
Hari ini Dhea berangkat kembali ke kampusnya. Dan lagi-lagi William sudah menunggunya di tempat biasa. Dhea tak menghiraukan pria itu, dan terus berjalan melewatinya.
" Semakin hari kau semakin cantik saja Dhe?"
Dhea diam saja dan tidak menjawab teguran dari William.
" Dhea, apakah seperti itu sikap orang berpendidikan seperti dirimu? Tidak menghiraukan teguran orang di sampingmu?" Kata William berusaha memancing emosinya, Dhea terus saja berjalan.
" Hmmm sepertinya kau ingin aku menggendong tubuhmu secara paksa, dan naik ke dalam mobilku ini sayangggg??" Mendengar kalimat William, Dhea langsung menghentikan langkah kakinya, dan memandang William dengan kedua matanya yang mulai memerah karena tersulut emosi.
" Kau ini sepertinya tidak pernah menyerah ya, dasar pria keras kepala!"
" Hahaha...nah begitu, walaupun nada bicaramu itu sedang marah, tapi jauh lebih baik daripada diam seperti tadi."
" Bagaimana? Kau pasti bisa tidur dengan nyenyak semalam sambil mendekap boneka pemberianku?"
" Siapa bilang? Aku bahkan tidak membuka pembungkusnya, sekarang aku simpan di sudut kamarku, jika kau mau aku akan mengembalikannya padamu ", jawab Dhea ketus.
" Kenapa? Bukankah aku itu membelinya khusus untukmu? Kau takut aku meminta uang pengganti darimu?"
" Seandainya hanya itu keinginanmu akan aku beri sekarang juga", jawab Dhea lagi.
" Hahahaha bukan begitu cantik, itu hanya bernilai kecil bagiku."
" Ya aku tau itu hanya bernilai kecil untukmu, karena kamu bahkan bisa membeli semua yang kamu mau dengan uangmu ", jawab Dhea ketus.
" Lalu kenapa kau marah seperti ini?".
" Aku hanya tidak mau berurusan denganmu!"
" Kenapa?"
" Karena sepertinya kau bukan pria baik-baik ", jawab Dhea tanpa basa basi.
" Hahaha aku suka wanita jujur."
" Tapi aku tidak suka denganmu, pergilah kau sudah buang buang waktuku!" Jawab Dhea.
" Aku tidak pernah menemui wanita sepertimu sebelumnya."
" Ya aku tau, karena kau dikelilingi banyak wanita sebelumnya, dan itu amat mudah buatmu."
" Ya amat mudah, tapi tidak denganmu."
" Jangan bilang kau akan terus menggangguku seperti ini."
" Hahaha aku tidak bisa berjanji ", jawabnya.
" Laki laki yang menyebalkan ", gerutu Dhea.
Dhea segera naik ke atas bus yang baru saja tiba di hadapannya dan pergi meninggalkan William
" Hahaha Dhea Dhea, sampai kapan kamu akan bertahan seperti itu ", kata William sambil menjalankan mobilnya.
##################
"Pagi dhea!"
"Pagi Bram!"
" Bagaimana? Apa William pagi ini kembali menemuimu?"
" Iya Bram, pria itu sepertinya tidak pernah menyerah untuk mendekatiku."
" Tapi dia tidak menyentuhmu kan?"
" Tidak!! Kau gila, aku juga tak sudi disentuhnya."
" Hahaha aku tau siapa kamu Dhe, aku hanya bercanda ", kata Bram lagi.
##########
Sepulangnya dari kampus, Dhea langsung berniat pergi ke salah satu toko sepatu. Kemarin dia baru saja gajian, dan hari ini dia ingin sekali membeli sepatu baru.
" Hai Dhe, kau mau kemana? Bukankah jalan menuju rumahmu kesana?" Tanya Bram saat bertemu Dhea di depan jalan keluar kampus.
" Aku ingin pergi ke toko sepatu Bram."
" Aku antar ya, kebetulan aku sendiri."
" Tidak Bram, aku bisa pergi sendiri."
" Ayolah Dhe, Alice tidak akan tau."
" Tidak Bram, aku tidak mau mengambil resiko ", jawab Dhea sambil tersenyum.
" Ya sudah jika kau tidak mau, kalau begitu aku duluan ya?"
" Iya Bram silahkan, hati-hati di jalan."
" Ok Dhe."
Bram segera pergi dari hadapan Dhea. Dhea kemudian menghentikan bus yang segera membawanya ke sebuah toko sepatu.
Dhea melihat-lihat berbagai bentuk sepatu kets yang modelnya bermacam-macam. Dhea mengambil satu, sebuah sepatu berwarna biru kombinasi abu-abu, sangat menarik dengan perpaduan warna yang cocok. Dhea membalikan sepatu itu, untuk melihat harga yang tertera di bawahnya.
" Gila ini mah 2 kali gajiku, pantesan bagus, harganya saja sangat mahal."
Dhea lalu meletakkan sepatu itu kembali dan terus berjalan sambil memilih-milih, tentunya disesuaikan dengan bugdet uang yang dimilikinya saat ini. Lalu dhea melihat sebuah papan bertuliskan diskon.
" Ahhh aku coba saja yang disana, siapa tau ada yang cocok ", bathin Dhea dalam hati.
Dhea terus memilih-milih, akhirnya dia menemukan satu yang cocok, harganya tidak terlalu mahal, namun tiba-tiba saja seorang pria paruh baya mendekatinya.
" Hallo nona, berapakah ukuran sepatu anda? Aku ingin membelikan teman wanitaku, tapi tidak tau ukurannya, orangnya setinggi anda mungkin saja sama ukurannya dengan kaki anda."
" Ohhh iya tuan, ukuranku 38."
" Terimakasih nona."
" Iya tuan sama-sama, semoga cocok ya ", kata Dhea sambil tersenyum.
Dhea kembali memilih-milih lagi sebelum benar-benar memutuskan membayar pilihannya tadi. Ternyata tidak ada satupun yang menarik, kalaupun ada tidak cocok dengan jumlah uang di kantongnya. Akhirnya Dhea segera memutuskan pilihan yang pertama tadi yang akan dibelinya.
" Terimakasih ", kata Dhea saat kasir memberikan kantong yang berisi sepatunya.
" Sama-sama nona ". Jawab sang kasir.
Dhea segera melangkah keluar dari toko tersebut, baru saja dia hendak membuka pintu di depannya, tiba-tiba ada seseorang memanggilnya.
" Nona tunggu sebentar!"
Dhea segera menengok ke arah suara tersebut, dilihatnya salah seorang karyawan mendekatinya sambil membawa sebuah bungkusan.
" Anda memanggil saya?" Tanya Dhea setelah karyawan tersebut mendekat.
" Ya nona saya memanggil anda."
" Ooh...ada apa ya?"
" Ini nona, ada seseorang yang menitipkan bungkusan ini padaku."
" Bungkusan? Bungkusan apa itu?"
" Aku juga tidak tau nona, pria itu hanya mengatakan untuk memberikannya padamu."
Dhea mengernyitkan dahinya.
" Apakah William lagi? Tapi aku tidak melihatnya di sekitarku ", kata Dhea dalam hati.
" Maaf nona, tolong diterima dulu."
" Oh iya maaf ", kata Dhea sambil mengambil bungkusan itu.
Dhea terus saja bertanya-tanya dalam hati, siapakah yang memberikan bungkusan ini.
Saat ini Dhea berada di atas kendaraan yang membawanya ke tempat tinggalnya. Dhea rasanya sudah tidak sabar ingin segera tiba dan mengetahui apa sebenarnya isi bungkusan tersebut.
Setelah berada di dalam kamarnya, Dhea segera membuka bungkusan tersebut, ternyata isi kotak itu adalah sepatu mahal berwarna biru yang dipegangnya tadi.
" Hmmm pasti dia pelakunya, mana mungkin ada orang mau membelikan sepatu semahal ini padaku, jika tidak ada niat lain di belakangnya."
Dhea baru ingat dengan sosok pria yang menanyai ukuran sepatunya tadi.
" Ya ya ya, aku yakin pria itu pasti orang suruhan William, dia pasti sudah mengikutiku semenjak di kampus tadi."
Dhea segera mengambil telfon genggamnya dan menelfon William.
" Hallo sayang tumben menelfon, apakah kau rindu padaku?" Tanya William saat pertamakali mengangkat telfon dari Dhea.
" Jangan banyak bicara, kau kan yang mengirim orangmu untuk mengikutiku dan membelikan sepatu ini untukku?"
" Heiii...kau bicara apa sayang, aku tidak tau maksudmu."
" Kau pikir aku bodoh, mana ada orang yang mau membelikan sepatu mahal ini padaku selain kamu?"
" Hahaha kamu itu menuduhku tanpa bukti Dhea."
" Ya aku memang tidak bisa membuktikannya, tapi aku cukup tau bahwa kamu yang melakukan ini semua."
" Kamu itu kenapa selalu mencurigaiku? Menuduhku yang tidak-tidak seperti itu."
" Hhhh karena kamu pantas kucurigai."
" Jika aku memang ingin membelikanmu sesuatu, kenapa tidak langsung mengirimkannya ke kamarmu seperti kemarin, dan bukan malah membuntutimu."
Dhea sedikit ragu, benarkah yang dikatakan William barusan, apakah laki-laki tadi bukan suruhan orang William.
" Lalu siapakah pria yang memberinya sepatu ini tadi? Apakah dia hanya seorang pengunjung yang tiba tiba tertarik padanya dan membelikan dia sepatu ini?"
Dhea merasa bingung. Dia lalu menutup telfonnya tanpa mengatakan satu kalimatpun pada William.
" Hahaha Dhea Dhea... kasihan, kau pasti sedang bertanya-tanya saat ini, siapa pengirim sepatu itu, apakah aku harus menemuimu dan memberikan nota pembelian ini padamu ", kata William sambil terbahak-bahak memegang sebuah nota di tangannya.