Something different

Something different
Ke kampus tanpa William



Hari ini adalah hari pertama Dhea pergi tanpa ditemani William. Dia melangkahkan kakinya keluar dari apartemen, karena ingin bertemu dengan dosen pembimbingnya. Saat dia baru saja hendak menuju ke halte, seorang pria berseragam menghampirinya.


" Maaf apakah anda nona Dhea?" Tanya pria itu.


" Iya benar, anda siapa?" Tanya Dhea balik bertanya.


" Nama saya Arthur. Saya diberi tugas oleh Tuan William untuk mengantar anda kemanapun anda pergi nona."


" William...?" Ulang Dhea seolah tak percaya.


" Ya nona, Tuan William."


" Ya Alloh, lagi-lagi dia membuatku sulit untuk melupakannya." Gumam Dhea.


Rona wajah Dhea langsung berubah, ada kesedihan yang mendalam di hatinya.


" Maaf nona, anda tidak apa-apa kan?" Tanya Arthur, dia mengetahui perubahan wajah Dhea itu.


" Oh maaf saya tidak apa-apa Arthur." Jawab Dhea pelan.


" Maaf anda ingin saya antar kemana?"


" Ehhh...tapi apakah ini harus Arthur? Aku tidak merepotkanmu?"


" Tidak nona, ini sudah tugas saya. Tuan William mewanti-wanti agar tidak membiarkan anda pergi sendirian kemana-mana."


" William...walaupun kau sudah tidak bersamaku, tapi kau masih saja memperdulikanku." Kata Dhea dalam hati.


" Baiklah, antarkan saya ke kampus ya?" Kata Dhea.


" Silahkan nona!" Kata Arthur sambil membukakan pintu belakang dan mempersilahkan Dhea naik.


" Terimakasih." Kata Dhea.


Arthur mengantar Dhea hingga tiba di kampusnya.


" Nona, saya tunggu anda di sini ya?"


" Tapi aku lama Arthur. Pergilah saja, nanti aku bisa naik kendaraan umum."


" Tidak nona!! Tuan William bisa marah dengan saya nanti. Saya tunggu anda sampai jam berapapun anda pulang. Anda jangan khawatir, karena memang saya hanya disuruh untuk melayani anda saja."


" Ya sudah terserah kamu saja, aku masuk dulu ya."


" Silahkan nona." Jawab Arthur.


Kemudian Dhea berjalan menuju ruang dosen. Setelah menunggu setengah jam, dosen yang ditunggupun datang. Lalu Dheapun masuk ke dalam ruangannya.


" Hemmm....oke kau boleh melanjutkan ke bab selanjutnya, hanya kau benahi sedikit di typonya saja ya?" Kata dosen tersebut di akhir kalimatnya.


" Terimakasih Sir." Jawab Dhea. Wajahnya terlihat lega.


Kemudian dia berdiri dari tempat duduknya, setelah berpamitan pada dosen pembimbingnya itu, diapun keluar dan berjalan ke arah perpustakaan mencari cari sumber buku yang hendak dia jadikan referensi. Dhea memilih tempat duduk sedikit pojok agar tidak terganggu oleh mahasiswa lain yang lalu lalang.


" Ehemmm....." Terdengar suara batuk seorang laki-laki di dekatnya. Dhea segera menengadahkan kepalanya.


" Bram? Kamu di kampus juga?"


" Heehhhh...kau ini mentang-mentang sudah memiliki kekasih jadi melupakanku."


" Bukan begitu Bram, aku sedang sibuk dengan tesisku."


" Hahaha...aku juga sibuk dengan tesisku tapi tidak setegang wajahmu itu Dhe." Kata Bram sambil menarik kursi yang ada di depan Dhea.


" Wajahmu pucat sekali, kau sedang sakit Dhe?" Tanya Bram.


" Tidak Bram, hanya kurang tidur." Jawab Dhea sambil menundukkan wajahnya dan menghindari tatapan Bram.


Bram merasa janggal dengan sikap Dhea, karena dia sangat mengenal sahabat wanitanya itu.


" Heii...kau tidak apa-apa kan?" Kata Bram penuh selidik.


" Aku tidak apa-apa Bram, memangnya kenapa?" Masih terus menunduk dan sok serius dengan buku di tangannya.


Bram langsung mengambil buku yang ada di hadapan Dhea.


" Kembalikan Bram! Aku sedang membacanya."


" Kau tidak bisa menipuku Dhea...!" Kata Bram lagi.


" Menipu bagaimana?"


" Kalian berdua baik-baik saja kan?"


" Maksudmu?"


" Kami baik-baik saja Bram, ayolah kembalikan bukuku!"


" Tidak Dhe! Kau tidak jujur denganku. Atau aku akan mendatanginya sendiri dan menanyakan kebenarannya?"


Dhea segera menghentikkan gerakannya untuk mengambil buku yang ada di tangan Bram, kemudian menarik tubuhnya ke belakang, dan menghela nafas panjang.


" Hehhh...kita putus Bram." Jawab Dhea pelan.


" Apa??? Putus...!!!" Teriak Bram terkejut.


Beberapa pasang mata memandang Bram tidak senang, karena telah mengganggu konsentrasi pengunjung lain yang sedang asyik membaca.


" Sssttt....kecilkan suaramu!!" Kata Dhea sambil melotot ke arah Bram.


" Ayo kita keluar saja!!" Ajak Bram sambil menarik tangan Dhea.


" Iya Bram...pelan-pelan dong jalanmu." Kata Dhea, karena merasa kesulitan mengikuti langkah kaki Bram yang panjang.


Bram terus menarik tangan Dhea ke taman kampus dan mencari lokasi yang sedikit sepi.


" Sekarang kau ceritakan padaku, apakah laki-laki sialan itu telah mencampakkanmu Dhe?" Tanya Bram.


" Tidak Bram! Kau jangan salah paham dulu."


" Lalu apa?" Kata Bram, wajahnya terlihat sedikit emosi.


" Duduklah dulu di sini." Kata Dhea sambil mempersilahkan Bram duduk di sampingnya.


" Jadi bagaimana cerita sebenarnya? Dia tidak menyakitimu kan?" Tanya Bram setelah duduk di samping Dhea.


" Bram seandainya kau tau, aku dan William itu sama-sama saling mencintai, bahkan dia memperlakukanku sangat baik. Aku tidak pernah menyangka sifatnya yang dulu amat kubenci itu bisa berubah 180°."


" Maksudmu Dhe?"


" Dia sangat menghargaiku Bram, dia tidak pernah berbuat tidak sopan padaku. Dan itu membuatku sangat sakit karena akhirnya kami berdua harus berpisah."


" Jika dia memang mencintaimu, kenapa harus meninggalkanmu?"


" Karena aku tidak bisa mengikuti keyakinannya dan diapun sebaliknya Bram! Jika dia tidak mencintaiku kenapa setelah kami berpisah dia tetap memberikan semua fasilitas untukku? Apartemen, kartu kredit, bahkan dia memberikan supir pribadi untukku."


" Haahhh aku tidak percaya! Dia itu kaya raya, jika hanya memberikan fasilitas sebesar itu padamu, mungkin hanya menghabiskan 0.00001% kekayaannya Dhe. Orang seperti dia memilih agamanya daripada cintanya? Hahaha sangat tidak masuk akal. Dulu saja dia mengatakan padaku mau mengorbankan keyakinannya demi untuk bersama denganmu Dhe!" Kata Bram sambil tertawa mengejek.


" Itu dulu Bram! Tapi sekarang berbeda. William yang sekarang bukanlah William yang dulu. Kau tidak mengetahuinya karena dia tidak pernah bersamamu!! Kami itu hampir setiap hari bersama Bram, aku sangat mengenalnya."


" Lalu beda dimananya Dhe? Mungkin itu hanya alasannya karena sudah bosan padamu."


" Tidak Bram, dia berjanji akan menemuiku satu tahun lagi jika dia sudah benar-benar meyakini pilihannya. Dia tidak mau main-main kali ini untuk membuat keputusannya Bram."


" Ahhhhh...omong kosong! Mengapa harus menunggu selama itu jika untuk membuat keputusan. Pasti ini akal akalan dia saja Dhe. Kau jangan mau dipermainkannya!"


" Bram aku yakin dia serius padaku. Kami sudah bersama hampir setengah tahun. Dan aku tau kesungguhannya. Yah...tapi aku harus menunggu satu tahun lagi untuk menemuinya. Dan harapanku mungkin hanya 50% saja, karena aku juga tidak tau dia lebih memilih yang mana." Jawab Dhea pelan.


" Jadi kau sungguh mencintainya Dhe?"


" Ya Bram, dan aku sekarang sedang berusaha untuk melupakannya."


" Ini pasti menyedihkan buatmu Dhe?"


" Aku tidak bisa menggambarkan perasaanku padamu Bram, yang jelas aku harus membiasakan diri tanpanya lagi."


" Lalu aku bisa membantu apa untuk menghapus kesedihanmu?"


" Hehhhh....rasanya tidak ada Bram." Jawab Dhea pelan.


" Atau kau mau aku menemui William dan memaksanya untuk kembali denganmu dan segera menikahimu?"


" Tidak Bram! Kamu jangan lakukan itu!" Cegah Dhea.


" Kenapa Dhe? Bukankah kalian saling mencintai?"


" Bram pernikahan itu tidak semudah yang kau bayangkan. Aku ingin mempunyai suami yang bisa membimbingku dengan baik. Jangan ada sedikitpun keterpaksaan. Karena kita itu akan hidup bersama dalam satu atap, dan dalam jangka waktu yang lama. Aku tidak mau nantinya ada masalah yang timbul akibat adanya konflik yang lama di pendam."


" Hehhh...terserah kau saja Dhe, yang penting kau mampu menghadapinya sendiri."


" Aku pasti mampu Bram, aku kesini kan untuk mencari ilmu, seandainyapun nantinya aku pulang membawa calon suami setampan dan sekaya William, itu berarti bonus. Tapi jika tidak, masih ada ijazah yang bisa aku banggakan di negaraku nanti." Kata Dhea sambil tersenyum mencoba mencairkan suasana.


" Ya Dhe semoga masalahmu segera berlalu ya!"


" Terimakasih Bram." Jawab Dhea.


Bram tau, pasti Dhea saat ini hatinya sangat hancur. Bram sangat mengenal sahabatnya itu. Dia bukan wanita yang mudah jatuh cinta, namun saat ini dia jutru melabuhkan cintanya pada pria yang salah.