Something different

Something different
Di bandara



Malam ini adalah hari keberangkatan Dhea kembali ke Indonesia. Semua kamar telah ia rapihkan, dia hanya membawa sebagian pakaian miliknya saja. Barang-barang yang lainnya telah ia paketkan beberapa hari yang lalu. Ditatapnya sekeliling kamar itu, ada perasaan sedih yang tidak dapat dia ungkapkan. Yang jelas dia merasa sebentar lagi akan meninggalkan ruangan yang memiliki banyak kenangan antara dirinya dengan William.


Kemudian Dhea membuka dompetnya, dan mengeluarkan kartu kredit yang selama ini diberikan William padanya. Semenjak mereka putus, Dhea sudah tidak pernah lagi menggunakan kartu kredit itu sama sekali. Perlahan Dhea meletakkan kartu tersebut di atas meja bersama sebuah surat yang tadi pagi ditulisnya untuk William.


" Semoga kau langsung membacanya." Gumam Dhea.


Perlahan Dhea segera meninggalkan kamar tersebut, menemui seorang pegawai di luar dan menyerahkan kunci kepadanya.


" Ini tolong berikan pada tuanmu, katakan padanya aku meninggalkan sesuatu di kamar untuknya."


" Nona akan kemana?"


" Aku akan kembali ke negaraku."


" Apakah tuan sudah mengetahui bahwa anda akan kembali ke Indonesia?"


" Sudah, dia sudah mengetahuinya. Dan nanti dia akan menemuiku di bandara." Kata Dhea berbohong.


" Oohhh baiklah nona, semoga anda selamat sampai tujuan ya."


" Iya terimakasih." Jawab Dhea sambil berjalan sembari menarik koper besarnya.


Baru saja dia keluar dan hendak mencari taksi, ternyata Arthur sudah menantinya di depan.


" Silahkan naik nona." Kata Arthur menyambut kedatangan Dhea.


" Arthur? Kau tau aku akan pergi malam ini?"


" Tuan William yang memberitahuku nona."


" Hehhh...dia lagi." Gerutu Dhea.


" Anda tidak keberatan kan jika aku yang mengantarkan anda?"


" Tidak Arthur, tapi sebenarnya aku ingin naik taksi saja."


" Tapi pasti anda tidak bisa menolak perintah Tuan William kan nona?"


" Hehhh...kau sepertinya paham sekali dengan sifat tuanmu itu Arthur."


" Ya nona sangat mengenalnya." Jawab Arthur sambil tersenyum.


" Silahkan anda naik nona, biar saya taruh kopermu di bagasi." Kata Arthur kemudian.


" Terimakasih Arthur."


" Sama-sama nona."


Kemudian merekapun segera pergi bersama menuju bandara.


" Jadi anda tidak akan kembali lagi ke sini nona?" Tanya Arthur saat berada di dalam mobil.


" Aku tidak tau Arthur, mungkin kembali mungkin juga tidak."


" Tuan William adalah laki-laki beruntung bisa memiliki kekasih seperti anda."


" Semoga kalian bisa berjodoh." Kata Arthur lagi.


" Terimakasih Arthur. Maafkan aku ya jika selama di sini selalu merepotkanmu."


" Tidak nona, anda tidak pernah merepotkan saya, anda jangan berkata seperti itu. Semoga di lain waktu kita bisa bertemu lagi."


" Ya Arthur semoga." Jawab Dhea lirih, walaupun sebenarnya dia tidak hanya mengharapkan bisa kembali lagi ke sini tapi lebih dari itu.


" Arthur apakah tuanmu tidak mengatakan apa-apa padamu selain memintamu untuk mengantarkanku?" Tanya Dhea berharap Walaupun itu hanya sekecap kata dari William.


" Tidak nona, Tuan William tidak mengatakan apapun."


" Apakah dia juga tidak ingin menemuiku barang sebentar?"


" Kalau itu aku juga tidak tau nona."


Dhea hanya menarik nafas panjang menahan rasa kecewanya.


" Ternyata aku memang harus belajar untuk tidak memikirkannya lagi sementara waktu ini." Kata Dhea dalam hati.


Tak lama kemudian merekapun telah tiba di bandara. Arthur segera memarkirkan mobilnya, dan Dheapun langsung turun ditemani Arthur yang menarik kopernya.


" Nona saya antarkan anda sampai di sini saja ya? Semoga anda selamat sampai di Indonesia." Kata Arthur saat berada di depan bandara


" Ya Artur terimakasih banyak ya."


" Sama-sama nona." Jawab Arthur sambil membungkukkan badannya memberi hormat pada Dhea.


Dhea segera menarik kopernya menuju ke dalam.


" Dheaaaa....!!" Seorang pria tiba-tiba memanggilnya.


Dhea segera mencari arah suara itu. Ternyata yang memanggilnya adalah Bram.


" Hei Bram aku pikir kau tidak jadi menemuiku."


" Tidak mungkinlah Dhe, sedangkan aku tidak tau kapan bisa berjumpa denganmu lagi."


" Jangan berkata begitu Bram, apakah suatu hari nanti kau tidak ingin tau indahnya negaraku?"


" Ya Dhe, aku akan mengumpulkan uangku dulu agar bisa puas berlibur di negaramu."


" Kau ini, kurs di negaramu itu lebih besar daripada negaraku, jadi tidak perlu menabung lama untuk datang kesana, hanya tinggal niatmu saja mau atau tidak, itu saja!"


" Tenang saja, entah kapan waktunya pasti aku akan mengunjungimu." Jawab Bram lagi


" Aku akan menagih janjimu Bram, aku jamin kau pasti akan betah ada di negaraku." Jawab Dhea lagi.


" Doakan saja Dhe aku akan segera mengunjungimu."


" Oh ya Dhe ini untukmu." Kata Bram sambil menyerahkan sebuat bungkusan pada Dhea.


" Apa ini Bram?"


Kemudian Dhea segera membuka bungkusan itu. Ternyata isinya adalah dua buah jilbab.


" Ya ampun Bram!! Kau membeli ini sendiri untukku? Ini bagus sekali!! Kau sangat pintar memilih warnanya? Terimakasih ya?"


" Sama-sama Dhe. Untung saja aku tidak telat tadi karena memilih itu dan masih bisa menemuimu."


" Kau tidak perlu repot-repot Bram, kau itu sudah terlalu banyak membantuku selama di sini."


" Tidak Dhe, aku hanya ingin kau selalu mengingatku jika memakai itu."


" Bram, tanpa harus memakai inipun aku tidak akan pernah melupakanmu. Kau sahabat terbaikku." Kata Dhea, ada nada sedih dalam kalimatnya.


" Bram aku harus masuk, maaf tidak bisa berlama-lama di sini."


" Iya tidak apa-apa yang penting aku sudah memberikan jilbab itu padamu. Jangan lupa dipakai ya? Itu tadi aku harus searching google dulu untuk mencari tokonya."


" Hahaha pasti Bram, aku pasti akan memakainya, bahkan mungkin tidak akan kucuci selama 1 bulan agar bau barunya tidak hilang."


" Kau ini Dhe ada-ada saja."


" Dhe, sumpah aku berat sekali melepas kau kembali ke Indonesia." Kata Bram kemudian, mimik mukanya perlahan berubah sendu.


" Bram, kau jangan membuatku sedih seperti itu."


" Iya Dhe, kebersamaan kita selama dua tahun ini memberikan kenangan tersendiri buatku."


" Karena kau menyukaiku?"


" Bukan itu saja Dhe, kau sahabat terbaik yang pernah aku punya, yang tidak pernah lelah untuk menasehatiku, juga memberikan masukan positif untukku."


" Itulah gunanya teman Bram, dia harus bisa membawamu dalam kebaikan bukannya malah keburukan, jadi mulai sekarang hati-hatilah memilih teman ya?"


" Ya Dhe pasti itu."


" Ya sudah Bram, aku berangkat dulu ya, kau baik-baik di sini, cepatlah menikah jangan bermain perempuan saja, terkena penyakit kelamin baru tau rasa kau!!" Canda Dhea mencairkan suasana untuk menghilangkan rasa sedihnya.


Setelah berjabat tangan sebentar Dhea segera masuk ke dalam, sedangkan Bram hanya memandanginya saja.


" Dhe...!!! Panggil Bram lagi.


Dhea kemudian menengok.


" Iya Bram..!!"


" Jika sudah sampai di negaramu, jangan lupa telfon aku ya agar aku tidak mengkhawatirkanmu." Kata Bram.


" Pasti itu." Jawab Dhea sambil tersenyum dan mengacungkan ibu jarinya.


Sementara itu William terlihat mondar mandir di dalam kamarnya sambil memainkan kunci mobil di tangannya.


" Kesana, tidak, kesana, tidak." Gumamnya seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu.


" Ahhhh aku harus kesana....!!!" Katanya tiba-tiba, sambil kemudian berlari keluar dan menuju mobil yang terparkir di depan rumah semenjak tadi.


William seperti kesetanan memacu kendaraannya, seolah tidak ingin kehilangan waktunya. Namun justru malam itu suasana jalanan sedikit ramai, laju kendaraannya sedikit terhambat.


" Ahhhh...ayooo...cepat...!!! Kenapa malah lambat sekali?" Gumamnya sambil terus menekan klakson mobilnya dan terlihat sangat tidak sabar.


" Matanya sebentar-sebentar menatap jam yang ada di layar dashboard mobilnya.


" Ya Tuhaaann...semoga aku belum terlambat." Kata William sembari berbicara pada diri sendiri.


Peluh membasahi wajahnya, padahal ac di mobil sudah sangat menggigit kulit hingga meresap ke tulang-tulangnya, namun itu semua tidak mengurangi rasa was-wasnya, sehingga tetap saja tidak bisa menghambat buliran keringat keluar dari seluruh pori-porinya.


Akhirnya William tiba juga di tempat tujuan. Dia segera memarkirkan kendaraannya, dan dengan sangat terburu-buru segera turun dari mobilnya dan berjalan keluar, namun suara seorang pria terdengar memanggilnya.


" Will...!!"


William segera menengok ke arah panggilan itu dan menghentikan langkahnya.


" Bram..." Gumamnya.


Bram langsung mendekati William.


" Kau sudah di sini Bram?"


" Ya Will dari tadi. Kau disini juga rupanya?"


" Ya aku ingin menemui Dhea." Jawab William.


" Tapi sayangnya kau terlambat teman, lihatlah itu pesawatnya baru saja terbang." Kata Bram sambil menunjuk sebuah peswat yang sedang terbang bebas dan semakin tinggi menjauhi mereka berdua.


" Hehhh aku pikir masih bisa menemuinya." Kata William, kepalanya tertunduk lesu dan wajahnya terlihat sangat kecewa.


" Kau tidak perlu menemuinya sekarang jika hanya untuk mengucapkan salam perpisahan saja."


" Maksudmu?" Tanya William.


" Dia lebih mengharapkan kedatanganmu satu tahun lagi di tempat yang kau janjikan."


William menundukkan kepalanya kembali, sambil menendang kerikil kecil yang ada di kakinya. Keragu raguannya tadi saat hendak datang ke bandara, membuahkan penyesalan di hatinya. Kadang hal yang ragu-ragu untuk dikerjakan ternyata bisa berimbas tidak baik untuk ke depannya.


" Pulanglah!! Perbaiki hidupmu mulai dari sekarang, dan saat kau menemui Dhea lagi, kau telah menjadi sosok calon suami yang sempurna untuk Dhea." Kata Bram sok bijak.


" Ya Bram, aku akan berusaha." Jawab William lemah karena masih merasa sedih baru saja kehilangan moment untuk menemui Dhea terakhir kali.


" Bukan akan berusaha Will, tapi harus berusaha!!" Kata Bram membenarkan.


" Kau ini jadi sok bijaksana sekarang."


Kata Williang lag.


" Ya sudah aku mau pulang dulu, apa kau ingin menunggu parkiran dulu di sini?" Jawab Bram.


" Ahhh sialan kau." Kata William sambil tersenyum lalu segera menuju ke mobilnya kembali.