Something different

Something different
Menjelang wisuda



Dhea dan William akhirnya menjalani hari-harinya sendiri. Dhea sibuk dengan tesisnya, sedangkan William sibuk dengan pekerjaannya. William semakin sering keluar kota membangun bisnis baru. Sedangkan Dhea 2 hari hari lagi akan diwisuda. Hari ini ayah dan ibu Dhea tiba di London, Dhea menjemput mereka berdua di bandara diantar oleh Arthur.


" Dhe, bagaimana kabarmu nak?" Tanya ibunya saat mereka baru saja bertemu.


" Alhamdulillah baik bu." Jawab Dhea.


Setelah berbasa basi sebentar, kemudian Dhea mengajak orang tuanya ke parkiran mobil.


" Ayo kita langsung ke parkiran saja ya bu?"


" Iya nak." Jawab ibunya.


Di dekat mobil, Arthur sudah menunggu mereka bertiga.


" Dhe, memangnya kita tidak naik taksi menuju ke tempat tinggalmu?" Tanya ibunya.


" Tidak bu, supir William sudah menjemput kita."


" Supir William? Katamu kalian berdua sudah putus?" Tanya ibunya bingung.


" Iya bu kami memang sudah putus. Nanti saja setelah di rumah akan aku ceritakan pada ibu dan ayah." Jawab Dhea.


Kemudian Dhea segera menghampiri Arthur yang sudah menunggunya sedari tadi.


" Silahkan nona!" Kata Arthur menyambut kedatangan mereka bertiga sambil membukakan pintu untuk Dhea.


" Terimakasih Arthur." Jawab Dhea.


Dhea duduk di belakang bersama ibunya, sedangkan ayahnya di depan bersama Arthur.


Kendaraan yang mereka tumpangi segera melaju menuju tempat tinggal Dhea.


Tak lama kemudian mobilpun telah tiba di depan apartemen Dhea. Lalu Dhea mengajak orang tuanya masuk ke dalam kamarnya.


Saat berada di dalam kamar, orang tuanya berdecak kagum memandang furniture yang ada di dalam kamar Dhea.


" Nak, kamarmu begini mewah, apakah uang yang ayah kirimkan untukmu cukup untuk membayarnya?" Tanya ayah Dhea.


" Semua ini milik William ayah." Jawab Dhea sambil mempersilahkan kedua orang tuanya duduk.


" William lagi?" Jawab ayah Dhea menegaskan.


" Iya ayah."


" Kenapa dia melakukan itu semua?"


" Iya ayah semenjak kami menjalin hubungan, dia telah menyediakan ini semua untuk Dhea, bahkan setelah kami putuspun dia tidak mau aku keluar dari apartemennya ini."


" Ayah tau dia itu sebenarnya laki-laki bertanggung jawab, dia juga sangat mencintaimu. Tapi maaf ayah harus melakukannya, karena itu semua demi kamu Dhea, bukan maksud ayah ingin memisahkan kalian berdua."


" Dhea tau ayah. Ayah jangan merasa bersalah. Kami berdua hanya butuh waktu untuk saling memperbaiki diri dulu, dia berjanji satu tahun lagi akan menemui Dhea di sini."


" Yahhh semoga dia menepati janjinya, dan kembali menemuimu dengan status yang baru."


" Insyaalloh yah, doakan saja semoga dia bisa menemukan hidayahnya."


" Amiin..." Jawab orang tua Dhea berbarengan


Sementara itu William terlihat sedang keluar untuk makan siang bersama Daniel.


" Dan kau tunggu sebentar di sini ya." Kata William sambil menepikan kendaraannya di pinggir jalan.


" Memangnya kau mau kemana?"


" Kau tunggu saja di sini! Nanti aku kembali lagi!" Jawab William, kemudian dia segera turun dari kendaraannya.


" Hehhh...lama sekali William, kemana dia sebenarnya?" Gerutu Daniel.


Kemudian Daniel turun dari mobil dan menuju arah dimana William tadi berjalan. Namun alangkah terkejutnya Daniel saat tau William keluar dari sebuah bangunan bersama orang-orang yang menggunakan pakaian yang begitu khas.


" William jadi kau????" Gumam Daniel terkejut sambil menarik panjang nafasnya.


William berjalan semakin dekat dengan tempat Daniel berdiri sekarang, dan Daniel segera menyambut kedatangannya.


" Will kau???" Kata Daniel. Ada nada penuh tanya dalam panggilannya


" Kenapa Dan? Kau terkejut?"


" Secepat itu Will?"


" Memangnya kenapa?"


" Tidak Will, aku hanya tidak ingin kau menyesal. Bukankah pengorbananmu sudah sangat besar pada Dhea, jangan sampai kau nanti meratapi nasibmu."


" Tidak Dan, aku sudah yakin."


" Terserah kamu kalau begitu, waktumu masih panjang untuk kembali berpikir, dan Dheapun memiliki kesempatan besar untuk mencari penggantimu di sisa waktu perjanjian kalian."


" Hehhh...kita lihat saja nanti Dan."


Jawab William sambil berjalan menuju ke mobil mereka.


" Bukankah kau bilang bahwa besok Dhea wisuda Will?" Tanya Daniel saat sudah berada di dslam mobil.


" Ya benar Dan."


" Kau tidak ingin menghadirinya?"


" Tidak, aku tidak mau menampakkan wajahku di hadapan mereka, aku takut bisa menimbulkan masalah."


" Masalah bagaimana? Kau kan hanya sekedar mengucapkan selamat saja?"


" Benar, tapi kita tidak tau kan bagaimana perasaan mereka sebenarnya saat bertemu denganku? Terlebih perasaan Dhea?"


" Hehhhh rumit sekali hubungan kalian berdua, makanya aku itu malas untuk membuat komitmen, karena sangat merepotkan."


" Ya sekarang mungkin kau tidak memikirkannya, tapi nanti setelah kau beranjak tua, dan mulai sakit-sakitan baru kau menyesal karena kau tidak memiliki seorang pendamping juga keturunan yang mau merawat di sisa umurmu."


" Hahaha...kenapa jauh sekali berpikirmu? Kita itu masih muda teman, masih panjang waktunya untuk memikirkan semua itu."


" Hahhh...kau bilang kau masih muda? Coba kau katakan berapa usiamu sekarang?"


" Yang jelas belum mencapai 50 tahun teman."


" Jika aku tebak mungkin usiamu sekitar 30an kan?"


" Coba kau hitung, jika di usiamu sekarang ini kau belum memikirkan pernikahanmu, lalu usia berapa kau akan memiliki anak? Jangan-jangan nanti anakmu masih balita kau tidak kuat lagi menyangga tubuhmu dan mulai sakit-sakitan hahaha."


" Ahhhh...sudahlah...lebih baik kita bicarakan saja hal lain yang lebih indah."


" Misalnya?"


" Misalnya wanita seperti Paula!"


" Maksudmu sebinal Paula kan?"


" Hahaha...kau cepat sekali memahami kata-kataku."


" Karena aku dulupun sepertimu teman hahaha." Kata mereka berdua terbahak.