Something different

Something different
Perjalanan ke rumah sakit



" Sayang, kenapa sih harus cek lab segala? aku kan hanya sedikit pusing dan mual saja?"


" Kita menurut saja anjuran dari Dokter Sherli sayang. Mungkin dia takut nanti bisa berdampak negatif pada anak kita."


" Hehhhhh.....kalau dulu aku pusing dan mual seperti ini, ibuku hanya mengerik badanku dengan obat gosok, memberiku minuman jahe hangat, kemudian tidur, dan dijamin keesokan paginya badanku sudah segar kembali." Gerutu Dhea.


" Hahaha....itu kan karena kau cuma masuk angin sayang, dikerik sebentar sudah sembuh. Tapi sekarang kan kau sedang hamil, wajar kalau Dokter Sherli mengkhawatirkan kondisimu."


" Kau menurut saja ya, ingat aku imammu. Perjanjian kita tadi kau belum lupa kan?"


" Tentu sayang, makanya aku mau kau ajak kemari."


" Hehhhhh...untung suamiku orang kaya, jika tidak sayang sekali membayar mahal-mahal hanya untuk uji lab segala." Gumam Dhea lagi.


" Hei kau mengatakan apa?" tanya William yang sedikit mendengar gerutuan Dhea.


" Untung kau kaya sayang, makanya hal yang menurutku sepele seperti ini kau anggap penting padahal biaya lab kan mahal."


" Hahaha....karena aku kaya itulah, aku ingin menjamin segalanya yang berhubungan denganmu. Buat apa aku menimbun uang? jika sayang dan pelit untuk menggunakannnya? uang kan tidak dibawa mati?"


" Ya...tapi jangan lupa yang 2.5 % ya, kau masih rutin melakukannya kan?"


" Tenang saja sayang, itu sudah menjadi kewajiban, jadi aku tidak akan mungkin lupa."


" Syukurlah." Jawab Dhea sambil memalingkan wajahnya, menatap pemandangan melalui jendela di sebelahnya.


Kendaraan yang dikemudikan William telah tiba di rumah sakit besar, dimana Dokter Sherli bertugas. Dhea dan William segera masuk ke dalam rumah sakit tersebut. Dan menuju ruang poli kandungan. Ternyata di dalam sana Dokter Sherli telah menunggu mereka berdua sedari tadi.


" Selamat pagi dok!"


" Selamat pagi! hei masuklah, aku sudah menunggu kalian berdua sedari tadi."


" Terimakasih dokter."


William dan Dhea masuk bersamaan, dan duduk di kursi yang ada di hadapan dokter cantik itu.


" Bagaimana Dhe keadaanmu? apakah sudah tidak seburuk tadi?"


" Lumayan dok, hanya masih sedikit pusing dan mual."


" Lalu matamu bagaimana? masih kabur seperti tadi?"


" Masih dok."


" Baiklah. Saya memang sengaja meminta kalian kemari untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut, untuk mengetahui kondisimu Dhe. Jadi nanti kau harus sedikit bersabar untuk menjalani sejumlah pemeriksaan yang memakan waktu sedikit panjang ya?"


" Ya, sama harapan saya juga seperti itu Dhe."


" Untuk tahapan awal, nanti saya akan memeriksa kondisimu dan juga janinmu. Setelah itu kita akan melakukan tes darah, untuk mengetahui jumlah sel darah secara keseluruhan. Tes urin, untuk memeriksa keberadaan dan kadar protein di urin. Tes fungsi hati, juga fungsi ginjal, termasuk ureum dan kreatin." Kata dokter tersebut panjang lebar. Lalu menjelaskan secara rinci satu-persatu tahapan yang akan dia jalani nanti, dengan istilah-istilah biologis yang hampir 80% dia tidak mengetahuinya sama sekali. Bahkan dia berpikir, kenapa dokter tersebut tidak menggunakan bahasa umum yang lebih dipahaminya, agar dia tidak gagal paham.


" Kenapa sedetail itu dok? sebenarnya apa yang saya alami, sehingga harus memeriksa ginjal dan hati juga?" tanya Dhea penasaran dengan penjelasan Dokter Sherli.


" Aku juga belum tau Dhe. Kita kan hanya sekedar melakukan pemeriksaan dulu. Mengantisipasi segala kemungkinan yang bisa saja terjadi pada ibu hamil sepertimu." Dokter Sherli berusaha menutup-nutupi kehawatiran dirinya sendiri dengan jawabannya. Namun Dhea bukanlah wanita bodoh, dia tau ada yang disembunyikan oleh dokter dan juga suaminya. Terlebih sebelum ke rumah sakit tadi, William mengadakan perjanjian yang menurut Dhea tidak penting itu.


Dhea mengira, uji lab yang akan dilakukan hanya sampel darah dan sekedar USG saja. Namun perkiraannya itu justru melenceng jauh. Namun dia yakin bahwa kondisinya baik-baik saja, karena selama ini hanya kepalanya saja yang sering pusing dan masih dapat diatasinya. Dhea merasa bahwa tindakan Dokter Sherli untuk memantau kesehatannya selama hamil sudah sangat berlebihan. Tapi dia tau, ini semua karena amanah dari suaminya untuk terus mengawasi perkembangan janin di perut Dhea selama masa kehamilannya itu. Menjadi orang kaya itu memang mudah, namun ada saatnya hal-hal yang tidak penting juga dilakukan. Dan mungkin saja jika ada bisul yang tumbuh di badannya, suaminya itu akan mengeluarkan kocek besar untuk uji lab juga.


" Hehhhhh...terkadang orang kaya jalan pikirannya sedikit aneh, dan aku harus membiasakan itu." Gumam Dhea dalam hati.


" Sayang, kau turuti saja kata-kata Dokter Sherli ya. Dia kan ahlinya, dia yang paling tau apa yang terbaik buatmu." Kata William berusaha merayu Dhea untuk mengikuti serangkaian pemeriksaan itu.


" Sayang...aku tau, apapun yang kau lakukan itu adalah untuk kebaikanku, tapi ini kan sangat berlebihan. Aku itu tidak apa-apa."


" Sayang.....tapi tidak ada salahnya kan jika kita menuruti Dokter Sherli?"


" Iya benar. Tapi jika boleh aku bertamya, sebenarnya apa yang kalian sembunyikan dariku? pasti ada alasan logis sehingga semua pemeriksaan ini dilakukan?"


" Dhe, aku hanya melakukan apa yamg sewajarnya harus aku lakukan, yaitu memantau kondisi kesehatanmu dan janinmu selama kau hamil. Aku tidak mau karena kelengahanku dan menganggap sepele hal yang kau alami tadi pagi, bisa berakibat fatal pada kandunganmu. "


" Tapi dok, bagimu mungkin ini wajar, tapi bagiku tidak wajar."


" Sayang....kau masih ingat perjanjian kita kan???" Kata William mencoba menengahi.


" Iya sayang, tapi....!!"


" Pleas sayang...demi kebaikanmu ya???"


" Hehhhhh...baiklah, jika ini memang perintahmu." Jawab Dhea pasrah.


" Ya sudah Dhe, ayo kita mulai sekarang! Aku akan memeriksa janinmu dulu." Kata Dokter Sherli.


Dhea lalu berbaring di atas ranjang yang ada di dalam ruangan itu, sebuah alat USG ditempelkan di perutnya, dengan terlebih dahulu mengoleskan sebuah cairan. Dokter Sherli terus bermain-main dengan alat tersebut. Akhirnya proses awal pemeriksaannya selesai.


" Dhe ayo ikut aku." Ajak Dokter Sherli sambil keluar dari ruangannya. William dan Dhea mengikutinya dari belakang. Dokter tersebut mengajaknya ke sebuah ruangan yang lebih lengkap lagi fasilitasnya. Disana dia mulai diambil sampel darah dan urinnya, serta beberapa rangkaian pemeriksaan lainnya.


Dhea merasa bosan sekali mengikuti semua prosedur tersebut. Padahal dia jauh lebih beruntung dibanding pasien umum lainnya. Tidak perlu mengantri lama, tidak perlu melewati segala macam bentuk administrasi yang beragam. Belum lagi terkadang dokter yang hendak mereka temui berhalangan hadir, sehingga akhirnya harus pulang lagi dan kembali keesokan harinya. Dhea jauh lebih beruntung dari mereka, yang kita tau sendiri bagaimana ribetnya prosedur sebuah pengobatan di negara kita tercinta ini. Terlebih bagi mereka yang tidak memiliki uang. Bahkan ada kata-kata bijak mengungkapkan, "orang susah dilarang sakit", hehhh makan saja susah apalagi berobat.


William terus menemani istrinya. Tidak sedetikpun dia meninggalkan istrinya itu. Terkesan berlebihan sih. Bisa dihitung dengan jari seorang suami yang mau mengantarkan istrinya hingga masuk ke dalam ruangan yang penuh cairan obat, dan baunya yang menyengat itu terkadang membuat perut mual. Namun William adalah laki-laki yang termasuk dalam hitungan jari tadi. Dia kalahkan egonya sendiri demi untuk memberikan suport pada istrinya.