Something different

Something different
Pagi yang indah



Pagi ini mentari bersinar sangat cerah, secerah wajah Dhea. Sudah satu bulan semenjak insiden kecelakaan itu, hidupnya bersama William semakin bahagia. Ikatan bathin kepada suaminya semakin besar, terlebih dia baru merasakan bagaimana sakitnya kehilangan pasangan, walaupun itu tidak benar-benar terjadi, namun yang dirasakannya itu seolah sudah terjadi, sehingga dia semakin menghargai keberadaan suaminya di sampingnya. Luka bekas operasinyapun telah sembuh benar. Dokter dan suster yang selama ini merawatnya telah beraktifitas kembali di rumah sakit.


Pagi ini dia sedang menikmati segelas susu dan setangkup roti, di taman samping rumahnya. Ditemani kicauan burung yang bernyanyian, di sela pepohonan yang dibiarkan rindang di sekitar halaman rumahnya, menambah suasana pagi itu semakin indah.


" Sayang, kau kan sudah sembuh, bagaimana kalau kita pergi ke London?"


" Ke London?"


" Iya sayang, kenapa?" wajah Dhea berubah muram.


" Aku....???" William melihat kekhawatiran di wajah istrinya itu.


" Hemmmm....aku tau, kau pasti trauma naik pesawat kan?"


" Iya sayang." Jawab Dhea pelan.


" Aku masih ingat sekali, bagaimana pesawat itu meledak dan kemudian api keluar yang menyisakan asap hitam di angkasa."


" Sayang, kau belum lupa yang dikatakan ayahmu kan? jika memang sudah ajal, sejauh manapun kita sembunyi, nyawa kita tetap akan melayang."


" Iya tapi...?"


" Sayang, semua orang itu tidak ada yang namanya tidak takut dengan kematian, namun bukan berarti kita jadi lupa bahwa Dialah pembuat skenarionya, dan kita pemainnya. Pasrahkan semua padaNya, yang kita lakukan hanya bisa berdoa saja, dan menyiapkan sebanyak mungkin bekal kita untuk menuju kesana ya."


" Tapi sayang."


" Heiii....bukankah kita pergi berdua, dan tidak sendiri-sendiri."


" Trauma itu harus diobati, dan tidak boleh dibiarkan, karena itu akan bisa jadi penyakit." Dhea lalu diam sebentar.


" Baiklah jika memang itu maumu." Katanya kemudian.


" Hehhhh....seandainya saja kau mau, aku bisa saja menyuruh pegawaiku untuk menjemput kita dengan pesawat pribadiku, agar bisa mengurangi rasa khawatirmu." Jawab William.


" Itu namanya pemborosan sayang. Allah tidak suka yang berlebih-lebihan. Apalagi hanya dinaiki oleh kita berdua. Biarkan pesawat itu di sana saja, gunakan jika keadaannya benar-benar mendesak, kecuali kau ingin mengajak papamu dan tidak ingin menyusahkan beliau dengan urusan ***** bengek di bandara. Kita kan masih muda, masih sehat, untuk apa terlalu memanjakan diri seperti itu?" Kata Dhea panjang lebar.


" Yaaaa...Siappp...Nyonya William, terserah apa mau anda saja."


Pola hidup sederhana yang diterapkan oleh orang tuanya, sudah mendarah daging padanya. Hingga sekarang dia sudah menjadi seorang istri milyunerpun, dia tetap tidak bisa meninggalkan kebiasaannya itu. Padahal orang lain yang tidak sekaya dia, justru selalu ingin menunjukkan jati dirinya di khalayak umum dengan sering memamerkan apapun yang dimilikinya, dengan tujuan agar diakui sebagai kalangan atas. Namun berbeda dengan Dhea, memang terkadang seperti itu, biasanya orang yang benar-benar kaya jarang mengekspose kekayaannya dibanding orang yang pura-pura kaya.


" Jadi kita berangkat kapan sayang?"


" Bagaimana kalau lusa saja, nanti biar aku minta tolong supir untuk memesankan tiket untuk kita berdua."


" Oke, apa katamu saja." Kata Dhea sambil menggigit roti yang ada di atas piring di depannya. Susu yang sedari tadi dibuatkan oleh asisten rumah tangganya, terlihat hanya tinggal separuh saja isinya. Terlihat kemudian William menggeser-geser tombol handphonennya.


" Kau ingin menelfon siapa sayang?"


" Aku ingin menelfon Mike. Ingin tau saja, apakah dia sudah pulang dari bulan madu atau belum, tujuan kita pulang kan bukan hanya untuk menemui papa saja, tapi juga menemui Mike dan berkenalan dengan istrinya."


" Hemmmm memang dia belum pulang ya?"


" Aku tidak tau juga, selama mereka berbulan madu aku tidak pernah menelfonnya, karena takut mengganggu mereka."


" Memang berapa lama katanya?"


" Yahhhh...kata Mike sekitar 3 mingguan."


" Hemmmm.....lama sekali bulan madunya." Gumam Dhea sambil menyeruput minumannya.


" Yahhhh...dia memang sengaja sambil ingin berlibur katanya, karena sudah lama semenjak dia bercerai dengan mantan istrinya, dia tidak pernah pergi kemana-mana."


" Ya jelas saja....apa asyiknya juga jika liburan hanya seorang diri, ujung-ujungnya mungkin minta ditemani wanita di luaran sana, dan akhirnya berbuat dosa lagi, ya kan....????"


" Hahaha...kau ini jangan menyindirku ya."


" Yeeee....siapa juga yang menyindir, memangnya dulu kau begitu ya? aku kan tidak tau."


" Hemmm jangan sok polos ya? lalu itu tadi apa?"


" Hehehe hanya sedikit mengingatkan dosa di masa lalu saja." Sambil tersenyum.


" Awas kau ya." Sambil menggelitik Dhea.


" Hahaha...ya ya ya...ampun, maaf tadi hanya keceplosan." Sambil terbahak.


" Keceplosan atau sengaja??" sambil terus menggelitik.


" Iyaaaa...sengaja keceplosan....!!"


" Hemmm...kita selesaikan di sini atau di dalam kamar?"


" Hahhh....kenapa harus di kamar?"


" Biar saja, mau-mau aku dong."


" Hahaha...dasar suami piktor."


" Sudah cukup...!!! kau tidak jadi menelfon Mike nanti." di sela tawanya.


" Tuhhh...kan jadi kelupaan, kau sih!!"


" Yeee...malah aku yang disalahkan..!!"


" Habis siapa yang disalahkan?"


" Hahhhh...kenapa jadi ngomongin penjara??? istri yang aneh...!!!"


" Hiiihihi....mau-mau aku dong."


" Hehhhh...kau ini bikin gemas saja, awas nanti ya, kalau sudah selesai menelfon Mike." Dan Dhea hanya terkekeh saja.


William lalu mengambil handphonennya kembali, dan segera menelfon Mike. Lamaaa sekali telfon William tidak ada yang mengangkat, namun sesaat kemudian baru diangkat.


" Pagi Mike??"


" Pagi??? di sini masih jam 1 malam William...!!!"


" Hahhhh...jam 1 malam???? ya ampun aku lupa Mike...!!! ya sudah tidurlah lagi, maaf sudah


mengganggu tidurmu."


" Ahhhh...kau ini, sudah membuatku terbangun, sekarang kau minta aku tidur lagi."


" Hahaha...aku tidak ingat sama sekali jika di sana masih malam, karena aku sedang menikmati sarapan pagi dengan istriku." Sambil garuk-garuk rambutnya yang tidak gatal. Dhea terkekeh melihat suaminya, dia sebenarnya tau jika di sana pasti masih malam, tapi memang sengaja tidak memberitahu William.


" Ada apa Will?"


" Tidurlah lagi saja, jika kau sudah bangun segera hubungi aku lagi."


" Ahhh...kau ini, tanggung, rasa kantukku sudah hilang."


" Hahaha...cepat sekali hilangnya? Kau tidur dengan istrimu?"


" Iya dong, aku kan sudah punya istri, masak harus tidur sendirian lagi."


" Hahaha...siapa tau kau tidur sambil ditemani televisi seperti biasanya."


" Hehhhh enak saja, itu kan dulu. Ada apa kau menelfonku? ada sesuatu yang penting?"


" Sebenarnya tidak terlalu penting sih, hanya ingin menanyakan kau sudah pulang dari berbulan madu atau belum?"


" Ooohhh...aku sudah pulang, baru dua hari yang lalu. Ada apa memangnya?"


" Rencananya aku dan Dhea akan pulang ke London. Menemui papa dan juga berkenalan dengan istrimu."


" Ohhh Dhea sudah sembuh benar?"


" Alhamdulillah dia sudah sembuh, dan sudah bisa kuajak kemana-mana, tanpa mengkhawatirkan kesehatannya."


" Syukurlah. Pulanglah, papa pasti sangat senang melihat kalian pulang. Rencananya kapan kau akan berangkat?"


" Mungkin lusa."


" Ok, aku akan memberitahu papa, agar menyiapkan makanan untuk menyambut kalian."


" Ahhhh...tidak usah repot-repot, tapi kalau memang kau memaksa aku ikhlas menerimanya."


" Hahaha siapa juga yang memaksa."


" Ok, besok biar kukabari papa, aku tunggu kau di rumah. Dan seperti biasa, kita habiskan waktu dengan begadang semalaman, jadi siapkan fisikmu ya."


" Ok siap. Ya sudah tidurlah lagi."


" Oke...selamat malam Will."


" Selamat pagi Mike." Kemudian mereka tertawa bersamaan, lalu telfonpun ditutup.


Sementara itu Dhea terlihat tertawa sendiri.


" Heiii...kau kenapa tertawa sedari tadi?"


" Kau pasti lupa kan, jika di sana masih malam?"


" Ohhhh....jadi kau ingat?"


" Iya memang aku ingat."


" Lalu kenapa tidak memberitahuku?"


" Memang aku tidak ingin memberitahumu."


" Ya ya ya, kau memang harus diberi pelajaran." Kata William sambil kemudian menggendong tubuh istrinya.


" Heiii....kau mau membawaku kemana?"


" Kita harus selesaikan urusan ini ya."


" Turunkan aku, aku masih lapar."


" Apakah roti dan susu tadi tidak cukup?"


" Sudah cukup sih, tapi aku ingin makan lagi."


" Nanti saja, jika sudah selesai, kau boleh makan sebanyak mungkin." Sambil terus menggedong istrinya menuju kamar.


Yaaaaa...terserah mereka sajalah, menyelesaikan urusan mereka dengan cara apa. Yang penting kita selesaikan urusan kita sendiri saja ya🤭🤭