Something different

Something different
Dhea datang memenuhi janji



Keesokan malam Dhea segera mengemas semua barang-barangnya, setelah seharian berada di hotel itu, Dhea malah tidak ingat menghubungi Bram sama sekali, yang dia ingat adalah moment pertemuannya dengan William nanti. Dan malam ini tepat satu tahun terhitung sejak William mengucapkan kata pisah pada Dhea.


Dhea memandangi wajahnya di cermin.


" Hampir satu tahun aku berada di rumah, seharusnya berat badanku sudah naik dan bukan malah justru turun begini, pasti William nanti akan memprotesnya jika tau badanku jadi seperti ini." Gerutu Dhea dalam hati.


Kesibukkannya di kampus memang sangat menyita tenaganya, sehingga dia sering melewatkan jadwal makan, hingga tidak pernah menyadari tiba-tiba ukuran bajunya berkurang satu nomor.


Malam ini Dhea memakai kemeja dan celana jeans, serta dibalut jaket kulit sepanjang lutut, terlihat modis tapi tetap masih sopan. Setelah memakai sepatu boatnya, Dhea segera menarik kopernya keluar, karena malam inipun Dhea harus kembali ke Indonesia.


" Selamat malam." Sapa seorang penjaga hotel saat Dhea mendatangi meja resepsionis.


" Selamat malam. Chek out ya nona, ini kuncinya, terimakasih." Jawab Dhea singkat.


Resepsionis itupun segera menerima kunci kamar yang diserahkan Dhea, dan mengucapkan terimakasih kembali sambil tersenyum ramah.


Dhea berjalan keluar, saat sudah ada di depan, dia memanggil sebuah taksi yang kebetulan sedang berhenti di depan hotel tempatnya menginap. Taksi itupun menghampiri Dhea, setelah Dhea menyebutkan tujuannya, pengemudi taksi itupun segera menjalankan kendaraannya.


Dhea melirik arlojinya, sudah pukul 19.45 menit.


" Apakah William sudah berada di sana? Atau justru dia belum datang?" Tanya Dhea dalam hati.


" Aahh biar saja, aku tidak ingin terlalu berharap, karena takut nanti akan menyakitkan." Kata Dhea dalam hati.


" Stop Depan Sir." Kata Dhea pada pengemudi taksi.


" Ini uangnya, terimakasih ya?"


" Sama-sama nona." Jawab pengemudi taksi. Kemudian dia segera meninggalkan Dhea pergi bersama taksinya.


Dhea berjalan sambil sesekali menengok kesana kemari mengharapkan bisa melihat sosok William yang hadir menemuinya. Namun dia belum melihatnya, hanya ada beberapa pasang muda mudi yang sedang asyik bercengkerama di taman itu. Dhea terus berjalan sembari mencari tempat duduk kosong yang masih tersisa untuknya. Entah kebetulan atau tidak, kursi yang tadinya diduduki oleh sepasang kekasih tiba-tiba saja mereka tinggalkan, dan Dhea masih ingat sekali dulu dia dan William duduk di sana saat William memutuskan untuk berpisah dengan Dhea.


" Ya Alloh apakah ini semua sudah Kau atur? Aku saat ini berada di kursi yang sama seperti satu tahun yang lalu. Apakah itu artinya Kau akan menyatukan kami lagi?" Tanya Dhea dalam hati.


Dhea menyentuh dudukan kursi yang ada di sampingnya, seolah sedang membayangkan saat ini William berada di sampingnya dan sedang menemaninya. Tiba-tiba lewatlah seorang pedagang bunga di depannya.


" Hai boy kemarilah!!" Panggil Dhea.


" Tolong beri aku setangkai mawar merah itu ya?"


" Ya nona." Jawab anak laki-laki itu.


Setelah memberikan sejumlah uang, setangkai mawar merah berpindah ke tangan Dhea.


" Terimakasih." Kata Dhea.


" Sama-sama nona." Jawab anak itu lalu pergi meninggalkan Dhea.


Dhea mencium bunga mawar itu, harumnya sebenarnya tidak seberapa, tapi harapannya seperti layaknya warna bunga mawar yang merah merekah itu. Begitu menggebu-gebu dan ingin segera bertemu laki-laki yang sudah lama tidak dijumpainya.


Dhea melirik arlojinya, sudah pukul 20.30, ternyata sudah setengah jam dia berada di situ menunggu kedatangan William, namun sampai sekarang laki-laki itu sama sekali belum menampakkan batang hidungnya.


" Kemana dia? Kenapa belum datang juga? Aku harus menunggunya setengah jam lagi, mungkin saja dia terkena macet di jalan." Kata Dhea dalam hati mencoba menghibur dirinya sendiri, sambil memandangi kendaraan yang berseliweran di jalan yang tidak jauh dari tempat duduknya sekarang.


" William...apakah kau memang tidak akan datang untuk menemuiku? Apakah kau sudah menemukan pengganti diriku yang kau cintai dan juga mencintaimu? Aku akan ikhlas melepasmu asal kau bisa memiliki pendamping yang bisa tulus menyayangimu. Bukannya aku merasa lebih baik dari wanita-wanita itu, tapi aku akan sangat sedih jika nantinya mereka hanya ingin memanfaatkan kekayaanmu saja, sedangkan kau sebenarnya adalah laki-laki yang baik." Kata Dhea dalam hati.


Dhea terus menundukkan wajahnya, waktu yang ditentukan telah lewat, namun Dhea masih saja berharap untuk menunggu William sebentar lagi. Tiba-tiba gerimis turun satu persatu. Dhea menengadahkan kepalanya ke atas.


" Lihatlah Will, sepertinya langitpun ikut menangis melihatku menunggumu di sini. Mungkin benar aku tidak usah mengharapkanmu lagi. Aku telah menepati janjiku, namun kau ternyata tidak datang menemuiku. Kenapa Will? Kau sudah lupa denganku? Padahal aku ingin walaupun kau hadir hanya untuk sekedar mengucapkan salam perpisahan saja, aku sudah merasa lega." Gumam Dhea pada diri sendiri.


Dhea membiarka gerimis membasahi tubuhnya, padahal orang di sekitarnya sudah berlarian untuk mencari tempat berteduh. Tiba-tiba air mata Dhea menetes.


" Ternyata penantianku selama satu tahun ini sia-sia. Aku sadar sekarang bahwa cinta kita tidak bisa bersatu. Mungkin ini jalan terbaik yang diberikan Tuhan untuk kita Will. Semoga keputusanmu itu tidak membuatmu menyesal. Selamat tinggal William. Selamat tinggal semua kenangan yang pernah kita lewati bersama. Aku akan belajar untuk melupakanmu dan mencari penggantimu. Mungkin kau bukan orang yang tepat yang dipilihkan Tuhan untukku. Selamat tinggal masa laluku...." Kata Dhea sambil meletakkan bunga mawar yang tadi dibelinya di samping tempat duduknya.


Kemudian Dhea segera pergi meninggalkan taman tersebut sambil menyeret kopernya dengan langkah yang gontai. Berusaha tegar walaupun ia tidak bisa menghentikkan buliran air mata yang terus membasahi pipinya, meninggalkan semua kisah cintanya bersama William di kota itu, dan menghentikan sebuah taksi yang membawanya ke bandara, kembali ke negara asalnya dimana masih ada seorang pria yang begitu mengharapkan kedatangannya seorang diri.


Seorang lelaki memandangi Dhea dari kejauhan. Setelah Dhea naik ke dalam taksi, pria itu segera mendekati kursi yang tadi diduduki Dhea dan mengambil mawar merah itu kemudian menciumnya.


" Sayang maafkan aku, bukan maksudku membuatmu kecewa apalagi membiarkan kau menangis. Aku tau kau pasti sedih sekali. Aku juga sangat merindukanmu, tapi aku harus melakukannya agar selanjutnya kau bisa bahagia." Gumam pria itu, lalu segera pergi dan naik ke dalam mobilnya yang dikemudikan oleh teman prianya.


" Ayo kita pergi!"


" Kau sudah siap ke tempat wanita yang mempesona itu?" Tanya laki-laki yang memegang kemudi.


" Kau pikir harus kemana lagi?"


" Hahaha siapa tau kau sudah berubah pikiran."


" Sialan, memangnya kamu gampang sekali berubah." Gumam pria yang duduk di sampingnya.