Something different

Something different
Keluar dari rumah sakit



Keesokan harinya Dheapun sudah boleh pulang. William membantu Dhea turun dari ranjangnya.


" Aku bisa jalan sendiri Will, tidak usah membantuku !!" Jawab Dhea ketus, sebenarnya beberapa luka di tubuhnya masih terasa nyeri, apalagi benturan di punggungnya kemarin. Namun tetap ditahannya agar Wiliam tidak mengetahui itu dan semakin sering mengawasinya.


" Baik...Pelan pelan saja Dhe, lukamu masih belum terlalu kering ".


" Aku tau, aku yang merasakannya sendiri, bukan kamu ".


" Hehhhh....", William menarik nafas panjang, dia melihat Dhea masih seperti kesulitan untuk berjalan sendiri, namun gadis itu tetap keras kepala untuk tidak menerima bantuannya.


" Suster tolong ambilkan kursi roda saja ya ". Kata William sambil berbicara pada suster di sebelahnya.


" Tidak usah sus, aku masih bisa jalan sendiri ". Jawab Dhea lagi.


" Ambil saja sus, aku tidak mau terjadi apa apa dengan dia ".


" Baik tuan ", jawab suster itu.


" Kau ini semaunya sendiri ". Kata Dhea lagi.


" Kecuali kau mau kubantu untuk berjalan Dhe ".


" Hehhh...tidak !! suruh suster itu sedikit cepat !!" Jawab Dhea ketus.


William hanya tersenyum melihat reaksi Dhea. Tak lama kemudian suster itu telah tiba sambil membawa kursi roda. Setelah membantu Dhea naik ke atas kursi roda tersebut, dia langsung mendorongnya.


" Biar saya saja yang mendorongnya sus ", kata William.


" Silahkan tuan ".


William mendorong Dhea hingga menuju mobilnya.


" Will aku ingin ke flatku sebentar ". Kata Dhea saat sudah berada di dalam mobil.


" Untuk apa ? Semua barangmu sudah tidak ada disana, anak buahku sudah memindahkannya kemarin !"


" Bukan itu ! Aku hanya ingin berpamitan dengan Nyonya christy tetanggaku dulu, aku tidak ingin dia kebingungan mencariku, karena aku belum bilang padanya ".


" Kau bisa menelfonnya nanti, bukankah tubuhmu juga masih sakit ?"


" Tidak, itu kurang menghargainya William, dia sudah kuanggap seperti ibuku sendiri di sini !"


" Pleasss....!!"


" Hahaha manis sekali jika kau sedang memohon seperti itu Dhe, baiklah aku akan mengantarmu ".


Lalu William terus memacu kendaraannya menuju tempat tinggal Dhea yang lama.


" Kamu tunggu disini saja, aku cuma sebentar ". Kata Dhea,


" Aku akan ikut denganmu ".


" Aku tak akan lama Will ".


" Tidak apa, aku akan tetap ikut ".


" Hehhhh...ngeyel ", gerutu Dhea.


" Terserah kau saja ", kata Dhea sambil susah payah berjalan menuju kamar Nyonya Christy.


" Nyonya Christy..." panggil Dhea sambil mengetuk pintu kamarnya.


Perlahan pintu kamarnya Nyonya Christypun dibuka dari dalam.


" Hai sayang ".


" Hai nyonya, maaf mengganggumu ".


" Oh tidak sayang aku sedang santai di dalam, masuklah ".


" Tidak nyonya, dia tidak mau terlalu lama menungguku ".


Sambil melirik ke William.


" Aku hanya ingin berpamitan, mulai hari ini aku tidak tinggal disini lagi ".


" Aku tau sayang, kemarin ada beberapa orang yang membereskan barang barangmu, dan berkata kau akan pindah ke tempat yang lebih baik ".


" Sebenarnya aku betah disini dan sangat senang bertetangga denganmu, tapi...."


" Tidak sayang pasti disana jauh lebih baik daripada disini, percayalah !"


" Iya nyonya, semoga ".


" Semoga kau akan mengingatku selalu ya nyonya ?"


" Aku pasti tidak akan pernah melupakanmu sayang ", sembari memeluk Dhea..


" Silahkan sayang, kapan saja kau butuh menelfonku kau tak perlu sungkan ".


" Nyonya sebenarnya ada yang ingin aku ceritakan pada anda, tapi nanti saja ya di telfon, aku tidak mau laki laki itu mendengarnya ". Bisik Dhea pelan.


" Ya sayang, telfonlah aku jika kau sudah tidak bersamanya lagi ".


" Ya nyonya ", jawab Dhea singkat.


" Terimakasih nyonya, kami pamit dulu ".


" Hati hatilah di sana nak ".


Lalu William dan Dheapun segera pergi.


" Kau sepertinya sedih sayang ?" Tanya William saat mereka sudah di dalam mobil.


" Aku hanya sedang merasa kehilangan teman ".


" Apakah kau mau jika dia juga kupindahkan di dekat apartemenmu ?"


" Tidak Will, kau tidak boleh memaksanya, belum tentu dia mau ".


" Jika dia mau ?"


" Aku yang tidak mau ".


" Kenapa ?"


" Karena aku tidak mau memikirkan diriku sendiri ".


" Memangnya kamu, sukanya memaksakan kehendak ". Gumam Dhea.


" Ya sudahlah jika kau tidak bersedia, jangan menggerutu begitu, gemas aku melihatmu seperti itu ". Kata William lagi sambil tersenyum melirik Dhea.


Dhea hanya cemberut saja dan tidak menggubris omongan William sedikitpun.


Tak lama kemudian mobil William sudah memasuki halaman parkir sebuah apartemen. Entah ada berapa tingkat jumlahnya, yang jelas begitu tinggi sehingga kepala Dhea tidak bisa melihat ujung apartemen tersebut dari posisi berdirinya sekarang. Dhea dan William langsung masuk ke apartemen itu, dan menuju kamar yang telah disediakan untuk Dhea.


" Aku memberikan tempat yang terbaik di bangunan ini untukmu, letaknya ada di lantai dua, jadi kau tidak terlalu lelah jika turun naik ke bawah ".


Dhea hanya diam saja, dan terus mengikuti William yang berjalan di sampingnya.


Dhea segera masuk ke dalam kamar itu, dan melihat sekeliling kamar barunya. Begitu mewah, mulai dari furniture, elektronik, serta peralatan lainnya sepertinya bukanlah barang murahan.


" Mungkin kau belum terbiasa disini, tapi lama kelamaan pasti kau akan betah ". Kata William.


" Kau tinggal menekan telfon yang ada di meja itu jika ada yang dibutuhkan, pegawaiku akan menyediakannya untukmu, aku sudah memberitahu mereka semua bahwa ada wanitaku di sini".


Dhea hanya diam saja, dia benci sekali sebutan itu.


" Sejak kapan aku sudi menjadi wanitanya ", kata Dhea dalam hati.


" Sekarang kau istirahatlah, jangan lupa minum obatmu ya, nanti malam aku kemari ".


Kemudian William meninggalkankan Dhea sendiri di apartemen ini.


Sebenarnya kamar barunya ini jauh lebih luas dan lebih bagus dari tempat tinggal Dhea sebelumnya, namun dia masih belum nyaman saja karena harus beradaptasi kembali dengan orang orang disini.


Tiba tiba perut Dhea sangat lapar, dia segera menekan nomor yang ada di dekat meja telfon dan memesan makanan.


Tak lama kemudian pintu kamar ada yang mengetuk, dilihatnya ada seorang wanita di depan kamar Dhea dari lubang pintunya.


.


" Selamat siang nona, ini pesanan anda ".


" Terimakasih banyak ".


" Anda cantik sekali nona, pantas saja bos kami tertarik pada anda ".


" Hahaha anda bisa saja, kami hanya berteman ".


" Tapi Tuan William mengatakan kepada kami ada kekasihnya di kamar ini, dan kami harus memberikan pelayanan yang terbaik untuk anda ".


" Ahhh dia itu memang selalu berlebihan ". Jawab Dhea.


" Ya sudah nona saya pergi dulu, semoga anda senang tinggal disini, jika anda butuh apa apa, jangan sungkan sungkan menghubungi kami ".


Dhea tersenyum sambil mengangguk, kemudian pegawai itu segera pergi.


" Sejak kapan William menganganggap aku sebagai kekasihnya ? dasar sakit ". Bathin Dhea


" Bahkan aku merasa dia tidak memperlakukanku seperti kekasihnya, tapi justru seperti tawanannya". Gerutu Dhea. Kemudian dia segera menghabiskan makanan yang baru saja dipesannya tadi.