
William segera masuk ke kamarnya lagi, menemui Dhea yang masih terbaring di sana.
" Sayang hari ini kita ke rumah sakit ya, untuk memeriksakan kondisi tubuhmu? kau masih mual tidak?"
" Masih sayang, sedikit. Tapi tidak separah tadi."
" Ya sudah kau mau mandi dulu tidak? kau kuat kan berjalan?"
" Ya sayang, aku masih kuat."
Dhea segera beranjak bangun. Rasa pusingnya memang masih ada, tapi masih bisa diatasinya. Pandangannya yang sedikit kabur, masih cukup jelas untuk sekedar melihat saja. William menunggui istrinya mandi sambil menatap matahari yang sudah mulai meninggi di ufuk timur melalui jendela kaca kamarnya. Hatinya begitu risau dan berdebar. Terlebih mengingat resiko yang mengancam keselamatan anak dan istrinya. Tidak ada kesedihan yang lebih besar, selain kesedihan ketika melihat orang yang kita sayangi itu menderita. Perasaan khawatir mulai menderanya. Khawatir akan kehilangan calon buah hatinya, khawatir akan kehilangan istrinya, seribu kekhawatiran mulai melanda hatinya.
Dia terus menatap dedaunan yang bergoyang-goyang diterpa angin pagi. Seharusnya cuaca cerah di luar bisa menambah semangatnya untuk memulai aktifitas hari ini, namun semuanya seolah musnah saat mendengar keterangan Dokter Sherli kepadanya.
Terdengar pintu toilet terbuka. Dhea keluar dengan kondisi handuk membungkus rambutnya yang basah. William segera menghampiri istrinya, dan menggandengnya kemudian membantunya duduk di depan cermin besar yang ada di dalam kamar itu.
" Sayang, kau kan sedang tidak enak badan, kenapa kau basahi rambutmu seperti itu?"
" Tidak apa-apa sayang, mungkin dengan membasahi rambut begini rasa pusingku bisa terkurangi."
" Aku bantu mengeringkan rambutmu ya." Kata William sambil mencolokkan hairdrayer ke stop kontak.
" Terimakasih ya sayang." Jawab Dhea. Dan William hanya tersenyum menjawabnya.
Dibukanya gulungan handuk yang membungkus rambut panjang istrinya. Diurainya rambut tersebut, dan disisir menggunakan jemarinya, sembari mengarahkan hairdrayer tersebut. Dengan telaten William mengeringkan rambut Dhea hingga benar-benar tidak tersisa air di setiap helai rambutnya.
" Sudah selesai sayang. Rambutmu sudah kering."
" Terimakasih lagi ya sayang." Dhea menyisir rambut itu untuk merapihkannya kembali. William hanya menatapnya sambil berdiri di belakang tubuh Dhea yang sedang duduk. Hatinya begitu teriris, teringat kembali oleh kata-kata Dokter Sherli. Jika saja benar yang dikatakan oleh dokter Sherli, dia yakin perasaan istrinya itu akan benar-benar hancur, apalagi jika dia harus kehilangan janin yang telah dia jaga selama hampir 5 bulan di dalam perutnya itu.
" Sayang kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Dhea.
" Tidak sayang. Aku hanya merasa begitu sangat menyayangimu dan takut kehilanganmu."
" Heiiiii....kenapa tiba-tiba kau berkata seperti itu? aku ini hanya sedikit pusing dan sedikit mual, mungkin pengaruh hormon karena kondisiku sedang hamil, dan bukan menderita penyakit ganas, jadi kau jangan khawatir." Kata Dhea sambil membalikkan badannya menghadap William.
" Ya aku tau itu. Tapi aku tau seorang wanita pasti berat menjalani masa kehamilannya seperti kau sekarang ini." Kata William berdalih, padahal hatinya sangatlah gusar.
" Tidak sayang, aku sangat menikmatinya. Apapun kesulitan di masa-masa kehamilanku ini akan aku terima dengan ikhlas. Dan aku ingin memberikan keturunan padamu seorang bayi yang lucu, yang akan melengkapi kebahagian kita berdua."
Mendengar pernyataan itu, hati William semakin pedih. Dia takut tebakan Dokter Sherli tadi benar.
" Kau memang imamku sayang, kenapa kau harus menegaskannya lagi?" tanya Dhea bingung.
" Ya benar. Aku hanya ingin kau memaknai imam itu lebih dalam. Dan itu berarti apapun perkataanku asalkan tidak menjerumuskanmu ke dalam dosa, kau harus mematuhinya."
Dhea sebenenarnya bingung dengan kalimat yang diucapkan suaminya. Kenapa tiba-tiba dia berkata seperti itu? bukankah mereka berdua sedang tidak ada masalah? tapi Dhea malas untuk memikirkannya lebih lanjut, merasakan pusing dan mualnya saja dia sudah sangat kewalahan.
" Ya sayang, aku akan mematuhimu." Jawab Dhea singkat tanpa berlama-lama lagi.
" Janji untuk menepati kata-katamu itu?"
" Iya sayang, janji. Kenapa sih? selama ini juga kan aku selalu patuh padamu."
" Iya benar, tapi aku ingin membuat kesepakatan baru denganmu. Dan kau tadi telah menyetujuinya."
" Iyaaaa...aku setuju yang penting, kau tidak mengajakku untuk menyekutukanNya." Kata Dhea sambil tersenyum.
" Astagfirullah hal adzim....aku ini memang baru memeluk agama islam, tapi aku sangat tau ancaman untuk orang yang menyekutukanNya. Dan Allah tidak akan mungkin mengampuni dosa besar itu. Aku juga kan ingin bersatu denganmu di syurga nanti sayang."
" Amiin....semoga diijabah Allah ya. Ya sudah mandi sana, tubuhmu bau sekali." Sambil menutup hidungnya.
" Peluk dulu dong." Kata William sambil membentangkan kedua tangannya. Dhea segera menyambutnya. William memeluk istrinya begitu lama, lebih lama dari biasanya. Serasa orang yang hendak bepergian jauh saja.
" Sayang.....kau ingin membuatku mabuk karena bau keringatmu ya." Kata Dhea sambil mendongakkan kepalanya.
" Hahaha....kau ini....nikmati saja kenapa?"
" Nikmati bagaimana? kau pikir bau tubuhmu ini seharum bunga kasturi?"
" Anggap saja begitu sayang."
" Ihhhhh...sudah sana mandi." Kata Dhea sambil mendorong tubuh suaminya.
" Aku sih masih bisa sedikit tahan, tapi kau tidak kasihan dengan anak kita, harusnya yang dia dapatkan itu hawa segar, bukannya hawa berpolusi seperti ini." Sambil membelai perutnya.
William hanya diam saja, sambil memandangi perut istrinya. Lalu dia menundukkan wajahnya.
" Nak....berjanjilah pada ayah, kau akan menjaga ibumu dengan baik. Jadilah anak yang baik ya." Bisik William ke perut Dhea.
" Ya sudah aku mandi dulu ya." Sambil membelai rambut istrinya, lalu membalikkan tubuh dan berjalan ke dalam toilet. Dhea kembali duduk mematut wajahnya di cermin, lalu memolesnya tipis dengan peralatan make upnya.