Something different

Something different
Cemburu 2



William terus menggandeng tangan Dhea pergi meninggalkan mall tersebut, bahkan tanpa berbicara sepatah katapun. Wajahnya ditekuk sedemikian rupa. Dalam hatinya Dhea tertawa sendirian, dia sangat hafal sifat suaminya itu. Jika dia sedang cemburu, sudah pasti akan ngambek dan tidak mau mengajaknya berbicara, lalu bibirnya akan manyun sepanjang 10 cm.


" Hihihi...aku biarkan saja dia dulu. Aku yakin dia tidak akan lama bertahan dengan kemarahannya itu. Aku akan pura-pura tidak tau. Salah siapa kau dulu membohongiku. Kau bilang menemui Reihan dan mengiriminya undangan. Ternyata kau hanya membohongiku kan???" Kata Dhea dalam hati.


Dhea bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal biasanya jika suaminya mulai manyun, dia akan menggodanya dan berusaha segala hal untuk membuat suaminya itu segera tersenyum.


" Sayang...kenapa kau buru-buru mengajakku pulang sih? aku kan masih ingin jalan-jalan dulu."


" Besok saja lagi." Jawab William singkat.


" Tapi sayaaanggg.....!!!" William diam saja dan tidak memperdulikan rengekan Dhea.


" Hihihi...tidak tergoda dia. Biasanya jika aku sudah mulai merengek pasti dia tidak akan bisa menolak permintaanku. Hemmm....biar saja, sepertinya permainan ini sangat seru." Kata Dhea dalam hati.


" Sayang jangan lupa mampir ke rumah ibu ya?"


" Hemmmm....!!"


" Ihhhhh irit sekali sih jawabnya, cuma hemmm saja. Hehehe aku yakin kau tidak akan betah."


William terus memacu kendaraannya, menuju rumah orang tua Dhea.


" Assalamualaikum." Sapa Dhea sambil mendorong pintu, saat sudah tiba di rumah orang tuanya. Sementara itu William terlihat sedang menurunkan oleh-oleh yang mereka bawa dari London, untuk dibagikan kepada kedua orang tuanya, dan juga beberapa saudaranya.


" Wa'alaikum salam." Terdengar sahutan dari belakang. Ibunya berjalan keluar dari arah dapur.


" Heiiii...nak...kau sudah pulang?"


" Sudah bu." Kata Dhea sambil menyalami ibunya lalu mencium pipi orang tua itu. William menyusul di belakangnya sambil membawa beberapa kantong plastik di kanan kiri tangannya.


" Bu, apa kabar?" Sapa William sambil menyalami mertuanya.


" Alhamdulillah nak Will, ibu sehat."


" Bu, ini ada sedikit oleh-oleh untuk ayah dan ibu, juga saudara-saudara yang lain."


" Kenapa kalian repot-repot?" Kata ibunya.


" Tidak kok bu, iya kan sayang?" Kata Dhea sambil menatap William, William hanya tersenyum dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa di depan mertuanya.


" Hemmmmm....sandiwara yang sangat manis sayang." Gumam Dhea dalam hati.


" Iya bu, maaf kami hanya bisa membawa sedikit buah tangan untuk ayah dan ibu." Jawab William sambil meletakkan barang bawaan itu di atas meja.


" Tidak nak, ini sudah sangat banyak. Kalian sudah kembali lagi ke sini dengan selamat saja, ibu sudah sangat senang."


" Dhe, bagaimana kandunganmu?" Tanya ibunya kemudian.


" Alhamdulillah bu, semuanya baik-baik saja."


" Syukurlah Dhe. Ibu sangat mengkhawatirkan kandunganmu, dia masih sangat muda untuk dibawa perjalanan jauh nak."


" Iya bu, doakan Dhea terus ya."


" Pasti nak, dalam setiap tarikan nafas ibu, ada doa buat kalian."


" Terimakasih bu."


" Eh kalian makan dulu yuk, ibu baru saja masak sayur soup daging enakkk sekali!!"


" Sayang kalau aku makan siang di sini boleh kan?"


" Ya siapa tau kau tetap ingin aku makan di rumah."


" Tidak sayang. Kalau tadi aku melarangmu kan karena kau ingin makan makanan junk food, itu kan tidak baik. Benar kan bu?" Kata William meminta persetujuan mertuanya.


" Yeeee...siapa bilang aku ingin makan junk food. Dari jaman balita ileran sampai jaman nenek-nenek triping juga, aku tau kalau makanan junk food itu tidak sehat. Aku juga tidak mau mencekoki anakku dengan makanan tidak bergizi seperti itu. Di mall kan ada food court yang berisi makanan tradisional, gado-gado misalnya. Aaahhh itu kan hanya alasanmu saja karna rasa cemburumu pada Reihan." Kata Dhea dalam hati.


" Dhe benar kata suamimu. Kau sedang hamil, jangan makan sembarangan ya."


" Iya bu. Jawab Dhea singkat."


" Ihhhhh....kenapa jadi aku yang disudutkan? hemmm tenang ya nak, jagoan pasti menangnya terakhir." Gerutu Dhea dalam hati sambil berkomunikasi pada janinnya.


" Ke dalam yuk!!" ajak ibunya kemudian.


Dhea dan William lalu mengikuti sang ibu ke belakang. Dhea mengambil 3 buah piring. Lalu meletakkan di atas meja. Menuangkan air ke dalam 3 gelas kosong dan ditaruh di hadapan ibu dan suaminya, lalu untuknya sendiri. Dibukalah penutup nasi. Aroma harum kuah soup langsung masuk ke dalam hidungnya, dan tembus ke dalam tenggorokannya. Mengalirkan sinyal pesan ke dalam otaknya. menjadi sebuah informasi yang segera diterima tanpa noise dalam lambungnya.


" Hemmmm...perutku langsung lapar bu." Kata Dhea sembari mengambil nasi di piring suaminya dan juga dirinya.


" Terimakasih sayang." Kata William.


" Kembali kasih." Jawab Dhea sambil tersenyum sembari menatap suaminya, namun yang ditatapnya justru melengos sambil mengalihkan perhatian mengambil sepotong lauk di hadapannya.


" Hihihi..sok jual mahal, awas ya!! Nanti malam kau tidur sendirian!!" Kata Dhea dalam hati.


" Hehhhh...kau ini kenapa sih sikapmu seperti tidak terjadi apa-apa. Kau tidak tau atau pura-pura tidak tau Dhea? menyebalkan!!!" Ganti William yang menggerutu dalam hati, berharap istrinya itu tau bahwa tadi dia amat cemburu.


" Bagaimana? enak kan?" Tanya ibunya di sela-sela makan mereka.


" Hemmmm....nikmat sekali bu. Ya sedikit mengobati rasa kecewaku karena tidak jadi makan siang di mall tadi bu." Kata Dhea sambil melirik suaminya. Yang dilirik sok cuek dan sok tidak tau apa-apa.


" Lebih sehat makan di rumah nak, daripada di luar."


" Iya ya bu, sehat lahir dan bathin ya bu." Jawab William singkat tapi mak jleb.


" Hehhhh...bathinnya siapa? kan itu bathinmu bukan bathinku yeeee." Balas Dhea dalam hati.


Memang tidak ada masakan yang lebih nikmat selain masakan seorang ibu. Walaupun hanya menu sederhana, tanpa makanan pembuka dan juga dessert seperti di restoran mahal, namun semua itu tidak bisa dibandingkan dengan masakan yang dibuat oleh orang tua sendiri. Hanya dengan bumbu cinta dan penyedap rasa sayang, semua bisa mengalahkan segalanya. Kita tidak perlu merogoh kocek mahal hingga ratusan ribu rupiah. Cukup dengan ucapan terimakasih dan sedikit pujian, dijamin semua itu telah terbayar dengan lunas.


" Hemmmmm....ibu memang pandai memasak ya." Puji William saat makanan di piringnya bersih tanpa bersisa.


" Hemmmm....apakah itu artinya kau ingin aku belajar memasak pada ibuku sayang?" Kata Dhea mencoba mencerna makna kata-kata yang terselip dari bibir suaminya.


" Ohhh bukan begitu sayang. Aku bahkan melarangmu untuk masuk ke dapur. Kau cukup untuk membuatkanku kopi saja tidak perlu yang lain, karena aku tidak ingin kau lelah di dapur." Kata William yang merasa istrinya sedikit tersinggung terhadap kata-katanya.


" Hehhhh...aku pikir kau ingin mencicipi masakanku. Bukankah kau dulu pernah kubuatkan masakan juga, masak kau lupa? rasanya tidak lebih buruk dari ibuku ka?"


" Iya...iya...masakanmu juga nikmat, hampir sama dengan punya ibumu. Jika ada perbedaan sedikit itu wajar saja, karena beda jam tayang juga hehehe."


" Heiiii....kenapa jadi dia yang ngomel-ngomel? bukankah tadi aku sedang jaim terhadapnya???" Kata William dalam hati yang baru saja tersadar telah terpancing oleh sikap istrinya.


" Hihihi...kau pasti lupa bahwa tadi kau sedang ngambek kan? Heeemmmm..kau itu memang suami yang sangat menggemaskan sayang." Kata Dhea dalam hati sambil tertawa.


" Nak....kau itu wanita yang beruntung memiki suami yang pengertian sepertinya. Bahkan dia melarangmu pergi ke dapur karena takut kau kelelahan."


Dhea hanya tersenyum mendengar nasehat dari ibunya.


" Iya bu aku memang wanita yang beruntung, bahkan sangat sangat beruntung." Kata Dhea dalam hati.