
" Daniel terimakasih banyak ya atas perhatianmu. Semoga hidupmu selalu dilimpahi kebahagiaan dan senantiasa diberi kesehatan olehNya. Doakan kami juga agar bisa terus diberi umur panjang dan tidak terputus hubungan persahabatan denganmu."
" Iya Dhe pasti itu, yang jelas kau juga harus menjaga pria di sebelahmu itu, jangan biarkan dia berkeliaran kemana-mana ya."
" Hahhhh...kau pikir aku hewan ternak, berkeliaran segala!!" Gerutu William.
" Hahaha...pasti itu Dan, dia satu-satunya penjagaku sekarang. Karena aku tidak akan mungkin mengandalkan orang tuaku lagi, aku akan mengawasinya 24 jam sehari."
" Benar Dhe, aku setuju. Bila perlu kurung saja di dalam rumah. Dan jika dia keluar ikuti di belakangnya."
" Dan kenapa kau tidak memberinya saran untuk memasang cctv di tubuhku saja? bukankah itu bisa meringankan pekerjaannya daripada membuntutiku setiap hari."
" Ohhhh...iya...!!! kenapa tidak terpikirkan olehku ya??? Untung kau mengatakannya Will!!!"
" Hehhhhh...dasar bodoh!!!" kata William sambil meninju bahu Daniel, dan Daniel hanya terkekeh.
" Ya sudah Dan, tidak ada habisnya mengobrol denganmu, kami permisi dulu ya?" kata William.
" Enak saja, siapa bilang kita sedang mengobrol? bukankah sedari tadi kita hanya berolok-olok saja?"
" Hahaha...memang itu gaya mengobrol kita berdua?, kau lupa ya???"
" Ya teman, tentu saja. Aku tidak akan pernah lupa. Dan aku pasti akan merindukan sahabat sekaligus bosku, juga rival gilaku." Kata Daniel.
" Hati-hatilah di jalan ya." Seraya memeluk William.
" Ya Dan, terimakasih ya sudah perhatian dengan calon anakku. Maafkan jika candaanku ada yang menyakitimu."
" Hahaha.....candaanmu tidak pernah menyakitiku teman, tapi tobatmu itu yang membuatku seperti kehilangan pegangan." Kata Daniel sembari terbahak lagi.
" Aaahhhh...sialan kau."
" Ayo sayang kita berangkat." Ajak William.
" Ya sayang." Kata Dhea sambil berjalan di samping kanan suaminya, diikuti oleh Daniel yang berada di samping kirinya.
" Kau tidak usah ikut ke bandara dan pakai gaya melambaikan tangan segala nanti ya, seperti miss universe saja."
" Hahaha...memangnya hanya miss universe yang melambaikan tangan pada penggemarnya Will, Akupun ingin melambaikan tangan padamu baby." Kata Daniel sambil menyentuh lembut bahu William.
" Haaaaa......jauh-jauh sana!!! pantas kau tidak menikah-nikah ternyata kau terobsesi padaku ya." Kata William sambil mendorong tubuh Daniel.
" Hahaha....pesona wanita masih lebih menggodaku dibanding pesonamu Will." Kata Daniel.
Simon sudah menanti mereka sedari tadi. Barang bawaan telah tersusun rapih di bagasi.
" Sayang kau ingin membawa langsung pemberian dari Daniel atau mengirimkannya dengan barang yang lain?" tanya William.
" Terimakasih ya Dhe atas penghargaanmu." Kata Daniel.
" Sama-sama Dan."
Kemudian William dan Dhea segera masuk mobil, dan setelah mengucapkan salam perpisahan untuk terakhir kali, Simon lalu segera menjalankan kendaraannya atas perintah tuannya, menuju bandara menaiki pesawat yang akan mengantarkan mereka kembali ke Indonesia.
Liburan telah usai, walaupun sebenarnya hari-hari William dan Dhea di rumah tidak berbeda jauh seperti saat mereka berlibur di London. Tidak ada kesibukan bekerja yang menyita keseharian mereka. Tidak pernah ada yang namanya rutinitas ke kantor yang menghabiskan tenaga, bahkan tugas laporan yang menumpuk di meja sehingga sering membuat pekerjanya lembur sampai petang. William dengan segala kekayaannya, menjadikan Dhea bak seorang putri raja. Setiap hari selalu berdua, melakukan kegiatan hampir bersama-sama, dari pagi hingga malam hari, belum lagi para pegawai yang siap melayaninya 24 jam. William dengan mudahnya menumpuk pundi-pundi uangnya di rekening, tanpa harus bersusah payah dan hanya tinggal duduk manis di depan laptop, memantau semua laporan yang masuk kepadanya.
Kebahagiaan Dhea yang begitu sempurna, dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya dan begitu perhatian padanya. Bagaikan sebuah mimpi saat dia terlelap, dan tidak ingin bangun dulu hingga mimpi itu benar-benar berakhir.
Perjalanan panjang yang dia tempuh hari itu seperti tidak terasa. Lagi-lagi suaminya yang begitu memanjakannya dan selalu memberikan fasilitas nomor satu dalam hal apapun, sehingga saat berada di pesawatpun, dia seolah sedang berada di dalam kamar sendiri.
Seorang pramugari menghampiri mereka berdua, belum sampai setengah jam berada di pesawat itu, mereka sudah menawari berbagai makanan dan minuman untuk menemani perjalanan mereka.
Dhea menunjuk minuman dan snack yang ditawarkan pramugari tersebut, sedangkan William hanya memesan teh panas saja. Seperti biasa tampilan pramugari yang memang dituntut harus perfeck, rapi dan juga cantik, membuat setiap orang tidak ingin mengalihkan pandangannya dari wajah mereka, begitu juga Dhea. Padahal dia sama-sama wanita, masih juga tidak berkedip memandang kecantikan pramugari tersebut, apalagi lawan jenisnya, pasti bisa merinding disko dibuatnya.
" Ehemmmmm.....sayang kau lihat pramugari itu tadi tidak?" tanya Dhea.
" Iya, kenapa sayang?"
" Cantik ya?"
" Ohhhh aku tidak terlalu memperhatikannya tuh." Kata William sambil membolak balik majalah di tangannya dan tidak terlalu menanggapi omongan istrinya.
" Sayang ihhhhh...aku ini berbicara serius denganmu." Kata Dhea tidak puas dengan jawaban suaminya.
" Iya kan sudah aku jawab tadi."
" Sayaaaaanggggg....taruh dong majalah itu."
" Kenapa sihhhh sayang?" kata William sambil menatap Dhea dengan kedua matanya yang begitu tajam dan mempesona. Sorot mata yang dulu begitu dikagumi setiap wanita yang menatapnya, dan tanpa harus banyak mengucapkan kata-kata, setiap wanita pasti akan langsung bertekuk lutut di hadapannya.
" Kau lihat pramugari tadi kaaannn?" Kata Dhea lagi menegaskan, sambil melawan tatapan mata suaminya.
" Lalu kenapa?"
" Cantik tidak?"
William diam sesaat, tapi bukannya sedang memikirkan pramugari tersebut, namun sebaliknya, dia justru sedang mengamati setiap lekuk wajah wanita di depannya itu.
" Sayaaanggg...kok diam sih??? kau pasti sedang membayangkan pramugari itu kaaan???"
William hanya tersenyum saja melihat istrinya mulai uring-uringan. Entah kenapa cinta yang ada di hatinya pada wanita yang saat ini telah menjadi istrinya itu begitu besar. Bahkan mungkin jika ada artis sekelas Etma Watson yang semua orang tau dan tidak lagi meragukan kecantikkannya itu lewat di depannya, mungkin dia menganggap itu hanya sebuah ilusi saja dan tidak nyata, karena kecantikan yang nyata saat ini hanyalah Dhea seorang.