Something different

Something different
Bram marah besar



Sepeninggal William, Dhea segera mencari cari handphonennya, ternyata benda itu diletakkan di atas meja riasnya. Kemudian diambilnya handphonenya tersebut, dan dibukanya. Ternyata benar ada beberapa panggilan masuk yang tak terjawab dan juga sms, termasuk Bram dan Mike yang menelfonnya.


" Hmmm pasti mereka sedang mencari cariku, aku harus menelfon Bram sekarang ".


Saat Dhea baru saja menelfon handphone Bram, Bram langsung mengangkatnya.


" Hallo Dhea ? Dhea...kamu ada di mana sekarang ?Dhe kamu baik baik saja kan ?"


" Tidak Bram, aku tidak baik baik saja ", tiba tiba Dhea merasa sangat sedih, ingat semua kejadian yang menimpanya.


" Dhe...kamu tidak kenapa napa kan ? kamu dimana sekarang ?"


" Bram aku berada di apartemen William, dia sudah memindahkanku kesini, aku juga belum tau alamatnya ".


" Maksudmu kau sekarang sudah tidak tinggal di tempatmu yang lama begitu ?"


" Ya Bram ".


" Lalu apa alasan William sehingga memindahkanmu seenaknya sendiri begitu ?"


" Dia hanya mengatakan akan lebih mudah untuk mengawasiku ".


" William brengsek !! benar benar sudah sangat keterlaluan ". Kata Bram sedikit marah.


" Dhe, tapi dia tidak menyentuhmu kan ?"


Dhea diam saja, tiba tiba dia menangis sesenggukan.


" Dhe ? Kenapa Dhe ? Jangan bilang bahwa dia telah menyentuhmu ?"


" Dia....dia bukan cuma menyentuhku Bram, tapi....".


" Tapi apa Dhe ?"


" Tapi dia telah mengambil kehormatanku Bram !!" Teriak Dhea.


" Maksudmu Dhe ???"


" William telah memperkosaku Bram kemarin malam di rumahnya, anak buahnya menculikku dan membiusku saat aku baru pulang dari tempat kerja ", jawab Dhea sambil menangis sesenggukan.


" Williaaaaammmm....kau....!!" Teriak Bram, lalu tanpa bicara apa apa lagi langsung menutup telfonnya.


Tanpa buang buang waktu lagi, Bram segera mengambil kontak mobilnya dan memacu kendaraannya itu tanpa terkendali, dia tidak perduli bahwa kecepatannya itu sudah melebihi batas yang seharusnya. Yang Bram pikirkan dia ingin segera bertemu William dan menghajarnya dengan tangannya sendiri.


Sesampainya di rumah William, Bram langsung saja masuk ke dalam rumah besar itu.


" Williamm...Williamm.....keluar kamu...Williammm ...Williammm...!!!"


" Maaf tuan anda siapa ?" Tanya security yang menjaga rumah William, dan mengikuti Bram di belakangnya karena Bram tiba tiba masuk tanpa permisi.


" Aku temannya, panggil dia cepat , katakan padanya Bram sedang mencarinya ".


Ternyata William sedang berada di dalam kamarnya, dia baru saja selesai mandi.


" Hmmm itu seperti suara Bram, kenapa dia berteriak teriak seperti itu ? Hehhhh pasti Dhea telah mengadu padanya. Aku harus menemuinya ", gumam William.


Kemudian William segera berjalan keluar dari kamarnya. Saat di depan dia melihat Bram sedang berdebat dengan securitinya.


" Biarkan Neil, dia itu temanku. Keluarlah !! Kata William meminta security itu meninggalkan mereka berdua.


" Kau memang laki laki tak tau malu !!" Kata Bram lalu tanpa basa basi langsung menonjok perut William.


William saat itu belum siap sedikitpun, sehingga tidak bisa mengelak menerima serangan dari Bram.


William memegangi perutnya, ternyata pukulan Bram mampu membuat perutnya sakit.


" Hei apa apaan kau Bram ?"


" Hahhh jangan banyak bicara kau ya !! Dhea baru saja menelfonku dan mengatakan bahwa kau baru saja berbuat kurang ajar padanya. Benar kan ?"


" Hehhhh...benar dugaanku Dhea pasti baru saja menelfon Bram ", kata William dalam hati.


" Ya aku memang melakukannya ", kata William tegas.


" Sialan kau ....!!" Bram melayangkan kembali tinjunya, tapi kali ini ke arah wajah William, untungnya William sempat menghindar, sehingga tangan Bram hanya mengenai angin. William segera mundur dan dengan sigap menangkap tangan Bram lalu menariknya dan memutarnya ke arah belakang, kemudian menguncinya. Saat ini posisi William lebih diuntungkan.


" Dengar Bram kau tidak usah ikut campur urusanku ya ".


" Tapi kau sudah pernah berjanji padaku, tidak akan pernah menyakitinya ".


" Ya aku memang berjanji tidak akan menyakitinya, tapi ini memang caraku untuk memilikinya dan kemudian akan membahagiakannya ".


" Dengan cara seperti itu kau anggap bisa membahagiakannya ?"


" Ya, kenapa tidak ".


" Bodoh...kau itu bukannya mencintai Dhea, tapi kau sedang menjahatinya. Lihat saja dia tidak akan pernah bisa memafkanmu !!"


" Aku tidak perduli, yang penting setelah ini aku akan bisa memiliki dia seutuhnya, dan tidak akan kubiarkan orang lain merebutnya dariku !!"


" Kau memang sudah gila Will !!"


" Ya aku memang sudah gila, makanya aku melakukan itu. Dan itu semua karena Dhea yang sudah membuatku gila ".


" Kau harus bertanggung jawab Will, awas jika setelah ini kau meninggalkannya seperti wanita wanitamu yang lain ".


" Tenanglah Bram, tanpa kau mintapun aku akan bertanggung jawab, karena memang itu tujuanku. Dia tidak akan bisa lari lagi dariku Bram, dia tidak akan mungkin mau menikah dengan orang lain, sedangkan keperawanannya sudah aku ambil hahaha ".


" Kau brengsek Will ".


" Hei kenapa kau marah besar ? Apakah kau iri padaku karena berhasil mendapatkannya ?


" Hahhh iri dengan caramu yang licik itu ? Aku bahkan tidak pernah membayangkan akan mendapatkan wanita dengan cara serendah itu ".


" Hahaha kau ini jangan berlagak suci Bram, aku tidak perduli dengan yang kau katakan, yang penting Dhea akan menjadi milikku. Dan kamu !! Kamu jangan pernah ikut campur urusanku ", kata William sambil mendorong tubuh Bram.


" Hhhhh...bodohnya kamu Will, kamu itu tidak akan pernah mendapatkan cinta yang sesungguhnya dengan cara seperti ini ". Kata Bram sambil membenahi bajunya.


" Aku tidak butuh nasehatmu Bram, yang penting aku bahagia bisa bersama Dhea selamanya, dan aku yakin cinta itu bisa tumbuh jika kita terus bersama ".


" William...aku tidak menyangka, aku sangat menyesal membiarkan kau mendekati Dhea ".


" Terserah Bram...aku tidak menyalahkanmu kalau membenciku, yang jelas aku akan membuktikan bahwa suatu hari nanti aku pasti akan bisa membuat Dhea bahagia ".


" Hehhh terserah kau ", kemudian Brampun pergi meninggalkan rumah William.