
" Setelah ini kau ingin kemana lagi?" Tanya Feri. Lalu William melihat arloji di tangannya.
" Aku mau pulang, pasti istriku sudah terlalu lama menunggu di rumah."
" Hehhhh...untung kau tidak pergi berperang Will, baru pergi setengah hari saja kau sudah bingung seperti itu."
" Jika aku perang pasti dia akan kubawa sekalian."
" Hahhhh...kau pikir di lokasi perang ada mall, bawa istri segala?"
" Tapi cinta kan tidak mengenal waktu dan tempat Fer?"
" Iya benar katamu, tapi kan tidak perlu membawanya perang juga. Ahhhh pemikiranmu itu di luar standar operasional Will."
" Hahaha..memangnya aku dan istriku sedang membangun perusahaan memakai standar operasional segala?" Kata William semakin mempercepat langkahnya.
" Aku duluan ya. Tadi istriku pesan ayam goreng kesukaannya, kasihan jika dia menantiku lama!!"
" Ohhhh pantas dia buru-buru. Rupanya Dhea memesan makanan padanya. Aku kira dia benar-benar merindukan istrinya dan tidak sabar untuk bertemu. Ahhhh tapi kau sangat beruntung Dhe, mendapatkan suami yang sangat menyayangimu." Bisik Feri pelan.
" Heiii...hati-hati ya!!!" kata Feri sambil melambaikan tangan. William hanya mengacungkan ibu jarinya dan perlahan masuk ke dalam mobil pribadinya.
" Pak kita ke ayam goreng xxxx dulu ya, istri saya sudah memesannya tadi. Bapak tau kan tempatnya?"
" Oh iya tuan saya tau. Jadi kita mampir kesana dulu tuan?"
" Ya pak, setelah itu langsung pulang saja." Kata William. Kendaraan berjalan pelan. William menyandarkan kepalanya di kursi duduknya. Hari yang sungguh melelahkan, bukan hanya tubuhnya, tapi juga pikirannya. William tidak menceritakan permasalahan ini pada Dhea, karena dia tidak mau membebani pikiran istrinya. Apalagi kondisinya yang sedang hamil, pasti berpengaruh tidak baik pada janinnya nanti.
Saat tiba di sebuah rumah makan ayam goreng xxxx, William segera memberikan lima lembar uang pada supirnya.
" Ini uangnya terlalu banyak tuan."
" Tidak apa-apa pak, belikan saja semuanya, biar nanti bisa dibagi-bagi untuk pegawai di rumah."
" Ohhhh baik tuan." Kata supir tersebut, lalu segera keluar dari kendaraannya, namun membiarkan mesin mobilnya tetap hidup, agar tuannya tidak kepanasan di dalam.
William mengambil handphonennya.
" Assalamualaikum." Suara Dhea terdengar di seberang sana.
" Wa'alaikum salam. Kau sedang apa sayang?"
" Aku sedang tidur-tiduran di kamar sayang, sambil menonton televisi."
" Hahhhh...tidur lagi?"
" Bukan tidur lagi, tapi tidur-tiduran, bukan tidur sungguhan."
" Ohhhhh aku pikir sudah mau tidur lagi, ini kan sudah sore."
" Kau masih lama sayang???" rajuk Dhea manja.
" Kenapa kau merindukanku ya??"
" Ya sangat merindukanmu. Tapi lebih rindu lagi dengan ayam goreng pesananku hihihi."
" Hahhhh...sekejam itu kau mengalahkan rindumu padaku dengan sebuah ayam goreng??? Kalau begitu aku pergi lagi saja jika sudah mengantarkan ayam goreng untukmu!!!"
" Hahaha...aku hanya bercanda sayang, kau pergi sebentar saja aku sudah kebingungan sendiri di rumah. Cepat kembali ya, aku sangat merindukanmu."
" Ihhhh bukan sayang. Jadi kau masih lama di sana?"
" Tidak, nih aku sedang membelikan pesananmu. Sebentar lagi aku juga pulang."
" Ohhhh iya, hati-hati ya di jalan?"
" Iya sayang. Ya sudah tunggu aku di rumah. I love you."
" Love you too suamiku." Kata Dhea sambil menutup handphonennya, lslalu mengecup layar handphone tersebut, persis seorang abg yang sedang dilanda cinta.
Kemudian Dhea segera melanjutkan menonton telivisi, sambil menunggu suaminya pulang ke rumah.
Sementara itu, terlihat supir William membawa beberapa kotak ayam goreng yang telah tersusun rapih di kanan kiri tangannya. Setelah memasukkannya ke dalam bagasi, dia segera naik kembali di belakang kemudinya dan melanjutkan perjalanan mereka ke rumah. Sungguh seorang majikan yang baik hati, tidak pernah membeda-bedakan antara yang dia makan dengan yang dimakan pegawainya juga. Penghargaan yang luar biasa terhadap orang yang bekerja di rumahnya, itu sebabnya pegawainya sangat betah bekerja di sana. William merasa kehadiran mereka itu sungguh berharga baginya dan juga istrinya. Tanpa mereka semua, dia dan istrinya tidak lagi repot mengurusi pekerjaan rumah yang seabreg itu. Makanya salah sekali, jika ada seorang majikan yang beranggapan bahwa dengan menggaji mereka, maka kita bisa berlaku sekehendak hati kita. Majikan seperti itu tidak berpikir bahwa uang terkadang tidak bisa membeli harga diri, dengan gaji besar sekalipun seandainya diperlakukan semena-mena, merekapun akan lebih memilih angkat kaki dari pekerjaannya. Karena orang yang ekonominya rendah itu hanya memiliki harga diri, jadi mereka akan lebih menghormati orang yang juga menghormati dirinya, dibandingkan orang yang hanya bisa membayar gaji besar padanya. Mereka tetap saja manusia yang ingin dimanusiakan.
" Pak, tolong letakan dua kotak saja di atas meja makan, sisanya bawa ke dapur dan bagikan untuk teman-teman bapak di belakang ya." Kata William saat telah tiba di rumahnya.
" Baik tuan. Terimakasih banyak."
" Sama-sama pak. Langsung dimakan saja mumpung masih hangat. Pasti lebih nikmat jika makan bersama-sama." Sambung William lagi.
" Iya tuan." Kata supir pribadi William singkat.
William segera berjalan ke dalam kamarnya, menemui belahan hatinya yang ditinggalkannya sedari tadi. Sedangkan supirnya segera berjalan ke dapur, membagi-bagikan makanan yang telah dibelikan tuannya tadi.
" Pintu kamar tertutup rapat, agar hawa dingin yang keluar dari ac di ruangan itu tidak keluar. William langsung menarik handle pintu.
" Assalamualaikum istriku." Sapa William saat kepalanya baru saja muncul di dalam kamar. Dilihatnya istrinya sedang asyik menonton siaran televisi, rambutnya yang panjang terurai indah tanpa dibalut jilbab.
" Wa'alaikum salam." Kata Dhea. Wajahnya begitu sumringah mendapati suaminya telah tiba. Dia segera beranjak dari tempat tidurnya, sambil berjalan menghampiri suaminya lalu membentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
William menyambut pelukan istrinya. Didekapnya tubuh wanita yang amat dicintainya itu.
" Hemmmm kenapa lama sekali sayang?" Kata Dhea sambil menyandarkan tubuhnya di dada bidang suaminya.
William mencium rambut istrinya yang posisi kepalanya berada di bawah wajahnya, namun harus menunduk sedikit lagi, karena tinggi badannya yang jauh menjulang dibanding Dhea.
" Sayang kau bisa berjinjit sedikit tidak?"
" Kenapa rupanya sayang?" Tanya Dhea sambil menengadahkan kepalanya.
" Aku ingin mencium rambutmu tapi sulit karena kepalamu jauh dari jangkauanku." Kata William sambil tersenyum.
" Ahhhh kau ini. Jangan membandingkan tubuhku denganmu, struktur tinggi badan masyarakat kita kan berbeda."
" Hahaha...iya sayang. Sensitif sekali sih? kau tidak sedang datang bulan kan?"
" Hahhhh...datang bulan bagaimana? lalu yang di dalam sini apa? kau pikir ini hanya berisi angin." Kata Dhea sambil menunjuk perutnya.
" Hahaha...kau baru kutinggal beberapa jam saja sudah membuatku gemas. Kata William sambil mencubit pipi istrinya.
" Mana pesananku tadi?" tanya Dhea masih belum melepas pelukannya.
" Tuhhh ada di meja makan. Kau ingin memakannya sekarang?"
" Iya."
" Ya sudah ayo keluar, aku temani kau makan." Kata William. Lalu mereka berdua segera keluar dari kamarnya dan menuju meja makan, sesaat kemudian sudah terlihat asyik menikmati ayam g