
Liburan Dhea sudah berakhir satu bulan lebih. Hampir setiap hari William mengunjungi Dhea. Semenjak orang tuanya tau bahwa Dhea memiliki hubungan dengan William, mereka semakin gencar menelfon anak semata wayangnya itu hanya sekedar menanyakan kabarnya.
" Orang tuamu telfon lagi Dhe?" Tanya William saat malam itu sedang bersama Dhea duduk di sebuah restoran yang berada di samping apartemennya, sambil menikmati makanan ringan.
" Iya Will." Jawab Dhea sambil meletakkan handphonennya di atas meja setelah orang tuanya mengakhiri pembicaraan mereka.
Dhea mengaduk aduk minuman di dalam gelasnya yang isinya hampir habis.
" Kau mau tambah minumanmu sayang?"
" Tidak usah Will." Jawab Dhea singkat.
" Semester ini kamu sudah mulai membuat tesis kan Dhe?" Tanya William.
" Iya Will, kenapa?"
" Kau sudah menyiapkan semuanya?"
" Sudah Will, tenang saja. Kenapa kau ingin aku segera kembali ke negaraku?" Tanya Dhea sedikit sinis.
" Bukan begitu sayang, kenapa kau sensitif sekali? Aku hanya ingin tau saja, dan jika kau butuh sesuatu katakan saja padaku." Jawab William.
Dhea diam saja, sebenarnya Dhea sama sekali tidak berniat bersikap sinis pada William, bahkan dia iba pada pria di depannya karena selalu jadi sasaran kemarahannya. Hanya saja dia merasa terintimidasi karena orang tuanya yang hampir setiap hari menelfonnya. Dhea tau mereka sangat mengkhawatirkannya, namun sikap mereka membuat Dhea semakin tertuntut untuk cepat membuat keputusan.
" Hehhhh....." Dhea menarik nafas panjang.
" Will, pulang yuk!" Ajak Dhea, dia jadi tidak bersemangat menikmati makanan di depannya.
" Katamu tadi ingin duduk santai di sini dulu?" Tanya William.
" Moodku sudah hilang Will." Jawab Dhea sembari berdiri meninggalkan kursinya.
Setelah membayar makanannya William segera mengejar Dhea.
" Tunggu sayang." Kejar William.
Dhea berhenti sebentar, lalu berjalan lagi setelah William berhasil mengejarnya.
Sementara itu sepasang mata sedang memperhatikan gerak gerik mereka, ada sebuah senyuman sinis tersungging di sudut bibirnya.
" Hehhhhh.....!!!" Gumam Dhea sambil melempar tubuhnya di atas sofa setelah dia berada di apartemennya.
" Sayang kenapa sih tiba-tiba moodmu berubah buruk begini?" Tanya William sambil duduk di sebelah Dhea.
" Tidak apa-apa Will, aku sedang merasa bosan saja."
" Bosan denganku?" Tanya William.
" Tidak, bosan dengan diri sendiri saja." Jawab Dhea lagi.
" Jika kau butuh waktu untuk sendiri, aku akan pulang sekarang Dhe."
" Tidak Will temani aku dulu." Pinta Dhea.
" Dhe aku tau kau pasti merasa tertekan karena setiap hari orang tuamu menelfonmu bukan?"
" Dhe aku tau apa yang sedang kau rasakan, tidak usah berpura-pura lagi."
" Jadi aku harus bagaimana Will? Coba kau beri aku solusinya?"
" Kita keluar yuk Dhe jalan-jalan, agar pikiranmu bisa fresh kembali."
" Apa cuma itu yang bisa kau lakukan padaku Will?"
" Maksudmu Dhe?"
" Will masalah kita itu tidak akan mungkin selesai setelah kita pulang dari jalan-jalan nanti. Masalah kita itu bukan sebuah masalah untuk menghilangkan kepenatan karena rutinitas kerja yang hanya dipakai jalan-jalan lalu fresh kembali."
" Lalu apa yang bisa kulakukan untukmu sayang?"
" Buatlah keputusan Will, buat keputusan untuk hubungan kita berdua!! Sudah satu bulan lebih dari waktu yang telah kau janjikan, tapi hingga saat ini kau belum ada tanda tanda untuk menuju ke sana."
" Dhe, kau tidak bisa memaksaku seperti ini!!"
" Ok kalau kau tidak mau kupaksa, maka aku yang akan buat keputusan Will."
" Maksudmu Dhe?"
" Kita sekarang lebih baik berpisah Will."
" Tidak Dhe, ini belum akhir waktu yang ditentukan!!"
" Sama saja Will!! Sekarang, besok atau lusa itu tidak ada bedanya, akhirnyapun kita akan begini!!"
" Tidak Dhe, aku tidak akan meninggalkanmu sekarang!!"
" Pergilah Will!! Aku ingin sendiri!!"
Kata Dhea sembari berdiri dan hendak masuk ke dalam kamarnya. Namun William segera menarik tangannya.
" Dhea....dengarkan aku!! Dengarkan!!! Kata William sambil memegang pundak Dhea dengan kedua tangannya.
" Kamu akan mengatakan apa lagi Will? Mengatakan bahwa kau masih bingung dengan dirimu sendiri? Begitu kan? Kalimat Itu sudah aku dengar saat kita berdua berada di Indonesia Will, dan sekarang kau akan mengulanginya lagi kan?"
" Tenanglah Dhe, ayo duduklah lagi." Kata William berusaha menenangkan Dhea.
Dhea menuruti kata-kata William, dia duduk di atas sofa yang ada di belakangnya, dan menaikkan kedua kakinya kemudian menelungkupkan wajahnya di atas lututnya.
" Will aku lelah, lelah sekali. Aku harus bagaimana Will?" Kata Dhea sambil mulai terisak.
William diam saja karena tidak tau harus menjawab apa pada Dhea, dia hanya membelai kepala Dhea dengan tangannya mencoba menenangkan gadis itu.
" Will mungkin benar, aku harus belajar untuk mengikhlaskanmu ya?"
" Seharusnya aku bahagia setelah kita putus nanti hidupku akan kembali normal seperti dulu. Tidak ada lagi laki-laki menyebalkan yang setiap hari selalu menggangguku dengan kehadirannya, melarangku pergi kemana-mana tanpa dia, yang setiap hari selalu cerewet menyuruhku makan banyak agar tubuhku gemuk, yang selalu cemburu saat ada seorang pria mendekatiku. Bukankah itu sangat menyenangkan Will? Seharusnya aku bisa bebas naik turun bis kembali setiap hari, bisa bebas mencium asap kendaraan saat berdiri di depan halte bersama orang-orang lainnya. Ya kan Will? Tapi ada apa denganku, mengapa justru aku begitu sulit untuk memulai itu semua, dulu aku tidak mengenalmu, bahkan sangat membencimu, tapi kenapa sekarang aku begitu berat berpisah denganmu Will, katakan padaku kenapa Will? Kau bisa memberi jalan keluar padaku Will?" Kata Dhea sambil terisak dan menggoyang goyangkan tubuh pria di depannya memaksa dia memberikan jawaban atas pertanyaanya.
Hanya satu kalimat yang saat itu bisa diucapkan oleh William, dan itu justru membuat Dhea semakin terisak.
" Dhe, aku sangat mencintaimu." Ucap William pelan sambil menahan sesak di dalam dadanya seperti sebuah bom waktu yang hampir meledak.