Something different

Something different
Dhea sakit



Saat bangun tidur di pagi hari, kepala Dhea terasa pusing, badannya sedikit demam.


" Ahhh ini pasti akibat hujan semalam, sepertinya aku mau flu ", gerutu Dhea.


Tak berapa lama Dhea bersin-bersin. Dhea kemudian menelfon Bram temannya.


" Pagi Dhea."


" Pagi Bram."


" Hei suaramu sedikit aneh, kau sedang flu ya?"


" Iya Bram, semalam aku kehujanan saat pulang dari kerja."


" Kenapa kau tidak menelfonku?"


" Kau ini...aku kan pegawaimu, mana ada seorang pegawai menelfon bosnya minta diantar pulang, bisa-bisa teman yang lain iri denganku."


" Dhea Dhea kau ini selalu saja ada alasan untuk menolakku."


" Lalu apa yang bisa kubantu?"


" Aku hanya minta tolong, hari ini aku tidak pergi ke kampus, nanti tolong kau catat semua mata kuliah dengan baik ya, buat tulisan yang rapih, jangan seperti biasanya, aku pusing baca tulisanmu."


" Hahaha siap bos, kau ini sudah minta tolong masih menghina juga." Canda Bram.


" Hahaha kapan lagi aku bisa menghinamu Bram."


" Ya sudah istirahatlah, kau tidak ingin aku belikan obat dulu?"


" Tidak Bram, aku masih memiliki persediaan di kotak obatku."


" Ok Dhe semoga lekas sembuh ya."


" Iya Bram terimakasih."


Kemudian Dhea menutup telfonnya, dan dia kembali meringkuk di dalam selimutnya yang tebal.


Sementara itu William sudah menunggu Dhea di bawah flatnya. William tau semua jadwal kepergian Dhea ke kampus. Dan dia ingin tiba duluan sebelum Dhea keluar dari flatnya itu. Namun sudah menunggu lebih dari waktu yang ditentukan Dhea belum juga keluar.


" Kenapa dia belum berangkat juga? Apakah dia tidak pergi ke kampus? Bukankah ada 3 mata kuliah hari ini?" tanya William dalam hatinya.


William masih terus menunggu. Namun kesabarannya sudah habis, maka diputuskannya untuk menelfon Dhea.


" Tuuuutttt....."


" Tuuuuuutt...."


Ada nada sambung di sana, tapi tidak juga diangkat.


William menelfonnya lagi hingga tiga kali, namun Dhea tetap tidak mengangkatnya. Lalu William mengirimkan sms sambil sedikit mengancam seperti biasanya. Hingga beberapa menit menunggu, smsnya tidak juga dibalas. Ada perasaan khawatir dalam hati William.


" Biasanya dia takut jika aku sudah mulai mengancamnya, tapi kenapa dia bahkan tidak membalas smsku? Aku harus naik ke atas dan memastikan dia baik-baik saja."


William segera turun dari mobilnya, dan masuk melalui tangga yang ada di depan bangunan itu.


William belum pernah tau letak pintu kamar Dhea, namun berdasarkan informasi orang suruhannya, maka William dapat dengan mudah menemukan letak kamar Dhea. William langsung mengetuknya.


Tidak ada sahutan dari dalam. Williamnya mencoba mengetuknya lagi. Tetap tidak ada sahutan dari dalam.


Akhirnya William mencoba mengetuknya lebih keras sekali lagi, kali ini berhasil terdengar suara langkah kaki dari dalam mendekati pintu. Saat pintu terbuka, William melihat Dhea berdiri di depannya, sambil menggunakan jaket tebal yang membungkus rapat tubuhnya. Wajahnya kelihatan sangat pucat.


" Kau lagi? Ada apa kau kemari?" tanya Dhea, suaranya sedikit parau.


" Kau sakit Dhe?"


" Ya sepertinya aku mau flu ", jawab Dhea, tiba-tiba dia bersin di hadapan William.


" Hmm maaf, pergilah nanti kau tertular, aku ingin istirahat dulu."


" Aku belikan kau obat ya?"


" Tidak perlu Will, aku sudah meminumnya tadi."


" Kau sudah makan belum?"


" Pergilah!! Jangan banyak bertanya, kepalaku pusing aku mau tidur saja ", kata Dhea lagi.


" Dhe ak......". Belum selesai William berbicara, Dhea sudah menutup pintu kamarnya


" Heehhhh....benar-benar keras kepala."


Lalu William segera pergi meninggalkan kamar Dhea.


Sepeninggal William dari kamarnya, setengah jam kemudian nyonya christy mengetuk pintu kamarnya.


Kemudian Dhea membukakannya.


" Pagi Dhea..."


" Pagi nyonya."


" Hei kau sedang sakit ya?"


" Iya nyonya, aku sedang flu, anda tau darimana aku tidak ke kampus hari ini."


" Ya, biasanya aku sering melihatmu berangkat dari jendela kamarku sambil menikmati teh hangat, tapi sedari pagi tadi belum kulihat kau keluar dari bangunan ini."


" Iya nyonya, aku sedang tidak enak badan, mungkin karena tadi malam kehujanan."


" Kebetulan, ini aku bawakan soup sayuran hangat untukmu, aku yang memasaknya sendiri."


" Terimakasih banyak nyonya, kebetulan aku belum sarapan."


" Makanlah, biar badanmu segar lagi ya."


" Iya nyonya, ayo masuklah dulu ke kamarku."


" Tidak sayang, istirahatlah saja, aku juga ingin membereskan kamarku dulu."


" Ya sudah nyonya silahkan kalau begitu."


" Sampai nanti ya Dhe, semoga lekas sembuh."


" Terimakasih nyonya Christy ", kata Dhea lagi.


Kemudian Dhea membawa masuk mangkok besar berisi soup yang diberikan nyonya Christy. Diaduk aduknya soup tersebut, tidak ada alasan untuk membuang makanan itu, isinya semua adalah sayuran, dan itu berarti Dhea bisa memakannya.