Something different

Something different
Di ruang makan



" Ahhhhh....nyaman sekali rebahan di sini." Kata Dhea sambil membanting tubuhnya di kasur setelah selesai sholat.


" Heiii...sayang, ayo kita keluar!! mereka sudah menunggu kita di ruang makan kan?"


" Ahhhh...malas."


" Lho kok malas? kenapa kau lelah? kalau kau lelah biar nanti aku suruh pegawai mengantar makananmu ke sini saja ya."


" Bukan itu."


" Lalu kenapa kau malas?"


" Kau belum menyayangku seharian ini." Sambil cemberut.


" Hahahaha...iiihhhh kau ini manja sekali."


" Sini aku peluk." Sambil membentangkan kedua tangannya membungkuk dan memeluk istrinya, dan Dhea segera menyambutnya.


" Hehhhh....kenapa seperti ada bau asam ya? apakah kau menyimpan asam di saku bajumu?" Kata William.


" Ihhh...kau ini!! aku kan memang belum mandi. Nikmati saja, dapat pahala besar lho menyenangkan istri."


" Hahaha...tidak kok sayang...aku selalu rindu bau tubuhmu ini. Malam ini tidak usah mandi, cuci muka saja, karena sudah terlalu malam, cuacanya juga dingin." Sambil mencubit pipi Dhea.


" Ayo sudah bangun..!!" sambil berdiri kembali.


" Bantu aku." Rajuk Dhea sambil mengulurkan kedua tangannya.


" Hehhhhhhh.....manjanyaaaaa...." Sembari menarik tangan Dhea.


" Hihihi...manja dengan suami sendiri kan tidak apa, daripada manja dengan suami orang." Sambil menggandeng tangan suaminya.


" Hemmmm....itu namanya cari musuh sayang."


" Hahaha...makanya jangan protes jika aku manja."


" Oke buat nyonya William apa sih yang tidak." Sambil berjalan menuruni tangga.


" Hemmmm......jika berada di rumah papa ini atau berada di rumah kita yang di sini, sepertinya tanpa harus berolahragapun sudah bisa dijamin, dengan berjalan di dalam sekitaran rumah ini saja, aku sudah seperti orang yang sedang berolahraga."


" Hahaha....kau ini dari awal kuajak kemari, kau selalu protes dengan hal yang satu itu."


" Bukan protes, hanya heran saja, mau-maunya buang banyak uang untuk rumah sebesar ini."


" Ya itu kan berbicara masalah kepuasan bathin sayang, jadi tidak bisa diprotes."


" Yaaaa...aku sangat tau. Namanya manusia pasti tidak pernah merasa puas."


Saat tiba di ruang makan, ternyata mereka sudah ditunggui oleh keluarganya. Deasy yang paling tidak bisa beralih melihat pemandangan di depannya itu. Terlebih jemari Dhea dan William yang saling bergandengan satu sama lain.


" Hehhhh.....sepertinya William sosok lelaki romantis, di rumah saja bergandengan tangan. Dipikirnya ini jalanan? dan mereka seperti hendak menyebrang saja...!!!" gerutu Deasy dalam hati.


Seandainya saja Deasy tidak pernah tau jika Mike pernah menyukai Dhea, mungkin saja Deasy tidak akan membenci Dhea. Dia merasa Dhea bisa menjadi boomerang dalam rumah tangganya, terlebih jika mereka bertemu kembali seperti sekarang ini, hati Deasy seperti terbakar.


" Ayo sini duduk nak." Kata papa William sambil menarik kursi kosong di sampingnya.


William kemudian segera duduk di sebelah papanya, diikuti Dhea yang duduk di sebelahnya.


" Banyak sekali menunya pah?"


" Menantu kesayangan? itu dulu Deasy, saat kau belum ada, tapi sekarang kita berdualah yang menjadi menantu kesayangan papa. Benar begitu kan pah?"


" Hahaha....ya...ya..ya...kalian berdua sama-sama menantu papa tersayang."


" Tapi kau kan tidak melihat sendiri Dhe, bagaimana antusiasnya papa ingin menyambut kedatanganmu saat tau kau akan pulang ke sini. Bahkan papa memilih sendiri menu khusus untukmu yang katamya banyak pantangan itu."


" Deasy....wajar saja papa gembira, kan papa jarang bertemu mereka."


" Ya..ya..ya..memang beruntung sekali menjadi kau Dhe, banyak orang yang sangat menyayangimu juga membelamu...yah mungkin karena kau memang benar-benar wanita spesial dan layak mendapatkan itu." Sahut Deasy sedikit sinis.


Dhea hanya tersenyum, dia melihat ada nada ketidaksukaan dalam kalimat Deasy, namun kemudian dia segera menepisnya.


" Sayangggg....sudahlah...kalian berdua itu sama-sama spesial di rumah ini. Ya kan Will?"


" Iya, jika tidak mana mungkin kami nikahi hahaha...." Disambut tawa lainnya.


" Hehhhh...tentu saja spesial, jika tidak mana mungkin dulu kalian berdua memperebutkannya. Seperti tidak ada wanita cantik lainnya saja. Itu baru jawaban yang benar Tuan William." Gerutu Deasy dalam hati.


Kemudian mereka berdua segera menikmati makanan bersama, diiringi obrolan-obrolan ringan.


" Nak....maafkan kami ya, waktu kemarin kau dioperasi kami tidak bisa datang menjengukmu."


" Tidak apa-apa pah, yang penting kalian tetap mendoakanku."


" Iya nak, waktu itu kami sedang sibuk dengan persiapan pernikahan Mike."


" Iya pah, aku tau. Tidak masalah pah, sekarang aku kan sudah sehat, dan bisa mengunjungi papa kemari, juga berkenalan dengan adik iparku yang cantik ini." Sambil memandang Deasy.


" Lho memangnya kau baru operasi apa Dhe?" tanya Deasy.


" Dia baru saja kehilangan bayinya sayang." Sambung Mike.


" Iya Deasy, aku baru saja kehilangan bayiku karena kandunganku bermasalah. Padahal harapan kami sangat besar pada anak itu."


" Oh ya...??? iya aku tau, karena keluarga Anderson kan belum memiliki penerus keturunan ya. Ahhhh kasian sekali kau Dhe, seharusnya anakmu itu bisa menjadi kebanggaan keluarga ini, tapi justru kau tidak bisa mempertahankannya. Padahal biasanya seorang ibu akan mempertaruhkan nyawa sendiri demi buah hatinya. Sepertinya nanti kau akan kami dului. Benar tidak sayang?" sambil tersenyum memandang Mike. Deasy sepertinya mendapatkan angin segar untuk memukul telak Dhea. Rasa cemburunya yang sangat tidak masuk akal itu membuatnya jadi sedikit tidak suka terhadap Dhea.


" Sayanggg...kenapa kau berkata seperti itu. Anak itu rejeki Tuhan. Kau tidak bisa menyalahkan Dhea."


" Aku tidak menyalahkan. Hanya sedikit berargumen." Jawab Deasy tak kalah sengit, dan Dhea hanya menunduk sambil mengaduk-aduk makanannya di piring.


" Hehhhh....kenapa Deasy seperti tak suka padaku? ada apa sebenarnya? Dari sejak pertama bertemu tadi, nada bicaranya seolah ingin menjatuhkanku terus." Kata Dhea dalam hati.


" Sudah-sudah nikmati saja makanan ini. Bukankah kita baru saja bertemu? lebih baik membicarakan hal yang ringan saja ya." Kata papanya berusaha mencairkan suasana.


Daniel yang sedari tadi ikut bergabung dalam keluarga itu terlihat lahap menyantap setiap makanan yang masuk ke dalam perutnya, seolah dia sedang berkonsentrasi penuh, dan tidak menghiraukan obrolan-obrolan yang sedang berlangsung.


" Dan, apa yang terjadi denganmu? kau baik-baik saja kan? Kenapa sedari tadi kau tidak mengeluarkan kalimat satu kecappun?"


" Will....setiap makanan yang masuk ke dalam perut kita itu harus kita nikmati, dan perlu penghayatan dalam hal itu. Jika aku berbicara, konsentrasiku bisa hilang."


" Hahaha...Daniel...Daniel...kasihan sekali hidupmu. Untuk menikmati makanan saja kau butuh penghayatan, jangan-jangan kesendirianmu selama ini juga kau hayati sehingga tidak laku-laku."


" Bukan tidak laku Mike, aku hanya sedang berusaha berbuat adil saja untuk memeratakan perasaanku pada wanita-wanita yang kudekati, jadi aku tidak ingin berkomitmen dengan salah satunya, sehingga bisa menyakiti yang lainnya."


" Kau ini Dan, bisa saja kau bersilat lidah. Tapi ingat!! kau pasti akan tua juga seperti papa. Laki-laki tampan juga butuh sandaran Dan hahaha." Sambung papanya.


" Ya setampan-tampannya pria, jika sudah tua bakal keriput juga dan pasti tidak laku hahaha." Ejek William, diiringi gelak tawa lainnya. Daniel cuek saja tidak menghiraukannya, dan justru semakin lahap menghabiskan makanannya.