
" Hai Will, hai Dhe!!" sapa Bram saat baru saja bertemu dengan dua orang sahabatnya itu di salah satu resoran elite di kota itu.
" Hai Bram!!" kata William dan Dhea bersamaan sambil menyalaminya.
" Wooowww wajahmu semakin tampan saja dengan jenggot di dagumu itu." Kata Bram sambil melirik dagu William.
" Hahaha...ini namanya Sunah Rosul teman, benar kan sayang?" tanya William sambil meminta persetujuan istrinya untuk membenarkan ucapannya.
" Aamiin..." Jawab Dhea sambil mengangguk.
" Dan kau Dhe, aku pikir setelah kau tidak lagi perang urat syaraf dengan William seperti dulu, ukuran bajumu bisa naik sedikit saja, tapi ternyata kau belum juga berubah, hanya wajahmu yang terlihat lebih ceria." Kata Bram mengomentari sahabat wanitanya itu.
" Hahaha kata orang, gemuk setelah menikah itu pertanda bahagia, tapi kalau terlalu gemuk juga jadi tidak bahagia Bram. Aku takut nanti suamiku melirik wanita yang lebih kurus. Lebih baik aku begini saja Bram, seperti saat awal pertama dia mengenalku. Karena anggapan wanita kebanyakan salah, mereka merawat tubuhnya dan mempercantik wajahnya hanya disaat mereka belum menikah, namun ketika sudah menikah, mereka bahkan tidak perduli dan tidak mau mau merawat tubuhnya karena menganggap mereka sudah laku, padahal ribuan wanita cantik bersebaran di luaran sana dan bisa sewaktu-waktu mereka menggoda pasangan kita." Kata Dhea menjawab pernyataan Bram.
" Ya benar Dhe, namun perawatan itu kan butuh modal Dhea."
" Itulah mengapa suami harus bisa membedakan antara uang belanja dan uang untuk nafkah istri. Ya tidak sayang???" tanya Dhea sambil melirik suaminya.
" Iya sayang, aku masih ingat kewajibanku sebagai suami terbaikmu, tenang saja. Namun sebenarnya saat seorang pria itu sudah menikah, jangan hanya berfikir kecantikan pasangannya saja yang jadi pertimbangan, namun kau juga harus melihat, bagaimana pasanganmu itu begitu tulus memprioritaskan dirimu dan juga keluarganya, sehingga terkadang dia lupa untuk merawat tubuhnya sendiri." Jawab William santai.
" Benar kata suamiku Bram. Jadi kau harus ingat, jika kau ingin istrimu nanti tetap cantik, jangan hanya menuntut, tapi disertai dengan tindakan juga. Kau pikir biaya perawatan murah? kecuali kau mau terima jika istrimu hanya memoles wajahnya dengan bedak tabur di pasaran saja hahaha." Jawab Dhea sambil tertawa.
" Hehhhh...ternyata butuh biaya besar ya berumah tangga itu."
" Hahaha...kau itu sudah enak Bram, mendapatkan istri yang siap melayanimu 24 jam tanpa harus kau merawatnya dari kecil. Coba jika setiap laki-laki di dunia ini yang ingin menikahi seorang wanita itu harus mengganti biaya perawatan mereka dari kecil, berapa uang yang harus mereka keluarkan? kau hanya tinggal menjaga dan menafkahinya serta tidak mengecewakannya saja, sudah mengeluh."
" Bukannya mengeluh Dhe, hanya sepertinya aku harus benar-benar siap jika menikah nanti."
" Hahaha....jangan sampai ya nanti istrimu tidak cantik lagi, lalu itu kau jadikan alasan untuk menduakannya, padahal kau tidak kuat membiayainya. Akupun tidak akan sudi jika suamiku nanti terpikat pada wanita lain." Jawab Dhea.
" Hahaha apalagi kau tau suamimu itu memiliki 10 pesona, jika satu pesona sudah kau ambil, dia masih menyimpan 9 lagi sebagai cadangan." Sambung Bram.
" Heiii...kau jangan coba-coba memanas-manasi istriku ya!! aku tidak mau sampai rumah nanti dia mengomeliku."
" Jadi dia masih sering mengomel dan ketus seperti dulu Will?" tanya Bram yang sangat tau perjalanan kisah cinta mereka berdua.
" Tentu tidak Bram, dia sekarang istri yang sangat manis. Kalau dulu dia itu ketus wajar saja, karena dia berusaha untuk membuatku menjauhi hidupnya. Tapi kalau sekarang dia ketus padaku, mungkin itu pertanda dia sedang datang bulan Bram hahaha." William terbahak disambut Bram dan Dhea bersama-sama.
" Ahhh kalian ini, sepertinya dari semenjak aku datang kesini, orang-orang yang berada di samping William tak henti-hentinya membullyku." Gerutu Dhea sambil cemberut.
" Hahaha, tidak sayang. Kami tidak sedang membullymu, hanya sekedar joke saja agar kau tidak stres karena membawa beban di perutmu ini." Kata William sambil memegang perut Dhea.
" Hei, jadi kau sedang hamil Dhe?" tanya Bram sedikit terkejut.
" Iya Bram, istriku sedang mengandung anakku. Kau bisa tebak, pasti anak ini nanti jika lahir laki-laki akan setampan papanya, dan jika perempuan pasti secantik ibunya. Benar tidak?"
" Hahhhh....sudah tentu Will, dia pasti akan mewarisi gen kalian berdua. Kau pikir dia akan mewarisi gen tetangga kalian, ada-ada saja kau ini Will." Jawab Bram.
" Oh ya kau mau makan apa?" Tanya William.
" Pesankan yang sama dengan kalian saja." Kata Bram.
Kemudian William memanggil seorang pelayan dan menyebutkan pesanan yang sama dengan yang dia.
" Bram, bagaimana usahamu?" Tanya William sambil menyeruput minuman di dalam gelasnya.
" Semua lancar Will, aku baru saja membangun satu swalayan lagi di pusat kota.
" Bram kalau bisa kau jangan hanya fokus dengan satu usaha saja, karena usahamu itu belum tentu bisa bertahan seiring berkembangnya jaman. Alihkan ke usaha yang lain untuk membuat variasi dalam usahamu." Kata William menasehati.
" Aku bingung Will, cuma itu sebatas yang aku tau."
" Ya karena kau tidak mau belajar yang lain. Bahaya jika kau tenang dengan titik nyamanku sekarang ini. Buatlah perubahan, kau nikmatilah proses awal membuka usaha barumu di bidang yang lain. Kita tidak tau 1 tahun, 2 tahun, atau 10 tahun ke depan usaha kita itu masih bisa untuk menghidupi kita atau tidak, padahal semakin lama usia kita semakin bertambah dan tenaga kita semakin berkurang. Bergeraklah mumpung kau masih berpotensi."
" Iya Will, aku sadar sekali bahwa usahaku yang hanya bergerak di satu bidang itu tidak bisa seterusnya aku andalkan. Semakin hari semakin banyak pesaing yang bermuncullan. Namun untuk memulai sesuatu hal yang baru itu sangat sulit Will."
" Lebih sulit lagi jika kita tidak segera memulainya dan hanya membayangkannya. Kau bisa temui Daniel nanti, minta ajari dia jika kau memiliki ide untuk membuat usaha. Jika dia tidak bisa, dia bisa mengenalkan pada orang-orang yang lebih ahli dan bisa kau mintai ilmunya." Kata William.
" Terimakasih Will atas bantuanmu. Pasti aku akan menemuinya entah kapan waktunya."
" Ya segeralah, tidak baik menunda-nunda pekerjaan."
" Ya teman pasti itu." Jawab Bram.
" Sayang kenapa sedari tadi kau diam saja?" Tanya William yang melihat istrinya tidak berkomentar sedikitpun.
" Buat apa aku ikut berbicara, sedangkan kalimat yang ingin kuucapkan kau curi semua." Jawab Dhea sambil bersungut-sungut.
" Hahaha...berarti aku seperti penyampai lidah rakyat ya sayang, apa yang ingin kau katakan sama dengan yang kukatakan."
" Ya, asalkan jangan pernah menambahi dan mengurangi kalimat rakyatmu yang hendak kausampaikan, karena itu akan bermakna beda, dan bisa berakibat fatal Tuan William." Kata Dhea menanggapi candaan suaminya.
" Hahaha...lihatlah Bram, inilah untungnya memiliki istri cerdas, sekali kulempar umpan tanpa menunggu waktu lama langsung ditangkapnya dengan sempurna."
" Yaaa....kalian ini memang pasangan yang sangat ideal. Aku yakin anak kalian nanti pasti sepintar kalian berdua."
" Aamiin...yang penting tidak keras kepala seperti mamah dan papahnya ya sayang?" Tanya William pada Dhea.
" Hahaha...kau ini terlalu jujur." Kata Dhea.
" Ya, lebih baik jujur tapi menyakitkan, daripada berbohong tapi mencelakakan." Kata William, dan disambut tawa Bram.