Something different

Something different
Berita yang sangat mengejutkan



Saat sudah tiba di dekat kamar, ada keragu-raguan di dalam hati William untuk mengetuk kamar istrinya. Dia justru berdiri lama di depan pintu, sambil mengotak-atik handphonennya, melihat berkali-kali foto yang hendak diberikan pada istrinya itu. Dia merasa bahwa foto tersebut sangat tidak layak untuk diberitahukan, di saat kondisi istrinya yang masih belum stabil seperti ini. William membalikkan badan dan berjalan. Kemudian dia malah duduk di sebuah kursi panjang yang berada tidak jauh dari kamar inap istrinya sedikit lama, sambil mempertimbangkan kembali untuk menghapus foto itu atau tidak. Dia terus memandangi foto tersebut. Dia bisa saja beralasan seperti yang dipikirkannya tadi. Paling tidak dia bisa menunda sedikit waktu, agar istrinya tidak melihat foto tersebut. Akhirnya dengan penuh keyakinan dia hapus foto tersebut. Dengan sekali tekan, hilanglah gambar bayinya dari galeri handphonennya. Lalu dengan cekatan dia matikan handphone itu, agar istrinya percaya bahwa batrenya lemah.


Lalu dia berdiri kembali, namun baru saja hendak berjalan ke dalam kamar, tiba-tiba saja sesosok wanita yang sangat dikenalnya terlihat sedang menuju ke arahnya. Dia adalah Dokter Sherly, perempuan itu terlihat berjalan tergopoh-gopoh. William mengurungkan langkahnya, untuk menyambut dokter tersebut.


" Ada apa dengan Dokter Sherly? kenapa wajahnya terlihat tegang? apa yang terjadi dengan anakku?" Beribu pertanyaan mulai muncul di otak William.


" Tuan William? kenapa anda ada di sini?" Sapa dokter tersebut saat sudah di depan William.


" Aku baru saja melihat bayiku, dan Dhea memintaku untuk mengambil gambarnya, karena semenjak anak itu lahir, jangankan untuk memeluk atau menciumnya, memandang wajahnyapun dia belum sempat. Tapi aku tidak tega memperlihatkan gambar itu pada istriku dokter, istriku pasti akan langsung histeris melihat kondisi bayinya seperti itu." Jawab William sambil menunduk sedih.


" Sabar ya tuan. Semuanya memang tidak memungkinkan. Apalagi memberikan bayi itu pada istri anda. Karena kondisinya yang masih lemah, maka kami harus gerak cepat untuk segera menyelamatkan dia di dalam inkubator."


" Ya dokter, saya bisa memahaminya."


" Tapi tuan, apakah foto itu masih ada di dalam handphone anda?"


" Tidak dokter, aku sudah menghapusnya, aku tidak tega memberitahukannya pada istriku."


" Ya tuan itu keputusan bagus. Karena hal itu bisa membuat istri anda terbayang-bayang terus pada bayinya yang memang sangat memprihatinkan. Dan sebentar lagipun kami akan mengantarkan anak itu pada istrimu."


" Hahhh benarkah dokter? apakah kondisinya membaik sehingga sudah bisa dipertemukan dengan istriku? Jadi alat bantu pernafasan itu sudah bisa dilepas? dan dia bisa bernafas sendiri dengan normal dokter?" Tanya William antusias, raut wajahnya terlihat gembira, mungkin baru setengah jam lalu dia berdiri di depan ruangan bayinya, dan melihat bayi mungil itu menghirup udara dengan dibantu alat pernafasan, namun sekarang bayi tersebut hendak diberikan pada istrinya, dia bisa membayangkan bagaimana bahagianya istrinya nanti.


" Pasti ini sebuah mukjizat dari Tuhan!!!" seru William dalam hati.


Bukannya menjawab, Dokter Sherli malah tertunduk diam.


" Dokter kenapa anda tidak menjawab pertanyaanku??? ada apa dokter???" Saat melihat reaksi Dokter Sherli, William mulai panik. Kenapa bukan wajah senang yang ditunjukkan dokter itu? namun justru sebaliknya.


" Dokter kenapa anda diam???" sekali lagi William bertanya pada Dokter Sherli. Dokter Sherli mengangkat kepalanya, dokter itu mengucapkan kalimat yang sangat mengagetkannya, padahal suara Dokter Sherli sangat pelan, namun justru terdengar seperti petir yang menggelegar di telinga William.


" Semua peralatan kami lepaskan tuan, karena Tuhan lebih sayang padanya. Anak anda tidak bisa kami selamatkan." Mulut William langsung ternganga bengong mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Dokter Sherli, kalimat pelan meluncur dari bibirnya.


" Innalillahi wa innaillaihi rojiun...!!!" Spontan lutut William langsung lunglai. Dia terduduk lemas di kursi yang ada di belakangnya, sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


" Ya Allah ternyata kau memang sedang menguji kesabaran kami, apa yang menjadi harapan kami ternyata tidak kau kehendaki. Semoga kau terima arwah anak kami di sisiMu." Ucapnya lirih. Sebagai laki-laki tidak mungkin dia ingin terlihat menangis di depan orang lain walaupun itu berusaha disembunyikannya, namun tidak ada seorang ayah yang tidak bersedih saat kehilangan seorang buah hati.


" Anda harus kuat tuan, istri anda sangat membutuhkan suport dari anda." Kata Dokter Sherli yang melihat William sangat terpukul dengan kabar yang dibawanya.


" Ya dokter, saya sangat tau itu. Namun kenapa begitu cepat, baru setengah jam yang lalu saya melihatnya."


" Tapi itu pasti takdir yang terbaik untuknya tuan. Bukankah anda melihat sendiri bagaimana kondisinya, hanya untuk bernafas saja dia belum mampu. Dan semua itu pasti akan sangat menyiksanya. Ikhlaskan dia ya."


" Ya dokter, saya ikhlas, ikhlas lillahi ta ala." Sambil menarik kedua telapak tangan dari wajahnya yang terlihat memerah.


" Sekarang anak saya dimana dokter?"


" Lalu bagaimana istri saya bisa melihat dia untuk terakhir kalinya dokter?"


" Nanti kami akan menyerahkannya pada anda untuk dibawa pulang, dan saat itu istri anda bisa melihatnya. Sekarang kita kesana dulu untuk memberitahukan istrimu. Semoga dia bisa tabah."


" Ya Allah kenapa dia hanya bisa melihat tubuh anaknya yang sudah tidak bernyawa?" Jerit William dalam hati, sambil kembali menenggelamkan wajahnya menatap lantai yang sebenarnya sangat tidak menarik untuk dilihat.


Dokter Sherli tetap menunggu William yang berusaha untuk bisa mengontrol emosinya, karena laki-laki itu sangat dibutuhkan kehadirannya saat memberitahukan kabar buruk ini pada istrinya.


" Tuan, anda nanti bisa kuat kan, dan tidak ikut larut dalam kesedihan ini?" Tanya Dokter Sherli yang sedikit khawatir jika melihat istrinya nanti bersedih, Williampun ikut-ikutan bersedih dan malah tidak memberikan suport pada istrinya itu.


" Insyaallah saya kuat dokter. Saya hanya butuh waktu sebentar untuk menghilangkan kesedihan saya." Jawab William meyakinkan rasa kekhawatiran Dokter Sherli, terhadap seorang ayah yang baru saja berduka kehilangan anak pertamanya.


Perlahan William mengangkat kepalanya dan segera berdiri, lalu menarik nafas sejenak untuk menghilangkan kegundahan hatinya.


" Ayo dokter ke kamar istriku!!" Ajak William setelah dirasa cukup waktu buatnya untuk bisa mengontrol dirinya sendiri.


" Baik tuan, mari!!" Kemudian mereka berdua berjalan beriringan. Bagi William langkahnya saat itu adalah langkah kaki yang terberat. Padahal jarak antara tempat dia mengobrol dengan kamar tempat istrinya dirawat sangat dekat, namun baginya sangat mendebarkan, saat dirinya hampir tiba di depan kamar. William berhenti sejenak, ada keragu-raguan untuk mengetuk pintu di depannya.


" Tuan, kenapa anda tidak segera mengetuknya?" William diam saja dan tidak menjawab pertanyaan Dokter Sherli, dia justru menundukkan wajah, lalu menghirup nafas dalam-dalam seolah sedang mengumpulkan seluruh kekuatannya, untuk memberanikan diri mengetuk pintu kamar itu.


Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya dia mengetuk pintu tersebut. Kebetulan pintu memang sedang dikunci dari dalam, karena ibu mertuanya sedang membantu Dhea mengganti jilbabnya yang kebetulan sudah kotor.


Sang ayah yang kebetulan sedang duduk di sofa sambil menonton siaran televisi, memandang Dhea sebentar. Setelah dilihat, anaknya itu telah rapih dengan jilbabnya, dan tidak ada rambut yang terlihat lagi, kemudian ayah Dhea segera berdiri dari duduknya untuk membukakan pintu. Dilihatnya Williamlah yang datang bersama Dokter Sherli.


" Silahkan masuk dokter, maaf menunggu lama, karena kebetulan Dhea sedang mengganti jilbabnya, jadi pintu kamar saya kunci, takut ada perawat pria yang masuk."


" Iya pak tidak apa-apa."


" Hai Dhe bagaimana keadaanmu?"


" Ahhh dokter anda ini berbasa-basi, sudah tentu rasa sakitnya belum terasa, baru saja aku keluar dari ruangan operasi."


" Hehehe...kau ini, siapa tau tiba-tiba saja ada keajaiban, lukamu langsung kering dan sembuh. Bukan begitu bu?" Tanya dokter meminta persetujuan ibu Dhea.


" Hehehe...iya dokter, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak."


" Iya benar dokter tidak ada yang tidak mungkin. Tidak mustahil juga kan jika anakku nanti tiba-tiba bisa bertahan dengan usianya yang masih sangat muda itu, jika Allah juga berkehendak?" Kata Dhea sambil tersenyum seolah pertanyaan itu bisa diaminkan oleh Dokter Sherli.


William dan Dokter Sherli saling bertatapan, seolah keduanya sedang saling meminta pendapat, bagaimana cara menyampaikan berita yang sebenarnya tentang kondisi anaknya pada Dhea. Rasanya tidak sanggup jika melihat wajah polos Dhea yang sedang berharap besar untuk keselamatan bayinya itu, sedangkan yang sebenarnya saat ini bayi kecil yang tidak berdosa itu sudah tertidur lelap untuk selama-lamanya.


Heiiiii......pasti pada sebel bayinya meninggal ya🤭🤭 hihihi author juga pengen dia sehat n baik2 aja, tapi hidup itu kan kan ga semulus wajahnya Syahrini, kl semua fine2 aja kan ga seru n kurang greget gitu. So tetap tunggu kejutan cerita di episode selanjutnya yah....Stay healthy buat kalian semua. Semoga badai corona segera berlalu n puasa yang sebentar lagi tiba bisa membuat kita tetap khusuk menjalankannya amiin YRA.