Something different

Something different
Flashback William mualaf 11



Setelah sholat isya', William, Feri beserta ayah Dhea berangkat ke masjid yang tidak jauh dari rumah orang tua Dhea, merupakan tempat yang telah ditentukan untuk William mengucapkan sahadat.


" Semoga semuanya lancar ya yah."


" Iya bu, doakan saja tidak ada kendala apapun."


" Ayo nak kita pergi sekarang!" Ajak ayah Dhea pada Feri dan William.


" Kami pergi dulu ya bu." Pamit Feri.


" Iya nak silahkan!" jawab ibu Dhea. Kemudian merekapun segera pergi.


" Naik mobil atau jalan kaki pak?" tanya Feri.


" Jalan kaki saja nak, tidak terlalu jauh kok jaraknya."


Setelah berjalan sebentar, kemudian mereka bertiga telah tiba di tempat tujuan. Ternyata di masjid sudah terdapat banyak orang. Selain jamaah, ada juga masyarakat umum yang turut hadir di tempat tersebut. Mereka banyak yang ingin menyaksikan William untuk mengucapkan sahadat. Namun banyak juga yang sekedar ingin tau wajah bule yang akan menjadi calon menantu tetangga mereka. Saat mereka berjalan masuk ke masjid tersebut, pandangan mata pengunjung masjid tidak ingin melewatkan setiap inci wajah William di depan mereka. Suara kasak kusuk mulai terdengar. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, paling juga tidak jauh dengan rasan-rasan, dalam bahasa Jawa yang artinya menggunjing. Mungkin bagi kalangan ibu-ibu yang berusia 50 tahun ke atas mengatakan bahwa, wajah William mirip idola cowok saat mereka sedang abegeh seperti Al Pacino atau Robert De Niro, sedang kan untuk para remaja mengatakan bahwa wajah William mirip Tom Cruise atau Le Min Hoo, nah yang paling menyedihkan adalah anak-anak kecil, mereka mengatakan wajah William sesuai dengan imajinasi dan kegemaran mereka akan film kartun, yaitu Sinchan, Doraemon, bahkan ada yang mengatakan mirip si botak Upin Ipin....Hahhhhh...sabar ya ayang beib William namanya juga anak-anak🤭🤭


Sebenarnya tidak harus seramai itu orang yang datang ke masjid, seandainya tidak ada yang melebih-lebihkan berita mengenai akan adanya orang yang hendak menjadi mualaf, terlebih orang itu seorang pria bule yang katanya tampan, tajir, juga calon suami orang di kampung mereka. Namun tau sendiri masyarakat kita ini, jika diberi isu sedikit saja, pasti beritanya dalam hitungan menit sudah menyebar kemana-mana, dan orang-orangpun ingin mengetahui kebenaran berita itu.


William segera duduk di bawah ditemani oleh Feri dan ayah Dhea yang berada di samping kanan kirinya. Prosesi segera berjalan, William dengan dibimbing oleh seorang ulama mengucapkan kalimat sahadat dengan mantap dan begitu yakin. Semua orang yang hadir begitu khusuk mengikuti setiap tahap acara demi acara. Dan setelah proses pengucapan kalimat sahadat itu, William mendapat sambutan hangat dari semua orang yang hadir tersebut. Sebuah pelukan diberikan oleh ayah Dhea dan sahabatnya Feri serta beberapa pria yang ikut menjadi saksi di tempat tersebut.


" Selamat bergabung bersama kami saudaraku." Kata seorang pemuda dengan bahasa Ingrisnya yang begitu fasih.


" Terimakasih." Jawab William sambil tersenyum.


Lalu kemudian mereka bertigapun segera berlalu menuju ke rumah orang tua Dhea kembali. Di rumah itulah ayah Dhea mengajukan syarat kembali untuknya menghafalkan bacaan surat juz amma, walaupun tidak semuanya harus dia hafal, namun harus ada beberapa yang benar-benar dia bisa kuasai sebagai bacaan ayat pendek disaat dia mengerjakan sholat nanti. Walaupun beban itu dirasa William sangat berat, namun dia tetap menerimanya. Dan Ferilah yang kemudian membantu William. Panduan bacaan yang didowload pada sebuah aplikasi disematkan pada handphone William, sehingga dia bisa dengan mudah mendengarkan dan mempelajarinya setiap hari.


" Hahahaha....jadi begitu ceritanya, kasihan sekali sih suamiku ini dikerjain habis-habisan sama Feri." Kata Dhea sambil terbahak, ketika William mengakhiri ceritanya.


" Iya, bahkan saat itu aku lupa bahwa aku ini seorang pengusaha yang sangat disegani di negaraku ini, tapi terlihat sangat bodoh di depan orang tuamu."


" Tidak sayang, akulah yang berterimakasih padamu. Kau mau menerima laki-laki yang dulu hidupnya amat berantakan, bahkan aku begitu malu untuk mengingatnya lagi. Kau adalah nafasku, dan semoga kita tetap bersama hingga ajal memisahkan kita. Aku mencintai kamu sayang." Kata William sambil memeluk tubuh istrinya.


Dhea membalas pelukan suaminya begitu erat. Dia bahkan tidak menyangka, William melalui proses mualafnya begitu berat. Dia dulu menyangka saat mereka putus William tidak perduli padanya, namun setelah mendengar sendiri kebenarannya, dia merasa satu-satunya wanita paling beruntung di dunia.


" Ayo kita masuk sayang, kau bilang tadi ingin mandi?"


" Iya aku lupa, tapi sepertinya aku jadi malas mandi sayang." Kata Dhea manja.


" Ihhhh kau mulai jorok ya sekarang?"


" Bukan begitu, rasanya tidak asyik jika mandi sendirian." Jawab Dhea sambil mengerling genit pada suaminya.


" Hemmmm...kau belajar darimana cara menggoda suamimu ini?"


" Aku belajar dari google chrome andalanmu itu." Jawab Dhea sambil cengar-cengir.


" Hahaha...sepertinya ilmuku mulai kau tiru ya."


" Jadi apa kau menerima tawaranku Tuan William." Masih dengan nada yang menggoda.


" Sebenarnya aku sangat keberatan sih, yaaahhh tapi mau bagaimana lagi, dengan sangat terpaksa ayo kita mulai sekarang di atas kasur terlebih dahulu." Jawab William sambil tiba-tiba menggendong tubuh Dhea, dan kemudian menutup pintu menuju balkon dengan menendang menggunakan sebelah kakinya.


" Heiii....kau bilang terpaksa tadi?"


" Ya terpaksa karena tidak bisa menolak godaanmu sayang."


Hehhhh....sepertinya acara mandi sore tertunda hingga beberapa saat, dan pegawai rumah tangga mereka harus menghangatkan makanan kembali, hingga mereka selesai dengan urusan keterpaksaannya.🤭