?"


" Ya...kau seperti seorang pujangga yang sedang merangkai syair dan hanya berisikan nama Dhea hahaha."


" Hhhhh.....separah itukah aku hingga dalam mabukpun menyebut namanya?"


" Seharusnya aku rekam saat kau mabuk semalam agar lebih percaya."


" Dan...lalu bagaimana dengan wanita sialan itu semalam?"


" Tenang saja teman, dia itu wanita berpengalaman, tak akan mungkin dia sebodoh itu untuk membiarkan dirinya hamil denganmu!!"


" Yah semoga saja ", jawab William pelan.


" Lalu hari ini kau akan pergi kemana?"


" Aku akan mengujungi papaku, sudah 1 mingguan aku belum menemuinya."


" Hhhhh dulu bahkan hampir setiap hari kau kesana."


" Ya sebelum ada wanita itu."


" Kau ini bergelimang harta, tapi permasalahanmu hanya seputar wanita. William William.....sepertinya kau harus belajar dariku lagi, persetan dengan yang namanya cinta, bahkan wanita di masa lalumupun belum dapat kamu lupakan hahaha."


" Aku sudah melupakannya, dan aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya."


" Lalu kenapa kau masih membencinya?"


" Karena dulu dia sudah menghianatiku, dan sekarang ganti adikku. Aku tidak terima dia melakukan itu pada Mike."


" Tau darimana kau bahwa dia berhianat pada Mike?"


" Karena aku punya buktinya Dan."


" Sungguh? Bukti itu kuat?"


" Sangat kuat. Bahkan aku yakin jika Mike tau ini, dia akan segera melempar keluar wanita itu dari dalam rumahnya."


" Hhhh....sungguh permasalahan yang pelik, makanya aku tidak pernah mau terikat oleh wanita manapun." Gumam Daniel.


" Ya sudah Dan, aku akan siap-siap dulu."


" Ok Will, salam buat papamu ya."


Kemudian William menutup telfonnya, lalu memanggil salah satu asisten rumah tangganya.


Perlahan-lahan seorang wanita yang usianya sekitar 30an datang menghadap William.


" Iya tuan ada apa?"


" Tolong kamu bersihkan kamarku, cuci semua sprai dan selimutku, aku tidak mau bau wanita itu tertinggal di kamarku!!"


" Baik tuan akan segera aku kerjakan."


Kemudian William segera masuk ke toilet untuk mandi dan bersiap siap pergi ke rumah papanya.


Setelah rapi dia segera keluar, salah satu asistennya sudah siap di depan, di samping mobil yang hendak dikendarakannya.


" Silahkan tuan ", kata laki-laki berseragam hitam itu sambil membungkuk, dan menyerahkan kontak mobil kepada William.


" Terimakasih ", jawab William dan segera masuk ke dalam mobil tersebut dan segera berlalu.


" Hhhhh semoga saja hari ini Mike dan Jessy tidak ada di sana, aku malas jika harus berjumpa dengan wanita itu lagi."


Sedang asyik-asyiknya mengendarai mobilnya sambil melihat suasana di kiri kanan jalan, tiba-tiba bola mata William menangkap seseorang yang tampilannya tidak asing baginya. Seorang wanita berjilbab.


" Itu sepertinya Dhea, kenapa dia di sini?"


William membaca sebuah papan yang bertuliskan panti asuhan di depan bangunan itu. Di sana Dhea terlihat sedang bermain dengan beberapa anak kecil.


" Ahhh benarkah dia? Apakah mataku tidak salah melihat?"


Kemudian William menghentikan mobilnya di seberang jalan, dia terus memperhatikan wanita berjilbab itu.


" Ya aku yakin wanita itu benar-benar Dhea ", gumam William.


Sementara itu Dhea sedang bercanda dengan beberapa anak di depan halaman panti asuhan.


" Anna kau yang harus jaga sekarang ", teriak Dhea sambil tertawa gembira bersama anak anak itu.


Minimal 1 bulan sekali Dhea memang mengunjungi panti asuhan itu, saat dia baru saja menerima gaji. Dia selalu membelikan anak anak itu makanan kecil. Mereka sangat gembira menerima pemberian Dhea, walaupun harganya tidak seberapa.


" Hai Dhea, sudah dari tadi kau di sini?"


" Lumayan Nyonya mungkin sudah setengah jaman." Kata Dhea sambil menghampiri pengurus panti asuhan itu dan berjabat tangan dengannya.


" Kenapa kau tidak masuk ke dalam tadi?"


" Anak-anak ini langsung mengajakku bermain nyonya."


" Terimakasih ya Dhe, kamu sudah membuat mereka gembira hari ini?"


" Sama-sama nyonya, akupun gembira bermain bersama mereka."


" Bagaimana kuliahmu, apakah ada kendala?"


" Tidak nyonya semuanya lancar, aku masih tetap bisa melakukan pekerjaan sampinganku dengan baik nyonya."


" Syukurlah Dhe, semoga itu tidak menyita waktumu, dan kau bisa menyelesaikan kuliahmu tepat waktu."


" Iya nyonya pasti akan kuusahakan itu."


Dhea terlihat asyik mengobrol dengan pengurus panti asuhan itu, sambil memperhatikan anak-anak yang sedang berkejaran di halaman. Mereka bermain dengan riang gembira. Tidak ada beban di wajahnya, walaupun mereka sudah tidak memiliki orang tua yang bisa memeluk dan melindungi mereka setiap hari. Dhea sangat senang mengunjungi panti tersebut. Apalagi saat anak-anak itu menyambut kedatangannya dan menanyakan kabarnya. Dhea merasa bahwa mereka sangat menyayanginya.


William terus memperhatikan Dhea dari seberang jalan, dia menunda tujuan awal untuk ke rumah orang tuanya.


" Apakah dia sudah sembuh dari sakitnya, sehingga datang ke panti asuhan ini? Lalu apa yang dia kerjakan di sini? Apa ada salah satu penghuni panti ini yang dikenalnya ?" Sejuta pertanyaan ada di dalam benaknya. William begitu penasaran dengan apa yang dilakukan gadis berjilbab itu di panti asuhan ini. Diliriknya arloji di tangannya.


" Sudah hampir jam 12 kenapa dia belum pulang juga? Bukankah dia harus makan siang? Dasar gadis bandel, bahkan kesehatannya tidak pernah dipikirkannya ", gerutu William. William terus menunggu Dhea keluar dari panti asuhan itu begitu lama di dalam mobilnya.