
Dhea kemudian memandang kepada suaminya, bermaksud ingin menanyakan tentang isi hati suaminya pada pramugari tersebut lebih lanjut.
" Sayaaaanggggg.....cantik tidak pramugari tadi?" Kata Dhea lagi, kali ini sambil merajuk sembari menggoyang-goyangkan pundak suaminya yang masih belum beralih dari pandangan ke wajahnya.
" Sumpah sangat cantik sayang!"
" Benarkah? cantik sekali???"
" Ya cantik sekali. Hidungnya, matanya, bibirnya, semuanya sangat cantik."
" Jadi kau mengaguminya?"
" Laki-laki manapun pasti bukan hanya mengaguminya saja, tapi ingin memilikinya sayang."
" Benarkah???? kau tidak sedang bercanda kan?"
" Ya aku tidak sedang bercanda, bahkan sangat serius!!"
" Aku benar-benar jatuh cinta dibuatnya."
" Hahhhh hanya dengan sekali memandangnya saja??"
" Ya Hanya perlu sekali memandangnyapun aku bahkan tidak bisa tidur nyenyak dibuatnya."
" Kau menyebalkan sekali.....Tuan William!!!" kata Dhea sambil memukul lengan suaminya lagi.
" Aku memang menyebalkan sayang, bahkan aku sebal juga pada diriku sendiri, kenapa tidak pernah bisa memalingkan sedikitpun hatiku padamu."
" Hei aku sedang membicarakan pramugari itu dan bukan diriku."
" Tapi aku sedang membicarakanmu sayang, bukan pramugari itu."
" Jadi yang kau maksud tadi bukan pramugari tadi?"
" Tentu bukan sayang. Engkaulah yang aku maksud. Kenapa? kau pasti sudah menyangka bahwa kecantikan pramugari itu bisa mengalihkan perhatianku padamu kan??? tidak sayang, walaupun ada sepuluh pramugari di depanku, hatiku dan pandanganku tidak mampu menggoyahkan cintaku padamu. Wanita cantik itu bagiku biasa. Kau tau sendiri kan dulu bagaimana mudahnya aku mendapatkan wanita yang lebih cantik dari pramugari itu? tapi buatku, kaulah yang tercantik sayang, wanita terindah yang ada dalam hatiku." Kata William sambil memegang jemari Dhea.
" Kau membuatku besar kepala sayang." Kata Dhea sambil tersipu malu.
" Sayang, kau masih ingat? di tempat ketinggian ini dulu aku pernah melamarmu? aku bahkan masih bisa merasakan debaran jantungku saat itu, seperti ada ribuan pasukan marching band yang bermain di jantungku."
" Oh ya? aku bahkan tidak percaya kau bisa berdebar-debar menghadapi wanita sepertiku?"
" Mungkin kau tidak akan percaya, aku sendiripun sempat tidak mempercayainya. Namun seperti itulah kenyataannya. Dan hari ini aku begitu bersyukur bisa berdampingan denganmu dengan status sebagai suamimu, bahkan kita tidak hanya berdua, tapi juga bertiga bersama calon anak di dalam rahimmu ini." Kata William sambil menyentuh perut Dhea yang belum terlalu besar.
" Sayang, maafkan aku ya, karena tidak bisa menahan diri untuk tidak cemburu padamu, seperti tidak mempercayaimu saja. Mungkin karena aku sangat mencintaimu dan takut kehilanganmu. "
" Ya sayang aku tau itu. Tenanglah aku akan selalu ada untukmu, bukan hanya tubuhku tapi juga hatiku semuanya untukmu." Kata William.
" Hehhhhh...untung ada ruangan privat di sini, jika tidak aku bisa meledak sendiri." Kata William dan tersenyum dalam hati.
Memang benar, semakin baik iman seseorang, maka semakin baik pula ahlaknya. Dulu William tidak malu bermesraan hingga berciuman di depan umum dengan wanita yang bukan istrinya, bahkan dengan wanita yang baru saja dikenalnya sekalipun, namun sekarang untuk bermesraan dengan istri sendiri dan hanya sekedar berciuman seperti sekarang ini saja, dia butuh sebuah ruangan privat. Malu memang sebagian daripada iman. Jika orang tidak memiliki malu, maka kita sudah bisa menakar sejauh mana iman dia terhadap Tuhannya.
Pesawat terbang begitu tenang. Melewati setiap detik perjalanan mereka di udara, yang hanya ditemani oleh bunyi deru mesin yang meraung-raung.
Dhea dan William terlihat tertidur pulas. Tidak ada satupun gangguan yang membangunkan mereka berdua. Selama perjalanan mereka terus mengobrol, dan tanpa terasa menjelang pagi baru mereka tidak bisa menahan rasa kantuknya lagi. Hingga tak lama kemudian, suara petugas terdengar melalui speaker menyebutkan bahwa sebentar lagi mereka akan segera tiba di tempat tujuan.
William bangun terlebih dahulu saat mendengar suara merdu pramugari yang mendayu-dayu itu. Ditengoknya istrinya yang berbaring di kursi sebelahnya dengan posisi selimut yang menutup rapat keseluruhan tubuhnya. Hanya separuh hidung dan mata ke atas saja yang terlihat, demi untuk membebaskan indra penciumannya itu bisa menghirup udara tanpa kesulitan. Ternyata baju hangat yang sengaja mereka siapkan, tidak bisa menangkal hawa dingin di dalam pesawat tersebut, dan masih harus ditambah dengan selimut tebal yang memang telah tersedia di kursi mereka.
William tersenyum sekilas. Diturunkannya selimut yang menutupi wajah istrinya hingga sebatas leher. Diciumnya sebentar pipi Dhea. Dingin segera terasa menjalar di hidung William ketika bersentuhan dengan pipi istrinya.
" Kau pasti sangat kedinginan ya sayang?" Kata William pelan.
" Heiii...sayang...bangun!!" kata William sambil mengusap pipi istrinya.
Dhea hanya menggeliat sebentar, lalu malah justru menarik selimutnya ke atas kembali.
" Heiiii...kita sudah hampir sampai sayang...!!! ayo naikkan sandaran kursimu." Kata William.
" Hoaaammmm......jam berapa ini sayang???" Tanya Dhea.
" Jam 10 sayang...ayo bangun, masih ngantuk ya?" Kata William sambil membantu istrinya membereskan selimut yang menutupi tubuhnya, menaikkan sandaran kursi, juga memasangkan selfbelt ke pinggangnya. Mata Dhea masih begitu sulit terbuka.
" Ahhhhhh...kenapa pilotnya tidak terbang memutar sebentar saja sih???" Gerutu Dhea.
" Terbang memutar??? kenapa?" Tanya William keheranan.
" Ya aku ingin menuntaskan tidurku sedikiiitttt lagi, mungkin jika bangunnya satu jam lagi, mataku sudah siap untuk menatap alam terbuka bukan seperti sekarang ini." Gerutu Dhea.
" Hahaha.....kau ini aneh-aneh saja. Bukankah lebih menyenangkan segera tiba di rumah, lalu kau bisa melanjutkan tidurmu di sana, dan tidak di dalam pesawat seperti ini?"
" Ya tapi kan tanggung sayang, tadi padahal aku baru saja mimpi memenangkan undian berhadiah. Bahkan aku belum menerima hadiah itu, berapa jumlahnya akupun belum tau. Menyebalkan sekali tidak?" kata Dhea sambil merengut manja.
" Hahaha...kalau begitu nanti hadiahnya sampai rumah biar aku saja yang menggantinya. Karena tadi di dalam mimpi kau tidak jadi mendapatkannya."
" Hehhhh...tapi kan rasanya beda sayang."
" Hehhhhh...kau ini menggemaskan sekali sih!!!" kata William sambil mencubit pipi Dhea.
" Sebentar lagi kita akan turun. kau sudah menelfon Pak Halim untuk menjemput kita kan kemarin?" tanya William menyebut nama supir pribadi mereka.
" Iya sayang. Aku bilang kita sampai jam 9an. Mungkin dia sudah menanti kita sedari tadi." Kata Dhea sambil meregangkan tubuh-tubuhnya yang sedikit kaku, karena terlalu lama tidur dengan kondisi meringkuk.
" Heiii...baby...kita sudah tiba di Indonesia lagi dan liburan kita telah usai. Semoga kau menikmati hari-harimu kembali ke sini ya, dan jadi anak yang baik, serta tidak menyusahkan ibumu." Bisik William di perut Dhea. Dhea hanya membelai rambut suaminya dan sangat menikmati moment kehamilannya itu, apalagi suaminya sangatlah perhatian.