Something different

Something different
Di kantor polisi 2



William lalu melanjutkan kalimatnya yang sempat tertunda dengan khayalan Feri tadi.


" Saya sengaja datang kemari untuk meluruskan masalah kasus Hotel X milik saya. Kenalkan nama saya William Sean Anderson." Katanya sambil mengulurkan tangannya pada komandan tersebut.


" Hehhhh...kenapa harus bersalaman lagi? tadi kan dia sudah bersalaman saat baru masuk? pemborosan saja. Dianggapnya ini sedang hari raya idul fitri mungkin ya. Giliran ada bule sopan, maka terlalu sopan seperti dia, giliran ada bule yang tidak tau diri, kerjanya hanya merongrong NKRI saja yang sudah harga mati." Gerutu Feri dalam hati sambil kemudian tertawa sendiri lagi.


Uluran tangan William disambut oleh komandan itu.


" Oh jadi anda pemilik hotel X yang semalam menjadi tranding topik di stasiun tv mana-mana itu?" Bahasa komandan itu tertata apik, tapi mengandung air accu, dan sungguh pedih rasanya. Halus tapi langsung mengena dan menohok di jantung William juga Feri.


" Maaf komandan, itu semua di luar kendali saya sebagai pemilik hotel tersebut." Jawab William membela diri.


" Lho itu kan hotel milik anda? kenapa anda bisa mengatakan di luar kendali anda?"


" Karena saya di sini hanya bertindak sebagai pemilik saja, dan bukan sebagai pelaksana tugas dalam hotel itu. Orang-orang sayalah yang mengendalikan semuanya."


" Lalu kenapa bisa terjadi transaksi yang melibatkan orang besar itu?"


" Menurut pegawai saya, mereka itu seperti sewajarnya tamu hotel kami, dan menyewa salah satu kamar untuk ditempatinya."


" Hemmmm...atau jangan-jangan direktur hotel anda itu yang ikut terlibat di dalamnya?"


" Dia tadi mengatakan bahwa dia tidak tau apa-apa. Seluruh pegawai di hotel saya hanya melayani tamu yang ingin menginap dan tidak tahu menahu terhadap kepentingan mereka menginap, jadi anda tidak bisa menyalahkan direktur kami, ataupan karyawan yang menerima tamu itu."


" Kami sita semua rekaman cctv di hotel anda, karena ternyata kejadian di hotel anda tidak hanya sekali ini saja, namun sudah berkali-kali. Dan itu menurut pengakuan mucikarinya sendiri. Jadi kami akan memeriksa rekaman tersebut untuk mengetahui siapa saja yang sudah terlibat di dalamnya. Karena ini bukan masalah sepele."


" Silahkan komandan, jika itu bisa membantu anda untuk menyelesaikan kasus tersebut. Namun saya minta tolong keluarkan pegawai saya."


" Siapa yang akan menjamin dia, agar nanti bisa mempermudah kami untuk memanggilnya kemari kapan saja?"


" Saya yang akan menjadi jaminannya. Karena saya yakin dia tidak terlibat, dan dia tidak akan lari kemana-mana. Dia pasti akan membantu pihak kepolisian untuk mempercepat kasus ini selesai."


" Ok jika anda bersedia menjaminnya. Kalau begitu nanti saya perintahkan bawahan saya untuk membuat surat pernyataan hitam di atas putih, bahwa anda siap untuk menanggung segala konsekuensi, jika sewaktu-waktu pegawai anda itu kabur."


" Ya pak saya siap." Jawab William tegas.


Kemudian terlihat komandan tersebut berbicara dengan seseorang di telfon, membicarakan masalah surat penjaminan penangguhan penahanan.


" Baiklah saya baru saja menelfon bawahan saya. Silahkan anda menemuinya di depan, agar kemudian segera dibuatkan surat pernyataannya."


" Baik komandan, terimakasih banyak." Jawab William.


Setelah berpamitan, kemudian Willam dan Feri keluar bersama-sama, dan segera menemui petugas yang akan membuatkan surat pernyataan untuk mereka.


William begitu yakin bahwa direkturnya tidak bersalah sama-sekali. Karena dia percaya dengan track record keseharian bawahannya itu yang merupakan rekomendasi dari Feri sahabatnya. Mungkin benar niatan dia hanya ingin merekrut tamu sebanyak-banyaknya, sehingga tidak memikirkan efek yang terjadi kemudian.


" Fer, ingat ya! aku berani menjamin dia karena percaya dengan semua ceritamu. Awas jika direktur itu membuat ulah, kamu yang akan menggantikan posisiku!" Kata William sambil duduk menanti direkturnya datang, setelah selesai proses penandatanganan surat pernyataan.


" Hahhhh...enak saja, kau yang begitu yakin menjaminnya, kenapa aku yang kau jadikan tumbal?"


" Kan kau sendiri yang mengatakan bahwa direktur itu orang baik. Kau sangat mengenalnya, bahkan asal usul keluarganya yang dari keluarga islami."


" Memang benar Will, tapi siapa yang bisa tau isi hati orang? mungkin saja saat ini dia khilaf dan benar-benar terlibat dengan kasus itu, kemudian dia nanti kabur dan lari dari tanggung jawab."


" Waduhhhh...benar juga katamu, kenapa aku tidak memikirkannya tadi?" Tiba-tiba saja William hendak beranjak dari duduknya.


" Aku akan membatalkan surat penangguhan tadi, sebelum kepolisian membuktikan sendiri direktur tersebut benar-benar tidak bersalah."


" Hahaha...kau ini serius sekali sih."


" Fer, ini memang masalah serius dan bukan main-main. Aku tidak mau jika direktur itu benar-benar bersalah, lalu kabur, kemudian akulah yang akan menanggung akibatnya."


" Tidak mungkin Will, dia bukan type orang seperti itu. Aku sangat mengenalnya. Sini duduk lagi, aku nanti akan mendatangi dia di rumahnya, dia tidak akan mungkin tega membiarkan keluarganya susah. Kau tidak usah mengkhawatirkannya." Kata Feri sambil tersenyum.


" Hehhhh...kau pasti sedang mengerjaiku lagi kan?"


" Hahaha...bukan mengerjaimu, hanya shok jantung sedikit."


" Enak saja, jika aku jantungan sungguhan, aku tidak akan ikhlas meninggalkan istriku sendirian dalam kondisi hamil seperti itu ya."


" Kalau begitu kau pesan malaikat juga agar membawa serta istrimu juga."


" Hahhhh...sembarangan kau." Kata William sambil menonjok bahu Feri.


Akhirnya William kembali duduk, sebenarnya tadi dia benar-benar khawatir dengan kalimat Feri, bahkan saat bersedia menjamin direkturnya tadi, dia tidak memikirkan akibat yang akan ditimbulkannya, yang dia tau dia harus melindungi bawahannya, itu saja tidak lebih.


" Kau ini Fer, di situasi seperti ini masih saja sempat mengerjaiku."


" Hahaha kepala boleh panas Will, tapi hati harus tetap dingin."


" Masuk lemari pendingin saja jika kau ingin lebih dingin." Gerutu William.


" Hahaha....kau serius sekali sih Will, seperti sedang menghadapi sidang kasus pelecehan seksual saja."


" Hahhhh....apa tidak ada kasus yang lebih menaikan harga diriku sebagai laki-laki keren Fer?"


" Kasus itupun menurutku sudah sangat mencukupi standar pemikiranku terhadapmu."


" Sialan kau!!" jawab William sambil bersungut-sungut, disusul tertawa Feri yang merasa begitu senang.


Tak lama kemudian, dilihatnya sang direktur terlihat berjalan didampingi oleh seorang petugas di sampingnya. Wajahnya terlihat sedikit ceria, dibandingkan tadi saat masih di dalam yang terlihat begitu kusut dan masam.


William dan Feri segera berdiri bersamaan menyambutnya.


" Tuan terimakasih banyak atas bantuan anda, jika anda tidak bersedia menjaminnya, saya pasti masih meringkuk di dalam sana." Kata sang direktur sambil menyalami William.


" Sudahlah jangan berlebihan begitu. Aku mau menjaminmu, karena aku yakin kau tidak bersalah."


" Ya tuan, saya berani bersumpah saya tidak terlibat apapun dalam kasus itu."


" Ya, dan aku tidak ingin kau mempersulitku dengan mencoba menghindar dari panggilan kepolisian, jika sewaktu-waktu mereka membutuhkanmu."


" Ya tuan pasti itu, saya akan memenuhi persyaratan tersebut. Saya akan bertanggung jawab tuan. Saya juga punya keluarga di rumah, saya ingin mereka juga hidup nyaman tanpa ada masalah yang sedang mengikat saya."


" Bagus jika itu jadi acuanmu, jadi kau tidak akan bertindak macam-macam."


" Ayo kita pergi sekarang. Kita langsung saja ke kantor, kita adakan rapat darurat untuk membahas masalah ini." Kata William sambil berjalan keluar diikuti Feri dan sang direktur di belakangnya.