
Sekembalinya Dhea ke Indonesia, dia langsung bekerja di kampusnya dan menjadi salah satu dosen muda di kampus itu. Paras wajah Dhea yang cantik juga cerdas, banyak membuat orang tertarik. Begitu juga mahasiswa laki-lakinya yang terkadang suka iseng menggodanya. Namun itu semua tidak membuat pertahanan iman Dhea goyah untuk lupa dengan janjinya terhadap William.
" Dhe."
" Iya San"
Panggil seorang teman dosen lain yang usianya tidak jauh darinya.
" Kamu dapat salam dari Pak Nae."
" Pak Nae? Pak Naelendra dosen matemematika itu maksudmu?"
" Iya, tapi aku lebih suka memanggil dia Nae, terkesan lebih modern dibanding Endra." Jawab Sandra teman satu kantornya yang amat menjunjung tinggi jiwa kebarat baratannya, dan paling tidak menyukai segala hal yang berunsur tradisional.
" Hehhh...modern sih modern, cuma kamu baru saja membuatku bingung dengan panggilan baru itu."
" Hahaha makanya kau harus hidup lebih kekinian lagi Dhe. Lihatlah baju-bajumu, riasan wajahmu, semuanya terkesan biasa sekali. Kau tidak ingin merubah semuanya agar terlihat lebih modis?"
Dhea hanya diam saja, sebenarnya bukan gaya berpskaian Dhea yang salah, namun cara pikir temannya itu yang krang benar. Apalagi melihat penampilan temannya yang glamor dan salah tempat, terkesan seperti hendak pergi ke pesta dibandingkan mengajar di kampus. Namun dia tidak mau berdebat, padahal gara-gara penampilan Dhea yang tidak dibuat-buat itu, ada seorang milyader yang sedang menantinya di negara yang tak kalah modernnya dengan cara berpikir temannya itu, dan Dhea yakin jika temannya tau dia memiliki kekasih sekeren William, pasti temannya itu tidak akan berani mengatainya lagi.
" Hei Dhe kok malah melamun sih." Tegur Sandra.
" Oh maaf San."
" Bagaimana salam kembali tidak?"
" Jawab saja Wa'alaikum salam."
" Jadi artinya kembali nih?"
" Tidak perlu kau menjelaskan padanya, jawab saja seperti itu." Kata Dhea lagi.
" Dhea...Dhea wajahmu itu cantik, mana pintar lagi. Seandainya saja kau di make over sedikit saja, bukan hanya orang-orang seperti Pak Naelendra yang mengirim salam padamu."
" Maksudmu?" Tanya Dhea.
" Orang-orang seperti Pak Naelendra itu adalah orang-orang yang membosankan, bertampang serius, dan sangat tidak asik untuk diajak bercanda. Tapi jika kau mau sedikit saja berias, yang mendekatimu itu justru laki-laki keren, bertampang macho dan tidak menjemukan yang akan berebutan mendapat perhatianmu Dhe, seperti kekasihku Daren."
Dhea hanya tersenyum saja menanggapi ocehan temannya itu. Padahal dia sedang tertawa dalam hati, Daren memang keren, Daren memang macho, tapi apa Sandra tidak tau jika Daren itu termasuk pria hidung belang, bahkan jika secara tidak sengaja Dhea berpapasan dengan Daren, mata laki-laki itu tidak bisa lepas memandangi dirinya seperti hendak menelanjanginya, bahkan berani menggodanya.
" Hehhh...bisa makan hati jika aku punya kekasih seperti Daren." Gerutu Dhea dalam hati.
Itulah salahnya orang-orang dalam memilih pasangan hidup, terkadang mereka hanya memikirkan fisik luarnya saja, padahal itu hanya menyenangkan secara lahir, dan belum tentu secara bathin. Wajah yang rupawan dan fisik yang sempurna tidak bisa menjamin kebahagiaan rumah tangga jika tidak diimbangi dengan perangainya yang juga baik, dan itu semua justru bisa membawa masalah.
" Ya sudah Dhe, aku masuk ke kelas dulu, mahasiswaku bisa ribut jika dosen idolanya ini sampai tidak hadir." Kata Sandra begitu percaya diri.
" Ya silahkan San." Jawab Dhea.
Sepeninggal Sandra, Dhea kembali sibuk memeriksa tugas-tugas mahasiswanya yang menumpuk di meja kerjanya. Namun sedang asyik-asyiknya Dhea berkutat dengan lembaran-lembaran kertas di tangannya, tiba-tiba handphonennya berdering. Dilihatnya sebuah nomor asing menelfonnya, dan dia berfikir bahwa itu adalah mahasiswanya.
" Hallo!" Sapa Dhea.
" Hallo."
Dhea sedikit mengernyitkan dahinya, dari suaranya dia sangat kenal suara pria di seberang sana, namun Dhea tidak mau terlalu cepat menebak.
" Maaf ini siapa ya?" Tanya Dhea seolah ingin pria itu sendiri yang mengakui jati dirinya.
" Ternyata kau sudah melupakanku!" Jawab Laki-laki di seberang sana.
" Maaf kalau saya lupa, saya hanya takut salah menebak saja." Jawab Dhea.
" Hehhh...kau belum berubah ya Dhei, sangat teliti dan hati-hati."
" Jika aku tidak salah, kau orang sangat kukenal bukan?" Tanya Dhea memastikan.
Dhea langsung menarik nafas, ternyata benar dugaannya, dia adalah Raihan mantan kekasihnya saat di SMU dulu, dan Dhea sering memanggilnya Rei.
" Aku tau siapa kamu, hanya satu orang yang memanggilku dengan sebutan Dhei..."
" Hahaha, aku terlalu cepat untuk memberikan clue kepadamu."
" Reihan...Bagaimana kabarmu?" Kata Dhea sumringah.
" Alhamdulillah baik Dhei, kau sendiri?"
" Kau pasti bisa menebaknya dari suaraku kan?"
" Hahaha aku sangat tau walaupun hanya dari telfon Dhei."
" Kau tau darimana nomor telfonku Rei?"
" Semenjak kau pulang dari London, grup medsos ramai, katanya sang bintang kelas sudah kembali ke kandangnya, dan mengajar di almamatermu." Kata Reihan sambil tersenyum.
" Kau ini berlebihan sekali." Jawab Dhea.
" Ya Dhe, aku banyak memiliki teman dosen di sana. Bahkan saat kutanya nomormu, dengan mudah aku bisa mendapatkannya, karena ternyata kau cukup mencuri perhatian di kalangan dosen-dosen pria Dhei."
" Hehhh...laki-laki itu biasa Rei, jika ada barang baru pasti ribut." Jawab Dhea lagi.
" Kau bekerja di mana sekarang?" Tanya Dhea kemudian.
" Aku buka salon mobil Dhei."
" Hehhh...ternyata masih berhubungan dengan hobi otomotifmu dulu ya."
" Hahaha kau masih ingat ternyata, ya sekalian bengkel modifikasi juga. Seperti katamu dulu, hobi itu jika ditekuni pasti akan menghasilkan pundi pundi rupiah."
" Ya Rei, apalagi hobi yang tidak semua orang bisa melakukannya seperti keahlianmu itu."
" Iya Dhei, untung aku masih ingat nasehatmu dulu yang tidak suka hobi modifikasiku dan hanya untuk gaya-gayaan saja."
" Bergaya itu boleh Rei asal sesuai isi kantongmu, dan tidak hanya bisa meminta orang tuamu saja."
" Benar Dhei, seperti sekarang ini aku tidak perlu lagi meminta uang pada mereka untuk memenuhi hobiku, tapi bahkan bisa jadi mata pencaharianku."
" Hahaha untung kau dulu bisa langsung merubah pola pikirmu ya."
" Iya Dhei. Oh iya kapan kau ada waktu? Aku ingin mengobrol lebih lama lagi denganmu."
Datang saja Rei ke rumahku, aku selalu di rumah kok."
" Jadi kau sudah mengijinkanku untuk ke rumahmu? Tidak seperti dulu?"
" Ya dulu kan kita masih sekolah Rei, orang tuaku tidak suka jika tau kita berpacaran saat sekolah dulu."
" Hahaha iya Dhei itu sudah kau jelaskan beberapa tahun yang lalu."
" Hehhh...kau ini."
" Ya sudah, insyalloh nanti malam aku ke rumahmu ya?"
" Iya Rei sampai ketemu nanti malam." Kata Dhea kemudian dia menutup telfonnya.
Dhea flash back kembali saat menjalin hubungan dengan Reihan. Hanya laki-laki itu yang dulu sempat dipacarinya. Anaknya manis, dan sangat menyenangkan jika diajak mengobrol, bahkan sering membuat Dhea tertawa karena kekonyolannya.
" Ahhhh...seperti apa wajahnya sekarang?" Tanya Dhea dalam hati.
Semenjak lulus SMU Dhea memang tidak pernah lagi bertemu dengannya, karena dia melanjutnya studinya di Jakarta, sedangkan Dhea sendiri tetap berada di tempat kelahirannya.