Something different

Something different
Pulang dari rumah sakit



" Oke selesaiii....!!!" kata Dokter Sherli.


" Hehhhh...akhirnya." Gumam Dhea lega.


" Hahaha...kenapa Dhe, kau bosan ya?"


" Ya, aku paling malas melakukan hal-hal bertele-tele seperti ini." Jawab Dhea sambil membenahi pakaian dan juga jilbabnya.


" Hahaha....tidak semua hal bisa dilakukan secara praktis Dhe, terkadang butuh sedikit bertele-tele dan ribet agar lebih rinci."


" Ya....memang seperti itu dok. Kita tidak selalu bisa dengan mudah mendapatkan apa yang kita inginkan. Benar begitu kan dokter?"


" Hanya saja pengecualian untuk kasusku ini, bertele-tele yang sebenarnya tidak perlu." Kata Dhea yang masih merasa bahwa dirinya baik-baik saja.


" Hahaha....tenang saja Dhe, yang penting ini untuk kebaikanmu."


" Sayang jangan begitu dong. Kau lelah ya? nanti sampai rumah aku akan memijitmu ya?"


Dhea hanya tersenyum dengan cara suaminya merayunya. Dhea yang merasa dirinya tidak apa-apa, memang sedikit tidak sreg membuang-buang biaya besar hanya untuk melakukan hal yang menurutnya berlebihan itu. Naluri pola hidup sederhana yang sejak dahulu diterapkan oleh orang tuanya, sedikit tergelitik oleh hal yang baru saja dilakukannya itu.


Mereka bertiga lalu berja0lan menuju ruangan Dokter Sherli kembali.


" Oke Dhe. Semua sampel yang aku butuhkan sudah lengkap. Kita tinggal tunggu hasil uji laboratorium saja."


" Lalu apakah kami harus menunggu lagi dok?" Ada nada sedikit khawatir dalam kalimat William. Karena dia sangat tau Dhea sudah mulai badmood.


" Hahaha...tidak tuan. Besok aku yang akan ke rumah anda untuk membacakannya untuk kalian."


" Hehhhh...syukurlah. Aku pikir kami harus menunggu lagi." Gumam William mimik wajahnya terlihat lega sekali.


" Hahaha...Dhe kau sangat beruntung punya suami yang begitu peka padamu. Aku tau, dia pasti mengkhawatirkanmu kan jika harus menunggu lama?"


" Ya aku sangat beruntung sekali dok. Bahkan aku tidak mau ada luka sedikit saja di tubuhku ini. Karena jika dia tau, aku pasti akan dikirimnya ke rumah sakit, dan disuntik tetanus lalu bila perlu dirawat inap."


" Hahaha....orang kaya mah sah-sah saja Dhe. Bahkan mungkin dia juga tidak akan merasa keberatan untuk membangunkan klinik pengobatan pribadi untukmu sendiri."


" Sssttt...jangan memberi ide gila dok, nanti dia benar-benar melakukannya." Kata Dhea lagi.


" Hemmmm...kalian itu jika ingin bergunjing tentangku tunggu aku pergi dulu." Gerutu William.


" Tidak tuan. Justru aku sangat salut pada anda. Anda benar-benar sosok suami ideal untuk Dhea."


" Percuma jika aku menyia-nyiakannya dokter. Aku bahkan meninggalkan harta bendaku di sana demi dia."


" Jadi kau menyesal nih???" Tanya Dhea.


" Tidak sayang. Justru aku sangat menyesal karena baru sekarang menikahimu."


" Ahhhh kalian membuatku iri saja." Jawab Dokter Sherli.


" Ya sudah dok, kami permisi dulu ya. Oh ya apakah istriku benar-benar harus bed rest di rumah?"


" Ya sesuai pesanku. Tidurlah dengan posisi miring ke kiri ya?"


" Tidur miring ke kiri itu akan meningkatkan aliran darah dan nutrisi ke plasenta dan janin Dhe. Boleh kok sekali-sekali ke kanan, namun perbanyaklah menghadap ke kiri ya."


" Baik dok. Tapi kalau untuk sekedar jalan-jalan sebentar boleh kan dok?" Harap Dhea.


" Memangnya kau ingin kemana sayang?" William penasaran dengan pernyataan istrinya tadi.


" Sepulangnya dari sini aku ingin makan di luar sayang, makan ayam goreng kesukaanku."


" Hehhhh...ayam goreng lagi. Lama-lama kau seperti Upin-Ipin sayang."


" Hahaha....silahkan Dhe, mau makan ayam goreng, ayam bakar, yang penting jangan ayam hidup. Dan intinya jangan terlalu lelah ya."


" Ya dokter, terimakasih. Kalau begitu kami permisi dulu ya."


" Ya Dhe hati-hati di jalan ya." Kata Dokter Sherli sambil mengantarkan mereka keluar ruangannya.


Sepeninggal mereka berdua, Dokter Sherli mengamati hasil USG Dhea dan juga membandingkan dengan beberapa pemeriksaannya. Dia sedikit mengernyitkan dahinya. Tanda-tanda kekhawatiran dokter Dhea belum terlalu kelihatan, namun semua ciri-ciri yang dialami Dhea sudah mengarah ke sana. Hanya tinggal satu tahap lagi, mengetahui hasil uji lab itu saja.


" Ahhhh...semoga diagnosaku salah." Kata Dokter Sherli pada diri sendiri. Kemudian menyimpan hasil pemeriksaan Dhea ke dalam map, dan meletakkannya di laci meja yang ada dalam ruangan itu.


Dhea dan William berjalan menyusuri lorong panjang rumah sakit. Di kiri kanannya yang dia lihat hanyalah wajah-wajah kuyu keluarga pasien, yang mungkin telah lelah menanti sanak keluarganya yang sedang menjalani pengobatan dengan macam-macam penyakit yang mereka derita. Semewah-mewahnya rumah sakit dan ruangan yang mereka sewa, satu hari saja berada di sana serasa satu minggu lamanya. Ternyata kemewahan di dunia ini tidak ada artinya dibandingkan dengan memiliki tubuh yang sehat. Makanan seenak apapun tidak akan bisa tertelan dengan sempurna jika salah satu anggota tubuh kita bermasalah.


Dhea memang paling ngeri jika melihat orang-orang terbaring lemah dengan jarum infus yang tertempel di tangannya. Ibaratnya nyawa itu seperti berada di ujung tanduk, salah sedikit saja bisa end. Dan yang harus kita ingat kematian dan kehidupan itu jaraknya sangat dekat, bahkan dekat sekali. Lebih dekat dari sebuah tarikan nafas. Jika hari ini kita masih bisa tersenyum, belum tentu besok kita masih bisa melakukannya. Jangankan besok, satu jam atau bahkan 5 menit kemudian kita tidak bisa menjaminnya.


Akhirnya Dhea hanya berjalan sambil menundukkan kepalanya. Tadi pagi saat mereka kemari, lorong ini masih sedikit lengang, belum banyak suster yang berseliweran mendorong pasien dengan kondisi lemah, namun sekarang matanya bahkan tidak bisa mengalihkan pandangan kecuali menunduk. Bathinnya terus beristigfar menyebut asma Allah. William yang menggandeng tangan belahan hatinya sedikit mempercepat langkahnya, karena dia merasa bahwa Dhea seperti sedang sedikit menariknya, agar segera keluar dari tempat itu. William sangat tau bahwa istrinya sangat tidak nyaman berada di situ.


Akhirnya mereka berdua telah berada di area parkir. Dhea segera naik ke dalam kendaraannya. William tanpa lama-lama lagi langsung menghidupkan mesin mobil, juga pendingin ruangan. Hawa sejuk segera menyebar menyegarkan kulit mereka berdua.


" Sayang bagaimana? kau sudah nyaman sekarang?"


Dhea langsung menengok menatap wajah suaminya yang berkonsentrasi dengan setir kemudinya.


" Kau tau aku tidak nyaman tadi?"


" Hahaha.....aku kan suamimu, jadi aku tau apa yang sedang kau rasakan. Kau takut ya tadi saat kita berada di lorong itu?"


" Aku tidak takut sayang, hanya sedikit ngeri melihat pemandangan itu. Aku bisa merasakan bagaimana menderitanya mereka di sana. Naudzubilahhimindzalik..semoga kita semua dijauhkan dari segala penyakit ya sayang."


" Amiin."


" Lalu jadi makan ayam goreng tidak?" Tanya William lagi.


" Issshhh...jadi dong sayang...kau mau anakmu nanti lahir sering keluar air liur karena tidak kau turuti?"


" Hahaha...itu kan kemauanmu, bukan kemauan anakku."


" Ihhhhhh.....marah nih." Rengek Dhea manja.


" Hahaha...ya..ya..ya...kemauan anak kita sayang." Kata William sambil terbahak melihat sikap istrinya yang sedikit manja itu.