
Sore harinya setelah pulang dari makan siang bersama Bram, Dhea terlihat asyik membersihkan kamarnya, namun tiba-tiba ada seseorang yang memencet bel kamarnya. Dhea segera berjalan dan meraih jilbabnya, lalu dia langsung keluar untuk membuka pintu. Dilihatnya seorang pria berdiri di depan pintu kamarnya. Dari seragam yang dipakainya, Dhea tau bahwa itu pasti salah seorang pegawai William yang ada di rumahnya.
" Maaf ada perlu apa ya anda kesini?" Tanya Dhea pada pegawai itu.
" Saya suruhan Tuan William nona." Jawab pegawai tersebut.
" Ya aku sudah tau dari seragammu." Jawab Dhea.
" Tuan mengantar ini untuk anda nona." Kata pria itu.
" Apa ini?" Tanya Dhea.
" Anda buka saja nona." Kata pria itu sambil menyerahkan sebuah amplop pada Dhea.
Kemudian Dhea menerima amplop tersebut, kemudian membukanya. Dilihatnya sebuah tiket pesawat dengan tujuan Indonesia tersembul di balik amplop itu.
" Tiket pesawat?" Gumam Dhea.
" Iya nona Tuan William menyuruh saya memberikan tiket pesawat untuk anda."
" Apa maksudnya? Apa dia ingin mengusirku dari sini?"
" Anda jangan salah paham nona. Tuan William mengatakan padaku, katanya tanggal 30 anda akan kembali ke Indonesia, makanya Tuan William langsung memesankan tiket untuk anda."
" Hehh...tau darimana dia bahwa aku akan pulang tanggal 30?" Tanya Dhea dalam hati.
" Bawa pulang saja kembali, aku tidak membutuhkannya, katakan pada tuanmu aku masih memiliki uang untuk membeli tiket sendiri. "
" Tolong anda terima saja nona, jika tidak pasti Tuan William bisa memarahiku."
" Hehhh...mudah sekali dia marah dengan orang lain." Gerutu Dhea.
" Ya sudah kembalilah, terimakasih sudah merepotkan anda!" Kata Dhea karena merasa kasihan melihat mimik pria di depannya itu.
" Ya nona sama-sama." Kemudian pria itu langsung pergi meninggalkan apartemen Dhea.
Dhea bertanya-tanya dalam hati siapa sebenarnya yang telah memberitahukan jadwal keberangkatannya pada William? Padahal Dhea sengaja tidak ingin memberitahukan William bahwa dia sebentar lagi akan kembali ke Indonesia.
" Oh iya, hanya satu orang yang aku beritahu. Bram!! Pasti Bram yang memberitahukannya!" Gumam Dhea.
" Aku harus menanyakan padanya sekarang!" Kata Dhea lagi, kemudian segera menelfon Bram.
" Hallo Bram!" Sapa Dhea saat Bram baru saja mengangkat handphonennya.
" Hallo Dhe, ada apa kau menelfonku?" Tanya Bram.
" Aku ingin bertanya, apakah kau yang memberitahukan kepada William perihal kepulanganku?" Tanya Dhea.
" Iya Dhe, kok kamu tau?"
" Bram...Bram...kenapa kau mengatakannya padanya? lihatlah sekarang dia mengirimiku tiket pesawat kembali ke negaraku."
" Lho...kebetulan kan Dhe, uangmu tidak jadi berkurang." Jawab Bram bercanda.
" Ihhh kau ini malah bercanda, aku kan memang ingin merahasiakan kepulanganku ini padanya."
" Kenapa Dhe? Tanpa aku memberitahukannya, kau baru keluar dari kamarmu saja William akan segera tau dari seluruh pegawai di apartemennya."
" Tapi kan tidak secepat ini Bram."
" Ahhh..kau jangan sok tau ya." Jawab Dhea.
" Hahaha...kau tidak bisa membohongiku Dhe."
" Jadi kau memang sengaja menelfonnya ya?"
" Tidak."
" Lalu?" Tanya Dhea lagi.
" Williamlah yang menelfonku."
" Kenapa bisa begitu?"
" Kemarin ketika aku baru saja mengantarmu pulang dia langsung menelfonku."
" Dia tau kau bersamaku?"
" Bukan William namanya jika tidak mengetahui semua gerak gerikmu Dhe."
" Hehhh...aku pikir dia sudah tidak perduli denganku." Gerutu Dhea."
" Apa Dhe katamu?" Tanya Bram kembali.
" Tidak, aku tidak bicara apa-apa." Jawab Dhea.
" Hehehe kau pikir aku tidak mendengar gerutuanmu."
" Memangnya kau dengar apa?"
" Aku mendengar ada seorang wanita yang sebenarnya masih cinta tapi malu mengakuinya."
" Hehhhh...kau ini menggodaku terus." Kata Dhea sambil menahan malu.
" Jadi besok kau akan diantar siapa ke bandaranya?"
" Kenapa kau menanyakannya sekarang? Bukankah masih dua minggu lagi jadwal kepulanganku? Kita kan masih bisa bertemu lagi Bram."
" Hahhh....kemarin saja William sudah menegurku, aku tidak mau lagi dia kembali menelfonku saat tau kau bertemu denganku."
" Lalu maksudmu besok kau akan mengantarku ke bandara begitu?"
" Hahaha....mana mungkin Dhe, jangan- jangan nanti William sendiri yang akan mengantarmu."
" Tidak, aku memilih naik taksi saja seandainya dia mengantarku."
" Dasar kau ini keras kepala juga ternyata." Kata Bram kemudian.
" Aku mungkin akan langsung ke bandara saja, yang penting kau beritahuku tentang jadwal keberangkatanmu." Kata William lagi.
" Ya...kalau aku tidak lupa." Jawab Dhea.
" Jika kau lupa aku yang akan mengingatkanmu satu hari sebelum jadwal kebeeangkatanmu ya."
" Hehhh...kau ini." Gerutu Dhea.
Maaf...ya...dikit banget upnya.. lagi buntu nihhh....nggak konsen menyusun kata-kata...tar ya masih cari wangsit dulu biar bisa mengarang indah lagi🤭🤭