Something different

Something different
Dhea kembali ke London



" Dhe ingat!! Apapun keputusan William kau harus menerimanya. Ayah dan ibu ingin kau kembali ke sini dengan selamat ada dan tanpa William. Kami semua menyayangimu. Masih banyak orang-orang yang mengharapkanmu di sini, mahasiswamu, teman kantormu, saudara-saudaramu, juga kami orang tuamu."


" Iya bu, tidak usah khawatirkan aku. Aku sudah mempersiapkan diri setahun yang lalu walau dengan kabar terburuk sekalipun yang aku terima dari William." Kata Dhea saat kedua orang tuanya melepasnya pergi ke London menepati janjinya pada William.


" Ya nak hati-hatilah di jalan."


" Iya bu." Jawab Dhea. Setelah bersalaman kepada ayah dan ibunya,Dhea kemudian segera masuk ke dalam bandara diiringi lambaian tangan kedua orang tuanya. Dhea hanya cuti 3 hari, jadi dia tidak memiliki banyak waktu tinggal di sana.


" William hari ini aku terbang menuju negaramu untuk memenuhi janjiku. Aku harap kau bisa menemuiku entah itu kabar baik ataupun justru kabar buruk yang akan kau bawa untukku. Waktu 1 tahun terasa begitu lama buatku, aku harus menolak kehadiran laki-laki lain dalam hidupku. Semoga pengorbananku ini tidak sia-sia, namun jika tidak, aku yakin ada hikmah dibalik ini semua." Bisik Dhea dalam hati.


Pesawat terus terbang bebas membawa sekeping harapan yang ada di dalam hati Dhea. Harapan pada seorang laki-laki yang saat ini entah sedang memikirkannya atau tidak. Yang jelas Dhea sudah berusaha memenuhi janjinya pada laki-laki itu.


Sementara itu William terlihat sedang memandangi kalender di meja kamarnya.


" Ahhh dua hari lagi adalah hari dimana aku berjanji akan menemui Dhea di taman itu. Apakah aku siap untuk menatap wajahnya kembali? Sudah satu tahun lamanya aku tak bertemu dengannya. Apakah dia masih seperti yang dulu?" Tanya William dalam hati.


Matanya menerawang langit-langit kamarnya. Padahal kemarin Bram sudah mewanti-wantinya dan mengingatkan akan janji William beberapa hari lagi. Dan saat itu William merasa sedikit marah pada Bram karena terlalu ikut campur dengan urusannya.


" Silahkan nona, kamar anda sudah siap." Kata seorang pegawai hotel sambil menyerahkan kunci pada Dhea..


Dhea sudah dari seminggu yang lalu memesan hotel melalui aplikasi hanphonennya. Sebenarnya dia bisa saja meminta bantuan Bram untuk memesankannya, namun dia tidak enak hati jika terus merepotkan temannya itu.


" Terimakasih." Kata Dhea.


" Sama-sama nona." Jawab pegawai hotel itu lalu segera meninggalkan Dhea.


Dhea menarik kopernya masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang luas dan bersih. Dhea segera meletakkan koper di samping tempat tidurnya dan segera membanting tubuhnya di atas tempat tidur empuk itu.


" Ahhhh....nyamannya." Bisik Dhea sambil merentangkan kedua tangannya. Perjalanan yang ditempuhnya selama lebih dari 14 jam membuat seluruh persendiannya kaku karena harus tidur dengan posisi duduk.


Kemudian Dhea bangun kembali dan membuka hordeng yang menutup jendela kaca yang ada di kamarnya. Kota London yang begitu padat terlihat sangat jelas dari kamar Dhea yang berada di ketinggian. Hotel yang dia tempati memang berada di tengah kota, Dhea sengaja memilihnya agar tidak terlalu jauh bertemu dengan William di tempat yang mereka janjikan nanti. Namun Tiba-tiba saja handphone Dhea berdering.


" Hallo Rei." Sapa Dhea. Ternyata orang yang menelfonnya adalah Reihan.


" Hallo Dhei."


" Rei, aku sedang berada di London, nanti pulsamu bisa kena roaming." Kata Dhea mengingatkan.


" Aku tau kok Dhei."


" Kau tau kalau aku sudah berangkat ke London?"


" Ya aku tau. Saat kau pergi aku mengikuti mobilmu."


" Kenapa kau tidak ikut mengantarku Rei?"


" Mengantar orang yang aku suka hendak menemui kekasihnya? Hahaha tentu tidak!! Nanti aku takut orang tuamu menganggap aku sebagai orang ketiga Dhei."


" Tentang aku Dhe?"


" Ya tentang siapa kamu sehingga tiba-tiba muncul dalam hidupku."


" Hemmm berarti hari ini aku harus berdoa semalaman agar kekasihmu itu tidak jadi datang menemuimu."


" Iiihhhh doamu jelek sekali?"


" Siapa bilang jelek, jelek itu kan dilihat dari sudut pandang dirimu Dhei, kalau dari sudut pandang diriku itu baik sekali."


" Hemmm terserah deh apa katamu. Ada apa kau menelfonku?"


" Aku hanya memastikan kau telah tiba di sana dengan selamat Dhei."


" Kau masih perduli denganku setelah aku menolakmu?"


" Tidak munafik Dhe, itu semua karena aku masih mengharapkanmu."


" Hehhh...kau masih ingat dengan jawabanku kan Rei?"


" Ya Dhei, kau tidak bisa berjanji kan?"


" Benar Rei, karena aku takut tidak bisa menepatinya."


" Bodohnya aku ya Dhei, kenapa tidak sedari dulu saat kau belum melanjutkan kuliahmu di London aku mendekatimu lagi."


" Lalu kenapa tidak kau lakukan?"


" Karena kupikir aku ingin merintis usahaku dulu, jika sudah benar-benar mapan aku akan menemuimu kembali dan langsung melamarmu, ternyata semua itu terlambat."


" Maaf ya Rei, bukan maksudku untuk mengecewakanmu."


" Ya Dhei, aku tau kok. Kapan kau kembali ke Indonesia?"


" Lusa aku baru akan kembali Rei."


" Ya sudah hati-hati ya Dhei, semoga kau mendapatkan yang terbaik ya?"


" Iya Rei terimakasih ya?"


" Sama-sama Dhei. Hati-hati ya di sana?"


" Iya Rei pasti itu." Jawab Dhea kemudian Reihanpun menutup telfonnya.


Dhea sebenarnya sangat iba dengan kejujuran mantan kekasihnya itu. Dia tidak menyangka sudah selama itu Reihan masih tetap saja mengharapkannya, padahal Dhea sudah membuang jauh-jauh perasaannya pada laki-laki tersebut beberapa tahun yang lalu saat mereka baru saja berpisah. Dia tidak mau mengingat-ingat lagi hubungan mereka berdua, karena keinginan Dhea yang begitu kuat untuk berhasil dalam studinya tanpa terganggu oleh hal apapun. Perlahan Dhea masuk ke dalam toilet karena ingin segera mengguyur badannya agar kembali segar dan menghilangkan rasa lelah di tubuhnya.