Something different

Something different
Menelfon orang tua Dhea.



Hari-hari Dhea mulai ribet dengan urusan minum obat, dan menjaga pola makan. Belum lagi dokter Sherli yang setiap hari datang ke rumahnya, mengecek perkembangan kesehatannya, juga tensi tubuhnya. Kegiatan Dhea mulai dibatasi dari segala hal, walau sebelumnyapun dia memang tidak pernah melakukan kegiatan yang merepotkan dirinya, namun setelah vonis Dokter Sherli tersebut, William jadi amat protektif terhadap istrinya. Namun bukannya membaik, tapi justru gejala lain mulai dialami Dhea. Mungkin karena Dhea sendiri tidak bisa tenang menghadapi kondisinya itu, sehingga tensinya tidak pernah stabil, dan akhirnya semakin memperparah keadaannya.


" Bagaimana dok tensinya?" tanya William saat Dokter Sherli sedang memeriksa tensi darah Dhea.


" Hehhhh...tekanannya naik lagi tuan."


" Kau jangan terlalu berpikir keras Dhe, kau ingin menyelamatkan nyawa anakmu kan? jika kau stres terus, percuma aku memberimu obat setiap hari." Kata Dokter Sherli sedikit keras, dan Dhea hanya diam saja.


William sangat tau bahwa setiap hari istrinya begitu cemas dibayang-bayangi oleh ketakutannya sendiri. Walaupun anjuran dari Dokter Sherli sudah dilakukannya, namun namanya perasaan tetap tidak bisa dipaksakan. Begitu juga perasaan Dhea yang begitu sedih memikirkan kelanjutan kehamilannya. Bahkan demi menjaga kondisinya, Dhea sering mengeram diri di dalam kamar.


" Lihatlah kakimu mulai bengkak-bengkak Dhe, juga tanganmu." Kata Dokter Sherli sambil memeriksa tubuh Dhea.


" Pleas bantu aku Dhe, relaxlah, anggap sedang tidak terjadi apa-apa pada dirimu ya."


" Dok saya sudah berusaha, tapi semakin saya berusaha melupakannya, saya semakin takut dok."


" Pasrahkan semua padaNya Dhe."


Dhea terus menundukkan kepalanya. Mungkin hanya dia saja yang tau bagaimana perasaanya. Terlebih jika ingat anaknya ini sangat diharapkan oleh keluarga besarnya, juga keluarga mertuanya. Dia takut jika mengecewakan mereka semua, dan itulah yang menjadi sumber pikiran Dhea.


Ya sudah aku pamit dulu, kita lihat perkembangannya satu minggu ini, aku harap Dhea tidak mengalami gejala yang lebih dari ini." Kata dokter tersebut sambil berdiri.


" Ya dok mudah-mudahan." Jawab William.


William mengantar Dokter Sherli keluar dari kamarnya.


" Tuan, aku hanya bisa memberi tempo waktu satu minggu lagi untuk melihat perkembangannya, atau Dhea bisa mengalami kejang-kejang dan aku tidak mau terjadi itu, karena efeknya bisa berbahaya sekali. Entah kenapa obatnya tidak bereaksi sama sekali?"


" Dok bagaimana jika dia dirawat di rumah sakit saja?"


" Terserah tuan jika memang Dhea bersedia. Namun aku juga tidak bisa menjamin."


" Kenapa bisa begitu dok?"


" Yang pasti banyak faktor penunjang, ini adalah kehamilan pertamanya dan biasanya banyak wanita yang terserang gejala tersebut di masa kehamilan pertamanya. Yang kedua, mungkin sistem imunnya memang sedang tidak baik, dan yang selanjutnya mungkin dia juga memiliki riwayat dari orang tuanya juga. Kemungkinan-kemungkinan itulah yang menyebabkan penyakitnya sulit untuk diatasi."


" Apakah anda sudah menanyakan perihal itu pada orang tua Dhea, tuan?"


" Belum dok, saya hanya mengharapkan semua bisa diatasi sehingga mereka tidak perlu tau."


" Sebaiknya anda memberitahunya tuan, jika memang ada riwayat tersebut, berarti kemungkinan besar Dheapun bisa mengalami eklampsia juga, dan kita langsung bisa mengambil tindakan sebelum semuanya terlambat."


" Ya dok, nanti saya akan menelfon orang tua Dhea."


Sepeninggal dokter tersebut, William lalu menghampiri Dhea kembali yang sedang terbaring di ranjang dalam kamarnya.


" Sayang, kau dengar kan kata-kata dokter tadi?" Dhea yang sedang terbaring langsung bangun dan duduk bersandar di atas kasurnya.


" Sayang aku mendengarnya, tapi aku juga tidak tau kenapa aku tidak bisa mengalahkan rasa takutku sendiri, apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Dhea, air matanya mulai menetes.


Saat suaminya dan Dokter Sherli tadi keluar, dia hanya terdiam sendirian. Merenungi kesalahan apa yang telah dia buat, sehingga mengalami hal seperti ini. Baginya ini adalah cobaan yang membuatnya sangat tertekan. Dia bahkan tidak bisa membayangkan, bagaimana reaksi papa mertuanya nanti jika mendengar berita ini.


" Sssttttt...sini, jangan menangis ya, aku tidak ingin kau terus-terusan bersedih. Ikhlaskan semuanya, ini ujian buat kita berdua. Jangan lupa, Dia pasti punya rahasia indah untuk kita. Kita harus bersabar ya."


" Iya sayang, aku berusaha ikhlas, namun aku hanya belum siap jika kehilangan anak kita."


William terus memeluk Dhea.


" Kau sekarang istirahatlah, aku akan menemanimu di sini." Kata William sambil melepaskan pelukannya, lalu membaringkan tubuh istrinya. William terus memeluk Dhea dalam dekapannya, melindungi tubuh istrinya, dan berusaha memberikan rasa nyaman pada hati istrinya, hingga orang yang begitu disayanginya itu terlelap. Kemudian William bangun pelan-pelan.


Hari ini juga dia berniat menelfon orang tua Dhea. Sebenarnya sudah lama dia ingin memberitahukan masalah tersebut pada mereka namun diurungkannya, terlebih semenjak Dhea bed rest di rumah, dia tidak pernah pergi kemanapun termasuk ke rumah orang tuanya. Mungkin hanya telfon biasa saja dan beralasan sibuk, namun mereka semua memang harus tau. Dan kesempatan ini juga dia ingin menanyakan perihal keguguran yang dialami mertuanya pada saudara Dhea dulu.


Dhea saat ini benar-benar takut untuk bergerak, karena mengkhawatirkan kondisi janinnya sendiri. Padahal Dokter Sherli tidak separah itu menyarankan padanya, namun entah kenapa Dhea justru seperti orang yang ketakutan, sehingga begitu berhati-hati, dan terkesan berlebihan.


" Assalamualaikum nak William." Sapa ibunya di seberang sana.


" Baru saja ibu membicarakan kalian berdua dengan ayah, sudah hampir dua minggu kalian tidak kemari. Apakah urusan pekerjaanmu sudah selesai nak?"


" Alhamdulillah bu."


" Oh iya bagaimana dengan Dhea? dia baik-baik saja kan?"


" Sebenarnya ini yang ingin saya bicarakan dengan ibu."


" Ada apa nak? kalian sedang ada masalah?"


" Iya bu."


" Ceritakanlah pada ibu."


William menarik nafas panjang, sebenarnya dia tidak ingin membebani pikiran mertuanya dengan kabar berita yang akan dia sampaikan, namun itu harus tetap dia sampaikan, karena lambat laun mereka juga harus tau mengenai kondisi anaknya sekarang. William juga butuh orang yang bisa memberi pengertian pada istrinya itu, jika hal yang paling buruk terjadi padanya,


dan keputusan menggugurkan janinnya harus dilakukan.


" Sebenarnya saya ingin menceritakan sejak awal pada ibu, tapi saya tunda karena saya berharap semuanya bisa berlalu dan kami lewati dengan mudah."


" Nak, sebenarnya kamu sedang berbicara apa?" ibu Dhea terdengar panik.


" Bu, saat ini Dhea menderita preeklamsia."


" Astagfirullah hal adzim...preeklamsia nak?"


" Iya bu...ibu tau?"


" Iya nak ibu sangat tau."


" Lho bukankah itu masih sangat asing di telinga orang awam? ibu tau darimana?"


" Ibu sangat tau, karena ibu pernah mengalaminya."


" Jadi ibu mengalami sendiri?"


" Iya nak, saat kehamilan pertama ibu. Sebenarnya saat hamil Dheapun ibu mengalaminya juga, tapi sedari awal ibu sudah mengantisipasinya jadi nyawa Dhea bisa diselamatkan. Itulah sebabnya kenapa setelah Dhea lahir ibu tidak mau hamil lagi, ibu trauma nak."


" Ya ya ya, jadi aku tau sekarang kenapa istriku bisa mengalaminya juga, ternyata karena faktor keturunan." Kata William dalam hati.


" Lalu bagaimana sekarang keadaannya?"


" Sebenarnya dokter sudah mengusahakan yang terbaik buatnya bu, tapi entah mengapa bukannya membaik justru semakin parah."


" Ya Allah jangan sampai Dhea mengalami seperti ibu." Gumam ibunya.


" Bu, saat ini saya ingin minta tolong pada ibu, untuk memberi pengertian pada Dhea. Berdasarkan perkembangannya, gejala yang dialaminya sudah semakin banyak, dan dokter hanya memberi waktu 1 minggu untuk melihat kondisi selanjutnya. Saya takut dia tidak mau mengikuti saran dokter, dan itu bisa membahayakan nyawanya sendiri."


" Ya nak ibu tau, nanti ibu akan ke sana. Ibu akan memberi pengertian padanya."


" Terimakasih banyak bu, maaf sudah menambah beban pikiran ibu. Tidak seharusnya saya melibatkan ibu dalam masalah rumah tangga saya."


" Tidak nak William, ibu juga berkewajiban untuk memberikan suport pada Dhea, dia pasti saat ini butuh itu."


" Ya sudah bu, saya tunggu kedatangan ibu."


" Iya nak, insyaallah nanti sore ibu ke sana."


" Terimakasih sebelumnya bu. Assalamualaikum."


" Wa'alaikum salam." Dan telfonpun ditutup.