
Malam ini William sedang berada di rumah papanya, sebuah koper besar terlihat berada di bagasi mobilnya.
" Kau jadi pulang hari ini Will?" Tanya papanya.
" Iya pah, kasihan istriku sendirian di sana."
" Pasti kau juga tidak menelfonnya beberapa hari ini kan?"
" Papa tau?"
" Hahaha kadang dua orang yang sebenarnya saling mencintai itu memiliki gengsi yang luar biasa untuk sekedar mengungkapkan perasaannya. Seperti kau saat ini, papa tau kau pasti sangat mengkhawatirkan istrimu kan? Tapi karena egomu kau tidak mau menelfonnya."
William hanya diam saja sambil menunduk.
" Will, sesuatu yang dapat memperburuk sebuah masalah dalam rumah tangga sebaiknya dihilangkan saja, kau dan Dhea sudah menikah, itu artinya kalian itu sudah menjadi satu, tidak perlu lagi adanya rasa gengsi. Apalagi sebenarnya kalian saling membutuhkan, tidak ada untungnya sok jual mahal seperti itu."
" Tapi aku hanya ingin memberinya pelajaran pah."
" Itu bukan pelajaran namanya, tapi justru semakin memperkeruh keadaan. Dalam rumah tangga itu harus ada salah satu yang mengalah, jika tidak ayah jamin pasti tidak akan bertahan lama karena merasa paling benar sendiri-sendiri."
" Iya pah." Jawab William.
" Kau pergi jam berapa?" William melihat arlojinya.
" Pesawat baru berangkat jam 10 pah, masih ada waktu 1 jam lagi, tapi aku harus berangkat sekarang untuk mengurus administrasinya dulu."
" Hati-hatilah di jalan. Salam untuk istrimu ya. Semoga rumah tangga kalian berdua bahagia."
" Terimakasih pah doanya." Kata William sambil memeluk papanya kemudian segera pergi menuju bandara bersama supirnya.
Sementara itu Dhea terlihat sedang terbaring di atas kasurnya. Setelah pulang dari rumah orang tuanya kondisi tubuhnya semakin tidak karuan.
" Ya Alloh kenapa tubuhku lemas begini." Gerutu Dhea. Seorang asisten rumah tangga masuk ke dalam kamarnya.
" Nyonya tadi memanggil saya?"
" Iya bik, tolong pijitin badan saya ya, sepertinya saya mau sakit." Kata Dhea.
" Iya nyonya." Kata asistennya sambil naik ke atas kasur majikannya.
" Semenjak kepergian tuan, nyonya sedikit sekali makannya, mungkin itu yang menyebabkan nyonya sakit."
" Iya bik, entah kenapa sepertinya saya tidak memiliki selera makan." Kata Dhea lagi.
" Kalau nyonya ingin sesuatu bilang saja sama bibik, biar bibik buatkan."
" Iya bik terimakasih." Jawab Dhea singkat sambil memejamkan matanya. Hingga tak lama kemudian matanyapun terlelap.
##################
Pagi harinya Dhea bangun seperti biasanya, namun setelah sholat tubuh dia tidak langsung turun ke bawah tapi hanya tidur-tiduran saja di kasur. Semalam dia sudah menelfon atasannya meminta ijin tidak dapat masuk kerja. Saat sarapanpun asistennya yang mengantarkan ke kamar, itupun tidak dihabiskannya. Sebenarnya dia sangat rindu dengan William, biasanya saat tidak enak badan begini, suaminya akan dengan sangat telaten merawatnya, membelikan makanan kesukaannya, memijitnya, bahkan akan menemaninya seharian di dalam kamar mereka.
" Sayang....aku rindu kamu, kenapa kau semarah ini padaku sehingga tidak mau menelfonku sama sekali?" Kata Dhea. Sebenarnya dia sudah tidak tahan dan ingin menelfon suaminya, namun diurungkannya karena takut laki-laki itu besar kepala.
Akhirnya dia kembali tidur dan menarik selimut tebalnya menutupi seluruh badannya, sembari menunggu dokter langganannya datang. Namun saat baru saja memejamkan mata, sayup-sayup dia mendengar langkah kaki mendekatinya. Akhirnya dia langsung membuka matanya.
" Maaf nyonya ini Dokter Sherli sudah datang." Ternyata yang datang adalah asisten rumah tangganya bersama seorang dokter yang hendak memeriksanya.
" Oh iya bik terimakasih." Kata Dhea sambil bangun dari tidurnya. Kemudian asisten rumah tangga itu segera meninggalkan mereka berdua.
" Kenapa Dhe? Apa yang kau rasakan?" Tanya dokter pribadinya itu yang sudah seperti temannya sendiri walaupun selisih usia mereka terbilang jauh.
" Entahlah dok, beberapa hari ini tubuhku sangat lemas." Jawab Dhea.
" Hemmmm....denyut jantungmu normal, dan tekanan darahmu juga stabil, kau sudah makan?" Tanya Dokter Sherli yang langsung saja memeriksa tubuh Dhea.
" Sudah, tapi cuma sedikit." Jawab Dhea singkat.
" Kau sudah memeriksa urinmu?"
" Maksud dokter?"
" Dasar kau ini, coba kau periksa dulu nih!" Kata Dokter Sherli sambil memberikan test pack pada Dhea.
" Test pack dok???" Tanya Dhea seolah tidak percaya.
" Iya, buruan sana!!" Kata Dokter Sherly. Dhea hanya mengikuti perkataan Dokter Sherly sembari masuk ke dalam toiletnya, dan beberapa saat kemudian sudah keluar lagi.
" Dok....!!!" Kata Dhea sambil menunjukkan dua garis merah pada test pack yang sedang dipegangnya, dan Dokter Sherli tersenyum lebar.
" Kau tau sekarang jawabannya?" Kata Dokter Sherli sambil menatap penuh arti pada Dhea.
" Dok, aku masih belum percaya!" Kata Dhea sambil memegang perutnya seolah ingin mengetahui keberadaan buah cintanya bersama William yang saat ini tumbuh di dalam rahimnya.
" Memangnya kau tidak pernah ingat waktu datang bulanmu?"
" Tugasmu sekarang adalah segera memberitahu suamimu, agar dia semakin perhatian padamu, dan menjaga mood baikmu, karena itu semua akan berpengaruh pada psikologis anakmu oke." Kata Dokter Sherli.
" Terimakasih dok."
" Sama-sama Dhe, istirahatlah lagi, dan jangan lupa selalu rutin memeriksakan kandunganmu ya? Ini aku beri vitamin agar tubuhmu bertenaga. Jangan lupa diminum ya?"
" Iya dok pasti itu."
" Ya sudah aku pulang dulu ya?"
" Terimakasih ya dok." Kata Dhea sambil mengantar Dokter Sherli keluar dari kamarnya.
" Sama-sama Dhe." Jawab Dokter Sherli.
Setelah tubuh Dokter Sherli menghilang dibalik pintu kamarnya, Dhea kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
" Ya Alloh, seandainya ada William pasti dia akan senang sekali mendengar berita ini." Kata Dhea dalam hati sambil meraba perutnya. Dia sama sekali tidak dapat memejamkan mata, hatinya bimbang antara ingin menelfon suaminya dan tidak.
Namun tiba-tiba saja pintu kamarnya kembali terbuka, dan kali ini dilihatnya sosok William sedang berdiri di depannya sambil tersenyum menatap Dhea. Dhea mengerjap-ngerjapkan matanya seolah tidak percaya dengan yang dilihatnya.
" Selamat pagi sayang...." Sapa William.
Dhea diam saja dan hanya bengong karena masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
" Heiii...kenapa kau diam saja sayang??? Kau baru saja kutinggal satu minggu sudah melupakan suamimu ini?" Kata William seraya mendekati Dhea. Dhea langsung beranjak dari tidurnya.
" Kau...kau sudah pulang???"
" Kenapa? Kau tidak menginginkanku untuk datang lagi ke rumah ini? Kalau begitu aku akan kembali lagi ke sana ya?" Kata William sambil membalikkan badannya.
" Tidak sayang jangan tinggalkan aku!!" Kata Dhea.
Lalu William segera membalikkan badannya kembali.
" Tapi kenapa kau tidak menyambutku?" Kata William sambil membentangkan kedua tangannya. Dhea segera menyambutnya dan memeluk laki-laki yang sangat dirindukannya itu.
" Sayang....pleas jangan pergi lagi...aku sangat kesepian tanpamu." Kata Dhea manja.
" Maafkan aku ya karena telah meninggalkanmu begitu lama." Kata William sambil membelai rambut istrinya yang tak mengenakan jilbab.
" Tidak, akulah yang seharusnya meminta maaf padamu karena tidak patuh perintahmu sebagai suamiku. Aku sudah memutuskan untuk keluar dari tempat kerjaku agar bisa menemanimu setiap hari."
" Benarkah?" Kata William sambil melepas pelukkannya dan menatap kedua mata Dhea seolah tidak percaya dengan keputusannya itu.
" Ya, aku lebih membutuhkanmu daripada pekerjaanku."
" Kau tidak menyesal sayang?"
" Aku akan lebih menyesal jika tidak bisa menjadi istri yang seperti engkau inginkan."
" Sayang, ternyata aku tidak pernah salah memilihmu untuk menjadi pendampingku, kau adalah sumber kebahagiaanku, dan kau adalah satu-satunya harta yang paling berharga dalam hidupku. Aku janji akan selalu menjagamu dengan baik, karena kau adalah amanah terbesar yang telah Alloh berikan padaku."
" Ya sayang, bimbing aku terus dengan kelembutanmu bukan dengan kemarahanmu."
" Pasti sayang, aku sangat menyesal, seharusnya kemarin aku tidak mendiamkanmu seperti itu. Ternyata tidak baik pergi dengan membawa masalah, bukannya selesai tapi justru akan semakin menjadi-jadi. Tapi semua bisa jadi pembelajaran bahwa dalam setiap rumah tangga dibutuhkan komunikasi yang baik dan saling pengertian agar tidak ada kesalahpahaman lagi. Karena kamu dan aku sekarang sudah menjadi kita, jadi seharusnya tidak ada lagi perbedaan yang tidak bisa dicari solusinya."
" Ya sayang, mulai sekarang aku akan mengikuti semua kata-katamu asalkan kau tidak mengajakku untuk melanggar syariat agama."
" Tentu sayang...aku sangat mencintaimu." Kata William sambil memeluk Dhea.
" Aku juga sangat mencintaimu." Balas Dhea.
" Ooh iya, kenapa hari ini kau tidak bekerja dan malah tiduran di bawah selimut tebal ini?" Tanya William sambil melepas pelukkannya.
" Karena calon anakmu ini sepertinya ingin membuat ibunya jadi seorang pemalas sayang, sehingga seluruh tubuhku seperti tidak bertenaga." Kata Dhea sambil bergayut manja di dada William.
" Apa???? Benarkah sayang? Kau sedang hamil???" Tanya William terkejut."
" Ya sayang, tadi Dokter Sherli sudah memeriksaku."
" Ya Alloh terimakasih kau telah memberi anugerah terindah pada hamba!!!" Teriak William sambil menengadahkan tangannya.
" Sayang kau ingin makan apa? Aku akan membelikannya untukmu?" Kata William antusias.
" Ahhhh aku tidak ingin apa-apa sayang, aku hanya ingin kau memelukku sepanjang hari ini."
" Jika hanya itu permintaanmu pasti akan kukabulkan sayang, karena aku tidak hanya akan memelukmu, tapi aku juga ingin menengok bagaimana keadaan anak kita di sana." Kata William sambil tangannya mulai bergerilya kesana kemari.
" Hei apa maksudmu Williammmmm...??? Dia masih terlalu muda untuk kau kunjungi, nanti kau bisa menyakitinya." Teriak Dhea sambil tertawa menahan geli.
" Tidak ada seorang ayah yang ingin menyakiti anaknya sayang." Kata William sambil mengerling nakal.
" Hehhhh....kau ini bandel sekali." Kata Dhea. Sambil kemudian mulai mengikuti permainan suaminya, melepaskan kerinduannya yang begitu besar pada laki-laki yang amat dicintainya itu.