Something different

Something different
William yang rapuh



Mike tetap mengawasi William dan Dhea dari jauh, dia belum melakukan apa apa, karena dilihatnya tidak ada sikap William yang membahayakan Dhea, walapun sebenarnya dia amat cemburu melihat kakaknya mendekati Dhea kembali. Namun Mike tidak bisa berbuat apa apa, Williamlah yang pertama kali mengenal Dhea, dan Williamlah yang pertamakali jatuh cinta kepada Dhe. Diapun tidak menyadari bahwa kedekatannya pada gadis itu akhir akhir ini membuatnya jatuh cinta kepada Dhea, sosok gadis yang membuatnya sangat kagum dengan kepribadian yang dimilikinya itu.


Tiba tiba saja handphonennya berdering. Dan Mike segera mengangkatnya, ternyata Bramlah yang menelfon.


" Hallo Bram ada apa kau menelfonku ?"


" Mike kau tau Dhe tidak ? dari tadi handphonennya kutelfon tidak aktif, tadi aku mampir ke toko, kata teman temannya dia hari ini tidak berangkat.


" Tenanglah Bram, saat ini Dhea bersama William, aku sedang mengikutinya, itu mereka berdua ada di depanku ".


" Dengan William..?? Dan kau membiarkannya ?? Jangan sembarangan Mike !! Kau bisa membahayakannya, William bisa melakukan apa saja untuk menyalurkan ambisinya ".


" Kau tenanglah Bram, tidak akan terjadi apa apa dengan Dhea, aku menjaminnya ".


" Mereka sekarang berada di mana ? biar aku menjemputnya ".


" Tidak perlu Bram, kau bisa mempercayaiku. Saat ini mereka berada jauh dari tempatmu. Sudahlah, biar aku saja yang mengatasi ini ".


" Ingat aku percaya padamu !! Jika terjadi apa apa pada Dhe, akulah orang pertama yang akan menghajar William ".


" Ok Bram, istirahatlah...Jangan terlalu mengkhawatirkannya ".


Kemudian Brampun menutup telfonnya, dan Mike tetap memperhatikan William dan Dhea dari kejauhan.


" Dhe..". Panggil William.


" Ya ".


" Maukah kau menemani aku mengobrol malam ini ? Saat ini aku benar benar rapuh, dan aku butuh kamu untuk menguatkanku Dhe ".


" Asalkan kau tau batasanmu Will ".


" Iya Dhe aku janji tidak akan macam macam ".


Kemudian William berdiri dari duduknya, perlahan dia berjalan. Dhea mengikutinya dari belakang. William terlihat menunduk, lalu mengambil sebuah batu kecil dan dilemparkannya ke arah lautan. Batu kecil itu tanpa bersalah terlempar jauh ke tengah akibat lemparan tenaga William yang begitu kuat. Batu itu seperti mewakili perasaan hatinya yang ingin membuang semua beban yang sedang dipikulnya.


" Lihat batu itu Dhe, setelah dia terlempar jauh ke tengah, tidak akan mungkin dia kembali ke pinggir lagi. Dan itu seperti hatiku Dhe, cintaku telah memilihmu untuk jadi pelabuhan terakhirku, dan tidak ada yang bisa membalikkan perasaanku sedikitpun, tidak juga Paula ".


Dhea hanya menarik nafas panjang berharap batu yang terlempar William itu kembali lagi, dan dia akan menunjukkan kepada William, bahwa tidak ada yang mustahil di dunia ini jika Tuhan sudah berkehendak. Begitu juga dengan hati manusia, mungkin saja saat ini William begitu dalam merasakan cinta terhadapnya, namun belum tentu 5 menit nanti perasaannya masih tetap sama, tidak ada yang bisa tau perubahan hati seseorang.


" Dhe...dulu saat aku kecil mama dan papaku sering mengajakku ke pantai ini, aku dan Mike berkejar kejaran di sepanjang bibir pantai sembari bermain air . Aku bahagia sekali, aku rindu masa itu Dhe, masa dimana aku bebas tertawa tanpa beban ".


Dhea hanya mendengarkan curhatan William sambil berjalan di sampingnya. Mungkin ini hal terbaik yang bisa dilakukan Dhea untuk menenangkan William. Lali laki itu terlihat sangat menderita.


Mereka terus berjalan menyusuri bibir pantai hingga matahari tenggelam. Dhea melirik arloji di tangannya.


" Will aku harus beribadah dulu, kau antar aku ya ?", kata Dhea.


Di sekitaran pantai itu memang tidak menyediakan tempat khusus untuknya beribadah, namun Dhea bisa melakukannya di sebuah bangunan terbuka dimana wisatawan biasa duduk duduk di sana. Setelah wudhu di toilet terdekat, Dhea segera mengambil peralatan Sholatnya, dan mencari arah kiblat dengan aplikasi di dalam handphonennya. William terus memperhatikan gerak gerik Dhea. Mata William tidak berpindah sedikitpun dari gerakan gerakan sholat yang dilakukan Dhea.


" Apakah gerakan gerakan dalam ibadahmu itu memiliki arti Dhe ? kenapa kau harus bersujud juga ?" Tanya William saat Dhe baru saja selesai sholat magrib.


" Hahaha apakah kau belum pernah melihat umatku beribadah sebelumnya ? bukankah di negaramu ini umat muslim sudah bertebaran ?"


" Ya Dhe aku tau, tapi aku tidak pernah menghiraukannya ".


" Kau tadi bertanya makna sujud dalam gerakan ibadahku kan ? Kau tau siapa yang paling tinggi di alam semesta ini ?"


" Tuhan Dhe ".


" Ya Tuhan, dialah yang menciptakan alam semesta ini dan semua isinya. Dengan bersujud secara alamiah kita mengakui bahwa sehebat hebatnya manusia, masih ada lagi yang lebih hebat yaitu Tuhan. Dan dengan bersujud kita menyerahkan sepenuhnya lahir dan bathin kita untuk menyembahnya, tiada yang lain yang kita sembah kecuali Dia Will. Kau paham sekarang ?"


" Ya Dhe aku paham. Sepertinya kau umat yang begitu taat menjalankan perintah agamamu ".


" Will, kita itu hanya manusia biasa, dan semua perbuatan kita di atas bumi ini akan dimintai pertanggung jawabannya. Dan aku takut suatu saat nanti Dia mengambil nyawaku, aku tidak memiliki sesuatupun untuk bekalku nantinya di sana. Mungkin ajaran agamamu dan agamaku berbeda tentang makna surga dan neraka, tapi pasti tidak terlalu jauh, bahwa Tuhanmu juga pasti meminta umatnya untuk berbuat baik bukan ?"


William hanya menundukkan wajahnya sembari menyelami hatinya.


" Kau harus menerima kenyataan, jangan membayangkan hal yang tidak mungkin Will ".


" Siapa bilang tidak mungkin, semuanya bisa jadi mungkin jika Tuhan mengijinkannya ".


" Ya, Will...tapi harus ada yang dikorbankan ".


" Cinta itu butuh pengorbanan Dhe ".


" Ya tapi pengorbanan yang seperti apa yang harus kita lakukan. Aku tidak sudi mengorbankan agamaku hanya untuk sebuah cinta ".


" Prinsipmu memang tidak bisa dirubah Dhe ". Gumam William.


" Ini bukan berbicara masalah prinsip saja Will, tapi lebih penting dari itu, dan kau tidak bisa memaksakan satu hal itu kepadaku. Kau paham !!" Kata Dhea sedikit emosi.


William menarik nafas panjang. Sepertinya semua itu memang berat untuk dijalaninya.


" Dhe kita makan dulu ya, ini sudah malam. Setelah itu aku akan mengantarmu pulang ".


Dhea hanya mengangguk. Perdebatannya dengan William tidak menemui titik temu. William tetap kekeuh dengan prinsip dan gaya hidupnya yang bebas, sedangkan Dhea tetap mempertahankan idealisme dia sebagai sosok muslim yang baik.


Mereka memilih sebuah restoran seafood yang tak jauh dari lokasi pantai. Suasana makan malam itu begitu syahdu, ditambah suara deburan ombak yang memecah kesunyian di sekitar lokasi, membuat William semakin dalam merasakan kepedihan hatinya.


Setelah selesai makan, William segera mengajak Dhea pulang. Dhea memilih tempat duduk di belakang seperti saat bersama Mike.


" Dhe kau tidak ingin naik di depan bersamaku ?"


" Kau ingin memaksaku lagi ?"


" Tidak Dhe, terserah kamu. Hanya biasanya saat bersamaku kau selalu duduk di depan ", jawab William.


Dhea akhirnya menurut dan pindah duduk di depan.


" Hhhhh laki laki ini kalau diberi hati selalu saja banyak maunya ", gerutu Dhea dalam hati.


" Kau tidak dengan terpaksa kan duduk di sini ?" Tanya William saat Dhea sudah di sampingnya.


" Sedikit sih...hanya saja aku ingin ini jadi kado dariku untuk pernikahanmu besok ".


" Begitu ya ? Hhhmm bolehlah ", jawab William.


Perjalanan pulang kali ini William tidak banyak bicara. Dia begitu menikmati moment kebersamaan mereka, dan seperti tidak ingin berpisah dengan Dhea. Mike tetap mengikuti mereka berdua, hingga kendaraan William mulai berbelok ke arah tempat tinggal Dhea. Dan berhenti tepat di depannya.


" Dhe...", panggil William saat Dhea akan turun.


" Ya ".


" Bolehkah aku memandangmu sebentar sebelum kau masuk ?"


" Memandangku ? bukankah sedari tadi kau tidak berhenti henti memandangku ?"


" Iya Dhe...tapi rasanya begitu berat melepaskanmu, aku takut tidak sanggup hidup bersama Paula nantinya ".


Wajah William begitu pilu. Tidak ada keceriaan di sana sedikitpun. Dhea kali ini benar benar iba melihat nya. Rasanya Dhea ingin menitikkan air mata, menyaksikan sendiri betapa William seperti sesosok pria yang tidak berdaya di hadapannya.


" Will pulanglah...aku akan mendoakanmu agar hidupmu selalu bahagia ".


" Dhe maaf..bolehkah aku memegang tanganmu sebentar saja ?


Dhea sedikit ragu, apakah yang akan dilakukan William terhadap dirinya ? Namun perlahan lahan dia mengulurkan satu tangannya ke arah William. Dan William kemudian menggenggamnya erat. Tangannya begitu halus dan dingin, seperti sedang menahan sebuah emosi yang tidak bisa diluapkannya. Tiba tiba saja William mencium tangan Dhea begitu lama, dan Dhea merasakan ada bulir hangat di tangannya. Dan itu air mata William. Perlahan William melepaskannya, matanya terlihat sedikit basah.


" Masuklah Dhe...aku akan pergi setelah kau merasa aman berada di dalam kamarmu ". Kata William.


William membuang pandangannya ke depan seolah tidak ingin melihat kepergian Dhea.


Dhea segera masuk ke kamarnya, dan entah kenapa tiba tiba air matanya jatuh saat menyaksikan William pergi meninggalkan flatnya.