
Dhea semakin menenggelamkan diri dengan kesibukannya, dan berusaha untuk tidak memikirkan William dengan mengerjakan tesisnya setiap hari. Bahkan dia sering melupakan jadwal makannya. Pagi ini Dhea hendak pergi ke kampusnya, namun entah mengapa kepalanya begitu berat, dan matanya sedikit berkunang-kunang. Sehabis sholat subuh tadi dia memang tidur kembali, karena kepalanya sedikit pusing dan berharap setelah bangun nanti akan hilang rasa sakitnya, namun ternyata justru lebih parah.
" Ahhh kenapa kepalaku jadi semakin pusing?" Gumam Dhea sambil memegangi kepalanya.
" Tidak, aku harus kuat! Hari ini aku sudah janji untuk bertemu dengan dosen pembimbingku."
Lalu Dhea segera memaksakan dirinya bangun dari tempat tidur dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Dia segera mengguyurkan air ke seluruh tubuhnya, bukannya segar tapi dia justru menggigil kedinginan.
" Ya Alloh kenapa dengan tubuhku? Aku tidak boleh sakit! Tesisku harus selesai tepat pada waktunya!" Gumam Dhea lagi.
Setelah selesai mandi dia segera mengganti pakaiannya, dan memoles sedikit wajahnya. Namun riasannya tetap tidak bisa menutupi wajahnya yang sangat pucat, serta bola matanya yang cekung akibat kurang tidur. Dhea memang tidak pernah lagi memperhatikan kondisi tubuhnya, yang dia pikirkan hanya bagaimana caranya bisa melupakan William itu saja.
Perlahan Dhea keluar dari kamarnya, beberapa pegawai apartemen menyapanya ramah. Dhea hanya membalas mereka dengan senyumnya. Arthur sudah menunggunya sedari tadi di depan, karena dia selalu menanyai jadwal keberangkatan Dhea ke kampusnya setiap hari.
" Nona anda sedang sakit?" Tanya Arthur saat membukakan pintu untuk Dhea dan tau kondisi tubuh Dhea yang begitu lemah.
" Kepalaku hanya sedikit pusing Arthur." Jawab Dhea sembari naik ke dalam mobil.
" Saya antar ke dokter dulu saja ya nona?"
" Tidak usah Arthur, aku sudah janji bertemu dosen pembimbingku pagi ini." Kata Dhea.
" Ya sudah saya antar anda ke kampus, baru nanti pulangnya saya antar ke dokter bagaimana nona?"
" Lihat saja nanti Arthur." Jawab Dhea.
Sepanjang jalan Dhea terus memejamkan matanya, tubuhnya menggigil kedinginan, bukan karena dinginnya ac di mobil itu, tapi memang suhu tubuhnya yang sepertinya tidak normal.
Arthur hanya memperhatikan Dhea dari balik spion di atasnya, dia sangat khawatir dengan kondisi gadis itu.
Untung saja saat tiba di kampus dosen pembimbing Dhea sudah ada di dalam ruangannya, sehingga Dhea tidak perlu menunggunya lama seperti sebelumnya.
Setelah beberapa saat berkonsultasi, setengah jam kemudian Dhea telah keluar lagi dari ruangan tersebut. Dhea segera menuju mobil Arthur kembali.
" Arthur tolong antarkan aku ke dokter sekarang ya?" Kata Dhea.
" Baik nona." Jawab Arthur.
Arthur terus mengemudikan kendaraannya. Jalanan sedikit macet, sehingga Arthur memperlambat laju kendaraannya. Saat melihat ke belakang alangkah terkejutnya dia, karena Dhea tidak lagi terduduk sempurna, tubuhnya telah tergeletak di atas kursi belakang. Wajahnya sangat pucat dan bibirnya terlihat membiru.
" Nona..nona Dhea.. anda tidak apa-apa kan?" Panggil Arthur sedikit khawatir.
Namun Dhea tetap tidak menjawabnya
" Nona...!!! Panggil Arthur lagi hingga berkali-kali. Akhirnya Arthur menepikan kendaraannya, dan segera turun. Kemudian dia membuka pintu belakang di tempat Dhea duduk. Digoyang-goyangkannya tubuh Dhea, namun Dhea tidak merespon sedikitpun. Akhirnya dia memeriksa denyut nadi.
" Ya ampun!! Denyut nadinya begitu lemah, dan tubuhnya sangat panas. Bertahanlah nona saya akan membawamu ke rumah sakit!!" Kata Arthur panik. Dia segera memacu kendaraannya, dan menghidupkan lampu daruratnya, berharap agar mobil lain mau memberikan jalan untuknya.
Arthur langsung mengambil handphonennya dan segera menelfon William.
" Hallo, ada apa Arthur kau menelfonku?" Tanya William yang saat itu ada di kantornya.
" Maaf tuan, saya sedang membawa nona Dhea ke rumah sakit." Jawab Arthur, nadanya terlihat panik.
" Hahhh...kenapa dengan dia Arthur??" Tanya William terkejut.
" Suhu badannya sangat tinggi tuan, dan sekarang dia pingsan di mobil."
" Ya Tuhan....Cepat bawa dia Arthur, aku akan segera menyusulmu." Kata William.
William segera meraih kunci mobilnya di meja, dan berlari keluar untuk menyusul Arthur.
" Maaf Tuan ada berkas...." Kata sekretarisnya yang hendak masuk ke ruangannya tapi tidak jadi.
" Aku sedang buru-buru, kau letakkan saja di mejaku!!" Potong William setengah berlari.
William segera keluar, kemudian mengambil mobil yang ada di depan kantornya. Dia memacu kendaraannya dengan kencang dan berharap bisa tiba di rumah sakit duluan.
Benar saja, saat William baru saja memarkirkan kendaraanya di rumah sakit yang disebutkan Arthur tadi, dilihatnya mobil Arthur baru saja masuk dan langsung berhenti di depan ruang UGD.
" Kenapa kau tidak bilang dari tadi pagi jika dia sakit Arthur dan melarangnya pergi ke kampus? Bukankah aku bisa mengirimkan dokter untuknya? Dan tidak perlu menunggunya hingga pingsan seperti ini. Bagaimana jika terjadi apa-apa padanya?" Kata William setengah emosi.
" Maaf tuan, tadi pagi nona Dhea sudah saya tawari untuk pergi ke dokter, tapi dia tidak mau karena sudah ada janji dengan dosen pembimbingnya." Kata Arthur setengah ketakutan.
" Ya Tuhaannn...Dheaaaa...kau pasti tidak pernah memperhatikan kesehatanmu sendiri." Gumam William, sambil terus mondar mandir. Dadanya berdebar-debar menunggu kabar dari dokter yang sedang memeriksa Dhea.
Tak lama kemudian seorang dokter perempuan keluar.
" Dokter bagaimana kondisi kekasih saya?" Tanya William. Dia masih saja menganggap bahwa Dhea adalah kekasihnya, padahal mereka sudah putus.
" Tenanglah tuan, kekasih anda baik-baik saja. Hanya demam biasa, dan tekanan darahnya sangat rendah. Mungkin kekasih anda kurang istirahat dan lupa menjaga pola makannya, sehingga kondisinya menjadi lemah."
" Ya Tuhan syukurlah." Bisik William.
" Dia sedang dipasang infus, aku harus memberinya vitamin, agar tubuhnya kembali stabil."
" Terimakasih dokter." Jawab William.
" Sama-sama." Jawab dokter tersebut lalu segera meninggalkan William.
Tak lama kemudian perawat keluar sambil mendorong Dhea yang berada di atas ranjang. Selang infus terpasang di tangannya.
William segera menghampirinya.
" Sayanggg....kenapa tubuhmu jadi kurus begini?" Kata William dalam hati sambil menggenggam jemari Dhea yang lemah dan berjalan di samping kereta dorong itu.
William memilihkan ruangan VIP untuk Dhea. Apapun tetap dilakukannya demi wanita yang dicintainya itu. Setelah meletakkan Dhea di kamar inapnya, suster tersebut segera meninggalkan ruangan itu.
" Arthur aku tidak akan menunggui dia hingga siuman. Aku tidak ingin dia tau bahwa sedari tadi aku ada di sini. Dan kau jangan pernah cerita padanya. Nanti aku akan mengirim Christy kemari untuk menungguinya. Dan satu lagi yang harus kau ingat!! Jangan pernah memberikan nomor telfonku padanya ya!!" Pesan William pada Arthur.
" Baik Tuan." Jawab Arthur singkat. Dia bingung dengan jalan pikiran tuannya itu. Kenapa William tidak pernah mau keberadaannya diketahui oleh kekasihnya sendiri, terlebih tidak mau memberikan nomor telfonnya pada Dhea. Padahal dia tidak pernah tau bahwa sedang ada permasalahan antara tuannya dengan kekasihnya yang saat ini sedang terbaring lemah itu.
Kemudian William menghampiri Dhea yang masih belum siuman. Dia membelai kepala Dhea. Dan menyentuh dahinya.
" Hehhhh panasnya belum turun." Gumam William.
" Sayang aku pergi dulu ya, semoga kau baik-baik saja, tenanglah aku tidak akan membiarkan kau seorang diri di sini, aku akan mengirimkan Christy untukmu." Bisik William pelan. Kemudian dikecupnya jemari Dhea.
" Aku pergi dulu Arthur, ingat jangan kau tinggalkan dia sendirian ya?" Kata William.
" Baik Tuan saja janji tidak akan meninggalkannya."
" Terimakasih Arthur."
" Sama-sama tuan."
Kemudian William segera meninggalkan ruangan itu dan kembali ke kantornya.
Sepeninggal William, tak lama kemudian Dhea siuman.
" William...William..!!" Panggilnya. Sekilas saat dia baru saja sadar seperti mencium aroma parfum yang biasa dipakai oleh kekasihnya itu.
" William kau di sini ?" Gumam Dhea. Matanya masih tertutup antara sadar dan tidak.
" Nona...Nona Dhea anda sudah sadar?"
Tanya Arthur sambil mendekati ranjang Dhea. Perlahan Dhea membuka matanya, saat mendengar ada seseorang yang mengajaknya berbicara.
" William??" Panggil Dhea lagi.
" Maaf nona saya Arthur nona."
" Arthur, aku seperti mencium parfum milik William, apakah dia di sini?" Tanya Dhea berharap bahwa perasaannya itu benar.
" Tidak ada tuan William di sini Nona, hanya ada saya sendiri."
Dhea setengah tak percaya, padahal dia sangat yakin bahwa penciumannya itu tidak salah, namun ucapan Arthur membuatnya sangat kecewa.